Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Pesona Putra Aksanta dan teman-temannya


__ADS_3

Wisnu terbangun pagi ini. Setelah suara alarm menyapa telinganya, lelaki yang sudah berada di kasur tak beranjak ke mana-mana selama hampir lima hari, kini mulai bisa bergerak lagi. Walaupun dia belum pulih sepenuhnya, tapi setidaknya lelaki itu bisa berjalan.


Wisnu keluar dari kamar mandi dengan handuk putih menutupi bagian bawah tubuhnya. Wisnu membuka lemari coklat besar berisi semua pakaian dan barang-barang lainnya.


Wisnu mengenakan kaos putih dengan celana coklat dan dilapisi oleh cardigan berwarna putih juga, senada dengan warna kaos yang sedang ia kenakan.


Wisnu menyalakan hairdryer, mengeringkan rambut basahnya. Setelah memastikan rambut itu benar-benar kering, Wisnu mulai menyisir untuk merapikan rambut hitam yang berantakan. Wisnu menata rambut itu hingga rambutnya menutupi seluruh dahi juga perban yang terpasang saat ini.


Pergerakan Wisnu terhenti, melihat perban putih melingkar di dahi, Wisnu jadi teringat sesuatu. Wisnu menyentuh perban putihnya yang terlihat di sela-sela rambut hitam. Luka dan perban ini, membawa Wisnu untuk mengingat awal mula dia mulai merasakan sesuatu pada Eleena.


Saat gadis itu dengan beraninya melawan para anak buah Rama dan menolongnya, serta mengobati luka Wisnu juga. Sejak saat itu, Wisnu mulai mengaguminya. Saat Eleena memberi perhatian padanya, sejak saat itu Wisnu mulai menyukainya. Saat Eleena dengan senyumannya teringat di kepala Wisnu, sejak saat itu Wisnu mulai jatuh cinta padanya.


Wisnu tidak tahu pasti, kapan lelaki itu bisa merasakan sesuatu pada Eleena, tapi yang jelas, untuk saat ini, Wisnu merindukan Eleena, sangat. Sangat merindukannya, tapi sayangnya hubungan mereka akan berakhir sebentar lagi. Wisnu tidak bisa terus mengulur waktu dan menghindari Eleena lagi, karena sekarang Rama sudah mengetahuinya dan Wisnu harus mengakhirinya.


...***...


Wisnu turun dari mobil berwarna biru dengan atap yang terbuka. Lelaki itu memakai ransel dengan meletakkan talinya di bahu kanan. Dia keluar dari mobil, dan begitu kakinya menginjak tanah semua pasang mata tertuju padanya.


Para gadis menghentikan langkah mereka hanya untuk melihat Wisnu berjalan. Mereka saling berbisik saat wangi Wisnu singgah di indera penciuman mereka. Mata mereka tak bisa lepas saat Wisnu dengan wajah datar melewati mereka begitu saja.


Tak bisa dielak, ketampanan dari Putra Aksanta ini memang sangat istimewa. Tubuhnya yang tinggi, berisi dan sedikit berotot dan kulitnya putih, serta mata hazelnya yang menghipnotis dan jangan lupakan hidung mancung dan bibir kemerahan miliknya ini.


Kalau mereka bilang, Wisnu itu bak dewa kampus. Ketampanan yang gila, dan kekayaan yang tiada tandingan.


"Tuan Muda!" panggil Gilang. Wisnu berhenti, membalikkan tubuhnya menunggu Gilang dan dua laki-laki lainnya menghampirinya.


"Tuan Muda lo udah baikan?"


"Kok bisa ketahuan sih njir?"


"Lo nggak papa, kan?"

__ADS_1


"Nanya satu-satu lah, anjir!" umpat Wisnu, saat ketiga temannya langsung menyerbu dirinya dengan berbagai pertanyaan.


"Siapa yang mau nanya duluan?" tanya Baim.


"Gue." Arfin dan Gilang menjawab bersamaan.


"Suit!" suruh Wisnu, melipat kedua tangannya di dada.


Ketiga lelaki itu saling melempar pandang. Memikirkan perintah Wisnu sejenak dan pada akhirnya mereka sepakat untuk melakukan suit.


Ketiga lelaki itu mengayunkan tangannya di udara dan berhenti bergerak saat ada instruksi dari Gilang. Telapak tangan Gilang dan Baim terbuka menampilkan bagian palmar tangan mereka. Sedangkan tangan Arfin berbeda, lelaki itu menampilkan punggung tangannya yang otomatis Arfin lah yang menang dan berhak bertanya lebih dulu kepada Wisnu.


"Lo okay kan?" Itu pertanyaan dari Arfin.


Wisnu mengangguk, "Okay kok."


"Tapi gue rasa lo nggak okay." Arfin menyentuh perban Wisnu yang terlihat di sela-sela rambut hitamnya.


"Kayak gue kemarin," gumam Gilang, mundur berdiri di sebelah Baim. Dia takut, Wisnu akan memarahinya karena apa yang dilakukan Arfin sangat mirip dengan yang dia lakukan waktu lelaki itu berkunjung ke rumah Wisnu.


"Gilang udah cerita semua sama kita. So, sekarang lo mau gimana?" Baim berganti bertanya.


