Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Malam hari di Kediaman Aksanta


__ADS_3

Mobil putih itu berhenti di depan gerbang kediaman keluarga Aksanta. Pria berumur 50 tahunan itu menatap Wisnu tanpa bicara. Mengisyaratkan bahwa lelaki itu harus turun dari mobilnya sekarang juga.


Wisnu tersenyum simpul, dia mengucapkan terimakasih pada Arjuna yang sudah repot-repot mengantarkannya pulang ke rumah walaupun mobil yang mereka tumpangi dikemudikan oleh seorang sopir.


Wisnu membuka pintu mobil keluar dari kendaraan beroda empat itu. Wisnu yang baru saja membuka mulut untuk mengatakan sesuatu pada Arjuna tapi tidak bisa ia lakukan karena Arjuna sudah lebih dulu menyuruh sopir untuk melajukan mobil begitu Wisnu keluar dari mobil.


"Nyebelin banget sih tu tua bangka," gumam Wisnu. Lelaki itu tahu Arjuna memang tidak suka padanya tapi setidaknya jangan terlalu menunjukkan dan jangan terlalu menyebalkan juga.


"Pantesan aja anaknya rese banget, bapaknya aja begitu," omel Wisnu.


Gerbang kediaman Aksanta dibuka, dengan penuh ragu-ragu Wisnu memijakkan kaki di lantai rumah Aksanta. Wisnu menghela napas panjang, mencoba untuk lebih tenang dan tidak larut dalam ketakutan.


Setiap langkah Wisnu diiringi dengan detak jantung yang semakin cepat. Dia berkali-kali mengatur napas tapi tetap saja ketakutan tidak bisa lepas, seakan keberanian Wisnu hilang tanpa sisa.


Pintu utama rumah Aksanta terbuka, menampilkan ada banyak manusia yang berdiri tak jauh dari sana. Wisnu memaksa kakinya untuk melangkah masuk ke dalam.


Ada banyak manusia dengan berbagai reaksi saat Wisnu masuk ke dalam rumah. Ada Meethila yang langsung menghampiri Wisnu dan memeluk anaknya kelewat erat. Ada juga Rama yang dari tatapannya mengatakan kalau dia masih menyimpan amarah dan rasa kesal pada Wisnu. Ada juga Kakek dan Nenek Wisnu yang terlihat seperti tidak peduli Wisnu ada di rumah atau tidak. Seakan-akan kepergian Wisnu bukan sebuah musibah bagi mereka. Kakek dan Nenek Wisnu hanya menganggap ia sebagai satu-satunya pewaris Aksanta, bukan menganggap Wisnu sebagai cucu mereka yang pantas mendapatkan kasih sayang dari kedua manusia yang sudah renta.


"Kamu nggak papa sayang? Ada yang sakit? Kamu ke mana aja? Kamu tau, mama kangen sama kamu, mama nggak bisa hidup kalau nggak ada kamu, kamu segalanya buat mama, Nak." Dari setiap pelukan, sentuhan dan ciuman yang Meethila berikan pada Wisnu, kembali menyakinkan Wisnu bahwa Meethila tetap menjadi satu-satunya orang yang peduli terhadap Wisnu. Meethila yang paling ikhlas dan bersyukur akan kehadiran Wisnu di dunia ini.


"Wisnu nggak papa, Ma. Nggak usah khawatir, maaf banget ya udah buat Mama panik." Perkataan dari Wisnu ini setidaknya bisa menghilangkan sesak dan kecemasan Meethila. Tapi tidak bisa menghilangkan kekesalan Meethila.


Meethila memukul lengan Wisnu saat ia mulai mengendurkan pelukan. "Kamu ini kenapa? Kamu gila? Bisa-bisanya kamu pergi dari rumah." Meethila mulai mengomel layaknya ibu-ibu pada umumnya ketika anaknya pulang terlambat.


"Maaf, Mama. Lain kali Wisnu nggak gini lagi deh, beneran." Wisnu mengangkat dua jari membentuk huruf V untuk meyakinkan Meethila kalau kali ini ia tidak akan mengingkari ucapannya lagi.


"Kenapa kamu kabur, Sayang?" tanya Meethila mengelus surai rambut anaknya.


"Pasti dia mau menghindar dari perjodohan." Belum sempat Wisnu mengeluarkan kata untuk menjawab pertanyaan Meethila, Rama sudah lebih dulu mengungkapkannya. Wisnu melirik Rama, rasa jengkel kembali memenuhi benak Wisnu. Memang sih yang dikatakan oleh Rama benar, tapi Wisnu tetap saja jengkel pada Rama karena pria itu mengetahui isi pikirannya.


