Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Pacar Wisnu


__ADS_3

Jarum jam dinding terus bergerak, mengingatkan manusia akan waktu yang terus berjalan. Dan di rumah bercat putih gading ini ada seorang lelaki berdiri menatap dirinya di cermin. Arfin menatap wajahnya di kaca, wajah tampan yang akan membuat setiap gadis tergila-gila. Arfin bergerak menyisir rambutnya, dan juga memakai jam tangan mahal yang ia punya.


Kasta Arfin bisa dibilang sama seperti Wisnu, mereka berdua berasal dari keluarga konglomerat, jadi hidup mereka tidak ada kekurangan kalau soal uang. Namun, tetap saja derajat keluarga Aksanta lebih tinggi dari keluarganya, maka dari itu Arfin harus menurut pada Wisnu, karena kesenangan Wisnu menentukan nasib perusahaan keluarganya di masa depan.


Arfin membuka pintu kamar setelah meletakkan ransel di kedua pundak. Arfin berjalan menuju meja makan di mana ada ayah, ibu serta kedua kakak laki-laki Arfin. Arfin duduk di sebelah laki-laki berkemeja biru berdasi hitam—Laki-laki itu kakak kedua Arfin. Kalau boleh jujur, Arfin lebih menyukai kakak keduanya daripada kakak pertamanya, karena kakak kedua Arfin sedikit lebih perhatian pada Arfin dibanding kakak pertamanya.


Arfin sarapan dalam diam, meskipun kedua kakak Arfin mengobrol mengenai kondisi perusahaan bersama ayah mereka. Arfin tidak ikut bergabung di dalam pembicaraan itu karena dia tidak mengerti mengenai perusahaan dan tidak mau ikut campur juga, itu bukan passion Arfin.


"Kalau kamu masuk manajemen pasti kamu ikut gabung bicara sama kita, Fin." Arfin menaruh kembali sendok berisi nasi ke piring. Nafsu makan lelaki itu hilang saat ayahnya kembali membahas hal yang sama setiap hari, Arfin saja bosan mendengarnya apa ayahnya tidak bosan mengucapkan itu.


"Papa udah bilang sama kamu, pilih jurusan kuliah yang menjamin, tapi apa? Kamu malah milih jurusan itu, kamu mau jadi pengangguran setelah kamu tamat?" tanya Papa Arfin.


Jangankan menjawab, Arfin bahkan sudah malas untuk mendengar. Arfin berdiri dari duduknya, menjauh dari meja makan yang masih berisikan keluarganya.


"Mau ke mana kamu?" tanya Papanya.


"Mau ngampus," jawab Arfin tanpa membalikkan tubuhnya.


"Kamu masih nggak mau pindah jurusan?!" Papa Arfin berdiri, mendekati anaknya yang berhenti melangkah tapi masih membelakangi dirinya.


Pria itu dengan kasar membalikkan tubuh anaknya agar menghadap dirinya. "Jangan jadi anak pembangkang Arfin, kamu mau pindah jurusan atau kamu berhenti kuliah."


"Nggak dua-duanya!" tekan Arfin sekali lagi.


"Kamu mau selamanya jadi beban? Apa kamu tidak malu dengan abang-abangmu yang sekarang karirnya bagus?"


"Abang jalanin perusahaan, dia itu pewaris bukan perintis. Karir mereka bagus karena reputasi perusahaan yang juga bagus, dan aku nggak mau kayak mereka. Aku bakal jadi perintis bukan pewaris, kayak Papa sama Abang!"


Setelah kata-kata itu terlontar, tamparan keras juga mendarat di pipi Arfin. Rasa pedas terasa, perih juga. Arfin mengelus pipinya yang panas dan beralih meluruskan arah pandang untuk bertatap dengan papanya.


"Kamu nggak malu berkata seperti itu Arfin?!" bentak sang Papa.


"Nggak! Dan aku nggak akan nuruti perintah Papa!"


"Kenapa? Kenapa kamu nggak mau mendengarkan saya?!" Ini masih pagi tapi keributan dan pertengkaran sudah terjadi di rumah kediaman keluarga Alyas.


"Ini passion aku, Pa. Aku suka sama hal ini, dan aku juga udah nyaman jalaninya. Sekali dalam hidup aku, aku bergerak melalui keputusan aku sendiri bukan karena kemauan Papa. Aku, nggak akan pindah jurusan, kalau Papa nggak mau biayain kuliah aku lagi, nggak papa, aku bisa cari biaya sendiri."


Arfin keluar dari rumah, meninggalkan anggota keluarga yang hanya diam melihat dia bertengkar dengan ayahnya. Arfin memasuki mobil, membawa mobil itu keluar dari pekarangan rumah setelah pagar putih tinggi di buka.