"Mau mutusin El sekarang?" sambung Arfin.


Wisnu mengangkat bahunya, dia pun juga tidak tahu harus bagaimana untuk kali ini. Dia sudah terlalu pusing untuk masalah Rama dan Sinta sebelumnya, belum lagi kenapa Rama bisa sangat membenci keluarga Dirgantara, tapi sekarang dia harus berurusan dengan kebohongannya yang diketahui oleh Rama.


"Nggak tau, Fin. Gue bingung gimana caranya mutusin El."


"Tinggal putusin aja!" imbuh Gilang. Baim menyetujui, "Bilang aja, 'Gue mau putus', udah."


"Andai segampang itu, Im."

__ADS_1


Bagi Wisnu, mengucapkan kalimat itu dulu terbilang sangat mudah. Bahkan kata-kata itu adalah kalimat kesukaan Wisnu, dan Wisnu sudah sangat menyiapkan diri untuk mengatakan kalimat itu segera. Tapi, semakin lama bersama Eleena, keyakinan Wisnu untuk mengucapkan kalimat itu semakin menipis. Gilang benar, itu hal yang mudah, sangat mudah untuk diucapkan. Tapi, sayangnya terlalu sulit untuk dilakukan.


Arfin menghela napas, menepuk pundak Wisnu seraya berkata, "Lo minta maaf dulu sama El baru putusin dia. Dia kelihatan ngerasa bersalah banget karena dia datang ke kantor ayahnya, Om Rama ketemu sama dia dan tau semuanya."


"Pasti. Gue bakal minta maaf sama, El," jawab Wisnu.


"So, kita ke kelas sekarang?" Baim merangkul pundak Wisnu.


"Kelas or kantin?" sambung Gilang.


"Gue ikut aja!" tambah Arfin.


"Kita serahkan semua keputusan sama, Tuan Muda." Gilang berseru.


Wisnu menghela napas, dia sedikit menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga temannya ini. Tanpa berucap Wisnu berjalan duluan, mendahului ketiga lelaki itu. Dan layaknya seorang bawahan, mereka bertiga mengikuti Wisnu dari belakang.


Pesona dari keempat laki-laki ini tidak bisa diragukan. Meskipun berasal dari kasta yang berbeda, tapi mereka berempat berhasil menciptakan ruang kekaguman tersendiri di hati para gadis kampus.


Ketampanan dari Wisnu dan teman-temannya, selalu membuat para gadis itu merasa gila. Wajah dari mereka berempat yang layaknya seorang aktor dan idola yang sering tampil di televisi.


Wisnu Putra Aksanta, dia melewati para gadis masuk ke lobi kampus. Dan semua mata gadis tak bisa berpaling dari wajahnya. Wajahnya yang tegas, dan tentunya semua barang mahal yang terpasang di tubuhnya, membuat para gadis itu menggila.


Gilang Andrata, lelaki yang berjalan tepat di belakang Wisnu. Percaya atau tidak, Gilang memang terkenal karena dia berteman dengan Putra Aksanta. Tapi ketampanan dan juga aura yang ditampilkan dari diri Gilang, tak kalah kerennya dari Wisnu. Mereka hanya menyayangkan Gilang tak berasal dari keluarga yang berkasta, jika dia berasal dari keluarga yang berkasta sudah jelas semua gadis akan menjadi miliknya.


Selain Wisnu dan Gilang yang mendapat banyak tatapan dari para gadis, sosok Baim Surya juga mendapatkan hal yang sama. Wajah putih dari lelaki itu yang agak sedikit berdarah Tionghoa ini, selalu membuat banyak orang salah fokus dan mengira bahwa Baim bukanlah orang asli di negara mereka.


Di antara mereka berempat yang paling banyak mendapat tatapan dan senyuman adalah sosok putra bungsu keluarga Alyas. Ya, Arfin Fano Alyas. Laki-laki dengan senyuman ke manapun dia berjalan. Hanya Arfin satu-satunya dari mereka yang membalas sapaan dan setiap senyuman para gadis yang dilontarkan padanya. Bahkan dia juga menyempatkan diri memuji dan juga menggoda gadis yang menyapa dirinya.


Jujur saja, Wisnu memang tampan, sangat. Tapi, jika disuruh memilih ingin mengencani siapa kebanyakan dari mereka akan menyebutkan nama Arfin Fano Alyas. Laki-laki itu terlalu asik untuk dijadikan teman tapi terlalu bercanda jika ingin di bawa ke hal yang lebih serius. Lagipula, Arfin itu sangat ramai, semua orang bisa mendekatinya karena memang, Arfin seramah itu. Siapa yang tidak mau berteman dengannya.


Ke manapun keempat lelaki ini berjalan. Pasang mata tak bisa lepas dari mereka. Bisik-bisik dan mulut ternganga tak bisa dihilangkan jika mereka melewati seseorang. Percayalah, jika mereka berjalan semua orang akan mengira bahwa mereka berasal dari kasta yang sama. Wajah tampan khas anak konglomerat tempat mereka. Tapi nyatanya, hanya dua orang yang berkasta di antara mereka. Dan pemimpinnya, akan selalu Wisnu Putra Aksanta.

__ADS_1


__ADS_2