Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Jepitan Eleena


__ADS_3

"Fin, ada yang mau gue omongin sama lo."


Kalimat itulah yang menjadi alasan Arfin keluar dengan terburu-buru dari kelas. Kalimat yang berasal dari bibir orang terdekatnya terpaksa membuat Arfin tidak sempat menyapa para gadis yang merupakan teman-temannya juga. Biasanya Arfin tidak bisa melewatkan satu hari tanpa menggoda para gadis itu, tapi kini Arfin sudah seperti orang gila berlari menuju kantin untuk menghampirinya.


Arfin berhenti ketika dia sudah menginjakkan kaki di area kantin. Dia menormalkan napas yang tersengal karena berlari dari kelas menuju kantin. Arfin ngos-ngosan, tapi matanya mencari di mana keberadaan orang itu.


"Arfin!" Ketika mata Arfin bertemu dengan Baim, lelaki itu langsung melambaikan tangan agar Arfin tidak kebingungan mereka ada di mana.


Arfin mulai berjalan mendekati tempat duduk teman-temannya. Napasnya yang masih tersengal tak berani membuat Arfin berlari lagi.


"Kenapa?" Begitu Arfin sampai di depannya, dia langsung bertanya pada sang empu. Bahkan Arfin tidak menyempatkan diri untuk duduk dan bersantai sebentar, merehatkan diri dari berlari jauh.


"Duduk dulu, lo ngos-ngosan," katanya. Arfin menurut, ucapan Wisnu sudah seperti perintah untuk Arfin. Lelaki itu menyeret satu kursi yang berada di sebelah mereka. Dia duduk di depan Wisnu.


"Apa yang mau lo omongin Wis? Kayaknya serius banget." Ya, kalimat itu berasal dari Wisnu. Kalimat yang berhasil membuat Arfin berlari dan tak menyempatkan diri untuk menyapa para gadisnya. Kalimat Wisnu yang membuat dada Arfin merasa sesak entah kenapa, kalimat yang memunculkan perasaan tidak enak pada Arfin sejak dia membaca itu dari chat yang dikirim oleh Wisnu ke ponselnya.


"Nggak mau minum dulu?" tawar Baim menyodorkan minuman miliknya pada Arfin. Arfin menolak dengan menjauhkan minuman itu darinya.


"Apaan Wis? Ini ada hubungannya sama El?" Arfin langsung bisa menebak kalau inti pembicaraan mereka ini adalah Eleena. Arfin bisa tahu, Wisnu tidak akan menuliskan pesan itu padanya jika bukan karena Eleena.


Wisnu mengangguk. "Sorry Fin," ucap Wisnu pelan.


Jantung Arfin seketika berhenti saat itu juga. Pikiran buruknya selama ini mungkin akan jadi kenyataan. Arfin membantu Wisnu untuk berpacaran dengan Eleena dan sekarang mereka sudah berpacaran, tapi di sisi lain Wisnu juga sudah berjanji pada Arfin kalau dia tidak akan jatuh cinta pada Eleena. Wisnu sudah berjanji kalau Eleena hanya akan menjadi miliknya. Jadi seharusnya Wisnu tidak bisa jatuh cinta pada gadis itu.


"Gue minta maaf kalau gue harus bersikap layaknya orang yang pacaran sama Eleena bahkan di depan lo." Wisnu mengatakan itu seperti berbisik pada Arfin. Arfin mengerutkan kening, jarang sekali lelaki itu berbicara pada Arfin dengan cara seperti ini. Biasanya Wisnu akan membentak Arfin tapi sekarang dia malah berbisik.


"Hah?" balas Arfin bingung. "Bokap gue nyuruh anak buahnya untuk mata-matain gue sama El karena dia nggak yakin gue pacaran sama tu cewek," sambung Wisnu masih dengan berbisik.


Arfin tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Informasi dari Wisnu ini terlalu di luar dugaan. Arfin bahkan tidak pernah memikirkan hal ini barang sedetik pun.


"Yang benar aja? Gila bokap lo?!" Arfin tidak bisa mengendalikan intonasinya, sehingga dia mendapatkan toyoran dari Gilang.


"Pelanin suara lo tolol," umpatnya.


"Sorry." Arfin mengelus kepalanya yang ditoyor oleh Gilang tadi.


"Sakit kan? Sekarang lo ngerasain jadi gue yang terus-terusan ditoyor sama dia," sindir Baim menatap sinis Gilang.


"Lo diam ege!" imbuh Gilang ketus.


"Lo serius?" Arfin memelankan suaranya kembali fokus pada pembicaraan dia dan Wisnu.


"Emang gue kelihatan bercanda?"


Arfin menggeleng, "Kagak sih."