...***...


Universitas Binawa adalah Universitas impian setiap orang, banyak para mahasiswa yang berjuang keras untuk bisa masuk ke sini dan juga berjuang keras untuk menjadi lulusan terbaik saat wisuda nanti. Maka dari itu banyak dari mahasiswa belajar sungguh-sungguh karena persaingan yang ketat, seperti di salah satu kelas Universitas Binawa ini, begitu dosen masuk mereka mendengar dengan seksama, dan berpikiran kritis tentang materi yang diajarkan, tapi itu tidak berlaku untuk salah satu mahasiswa di kelas itu, yaitu Wisnu.


Wisnu memutar pulpen dengan tatapan kosong tanpa berkedip sejak tadi, jadi tidak heran kalau Baim dan Gilang bertanya-tanya.


Gilang menggerakkan bahu Wisnu pelan, "Kenapa Tuan muda?"


Wisnu masih tidak mengubah arah pandang, tapi dia menghentikan aktivitas memutar pulpennya. Wisnu hanya diam, masih dengan tatapan kosong tanpa menjawab pertanyaan Gilang. Pikiran lelaki itu menjelajah menuju kejadian di rumahnya tadi malam.

__ADS_1


Saat Rama pulang di malam hari dalam keadaan basah kuyup. Wisnu duduk di sofa ruangan dan yang pertama kali Rama lihat begitu memasuki rumah adalah Wisnu yang sedang bermain game. Rama menatap Wisnu dan dibalas tatapan oleh Wisnu. Kedua iris hazel itu bertemu dalam satu tatap, Wisnu itu sangat mirip dengan Rama, bukan hanya dari segi wajah tapi perilaku juga.


Wisnu melihat Rama dari ujung kepala sampai kaki. Semuanya basah, tidak ada yang terlewat, seperti Rama berdiri di bawah hujan untuk waktu yang lama, membiarkan setiap tetes hujan mengenai tubuhnya. Rama mendekati Wisnu, dan melihat itu Wisnu segera bangkit dari duduk. Kalau dia masih duduk, bisa berbeda ceritanya nanti.


"Udah punya pacar?" Begitu Rama lebih dekat dengan Wisnu, dia langsung menanyakan hal itu. Wisnu memutar bola matanya malas, kenapa sekarang Rama berubah menjadi bapak-bapak yang sibuk bertanya kapan anaknya punya pacar dan kapan anaknya menikah, itu menyebalkan.


Wisnu menggeleng pelan. "Ingat, waktu terus berjalan, kalau kamu nggak punya pacar, saya akan menjodohkan kamu," ujar Rama. "Satu lagi, carilah perempuan yang bisa mengubah sikap brengsek kamu, Wis. Perempuan yang mengubah kamu menjadi lebih baik, sehingga tanpa dia kamu kembali ke jalan yang salah lagi," lanjut Rama dengan tatapan mulai sendu.


Pria itu berjalan meninggalkan ruang tamu dalam keadaan basah sehingga lantai menjadi basah karena langkah Rama. Wisnu menatap punggung Rama yang perlahan menghilang sambil berpikir siapa yang akan menjadi pacarnya. Kalau dipikir-pikir yang diucapkan Rama ada benarnya juga, waktu terus berjalan dan Wisnu belum mendapatkan pacar sama sekali. Sudah satu minggu sejak Rama memberi tawaran untuk Wisnu mencari pacar sendiri. Rama itu tidak bisa ditebak, memang yang dikatakannya diberi waktu selama 2 bulan, tapi ketika 1 bulan Wisnu tak kunjung punya pacar bisa-bisa pria itu langsung menjodohkannya tanpa meminta izin lagi seperti waktu itu.


Wisnu dibuat bingung sekarang, sampai dia tidak fokus pada materi yang diajarkan oleh dosen mereka. Syukur saja dosen tersebut bukan dosen killer jadi dia tidak menghiraukan Wisnu yang melamun di tengah pelajarannnya.


"Gimana caranya supaya gue dapet pacar?" batin Wisnu.


...***...


Kelas terakhir selesai, semua mahasiswa keluar dari kelasnya masing-masing, termasuk Wisnu, Baim dan Gilang yang kini sudah berada di kantin kampus untuk makan-makan. Wisnu memesan Whitecoffe dan burger, Baim memesan nasi goreng dengan jus terong belanda dan Gilang yang memesan kentang goreng dengan teh manis saja, maklum Gilang lagi masa bokek. Jangan lupakan Arfin yang ada di sana juga. Lelaki itu memesan jus kuini dan memesan spaghetti.