Rama mulai mendekat, dengan kasar dia memutar tubuh Wisnu agar lelaki itu menghadapnya.


"Gila," umpat Rama. Wisnu terus menunduk tak berani untuk menaikkan pandangan dan bertemu iris Rama.

__ADS_1


Sorot mata Rama begitu tajam, sampai-sampai Meethila harus berdiri di sebelah Wisnu dan mengelus-elus pundak Wisnu.


"Kamu tau apa yang sudah kamu lakukan? Kamu masih ingat kesalahan kamu?" Wisnu memang tidak menjawab pertanyaan Rama, tapi Rama bisa melihat ada anggukan kecil dari lelaki yang tertunduk di depannya ini.


"Urus urusan kamu sama Wisnu, jangan sampai ribut." Begitu kata-kata itu terlontar dan terdengar Kakek mengajak Nenek untuk pergi dari ruang tamu. Wisnu mengintip pergerakan kedua manusia tua itu dari ekor mata walau pandangannya masih tertunduk. Kedua manusia tua itu hanya menginginkan Wisnu sebagai pewaris untuk meneruskan bisnis mereka, kedua manusia tua itu tidak pernah benar-benar menganggap Wisnu sebagai cucu. Mengingat bagaimana perilaku acuh kedua orang tua Rama pada dirinya tanpa sadar membuat tangan Wisnu terkepal.


"Kamu membuat saya rugi, Wisnu. Bagaimana cara kamu membayar kerugian ini." Rama sudah kembali berbicara tapi sang lawan bicara malah tetap menundukkan pandangan. Rama menutup mata sejenak sebelum kemarahan benar-benar menguasai pria paruh baya ini.


"Sudah berapa kali saya bilang saya tidak suka ketika saya berbicara, lawan bicara saya menunduk!" Wisnu spontan menaikkan pandangan begitu bentakan Rama sampai di telinganya.


"Mas." Rama mengangkat tangan, menghentikan ucapan Meethila. "Jangan ikut campur."


Pandangan Rama mulai kembali lagi pada Wisnu. Dia menatap dalam iris hazel Wisnu yang sama seperti iris hazel yang ia punya. Di dalam sorot mata anaknya itu terselip rasa ketakutan yang teramat sangat. Namun, Rama tidak pernah peduli akan hal itu.


"Saya rugi besar, Wisnu. Rugi besar!" Rama mulai kembali menjadi Rama yang Wisnu kenal. Amarah yang meluap-luap, bahkan saat Wisnu baru saja menginjakkan kaki di rumah.


"Karena kamu menolak perjodohan dengan putrinya Tuan Satya, dia mengakhiri kerjasamanya dengan saya. Itu membuat saya rugi besar. Ini semua salah kamu, kalau ada yang harus disalahkan kamu adalah orangnya Wisnu Putra Aksanta!" Perkataan Rama di awal terdengar sangat meluap-luap tetapi saat Rama menyebut nama lengkap Wisnu nada itu mulai menurun tapi intonasi ketegasan itu sangat bisa Wisnu pahami.


"Saya membenci kamu, Wisnu. Saya selalu tidak menyukai kamu setiap kali kamu melakukan kesalahan. Kamu membuat saya dan nama keluarga saya menjadi malu, kamu membuat saya rugi sampai-sampai saya harus menerima tawaran kerjasama dari Arjuna Dirgantara. Kamu tau betapa saya membenci Arjuna Dirgantara? Tapi karena kamu saya harus menjalin kerjasama dengannya."


Wisnu mengerutkan kening saat nama Arjuna keluar. Dia berusaha mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Rama. Alasan Rama marah sebenarnya bukan hanya karena Wisnu menolak perjodohan dan dia menjadi rugi tapi ketika dia harus bekerjasama dengan Arjuna.


"Kamu penjahat, Wisnu. Kamu membuat hidup saya menderita," ujar Rama.


"Terus Papa apa?" Wisnu menghilangkan jauh-jauh pemikiran kalau dia akan diam saja dan tidak ingin bertengkar dengan Rama.


"Kalau saya penjahat terus Anda apa, Tuan Alrama Aksanta."


Rama mendengus, menarik sudut bibirnya tak percaya pada kata yang keluar dari mulut anak satu-satunya itu. Dia memanggil ayahnya dengan nama bukannya panggilan 'Papa'.


"Jaga etika kamu," tekan Rama.


"Aku nggak bisa jaga etika ketika Papa buat aku babak belur kayak gini." Meethila sontak melihat Wisnu intens dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari posisinya yang berada di sebelah Wisnu.

