Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Ungkapan perasaan Melinda


__ADS_3

Senyum manis itu merekah setiap dia berjalan. Lambaian tangan terudara setiap iris hitamnya menemukan ada orang yang dia kenal, khususnya para gadis cantik di lobi Universitas Binawa ini.


"Hei sayang." Lelaki itu datang merangkul seorang gadis berkemeja merah muda dengan celana jeans dari belakang.


"Halo juga," balas gadis itu.


"How are you, Babe?" Lelaki itu menampilkan cengiran khasnya. Cengiran yang berhasil membuat sebagian besar gadis jatuh cinta. Siapa memang yang tak jatuh cinta dengan laki-laki berkaos putih dengan tambahan kemeja hitam kotak-kotak di luarnya. Iris hitam tajamnya, wajah tampan yang ia punya, dahi putih terpampang nyata dan aroma kopi kuat berasal dari pakaian yang ia kenakan sekarang.


"Jangan sok perhatian sama gue, nanti gue baper lagi baru tau rasa lo," jawab sang gadis disertai kekehan kecil.


"Emang boleh baper sama mantan?" Dia balik bertanya.


"Boleh, kalau mantannya itu lo."


Mereka tertawa bersama seakan pembicaraan mereka bukanlah hal berat yang biasanya menyakiti sebagian orang.


"Halo, Cantik," sapa lelaki itu melambaikan tangan pada seorang gadis yang lewat di depannya padahal dia masih merangkul gadis sebelahnya.


Gadis yang dirangkul olehnya hanya bisa menggelengkan kepala, memaklumi kalau memang seperti ini sifat lelaki itu. Padahal yang lelaki itu sapa barusan adalah mantan pacarnya beberapa bulan lalu sama seperti dirinya. Sampai sekarang dia tidak mengerti kenapa para gadis di kampus ini masih bisa berhubungan baik dengannya setelah mereka diputuskan selang satu bulan berpacaran.


Oke, gadis itu bisa mengerti kalau dia dan lelaki ini bersama para gadis yang lain putus secara baik-baik, tapi tetap saja itu sedikit menyakitkan. Memang dari awal, dia tidak boleh menaruh harapan lebih jika berhubungan dengan seorang Arfin Fano Alyas.


Putra bungsu keluarga Alyas ini nyatanya hampir memacari seluruh gadis di kampusnya. Baik yang satu fakultas dengannya atau yang berbeda fakultas. Kebiasaan Arfin adalah mendekati para gadis, membuat mereka nyaman berada di dekatnya sehingga ketika mereka putus atau tidak memiliki hubungan yang spesifik lagi mereka akan tetap menjadi teman. Itu yang menyebabkan Arfin memiliki banyak teman perempuan.


"Pretty," gumamnya. Arfin melepaskan rangkulannya dari gadis itu, "Gue duluan ya." Arfin mendatangi seorang gadis dress putih yang dilapisi oleh jaket denim di luarnya. Arfin menghampirinya dengan sedikit rayuan yang berakhir mereka bergandengan tangan.


Julukan playboy kampus memang melekat di diri Arfin. Selain dia terkenal sebagai Putra Bungsu keluarga Alyas, Arfin juga terkenal karena banyak mengencani gadis di kampus ini. Itu bukan hal yang mengherankan, lagian gadis mana yang mau menolak pesona dari Arfin Fano Alyas ini.


...***...


Arfin keluar dari kelas dengan merekahkan senyum setiap dia berjalan. Kondisinya yang membaik membahagiakan Arfin saat ini. Setelah hampir seminggu dia terbaring di kasur kamar dan mendengar semua teriakan dan bentakan ayahnya, akhirnya lelaki itu bisa bebas sekarang. Walau hanya sekedar ke kampus saja tapi setidaknya Arfin bisa pergi dari rumah itu sejenak. Rumah besar bak istana tapi terasa seperti gudang dengan banyak kotoran yang berasal dari mulut-mulut sampah.


