
"Buru-buru amat, mau ke mana?" Gilang menghadang Wisnu yang hendak pergi begitu dosen keluar dari kelas. Wisnu yang sudah memakai ransel sejak tadi meskipun dosen masih memberi penjelasan kepada mereka. Gilang menyadari ada sebuah hal yang sedikit membingungkan dari raut wajah Wisnu sejak mereka masuk kelas tadi pagi. Lelaki itu seperti sedang memikirkan dan merapal kata-kata seperti mantra yang Gilang tidak tahu itu untuk apa.
"Gue mau ketemu sama El," jawab Wisnu.
"Belum putus juga lo sama dia?" Kini Baim yang menghentikan langkah Wisnu. "Kelewatan banget sih lo," tambah lelaki itu.
"Ini gue mau mutusin dia," imbuh Wisnu tegas melempar tatapannya pada Baim dan Gilang bergantian.
"Bagus deh Tuan Muda, jangan kebanyakan nunda-nunda." Gilang berucap memakai ransel cokelatnya. Dia menepuk pundak Wisnu, "Have fun for break up."
Gilang mengajak Baim keluar dari kelas. Seharusnya Wisnu yang menjadi orang pertama untuk keluar kelas, kini malah dilangkahi oleh teman-temannya yang begitu menggebu-gebu untuk urusan asmara Wisnu dan Eleena.
Wisnu menghela napas, dia keluar dari kelas. Berjalan cepat sampai dia tiba di depan kelas Eleena. Para mahasiswa Psikologi itu belum keluar juga, padahal bel sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Wisnu menggerakkan kakinya, memeriksa jam tangan berkali-kali sambil sesekali melirik kelas Eleena apakah gadis itu sudah keluar atau belum.
__ADS_1
Wisnu ingin cepat, dia tidak ingin menunda, banyak hal yang harus dia lakukan bersama Eleena hari ini. Setidaknya sebelum mereka resmi putus. Mata Wisnu melirik kelas Eleena lagi dan kali ini lirikannya membuahkan hasil. Eleena keluar dari sana, iris hazelnya langsung membawa dia untuk bertemu dengan iris cokelat Eleena. Jarak mereka cukup jauh, karena Wisnu menyenderkan tubuh di dinding seberang kelas Eleena. Meskipun berhadapan tapi mereka terpisah jarak di tengah-tengah lobi fakultas ini.
Mereka bertatap cukup lama, seakan-akan ini merupakan sebuah ritual setiap kali iris mereka berdua bertemu walau hanya sepersekian detik lamanya.
Wisnu yang lebih dulu sadar di antara mereka. Dia perlahan berjalan maju, mengikis jarak antara dirinya dan Eleena yang belum bergerak dari tempat. Wisnu berdiri di depan Eleena, lelaki itu mengulurkan tangannya, "Kita pergi sekarang ya," ucapnya pelan, penuh kelembutan.
Eleena tidak pernah mendengar kata-kata selembut ini dari Wisnu. Hanya sekali dia mendengar nada sepele ini dari lelaki itu tapi mampu membuat Eleena seakan mabuk kepayang tak bisa menolak uluran tangannya. Eleena meletakkan tangannya di telapak tangan Wisnu, membiarkan lelaki itu untuk menggenggam tangan putihnya dan membawa gadis itu pergi dari fakultas itu melewati kerumunan mahasiswa.
Seseorang butuh alasan mengapa dia jatuh cinta pada orang lain, tapi Eleena tidak pernah tahu apa dan kenapa dia merasa begitu nyaman dan dekat bersama Wisnu. Terlepas dari semua yang sudah terjadi antara mereka beberapa bulan ini, tapi Eleena menyukai Wisnu. List alasan yang Eleena buat untuk memberi tahunya kenapa dia harus menyukai Wisnu, kini sudah penuh. List yang semuanya Eleena yakin tidak akan terisi, tapi selama dua bulan perjalanan asmara mereka, Eleena menemukan banyak hal di dalamnya. Wisnu dan segala keabu-abuan lelaki itu, Eleena ingin mengetahui semuanya.
Namun sayangnya, mungkin itu harus terhenti. Mereka akan segera menjadi orang asing sebentar lagi. Saat Wisnu mengucapkan kata 'putus', itu berarti semuanya selesai. Eleena sudah tidak punya hak untuk mengulik kehidupan Wisnu lebih dalam. Karena mereka, sudah tidak memiliki hubungan.
"Mau putus di sini?" tanya Eleena saat Wisnu melepaskan tangannya begitu sampai di area parkir kampus. Tatapan Eleena kini berubah menjadi sendu, ada sesuatu yang tak bisa Wisnu artikan di sana. Yang pasti, Wisnu bisa melihat ada sedikit kesedihan terpancar di sorot mata Eleena.
__ADS_1
Wisnu menghela napas lagi, dia menggelengkan kepala pelan. "Nggak di sini, tapi di sana." Jawaban Wisnu agak membingungkan, tapi lelaki itu menyuruh Eleena untuk masuk ke dalam mobilnya.
Wisnu membukakan pintu mobil Eleena sebelum dia masuk ke dalam dan duduk di bangku kemudi. Bahkan tanpa meminta izin Wisnu memasangkan sabuk pengaman Eleena. Wisnu dengan sengaja mempertemukan iris mereka lagi, tidak lama hanya beberapa detik saja, tapi sudah mampu memberi guncangan di dada Eleena. Gadis itu seakan bergema dengan suara detak jantung hanya karena tatapan dalam Wisnu.
Wisnu itu gila, ada banyak hal gila dalam dirinya. Kadang kala hal gila itu membuat Eleena risih dan merasa geli, tapi kadang kala hal gila itu membuat Eleena merasa tertarik dan ingin masuk lebih dalam untuk mengetahui alasannya.
"Wisnu udah suka sama El," ucap Arfin melihat mobil biru Wisnu keluar dari pekarangan kampus. Arfin itu ahli dalam hal perasaan, dia sudah cukup berpengalaman soal itu. Hal mudah untuk mengetahui perasaan Wisnu yang sederhana.
"Tapi gue percaya sama Wisnu," tambahnya. Terserah apa yang dikatakan oleh akalnya sekarang, tapi Arfin akan mendengarkan hatinya. Meyakinkan diri kalau temannya itu tidak akan mengkhianatinya. Arfin percaya pada Wisnu, melebihi dia percaya dengan dirinya sendiri.
...***...
Udah dulu lah ya segini dulu, aku mau dimabuk tugas dulu, hehe sekalian ngulur adegan putus Eleena sama Wisnu, agak sedikit nggak tega aku mutusin mereka :)
__ADS_1