Keempat laki-laki itu bercengkrama sambil memakan makanan yang sudah di pesan. Dalam waktu singkat minuman mereka tinggal setengah dan makanan yang mereka pesan sudah habis tanpa sisa.


Wisnu meminum habis Whitecoffe yang ia pesan, lelaki itu melihat gelas kosong tanpa isi. Wisnu bangkit dari duduknya menuju tempat penjual kopi untuk memesan kopi lagi tapi kali ini dia memakai cup bukan gelas agar bisa dibawa pulang.


"Bu Whitecoffe-nya satu," ucap Wisnu begitu sampai di sana. Ibu penjual hanya mengangguk, dia melayani mahasiswa yang lebih dulu sampai di sana sebelum Wisnu.


Sembari menunggu, Wisnu berkutat dengan ponselnya, tapi ekor mata Wisnu melihat ada postur tubuh yang sepertinya dia kenal. Wisnu mengangkat pandangannya dan kedua mata Wisnu melihat ada Eleena di sebelah. Sepertinya gadis itu memesan kopi juga.


Rasa aneh itu kembali lagi, rasa aneh yang tidak Eleena mengerti setiap kali dia menatap Wisnu. Tatapan Wisnu tapi bukan tatapan tajam seperti biasanya dia memberi tatapan dalam dan mampu membuat banyak orang tenggelam.


"El, kita ketemu lagi." Eleena membuang arah pandangnya segera, tak mau berlama-lama menatap mata Wisnu.


"Ini kopinya Mas," ucap Ibu penjual. Wisnu mengambil kopinya segera dan membayar tak lama dari itu kopi Eleena juga siap.


Kedua manusia ini berjalan bersama dengan arah yang sama. Wisnu menuju tempat duduk mereka di belakang sana dan Eleena menuju tempat duduk kosong yang juga berada di belakang.


Wisnu melirik Eleena tanpa henti, ingin dia memulai pembicaraan dengan gadis di sebelahnya ini tapi dia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan, bahkan saat sampai di tempat duduk mereka, Wisnu belum membuka obrolan pada Eleena bahkan saat dia tahu Eleena duduk di sebelahnya dia juga tidak membuka mulut untuk memulai pembicaraan.


Wisnu kembali tenggelam dalam pikiran tentang ucapan Rama tadi malam. Dia harus segera mencari pacar, seketika Wisnu merasa iri dengan Arfin. Lelaki itu terlalu mudah menyapa dan berteman dengan banyak perempuan termasuk memacari mereka. Sama seperti yang tadi Arfin lakukan, dia menyapa seorang gadis cantik di kantin, gadis yang sama sekali tidak pernah terlihat di mata Wisnu, tapi Arfin mampu mengenalinya.


Wisnu beralih menatap Eleena. Eleena yang duduk damai sambil membaca buku dengan kacamata bertengger di atas hidung. Rambut Eleena yang kali ini di gerai tanpa pita. Penampilan Eleena selalu sederhana tapi itu sangat elegan.


Wisnu tidak bisa diam lebih lama, dia harus mengucapkan hal itu segera. Dari sekian banyak gadis yang ia temui hanya Eleena yang cocok.


"Mau jadi pacar gue?" Semua pasang mata mengarah pada Wisnu begitu dia mengucapkan hal itu. Termasuk Eleena yang tadi tenggelam dalam bacaan novel kini beralih menatap Wisnu. Gadis itu menautkan alisnya, menatap Wisnu penuh tanda tanya.


Begitu juga ketiga teman Wisnu, Arfin sampai tersedak mendengar Wisnu mengucapkan hal itu. Pertama kali dalam hidup Arfin dia mendengar Wisnu mengatakan hal seperti itu, dan itu pada Eleena—gadis yang tidak pernah akur pada Wisnu.


"Mau jadi pacar gue nggak?" ulang Wisnu lagi.


"Apa?" Eleena tidak salah dengar kali ini, Wisnu mengajak dirinya berpacaran. Sejak kapan mereka dekat dan harus berpacaran.

__ADS_1


"Gue, gue nggak suka sama lo jangan salah paham dulu." Wisnu mencoba untuk menjelaskan maksudnya pada Eleena walau agak sedikit gelagapan. "Gue, ada alasan dibalik itu. Gue harus punya pacar, soalnya kalau gue nggak punya pacar ada masalah genting banget. Jadi, gue harus punya pacar, gue rasa lo yang paling cocok jadi pacar gue. Tapi gue nggak suka sama lo loh ya."


Eleena tidak bisa menyembunyikan raut kebingungan atas ucapan Wisnu. Begitupun Baim dan Gilang yang saling melempar pandang. Dan Arfin, lelaki itu juga sama seperti Eleena, bingung atas ucapan Wisnu.