"Ya udah."


Arfin mengajak matanya untuk berkeliling. Kalau yang dikatakan oleh Wisnu benar, pasti disekitar sini ada anak buah Rama yang sedang menyamar. Arfin tidak mengenal semua anak buah Rama tapi dia tahu anak buah Rama yang ditugaskan untuk memata-matai Wisnu. Karena banyaknya anak buah Rama, sampai harus ada anak buah khusus untuk memantau pergerakan putra tunggal Aksanta ini.


"Bener njir." Arfin segera membuang pandangnya begitu dia mendapati ada anak buah Rama memakai kaos seakan sedang menyamar menjadi mahasiswa dan memesan makanan di kantin.


"Kan, gue bilang juga apa," ucap Wisnu.


"Bener-bener di luar nalar kelakuan bokap lo." Arfin tidak habis pikir kenapa Rama sebegitu tidak percayanya pada Wisnu. Padahal Wisnu adalah anaknya sendiri, dia sendiri yang meminta Wisnu untuk mencari pacar sendiri, tapi sekarang dia malah tak percaya anaknya sudah punya seorang kekasih.


"Gue kira pas gue bilang lo udah pacar, dia percaya ege," ujar Arfin. "Gue kira juga gitu," balas Wisnu.


"Kenapa nanyanya sama lo, kan bisa nanya sama kita juga ya, kan." Baim dan Gilang saling lempar tatap seakan merasa tak terima karena selalu Arfin saja yang diterima oleh Rama.


"Omongan Arfin aja dia nggak percaya, apalagi omongan lo berdua. Bisa disangka gila gue kalau gue nelpon lo berdua," ketus Wisnu.


"Bener juga sih," gumam Gilang pelan tak. terdengar oleh siapapun.


"Jadi, lo bakal beneran pura-pura pacaran sama El? Bukan cuma status doang?" Arfin tidak berbohong, ada perasaan khawatir di dalam dirinya.

__ADS_1


"Iya." Wisnu mengangguk mantap. "Tapi gue janji sama lo, sikap gue atau sikap Eleena yang kayaknya pacaran nggak akan buat kita saling cinta. Gue juga udah bilang hal itu ke dia, so lo tenang aja, Eleena cuma milik lo." Wisnu merangkul pundak Arfin, memberi kepercayaan pada lelaki itu kalau yang dikatakan Wisnu adalah sebuah kebenaran dan ucapan Wisnu bisa dipegang.


"Gue percaya sama lo," ucap Arfin pada akhirnya.


"Good boy," imbuh Baim bertepuk tangan. "Gila lo ya." Gilang memukul lengan Baim, dan itu terpaksa membuat Baim mengelus lengannya kesakitan.


Tante Sinta:


Wisnu sayang, kamu boleh antar Eleena pulang ke rumah? Sopir lagi nggak bisa jemput, tadi mobil Eleena rusak


^^^Anda:^^^


^^^Boleh tante, dengan senang hati^^^


Tante Sinta:


Makasih banyak ya sayangnya tante 🥰


^^^Anda:^^^


^^^Sama-sama tante kesayangan aku 🥰^^^


Wisnu mematikan ponselnya dengan senyuman setelah membaca pesan dari Sinta. Dia sudah lama bertukar kabar dengan Sinta melalui via chat semenjak ada kejadian dia harus berdiam diri sebentar di kediaman Dirgantara karena dia dipukuli oleh anak buahnya Rama.


Lelaki itu pikir, hubungan dia dan Sinta hanya akan berhenti sampai disitu saja, tapi nyatanya tidak. Sinta meminta nomor Wisnu dan sampai sekarang mereka masih berhubungan baik meskipun jarang bertemu.


"Mau ke mana?" tanya Gilang melihat Wisnu yang memunculkan senyum dan berdiri dari duduknya.


"Mau anter El pulang, disuruh sama Tante Sinta." Wisnu beralih menatap Arfin yang terlihat murung. Lelaki itu menepuk pundak Arfin. "he's yours. Don't scared, I never falling in love with her," bisik Wisnu pelan sebisa mungkin agar tidak terdengar anak buah Rama yang kini sudah berganti tempat duduk di sebelah mereka.


Wisnu menaruh ranselnya di bahu kanan, dia pergi dari kantin meninggalkan Arfin bersama Baim dan Gilang. Arfin hendak berdiri berniat menyusul Wisnu, tapi ketika sorotnya melihat anak buah Rama yang memakai kaos dan menyamar menjadi mahasiswa mengikuti langkah Wisnu, dia mengurungkan niat. Keamanan Wisnu nomor satu, kalau dia mengikuti Wisnu sudah jelas hidup lelaki itu akan bahaya.


