
Di tempat ini, ada empat orang laki-laki tengah berkumpul. Mereka duduk berhadapan, dengan beberapa kopi tersaji di meja berbentuk bundar.
"Monggo di minum kopinya," kata Baim.
Rumah sederhana tapi cukup besar tempat Baim tinggal di dalam. Ya, hari ini mereka sedang berada di rumah Baim.
Setelah kejadian Arfin yang tak bisa dihubungi seharian, Wisnu meminta Baim untuk mengajak lelaki yang duduk di sampingnya itu datang ke rumahnya. Wisnu mengajak Gilang dan Baim membawa Arfin untuk datang ke rumahnya.
Arfin sangat kentara menjauhi Wisnu sejak kejadian kemarin. Wisnu sadar dia salah, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu bersama Eleena di warung bakso hari itu. Wisnu tidak tahu apa yang terjadi dengannya kemarin, lelaki itu seakan diajak tenggelam oleh pesona Eleena. Entah apa yang menguasai sampai-sampai dia duduk di sebelah Eleena dan membiarkan gadis itu membaca puisi buatan Arfin dengan menyenderkan kepalanya di pundak Wisnu.
"Fin, sorry." Itu kata pembuka dari Wisnu setelah dia dan Arfin tidak berkomunikasi lagi sejak kemarin malam.
Lelaki itu tidak menjawab, malahan Arfin dengan santai menyeruput kopi yang telah dibuat oleh ibu Baim dan disajikan untuk mereka.
"I know I wrong. Tapi sumpah gue nggak sadar, gue—"
"Nggak sadar kalau lo udah suka sama El, kan?" potong Arfin cepat.
Wisnu menggeleng kuat, "Gue nggak suka sama dia, beneran. Gue juga nggak pernah ada niatan buat suka sama tu cewek. Hubungan gue sama dia murni sebatas pacar pura-pura, nggak lebih dan gue jamin hubungan gue sama dia nggak akan berlangsung lama." Wisnu menjelaskan itu dengan penuh keyakinan berharap Arfin bisa mengerti dan berhenti untuk mendiaminya seperti ini.
"Kagak kelar-kelar masalah tu cewek," timpal Baim menyeruput kopi miliknya yang masih mengeluarkan asap.
"Fin, percaya sama Wisnu." Gilang ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.
Arfin masih diam. Lelaki itu tidak memberikan tanggapan atas penjelasan Wisnu yang penuh keyakinan tadi. Entahlah, Wisnu memang temannya tapi untuk kali ini rasa percaya Arfin pada lelaki itu seakan mengalami sedikit kemunduran. Padahal sejak dulu, Arfin tidak pernah sedikitpun curiga atau tidak percaya pada Wisnu. Bahkan setiap perkataan yang keluar dari mulut laki-laki yang lebih tua enam bulan darinya itu Arfin anggap sebagai kebenaran dan juga sebuah perintah.
Namun, untuk kali ini perkataan yang keluar dari mulut Wisnu meskipun lelaki itu mengucapkannya dengan penuh keyakinan tapi Arfin merasa tidak ada kebenaran dan kepastian di dalamnya. Baru kali ini sejak Arfin berteman dengan Wisnu selama bertahun-tahun, Wisnu seakan sedang membohonginya dengan kata-kata penuh keyakinan itu.
"Udahlah Fin, kalau Wisnu emang suka sama Eleena lo bisa cari cewek lain. Pesona lo kan kuat, banyak cewek yang mau sama lo," ucap Baim.
"Bener. Udah hampir tiga bulan kan lo belum punya pacar," lanjut Gilang yang duduk di sebelah Baim.
Baim dan Gilang saling bertukar pandang dari ekor mata mereka. Seakan apa yang mereka ucapkan sudah mereka rencanakan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kayaknya Tuan Muda suka deh sama Eleena," kata Gilang, memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun.
Baim dan Gilang sedang berada di toilet sekarang. Kedatangan dosen yang sedikit telat, dimanfaatkan dua orang ini untuk kabur dari kelas dan menuju ke sini agar bisa berbincang sebentar.
"Masa sih?" Baim masih menaruh ragu akan ucapan Gilang, tapi Gilang malah memberinya anggukan mantap. "Ya kali tipe Wisnu begitu," lanjut Gilang setelah mendapat respon anggukan dari Gilang.
"Gue emang nggak tau gimana tipe Wisnu, tapi dia kan manusia, Bro. Bisa aja dia khilaf terus suka deh sama tu cewek."
"Kalau gitu kasian Arfin," balas Baim. "Tu anak udah percayain Wisnu buat pacaran sama Eleena padahal dia posisinya demen banget ama tu cewek."
"Itu yang gue pikirin," timpal Gilang menatap datar ke depan tak menatap Baim.
"Gimana kalau kita yakinin Arfin buat move on dari Eleena aja. Jadi, kalaupun Wisnu suka sama Eleena, dia nggak akan sakit hati. Lagian persentase Wisnu suka sama Eleena memang gede banget sih, apalagi mereka sering banget ngabisin waktu bareng sekarang," saran dari Baim ini mengalihkan tatapan Gilang dari menatap lurus ke arah dinding tertuju pada Baim sepenuhnya.
"Lo yakin bisa yakinin Arfin?"
Baim mengangguk lalu mengacungkan jari jempolnya. "Aman. Arfin itu ceweknya banyak, tinggal suruh dia aja jalan sama cewek-ceweknya biar dia lupa sama Eleena."