"Lo mau ya jadi pacar gue, nggak lama kok, yang penting bokap gue percaya aja gue udah punya pacar," lanjut Wisnu.


"Nggak." Jawaban Eleena ini menghancurkan harapan Wisnu. Eleena adalah gadis pertama yang dia ajak berpacaran dan gadis pertama juga yang menolak dirinya. Eleena menciptakan sejarah dalam hidup Wisnu karena dia adalah orang yang menolak Wisnu berkali-kali dalam hal apapun. Biasanya tidak ada yang berani menolak Wisnu meskipun mereka tahu Wisnu lah yang salah tapi mereka lebih memilih untuk bungkam apalagi setelah tahu nama Aksanta berada di belakang nama Wisnu. Seketika Eleena sama seperti Rama selalu menolak Wisnu.


"Kenapa?"


"Gue nggak mau. Cari cewek lain aja sana." Eleena berdiri, menutup novel yang belum selesai ia baca.


"Jangan gitu dong, mau ya." Kenapa sekarang intonasi Wisnu seakan memohon, biasanya lelaki itu memaksa.


Eleena menggelengkan kepala kuat. "Gue nggak mau," ulang Eleena menekankan setiap katanya.


"Udah ah, gue mau pergi, males ketemu sama lo." Eleena berjalan melewati tempat duduk Wisnu, tapi gadis itu menyempatkan diri untuk tersenyum pada Arfin.


"Eh, kok bisa lo ngajak dia pacaran?" tanya Arfin begitu Eleena sudah benar-benar lenyap dari kantin.


"Panjang ceritanya," balas Wisnu.


"Ya kalau panjang disingkat aja," celetuk Baim dan mengharukan ia mendapat pukulan di lengan lagi oleh Gilang. Baim mengelus lengan bekas pukulan Gilang, lelaki itu sering sekali menyakiti Baim, Baim jadi sedih.


"Kenapa Tuan muda?" Kalau Gilang yang sudah bertanya, Wisnu tidak tega kalau dia tidak menjawab. Gilang adalah orang kepercayaan Wisnu.


"Rama nawarin gue—"


"Pakai nama ah, sebenci-bencinya gue sama bokap gue, gue kagak pernah tuh manggil dia pakai nama. Kagak sopan lo," sela Arfin begitu saja.


Wisnu mendecak kembali melanjutkan perkataan tapi kali ini dengan versi lebih sopan. "Bokap gue mau jodohin gue." Mata ketiga lelaki itu membulat seketika, informasi Wisnu selalu memberi kejutan.


"Lagi?" tanya Gilang.


Wisnu mengangguk. "Tapi, dia juga ngasih gue penawaran. Katanya kalau gue bisa dapat pacar sendiri, dia kagak jadi dijodohin. Makanya gue ngebet banget pengin punya pacar."


"Tapi nggak harus El juga kali yang dipacarin," imbuh Arfin. Mereka semua bisa merasakan ada rasa cemburu dari kata-kata itu.


"Gue tau lo suka sama dia, tapi gue butuh pacar ege."


"Gue banyak kenalan cewek, Wis. Lo bisa kali jalan sama mereka terus macarin mereka. Temen cewek gue temen yang selalu siap jadi pacar siapapun." Arfin memberi saran. Namun saran dari Arfin kali ini sedikit membuat Wisnu bimbang. Yang dicari Wisnu bukan perempuan yang mau berpacaran dengannya tapi perempuan yang bisa membuat dia berubah jadi lebih baik seperti kata Rama tadi malam. Wisnu harus mencari perempuan baik-baik.


"Gue bingung."


Arfin menepuk pundak Wisnu. "Tenang, ada gue, nanti gue ajarin lo gimana caranya deketin cewek, kalau lo mau cewek modelan kayak El, susah sih memang tapi gue ada tuh ketemu cewek yang ya sebelas dua belas lah sama El." Arfin membusungkan dadanya bangga mengatakan itu.


Wisnu diam tidak menjawab, saran dari Arfin ini harus benar-benar dipikirkan oleh Wisnu. Lelaki itu mencari perempuan baik-baik, tapi yang terpenting dia bukan berasal dari keluarga Agustama. Keluarga Aksanta tidak pernah berhubungan dengan keluarga Agustama, jadi Wisnu harus menghindari anggota Agustama bagaimanapun caranya. Tapi Wisnu tidak tahu kalau Eleena adalah anak dari anggota Agustama sendiri. Meskipun gadis itu berasal dari darah keluarga Dirgantara tapi tetap saja ibunya adalah anggota Agustama.


Aksanta dan Agustama tidak akan pernah bisa bersama dan itu adalah fakta yang harus diterima.

__ADS_1


__ADS_2