Wisnu tahu kalau dia dibuntuti oleh anak buah Rama, maka dari itu sebisa mungkin dia mempercepat langkahnya agar bisa menghilang dari pantauan pria itu. Namun setiap kali Wisnu berlari, dia juga ikut berlari, Wisnu benar-benar tidak bisa bebas kalau Rama sudah turun tangan.


Wisnu sebenarnya tidak tahu pasti di mana ruangan Eleena, tapi dia mengandalkan papan petunjuk yang ada di sebelah kiri lobi. Papan yang mengarahkan ke mana kalian harus pergi jika ingin masuk ke fakultas lain. Dan kebetulan jika Wisnu ingin memasuki fakultas Psikologi dia harus berbelok ke kiri.


Wisnu sudah berada di fakultas Psikologi sekarang. Para mahasiswa mengenakan almamater berwarna merah berkeliaran di sekelilingnya. Sekarang tugas Wisnu adalah mencari kelas Eleena dan mengajak gadis itu pulang.


"Eh, liat Eleena nggak?" Begitu Wisnu menghampiri perempuan ini dia langsung disambut dengan tatapan tidak suka dan remeh. Bahkan Melinda sampai harus menjauhi dia, mungkin Wisnu tidak mengenalnya tapi Melinda mengenal dia. Wisnu Putra Aksanta, putra tunggal keluarga Aksanta dan dia—putri bungsu keluarga Agustama harus menjauhinya.


Melinda tidak menjawab pertanyaan Wisnu, dia langsung pergi meninggalkan lelaki itu begitu saja.


Wisnu menatap jengkel perempuan angkuh yang pergi meninggalkan dia. "Jurusan aja Psikologi, katanya mengerti perasaan manusia ternyata orangnya suka nyakitin," cibir Wisnu.


Wisnu tidak lagi bertanya pada mahasiswa yang lain dia menyusuri tempat ini dan mencari sendiri di mana kelas Eleena. Karena kalau Eleena belum pulang dia pasti masih ada di kelasnya.


Langkah demi langkah Wisnu jalani demi bertemu dengan gadis itu tapi nyatanya iris hazel Wisnu belum menemukan sosok perempuan dengan senyuman indah yang membuat Wisnu gagal fokus semalam.


Sepatu Wisnu memijak sesuatu itu tidak besar tapi tidak kecil juga. Wisnu buru-buru mundur, menengok apa yang telah dia pijak dan memeriksa apakah benda itu rusak atau masih bisa digunakan.


Wisnu mengambil jepitan berwarna lilac dari lantai. Jepitan bermotif bunga putih dengan lilac sebagai warna utamanya.


"Punya El." Wisnu tidak tahu pasti apakah benda ini milik Eleena atau tidak. Tapi begitu dia melihat benda ini pikiran Wisnu langsung tertuju pada gadis itu, karena Eleena suka memakai jepitan. Jepitan itu kegemaran perempuan tapi yang Wisnu lihat hanyalah Eleena jadi baginya ini adalah milik Eleena.


Wisnu keluar dari tempat ini, sedikit berlari karena hatinya mengatakan bahwa Eleena sudah keluar dari tempat ini.


"Jangan pulang dulu, El," batin Wisnu mulai agak sedikit berlari.


Wisnu sedikit panik mencari keberadaan Eleena yang tak kunjung terlihat di matanya. Lelaki itu sudah keluar dari fakultas Psikologi tapi dia masih belum menemukan Eleena. Kalau benda ini milik Eleena pasti gadis itu akan kecarikan dan mulai panik di manapun dia berada.


"Jepitan gue mana?" teriak gadis itu ketika dia sadar kalau rambutnya yang semula terikat setengah kini sudah tergerai sempurna.


Seakan bisa mendengar suara Eleena, Wisnu berjalan pelan ke sebelah kanan. Untuk kali ini lelaki itu biarkan hatinya yang berkuasa menuntun dirinya untuk menemukan sang kekasih. Wisnu merasa kalau ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya, segala hal mengenai Eleena seakan-akan selalu datang ke dirinya. Perempuan menyebalkan yang Wisnu benci tapi kini laki-laki itu malah mencarinya.


"El." Suara Wisnu tidak besar, itu kecil sekali. Namun Eleena yang berjarak beberapa meter darinya mampu mendengar. Perempuan yang berdiri di depan cermin di salah satu lobi membalikkan tubuhnya menengok ke arah Wisnu yang terdiam di tempat.

__ADS_1


Kembali sama, mereka tenggelam dalam tatapan tanpa pembicaraan. Eleena selalu hilang akal jika dia menatap iris hazel Wisnu dan Wisnu bisa gila setiap kali dia melihat sorot yang tak bisa ia mengerti kala Eleena menatapnya. Mereka berdua tidak paham kenapa jantung ini bisa berdetak begitu kencang padahal mereka tidak melakukan estafet lari.