"Hai cantik."


"Apa kabar lo?"


"Makin seksi aja."


"Sayang lo gila, keren banget."


Kalimat itu dilontarkan Arfin setiap kali matanya menemukan gadis-gadis cantik di lobi. Semua gadis di sapa olehnya. Ingat, hanya gadis saja, Arfin tidak peduli dengan pria yang berada di samping mereka. Yang Arfin tahu, mereka adalah temannya dan ketika bertemu teman harus disapa, kan. Arfin tidak boleh menjadi lelaki yang sombong.


"Hai ganteng." Seorang gadis dengan tinggi hampir sama dengannya berdiri di depan Arfin tiba-tiba, nyaris saja membuat tubuh Arfin menabrak tubuhnya kalau Arfin tidak menahan tadi.


Dengan senyum lebar, Melinda melambaikan tangannya semangat. Mata gadis itu berbinar seakan dia melihat hal yang menakjubkan. Memang menakjubkan, mata siapa yang tidak berbinar jika melihat wajah tampan Arfin.


"How are you?" tanya Melinda semangat.


Arfin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Baik," jawab ragu Arfin mulai menunjukkan ketidaknyamanan.


"Lo udah sembuh kan? Kata El lo sakit." Melinda hendak menyentuh tangan Arfin tapi segera ditepis oleh sang empu. Melinda menatap tangannya yang ditepis oleh Arfin, penolakan untuk yang kesekian kali.


"Gue baik, gue mau pergi sekarang." Arfin pergi dari sana, meninggalkan Melinda tak ingin berlama-lama dengan gadis itu.

__ADS_1


"I like you!" Melinda dengan lantang mengatakan hal itu. Bukan hanya Arfin yang dapat mendengar hal itu, melainkan mahasiswa yang sedang berlalu lalang di lobi juga dapat mendengarnya.


Arfin berbalik badan menatap Melinda. Arfin menautkan alisnya, "What you said?" tanya Arfin, mendekati Melinda.


"I like you, no I love you," jawab Melinda. Arfin diam.


Melinda dengan beraninya meraih tangan Arfin, menggenggam tangan lelaki itu.


"Fin, gue serius gue suka sama lo. Gue naksir lo pas pertama kali ketemu sama lo. Gue nggak pernah nyangka gue bisa ketemu sama cowok secakep dan sehumble lo. Lo keren, lo juga sekasta sama gue, nggak ada salahnya kan gue suka sama lo? Please, lo juga suka sama gue ya?"


Arfin menatap gadis itu lumayan lama. Tatapan penuh harapan yang diperlihatkan oleh Melinda semakin besar saat Arfin belum melepaskan genggamannya. Gadis itu begitu yakin untuk kali ini Arfin tidak akan menolaknya.


Melinda membuang egonya jauh-jauh untuk mengungkapkan perasaannya pada Arfin. Biasanya para laki-laki yang mengejar Melinda tapi kali ini dia rela mengejar seorang Arfin Fano Alyas.


Melinda itu cantik, dia tinggi, badannya juga bagus persis seperti tubuh para model majalah yang bertebaran di kampus. Melinda juga gadis kaya dan berasal dari keluarga terpandang dan cukup disegani di sini, jadi kemungkinan untuk gadis itu ditolak Arfin akan semakin kecil.


Melinda sudah berjanji pada dirinya kalau dia akan mentraktir satu kampus jika Arfin bisa menjadi pacarnya. Melinda tahu Arfin seperti apa jadi dia siap menerima semuanya, bahkan kalau dia hanya menjadi pacar Arfin selama satu hari pun Melinda sudah sangat bersyukur.


Namun, ketika Arfin menghempaskan tangan Melinda dari tangannya semua ekspetasi Melinda hancur lebur. Saat Arfin menatap gadis itu bukan seperti tatapan yang biasa dia gunakan untuk menatap para gadis.


