
"Arfin!"
Suara bentakan itu menggelegar ke seisi rumah. Arfin yang baru saja keluar dari kamar karena panggilan makan malam langsung tersentak. Tatapan tajam ayahnya begitu menghunus jantung Arfin.
"Sini lo," kata kakak tertua Arfin. Arfin menurut, meskipun dengan langkah penuh takut, Arfin tetap berjalan menuju meja makan. Menghampiri keluarganya yang sudah bersiap untuk makan malam.
"Mau sampai kapan?" tanya papa Arfin. Lelaki itu tak menjawab. "Papa udah bilang berkali-kali sama kamu untuk pindah, tapi kamu nggak bereaksi apa-apa. Kamu mau papa paksa berhenti kuliah?!"
"Kan aku udah kasih jawaban, Pa." Arfin angkat bicara, dia sudah tak tahan dengan segala amukan dan kemarahan dari papanya ini. Dan itupun karena masalah yang sama setiap hari. Masalah jurusan Arfin.
"Apa jawaban lo?" Kakak kedua Arfin ikut berbicara.
"Aku nggak akan pindah jurusan karena aku udah semester lima. Nanggung, bentar lagi semester enam. Aku udah berjuang sejauh ini, jadi aku nggak akan berhenti."
"Kenapa kamu nggak pernah mau nurut sama omongan Papa?" sela Papanya.
"Ya karena Papa juga nggak pernah nuruti permintaan aku!" Suara Arfin mulai meninggi. "Dari dulu loh aku nurut dan sekarang sekali aja, aku mau ikutin kata hati aku. Bukan paksaan Papa!"
"Jaga ucapan lo, Arfin!" sentak Kakak pertamanya.
"Biar! Gue nggak peduli! Biar semua orang tahu kalau gue udah muak di rumah ini!"
Plakk
"Arfin!" Mamanya hanya bisa berteriak kaget ketika melihat tamparan keras tiba di pipi anaknya. Suaminya yang menjadi pelaku itu semua dan dia hanya bisa terdiam melihatnya.
Arfin menatap papanya, memegangi pipi yang panas dengan mata yang sudah memerah. "Belajar untuk jadi anak yang baik kayak abang-abang mu."
Pria itu dengan santainya kembali duduk di kursinya. Memulai makan malam seperti biasa karena waktunya sudah tiba. Dia tidak peduli dengan rasa panas dan perih di pipi Arfin akibat tamparannya.
Kakak kedua Arfin, mendorong kursi di sebelahnya. Dia menyuruh Arfin untuk duduk di sana dan memulai makan malam, tentu saja Arfin menolak.
"Duduk!" Pada akhirnya, bentakan kakak pertamanya yang akan membuat Arfin menurut.
Dengan perasaan masih marah pada keluarganya, Arfin ikut makan malam bersama mereka semua. Makan malam keluarga Alyas itu tenang, tanpa keributan. Meskipun dalam benak Arfin dia sudah sangat berisik untuk merancang kata-kata makian apa yang akan dia lontarkan di kamarnya nanti.
Arfin memasukkan suapan terakhir, dan bertepatan dengan itu rasa pening kembali datang. Tanpa meminta izin, rasa pusing itu sampai menjatuhkan sendok dari tangan Arfin dan sendok jatuh itu memberikan suara yang nyaring karena jatuh di atas piring.
Arfin berdiri, meskipun dia ingin jatuh. Lelaki itu tanpa pamit mulai melangkah untuk jauh dari meja makan. Sampai satu kalimat menghentikan langkah lelaki itu.
__ADS_1
"S1 kamu Sastra, S2 nanti manajemen. Setuju?" Arfin berbalik badan, menatap ke arah papanya yang juga menatapnya. "Papa izinin kamu untuk tamat di jurusan nggak guna ini, tapi janji S2 nanti harus manajemen."
Arfin tersenyum kecil. Dia menjawab, "Kalau sempat, aku turutin permintaan Papa."
Dugaannya benar, anaknya langsung jatuh pingsan.
"Arfin!"
Semua orang di meja makan langsung bergegas menghampiri Arfin yang sudah terjatuh ke lantai. Wajah panik mereka tidak bisa disembunyikan, terutama wajah panik dari ibu dan juga kakak kedua Arfin.
Kedua kakak laki-laki Arfin membopong tubuhnya, membawa adik mereka masuk ke kamar dan membaringkan tubuh Arfin di atas kasur. Kakak kedua Arfin juga sigap menelepon dokter, meminta dokter keluarga mereka untuk datang segera dan memeriksa keadaan Arfin lebih lanjut.
Disaat yang lain panik dengan kondisi Arfin yang semakin memburuk, pria itu malah tak bergerak dari tempatnya. Papa Arfin hanya diam menatap ke arah pintu kamar Arfin yang terbuka. Dia diam di sana, tidak melakukan apa-apa bahkan wajahnya tidak menunjukkan rasa cemas pada anaknya.
