
Langit sudah berubah gelap, matahari yang tadi bersinar terik kini sudah tergantikan oleh bulan yang siap menerangi malam gelap bersama para bintang.
Dan dikediaman Dirgantara, mereka sedang melangsungkan makan malam. Meja makan yang biasanya diisi oleh 3 orang, kini menjadi 4 orang. Seorang laki-laki dengan kaos biru langit berlengan pendek, duduk ikut bersama untuk makan malam.
Laki-laki yang memakai perban di dahi dan juga lengan sebelah kiri, sedang khidmat menikmati makanan yang telah disajikan. Sesekali Wisnu mencuri pandang karena suasana makan malam keluarga Dirgantara sangat berbeda dengan keluarganya.
Di sini, mereka sibuk bertukar canda tawa, pengalaman seharian ketika berada di luar, semuanya terlihat sangat bahagia. Obrolan mereka yang sepertinya tidak ada bosan di dalamnya, Wisnu juga sedikit tertarik mendengar pengalaman dari Arjuna saat pria itu bekerja.
Begitu juga Eleena yang begitu antusias menjelaskan apa yang dia lakukan di kampus tadi. Wisnu tanpa sadar memunculkan senyum tipis melihat senyuman yang terpampang di wajah Eleena ketika bercerita.
"Dan akhirnya aku ketemu sama Gilang." Begitu nama temannya disebut, atensi Wisnu tertuju sepenuhnya pada Eleena.
"Gilang siapa?" tanya Sinta.
"Temennya Arfin, Bun, dia juga temennya Wisnu."
Mulut Wisnu sudah terbuka untuk mengeluarkan suara, tapi dia menahan. Dia pikir, orang asing tidak berhak bertanya atau ikut bergabung dalam pembicaraan keluarga, walaupun Eleena tadi menyebutkan nama temannya.
"Gilang tadi nyariin lo, dia nanya kenapa lo nggak datang." Seakan bisa mengetahui isi pikiran Wisnu tanpa lelaki itu bertanya terlebih dahulu, Eleena mulai bercerita tentang bagaimana dia menjawab pertanyaan Gilang.
"Gue jawab lo di rumah gue, karena lo lagi sakit. Tapi kayaknya dia nggak percaya sih."
"Kok bisa deket sama Gilang? Bukannya lo deket sama Arfin aja ya?" Wisnu mulai memberanikan diri untuk bertanya meskipun ketika tatapan Arjuna tertuju padanya dia langsung menundukkan kepala.
"Gue nggak deket sih sama Gilang, tapi gue bilang sama Arfin gue tadi ketemu sama lo. Mungkin Arfin ngasih tau dua temen lo itu, makanya Gilang nanya gue pas sampai di parkiran."
Pandangan Wisnu mulai kembali terangkat. Dia meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Eleena. Arfin dan Eleena masih dekat, itu artinya mereka tidak bertengkar, kan. Dan mengenai Gilang yang seperti tidak percaya kalau Wisnu sakit, Wisnu tahu itu. Wisnu juga yakin Gilang lebih tahu alasan Wisnu tidak datang ke kampus dan mengikuti pembelajaran di kelas. Gilang lebih tahu tentang hidup Wisnu.
Wisnu kembali melanjutkan makannya. Dia memasukkan satu demi satu suap ke dalam mulut, menikmati setiap gigitan dan rasa dari makanan yang hari ini dibuat langsung oleh Sinta. Wisnu benar ketika dia bilang kalau Sinta mirip dengan Meethila, perhatian dan kebaikan Sinta membuat Wisnu merindukan Meethila lagi.
Wisnu yang sibuk menghabiskan lauk tak sadar kalau tatapan Arjuna sedari tadi tak bisa lepas darinya. Apalagi saat Wisnu melayangkan pertanyaan pada Eleena, tatapan Arjuna semakin tajam.
Arjuna tidak menginginkan Wisnu berada di sini, dia tidak mau Putra Aksanta berada di rumahnya. Dia juga merasa terkejut saat dia tahu kalau Wisnu berada di rumahnya dari Rama bukan dari mulut Sinta.
__ADS_1
Tuan Aksanta:
Anak saya berada di rumah Anda.
^^^Anda:^^^
^^^Maksudnya?^^^
Tuan Aksanta:
Pilih, saya yang ke rumah Anda, atau Anda yang datang ke rumah saya mengantar anak saya pulang
^^^Anda:^^^
^^^Saya akan antar anak Anda, Tuan Aksanta^^^
Arjuna langsung mematikan ponselnya, dia yang tadi sibuk berkutat dengan berkas-berkas, kini beranjak pergi dari ruangan kerjanya.
Sepanjang perjalanan, pikiran Arjuna tertuju pada wajah lelaki yang terlibat kasus dengan Eleena beberapa minggu lalu. Wajah yang baru Arjuna lihat sebentar terus terbayang di benaknya, seakan-akan Wisnu berada di hadapannya sekarang.
"Bagaimana bisa Putra Aksanta itu menginjakkan kaki di rumah saya," batin Arjuna, mengepalkan tangan kanannya yang berada di kursi mobil.
Mobil Arjuna sampai dengan cepat tidak perlu lama. Pria itu melenggang masuk ke rumah, dia mencari keberadaan orang-orang di rumah. Arjuna bertanya pada para pelayan di mana Sinta dan orang asing itu, dan pelayan menunjuk ke arah kamar tamu.
Dan benar saja, orang asing—Wisnu itu berada di kamar tamu, bersama istrinya yang sedang menyuapinya dengan semangkuk bubur. Sinta begitu ramah pada anak itu, sehingga sesak timbul pada Arjuna. Melihat perhatian Sinta yang begitu hangat pada Wisnu, kembali memunculkan ketakutan di raut wajahnya.