"Gue nggak suka sama lo." Arfin menjawab itu dengan lancar tanpa beban. Dia juga mengatakan itu dengan cukup lantang seperti yang tadi Melinda lakukan saat mengungkapkan perasaannya.


"Gue nggak pernah suka sama lo. Asal lo tau ya, gue risih sama lo."


"Tapi Fin, bukannya lo suka sama semua cewek ya, jadi please suka sama gue juga ya." Melinda kembali meraih tangan Arfin tapi kembali ditepis juga oleh Arfin.


"Iya, gue sama semua cewek kecuali lo. Gue nggak suka sama cewek yang ngejar-ngejar gue. Lo pikir gue nggak tau lo suka sama gue? Gue tau, tapi gue sengaja ngehindar dari lo, karena gue risih sama lo." Arfin menarik napas sebelum melanjutkan. "Gue suka sama cewek yang welcome sama gue like a friend bukan kayak lo yang ngejar-ngejar gue kayak crazy girl."


"Lo pikir lo siapa bisa nolak gue?!" bentak Melinda.


"Emang gue nggak bisa nolak lo? Gue manusia, gue punya hak untuk memilih dan punya hak untuk menolak."


Tangan Melinda terangkat hendak menampar Arfin tapi Arfin bukanlah lelaki bodoh yang tak mengerti gerak-gerik gadis itu. Begitu tangan Melinda berjarak beberapa senti dari wajahnya Arfin memegang tangan gadis itu yang sudah mengudara, menghempaskan tangan putih sedikit berisi itu kasar. Melinda sampai harus mengelus tangannya karena terasa sakit.


"Kurang ajar!" teriak Melinda. "Lo berani banget sama gue. Lo pikir lo siapa?!"


Arfin menyunggingkan bibirnya, "Gue Arfin Fano Alyas. Putra Bungsu keluarga Alyas, kalau lo mau tau sama identitas gue." Arfin mengulurkan tangannya seakan sedang memperkenalkan diri pada orang baru.


"Lo bawa-bawa kasta?" Suara Melinda memelan. Arfin tidak membalas, dia menurunkan tangannya, membuang arah pandang tak ingin menatap Melinda lagi.


"Asal lo tau ya, kalau lo lupa sama gue. Gue, Melinda Putri Agustama. Kalau lo bawa-bawa kasta sama gue, kasta lo itu masih di bawah gue. Jadi lo jangan sok!" balas Melinda berapi-api menatap Arfin.


"Terus, karena lo di atas gue, gue harus nurutin lo gitu? Sorry, nggak mau," balas Arfin santai.


Arfin berbalik badan, melangkahkan kaki meninggalkan gadis itu. Namun dengan cepat, Melinda meraih tangan Arfin menariknya kuat sehingga sang empu membalikkan tubuhnya.


Melinda mengarahkan jari telunjuknya di depan Arfin.


"Denger ya Arfin Fano Alyas, yang lo lakuin sekarang adalah dosa terbesar yang pernah lo lakuin sepanjang hidup lo. Dengan nolak dan mempermalukan seorang Melinda Putri Agustama lo sama aja buka neraka buat lo dan keluarga lo. Gue bakal buat keluarga lo hancur, Fin. Gue akan gunain kekuasaan yang keluarga gue punya untuk hancurin semua bisnis keluarga lo. Gue nggak main-main," ancam Melinda.


Arfin tidak marah melainkan lelaki itu terkekeh geli mendengar ancaman yang diberikan Melinda padanya. Arfin menghilangkan senyumannya sekejap, menatap gadis itu tajam. Arfin mendekatkan dirinya ke Melinda. Menaruh wajahnya di sebelah wajah Melinda.


"Silahkan lo lakuin itu. Gue nggak takut. Gue punya backingan. Lo tau kan itu siapa?" Arfin tersenyum miring, "Aksanta. Gue punya Aksanta," lanjut Arfin.

__ADS_1


Arfin menjauhkan dirinya setelah selesai membisikkan kata-kata itu tepat di sebelah telinga Melinda. Arfin menyempatkan diri memberi senyuman pada Melinda sebelum melambaikan tangan pada gadis itu dan pergi dari sana.