"Papa tahu kamu bisa, makanya Papa berani ngambil keputusan," ucap pria itu pelan, meneteskan air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk matanya sejak Arfin pingsan.
"Kamu bisa, Nak."
...***...
Sinta tak berhenti mondar-mandir di depan pintu rumah. Sejak siang, wanita itu mendapat perasaan yang tidak enak. Dia merasa bahwa ada hal buruk yang bisa saja menimpa keluarganya.
Arjuna dan Eleena—orang yang tinggal di rumah ini. Mereka berdua adalah orang yang paling ingin Sinta jaga, Sinta rawat dan tak akan dibiarkan terluka oleh siapapun.
"Sin, makan dulu," ucap Arjuna, menghampiri istrinya.
Sinta langsung berbalik badan, menggeleng kuat pada Arjuna. "El belum pulang, nggak mungkin aku makan."
"Bentar lagi El pulang, Sin. Dia sama Mel kan," balas Arjuna.
Sinta tetap menggeleng, "Aku nggak akan makan sebelum El pulang pokoknya!"
Arjuna menghela napas, jika Sinta sudah menjadi keras kepala seperti ini, Arjuna juga pusing menghadapinya. Sinta itu orang yang sangat sulit di atur, Arjuna harus mengeluarkan hal extra untuk bisa menaklukkan wanita ini.
"Sin tenang—"
"Udah dari tadi El nggak pulang-pulang, Jun!" potong Sinta. "Aku telepon tapi nggak diangkat. Perasaan aku nggak enak, kamu tau."
"Aku tahu, makanya sekarang kamu tenang dulu—"
__ADS_1
"Aku nggak bisa tenang! Anakku nggak ada di rumah!"
Arjuna menghela napas lagi, "El juga anak aku—"
"Seharusnya kamu panik dong karena El itu anak kamu!" pekik Sinta. Wanita itu sudah tak bisa mengendalikan perasaan dan emosinya lagi. Pikirannya begitu kalut dan juga bertumpuk dengan hal-hal buruk.
Dia begitu takut sekarang, perasaannya tidak membiarkan Sinta untuk bisa memikirkan hal baik.
"Justru karena El anak aku, aku nggak panik Sin. Aku percaya sama El, kalaupun dia pergi sekarang pasti sebentar lagi bakal pulang. Susah dihubungi mungkin dia lagi sibuk nugas sama teman-temannya atau hp nya lowbat jadi mati," jelas Arjuna.
"Tapi aku takut, Jun..." lirih wanita itu.
"Aku tahu kamu takut, tapi percaya aja sama anak kita. Dia pasti bakal baik-baik aja. Dia anak yang kuat, kan?" Sinta mengangguk untuk pertanyaan Arjuna yang satu ini.
"Sekarang, aku mau makan dulu terus masuk ke kamar biar istirahat biar pikiran kamu tenang." Arjuna membawa Sinta untuk duduk di kursi meja makan. Yang di mana di atas meja itu sudah tersaji makanan untuk Sinta. Hanya Sinta yang belum makan saat ini, wanita itu terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran buruknya.
"Kamu makan dulu, nanti aku balik lagi." Arjuna mencium kening Sinta sebelum pergi dari sana.
Sinta makan dalam diam, tangannya bergerak untuk memasukkan makanan ke mulut. Tapi pikirannya tak berhenti berpusat pada Eleena. Dia begitu yakin bahwa perasaannya saat ini bukan perasaan yang biasa. Dia tidak pernah merasa secemas ini pada Eleena sebelum hari ini tiba.
Sinta merasa, bahwa akan ada hal buruk yang menimpa Eleena tapi dia tidak tahu. Sinta terus memikirkan tentang Eleena tak bisa memaksa otaknya untuk berhenti menciptakan hal-hal dan halusinasi yang buruk.
Ponsel Arjuna tergeletak di meja makan. Bersebelahan dengan Sinta. Sinta memandangi ponsel itu lama. Membiarkan pikirannya itu tenang dengan memandangi ponsel yang layarnya hitam.
"Rama." Nama itu kembali terucap di mulut Sinta. Dia mengambil ponsel Arjuna membuka passwordnya dan segera. Dia mencari sebuah nama yang kini menjadi target pikirannya.
Sinta menelepon nomor itu diam-diam tanpa sepengetahuan Arjuna.
"Kenapa nelpon? Ada masalah apa?" Kalimat pembuka dari Rama.
"El mana? Kamu nyembunyiin El di mana?"
Rama yang berada di kamarnya tentu saja mengerutkan kening mendengar itu. Suara ini suara Sinta tapi nomor yang menghubunginya adalah nomor Arjuna. Dan pertanyaan wanita itu sangat aneh lagi.
"Apa sih?"
"Kamu—"
Tut.
__ADS_1
Rama mengakhiri panggilannya sepihak, seperti biasa.