Arjuna memberanikan diri menginjak lantai kamar tamu. Pijakan kakinya mengalihkan atensi Sinta dan Wisnu untuk sama-sama menoleh ke arahnya. Sinta sempat diam sebentar, dia menatap Arjuna intens untuk memastikan kalau itu benar-benar adalah suaminya yang sudah pulang dari perusahaan.
Sinta menaruh mangkok berisi bubur itu di nakas, dia berdiri mendekati Arjuna yang masih diam di tempat terus menatap seorang lelaki yang duduk bersender di kepala kasur rumahnya.
"Kamu kok udah pulang?" tanya Sinta, Arjuna mengalihkan pandangannya pada Sinta. Pria itu menatap Sinta untuk waktu yang lama tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari Sinta. Malahan Arjuna lah yang seharusnya melontarkan pertanyaan pada Sinta. "Kenapa Wisnu di sini?" "Bagaimana bisa Wisnu di sini?" "Untuk apa anak Rama berada di rumahnya dan akrab dengan istrinya?" Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya pria itu tanyakan pada Sinta, namun dia menepis jauh-jauh beberapa pertanyaan itu ketika Sinta kembali bertanya padanya.
"Kenapa kamu udah pulang? Kerjaan di kantor udah selesai?"
__ADS_1
"Udah," jawab Arjuna singkat.
"Aku buatin kamu kopi bentar ya." Sinta melenggang pergi dari kamar tamu berisikan Arjuna dan Wisnu yang sama-sama larut dalam keheningan.
Arjuna mendekatkan dirinya pada anak Rama itu. Dia membisikkan sesuatu. "Saya tidak suka anggota Aksanta berada di rumah saya, setelah selesai makan malam saya sendiri yang akan mengantar kamu pulang ke rumah kamu dan pergi jauh dari rumah saya."
Bisikan Arjuna itu membungkam Wisnu yang sedari tidak ada mengeluarkan suara. Mata Wisnu melihat bagaimana Arjuna keluar dari kamar itu meninggal banyak tanda tanya pada Wisnu kenapa Arjuna bisa berbicara seperti itu padanya. Kenapa semua orang tidak suka pada lelaki itu, apa menjadi anggota Aksanta seburuk itu?
...***...
Seperti bisikan Arjuna tadi siang padanya, kini Wisnu sudah siap untuk pergi meninggalkan rumah Eleena. Pemilik rumah ini sudah mengusirnya, Wisnu juga tidak bisa lagi kabur dari Rama, hidupnya akan semakin berbahaya kalau mencoba melarikan diri lagi.
Sekarang, Wisnu sedang berpamitan dengan Sinta dan Eleena.
"Makasih ya Tante, udah ngasih aku izin buat di sini sebentar. Makasih juga buat Eleena yang udah nolongin gue. Makasih buat semuanya." Wisnu menatap lawan bicaranya sesuai dengan perkataannya tertuju pada siapa.
Tak Wisnu duga, kalau pelukan dari Sinta akan diberikan padanya. Wanita itu begitu erat memeluk Wisnu, seakan-akan Wisnu akan pergi begitu lama meninggalkannya. Seakan-akan Wisnu sudah lama terpisah dan kini mereka kembali terpisah. Sinta memang tidak menangis, tapi sesak sudah melambung di dadanya. Rasanya Sinta sulit untuk bernapas kala dia mengetahui kalau Wisnu harus pergi dari rumahnya.
"Kamu baik-baik ya di sana." Sinta mengendurkan pelukannya. Wanita itu mengelus surai rambut Wisnu. Dia menatap mata hazel itu untuk waktu yang cukup lama. Iris hazel itu tidak asing, dulu Sinta sering melihatnya, tapi ia tidak tahu di mana.
Arjuna menyuruh Wisnu untuk keluar. Wisnu melambaikan tangan sebelum dia keluar dari pintu utama kediaman keluarga Dirgantara. Mereka hanya menghabiskan waktu selama beberapa jam, tapi rasa sedihnya seperti mereka sudah menjalani hubungan selama bertahun-tahun.
Sesak begitu menguasai Sinta. Wanita itu tak kuasa untuk menahan tangis, begitu dia melihat mobil Arjuna membawa Wisnu pergi jauh dari rumah mereka. Sinta berlari masuk ke kamar, dia menutup pintu kamarnya. Duduk di balik pintu sambil menangis tersedu-sedu.
"Dia, wajahnya mengingatkanku pada seseorang, matanya seperti aku sudah mengenalnya," lirih Sinta.
Sinta mengeluarkan semua air mata dan menghabiskan rasa sesak yang tadi mengerubungi dada.
"Apa dia, bukan orang asing?" tanya Sinta pada dirinya.
Wajah Wisnu terus terbayang di ingatan Sinta. Dia kembali mengingat bagaimana senyuman, tatapan dan cara lelaki itu berbicara, rasanya semuanya tidak asing. Rasanya seperti Sinta sudah mengenal itu semua sejak lama, rasanya Sinta sudah dekat dengan lelaki itu untuk waktu yang lama.
Di tengah wajah Wisnu terbayang di ingatan Sinta, wajah Rama tiba-tiba muncul. Tangisan Sinta seketika berhenti saat wajah Rama hinggap di ingatan. Ya, Sinta tahu sekarang, wajah Wisnu, wajah tidak asing itu, wajah itu mirip dengan wajah Alrama Aksanta.
__ADS_1