Pembicaraan mereka saat di toilet tadi lah yang menjadi tumpuan terbesar setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh Gilang dan Baim.
"Kalau El nggak wah, cewek lain apa? Dari sekian banyak cewek yang gue temuin cuma El yang wah," balas Arfin. "Gue nggak galau karena El, ada hal lain yang harus gue pikirin. Gue nggak mikirin soal El," sambungnya.
"Tapi lo marah sama gue karena kejadian kemarin, kan?" tanya Wisnu. Arfin berganti menatap Wisnu yang duduk di sebelahnya. "Nggak Wis, gue nggak marah sama lo, tapi gue ngerasa ada sakit hati aja karena lo sama El nyatanya udah sedekat itu. Gue jadi kehilangan harapan." Arfin memunculkan senyum kecil diujung kalimatnya tapi dengan tatapan sendu seakan kehilangan harapan.
"Sorry."
"Lo udah berapa kali bilang sorry sama gue, lo nggak bosen? Gue aja yang dengar bosen ege." Arfin terkekeh kecil agar mencairkan suasana yang dia rasa sedikit tegang.
"Lo beneran nggak marah sama Wisnu?" Kini Gilang yang bertanya.
"Iya. Buat apa gue marah sama dia. Lagian wajar juga kalau Wisnu sama El deket, kan untuk saat ini status mereka pacaran," balas Arfin, masih menampilkan senyumannya dan mulai kembali seperti Arfin yang biasa dengan mimik wajahnya yang sedikit menyebalkan.
"Gue percaya kok sama lo." Arfin menatap Wisnu dalam. Meskipun tadi Arfin sempat merasa bahwa perkataan Wisnu adalah sebuah kebohongan, tapi Arfin masih berusaha untuk mempercayai hal itu. Arfin ingin percaya pada Wisnu lagi.
__ADS_1
Wisnu memeluk Arfin, menepuk punggung lelaki itu. "Thanks banget Fin. Lo yang terbaik," ujarnya.
"Iya, iya." Arfin melepaskan pelukan Wisnu. Lelaki itu berdiri dari duduknya, dia berjalan mengambil tasnya yang terletak di kursi depan teras milik rumah Baim.
"Lo mau pulang?" teriak Gilang.
"Kagak! Ngambil tas doang." Arfin kembali berjalan mendekati teman-temannya.
Arfin membuka ranselnya, mengeluarkan beberapa amplop berwarna kekuningan dan ada stempel bak kerajaan di masa lalu sebagai perekatnya. Dia menyodorkan itu pada Wisnu.
"Kasih sama El lagi ya."
"Kenapa nggak lo aja?" Wisnu bertanya meskipun tangannya bergerak untuk mengambil beberapa amplop itu dari tangan Arfin.
"Nggak papa. Gue takut dia ilfeel kalau gue yang ngasih," balas Arfin cengengesan.
Wisnu menaruh amplop itu di atas meja, di sebelah tempat kopinya berada. Arfin menaruh tasnya di atas rerumputan sebelum dia duduk di kursi.
Namun sepertinya kesialan mendatangi Arfin lagi. Padahal lelaki itu hanya menaruh tas saja tapi pusing kembali menyerang kepala. Pandangan Arfin buram, dia tidak bisa melihat apa-apa, bahkan Arfin merasa kalau seluruh yang ada di sana berputar.
Arfin kehilangan keseimbangan, nyaris saja dia terjatuh kalau Wisnu tidak sigap menangkap tubuh lelaki itu.
"Fin, lo kenapa?" Gilang dan Baim berdiri ikut menghampiri Arfin.
Arfin sudah tak bisa menahan rasa sakit ini lagi. Pusing ini sudah terlalu menyakitkan sekarang, ketika yang semua yang dilihat Arfin perlahan menghitam, Arfin kehilangan kesadaran di detik berikutnya.
"Arfin. Arfin." Wisnu memanggil nama lelaki itu, sedikit menepuk pipi Arfin agar temannya itu bisa bangun tapi Arfin tidak memberikan respon apapun.
Wisnu tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Dia membawa Arfin masuk ke dalam rumah Baim. Baim mengarahkan Wisnu untuk meletakkan Arfin di dalam kamar tamu. Begitu Tubun Arfin sudah terbaring sempurna di atas ranjang, Wisnu segera melakukan panggilan untuk menghubungi dokter keluarganya agar bisa memeriksa Arfin segera.
Wisnu tidak pernah merasa sepanik ini sepanjang dia hidup. Melihat Arfin yang tiba-tiba pingsan seakan membawa Wisnu tersesat di dalam hutan.
"Arfin kenapa?" tanya Wisnu pelan. Gilang menyadari kegelisahan di wajah Wisnu, dan sebagai teman yang baik, Gilang merangkul pundak Wisnu.
__ADS_1
Gilang mengangguk kecil, memberi Wisnu keyakinan bahwa Arfin baik-baik saja. Wisnu memandangi Arfin yak tak sadarkan diri dengan wajah pucatnya. Selama mereka berempat berteman hampir lima tahun lamanya, baru kali ini Wisnu melihat Arfin pingsan tiba-tiba. Wisnu tidak bisa berbohong, Arfin itu adiknya dan layaknya seorang kakak, Wisnu juga tidak ingin Arfin terluka walau hanya sedikit.