...***...


"Wisnu!" panggil Arfin begitu melihat Wisnu berjalan menuju mobilnya bersama Baim dan Gilang.


Wisnu berhenti, diikuti oleh kedua lelaki di kanan dan kirinya. Wisnu menoleh ke Arfin. Arfin berlari kecil dari tempatnya menghampiri ketiga temannya itu.


"Jangan lari-lari elah, Fin. Ntar tumbang lagi lo," cetus Baim ketika Arfin berdiri di depan mereka.


"Udah sembuh? Bener-bener sembuh? Nggak ada unsur pemaksaan lagi, kan?" Pertanyaan demi pertanyaan itu dilontarkan Wisnu.


"Satu-satu nanyanya, bingung gue," balas Arfin, tertawa kecil.


"Gue serius, Fin."


"Oke-oke." Wajah Wisnu sudah berubah sangat serius, kalau Arfin masih bercanda padanya bisa-bisa Arfin dapat masalah nantinya.


"Ada yang mau gue omongin." Itu kalimat pembuka dari Arfin.


"Masuk mobil gue," suruh Wisnu mengajak semua temannya untuk masuk ke mobil berwarna biru yang terparkir di sudut.


Wisnu dan yang lainnya masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu. Dengan Gilang dan Baim duduk di bangku penumpang, dan Wisnu serta Arfin duduk di bagian kemudi.


Mendengar nada bicara Arfin, Wisnu yakin bahwa cerita yang dibawa oleh lelaki itu adalah cerita yang tak boleh ada banyak orang tahu.


"So apaan?" tanya Gilang begitu semua pintu mobil sudah tertutup sempurna.


"Lo tau Melinda?" tanya Arfin.


"Melinda Putri Agustama? Sepupu Eleena?" balas Baim, Arfin mengangguk.


"Tu cewek, tadi confess sama gue—"


"Wah, keren banget. Berani juga dia confess ama lo, anggota Agustama loh dia." Gilang memotong perkataan Arfin.


"Justru dia anggota Agustama makanya gue mau cerita."


"Emangnya dia kenapa?" Kini Wisnu yang bertanya.


Arfin menarik napas, memberi kesiapan pada dirinya untuk menceritakan secara lengkap apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Melinda itu kan Putri Agustama, dan kalian tau sendiri gimana powernya keluarga Agustama itu, sebelas dua belas lah sama keluarga Aksanta. Dia nembak gue dan gue tolak lah karena gue nggak suka, eh dianya malah ngamuk. Dia marah-marah nggak jelas dan berakhir ngancem gue. Masa dia bilang mau buat bisnis keluarga gue hancur pakai kekuatan keluarganya. Jujur, gue takut Wis."


Baim dan Gilang saling melempar pandang, dan berakhir mereka mengalihkan semua atensi mereka pada Wisnu untuk menanti apa jawaban dari lelaki itu.


"Gue salah ya nolak dia? Gue takut, Wis," adu Arfin.


Wisnu menepuk pundak Arfin. "Lo nggak salah. Lo bebas kok nolak cewek mana aja termasuk dia," ujar Wisnu.


"Fin, lo punya gue. Kalau Agustama macam-macam sama lo, lo ingat aja. Lo dan keluarga lo masih punya Aksanta."


Arfin tersenyum, membuang semua keraguan dan kekhawatiran serta ketakutan karena ancaman Melinda tadi. Arfin rasanya menang, dia tidak pernah salah kalau dia memiliki keluarga Aksanta untuk melindunginya, apalagi jika hal itu berhubungan dengan Agustama, maka Aksanta tidak akan diam saja. Sudah bukan rahasia lagi kalau keluarga Aksanta dan Agustama saling bermusuhan, mereka membenci satu sama lain sampai ke tulang-tulangnya.

__ADS_1


__ADS_2