__ADS_1


Rama juga ikut melihat Wisnu intens. Tapi pandangan Rama terkunci begitu melihat ada perban yang melingkar di dahi anaknya yang sedari tak ia sadari sama sekali karena amarah yang terlanjur menguasai diri.


"Anda menggunakan kekerasan untuk membawa saya pulang, Tuan Aksanta." Tangan Wisnu sudah terkepal kuat. Dia kembali mengingat bagaimana anak buah Rama memukulinya tanpa ampun seakan-akan Wisnu bukanlah manusia. Bagaimana Wisnu yang tidak berdaya dan hanya Eleena-lah yang menyelamatkannya.


"Kamu, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu luka." Meethila kembali panik, melihat ada perban di dahi dan lengan Wisnu. Meethila meyakini kalau luka yang Wisnu dapat bukan hanya ini saja, pasti ada yang lain juga.


"Urus anak kamu," ucap Rama mulai berbalik badan dan melangkah menjauh dari tempat Wisnu dan Meethila berdiri.


"Apa Papa nggak mau minta maaf karena udah nyakitin aku?" Langkah Rama terhenti kala pertanyaan itu terlontar dengan lantang dari bibir Wisnu.


Pria itu melirik Wisnu sekilas, sebelum akhirnya dia memfokuskan kembali pandangannya ke depan. "Saya tidak merasa bersalah jadi saya tidak perlu minta maaf. Lagipula itu kesalahan kamu sendiri, saya tidak pernah meminta kamu untuk pergi dari rumah ini." Rama langsung pergi begitu saja saat kata-katanya selesai dia ucapkan dengan nada lumayan besar agar Wisnu dan Meethila yang notabenenya sudah berada jauh di belakangnya bisa mendengar.


Kepalan tangan Wisnu terbuka. Seharusnya ia merasa amarah dalam dadanya sudah menggebu-gebu tapi yang ada malah rasa sesak dan sedih yang tak bisa Wisnu utarakan. Wisnu memandang tempat di mana Rama meninggalkannya. Tak sekalipun dia berkedip sejak Rama benar-benar menghilang dari pandangan.


Elusan tangan Meethila di telapak tangan Wisnu, mengalihkan atensi lelaki itu. Dia menengok ke bawah bahwa telapak tangan kirinya sedang digenggam oleh Meethila.


"Kamu harus istirahat, kita ke kamar ya." Meethila mengajak Wisnu untuk masuk ke kamar lelaki itu. "Kamu udah makan, kan?"


"Udah, Ma," ucap Wisnu bertepatan dengan kakinya menginjak lantai kamar.


Meethila menyuruh Wisnu untuk duduk di kasur, dia menutup pintu kamar Wisnu tak membiarkan ada orang yang melihat interaksi antara ibu dan anak ini. Meethila bergerak mencari di mana dia menyimpan kotak obat di kamar Wisnu. Begitu sorot matanya menemukan keberadaan kotak obat, Meethila segera duduk di sebelah Wisnu.


Meethila menyuruh Wisnu untuk bersender di kepala kasur. Meethila membuka sebuah botol, dia mengangkat pakaian Wisnu tanpa seizin sang empu. Iris Meethila bisa melihat ada beberapa lebam di perut Wisnu. Meethila sudah menduga hal itu.


Meethila menarik napas dalam, sekuat tenaga menahan tangis yang akan pecah. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Wisnu. Tangan Meethila bergerak hati-hati mengoleskan minyak tradisional di lebam yang ada di perut Wisnu. Walaupun ada ringisan yang keluar dari Wisnu, tapi Meethila tetap mengoleskan minyak itu sampai semua lebam di area perut Wisnu basah karena Minyak. Meethila menurunkan kembali pakaian Wisnu, dia menaruhkan botol itu kembali ke tempat.


"Ma." Wisnu menarik tangan Meethila saat wanita itu hendak berdiri. "Maaf," cicitnya. Meethila hanya memberi anggukan, dia melepaskan tangan Wisnu dan kembali meletakkan kotak itu ke tempat dia mengambilnya.


Meethila kembali duduk di sebelah Wisnu. "Lain kali jangan kabur kayak gini ya," pesan Meethila. Wisnu berdehem singkat. Wisnu meletakkan kepalanya di pundak Meethila. "Makasih karena Mama udah sayang sama Wisnu. Wisnu sayang Mama, banget." Meethila tersenyum, dia mengelus kepala anaknya yang bersender di pundaknya.


"Mama lebih sayang sama kamu, Nak."


Malam ini, kediaman Aksanta kembali menjadi saksi kebersamaan hangat antara anak dan ibu ini. Satu-satunya hal waras yang dimiliki di rumah besar ini.

__ADS_1


__ADS_2