"Kenapa lagi ini?" batin Eleena.


"Gue nggak suka sama perasaan ini, tapi dia, kayaknya gue suka," batin Wisnu.


Wisnu tersadar dari lamunan saat ada seorang mahasiswa yang menyenggol bahunya. Wisnu hampir kehilangan keseimbangan dan mahasiswa itu mengucap maaf sebelum melanjutkan larinya.


Wisnu tidak peduli hal itu yang dia pedulikan sekarang dia harus menghampiri Eleena dan mengajaknya pulang karena ini amanah dari Sinta.


Wisnu mulai melangkahkan kaki mendekati Eleena. Dan ada atmosfer aneh yang semakin menyerang Eleena kala lelaki itu mendekat. Eleena seakan ingin berlari tapi kakinya kaku untuk bisa digerakkan, dia seakan ingin membuang pandang tapi matanya terpesona akan iris hazel milik lelaki mirip Rama itu. Eleena benci setiap kali dia sadar bahwa dia terpesona oleh Wisnu. Eleena benci setiap kali dia merasa kalau dia, merasakan sesuatu terhadap Wisnu.


"Punya kamu?" Eleena tidak sempat membuka mulut untuk mengeluarkan suara karena pertanyaan Wisnu lebih dulu sampai d telinga.


Eleena mengangguk menatap jepitan rambut miliknya berada di tangan Wisnu. "Kok bisa sama kamu?"


"Takdir." Untuk jawaban Wisnu kali ini, dia juga merasa aneh. "Maaf, maksudnya jumpa tadi di depan kelas fakultas Psikologi," lanjutnya memperbaiki jawaban ngawur yang dia berikan sebelumnya.


"Kok bisa tau ini punyaku?" tanya Eleena.


"Aku juga nggak tau, tapi hati aku bilang ini punya kamu," jawab Wisnu.


"Kamu mau dengerin kata hati?" Eleena tidak menyangka kalau laki-laki angkuh seperti Wisnu ternyata masih mau mendengarkan kata hatinya.


"Semenjak kenal kamu, aku sering dengerin kata hati nggak tau kenapa."


Eleena seperti kehilangan napas, jawaban Wisnu bisa membuat gadis itu pingsan sekarang. Eleena menjadi alasan Wisnu mendengarkan kata hatinya? Sebenarnya hubungan mereka itu apa sih?


"Ini." Wisnu menyodorkan jepitan berwarna lilac kepada Eleena. "Boleh aku pakaikan?" Wisnu bertanya hati-hati.


Eleena mengangguk, untuk kesekian kali karena pertanyaan Wisnu gadis itu mengangguk. Wisnu mulai menggerakkan tangannya, menjepitkan benda berwarna lilac ke rambut hitam kecoklatan milik Eleena. Dengan penuh kehati-hatian dia menjepitkan benda itu di sana, seakan jika ada gerakan kasar sedikit saja semuanya bisa hancur berantakan.


"Makasih," ucap Eleena.


"My pleasure, Sayang," balas Wisnu.


Eleena tidak suka tiap kali perasaan ini datang kala Wisnu berperilaku romantis padanya. Eleena sebisa mungkin berusaha untuk menutupi bahwa dia merasa baper karena Wisnu.


"Pulang yuk," ajak Wisnu.


"Pulang bareng? Eh Bunda ada chat kamu ya?" tebak Eleena.


"Iya Sayang, tadi bunda kamu nyuruh aku."


"Ya udah kita pulang bareng." Sekarang Eleena malah spontan melingkarkan tangannya di pinggang Wisnu, membuat jarak mereka hanya setipis benang.


Wisnu dan Eleena saling terdiam beberapa saat, atmosfer gila ini lagi. Mereka berdua bisa gila karena tidak bisa memahami perasaan sendiri.


"Maaf." Eleena melepaskan lingkaran tangannya. "Nggak papa El, your my girlfriend, it's okay, I like it kok." Wisnu berkata penuh kelembutan yang gak pernah Eleena duga bisa keluar dari mulutnya. Bahkan Lelaki itu tersenyum di hadapan Eleena dan memberikan elusan kecil di surai rambutnya.


"Jangan baper, El," batin Eleena.


"Pulang yuk." Eleena menurut, dia membiarkan tangan Wisnu menggenggam tangannya.


"Pak, mereka ingin pergi ke rumah si perempuan," lapor pria berkemeja hitam—anak buah Rama yang sedang menyamar.


"Sampai disitu saja, jangan buntuti mereka, hargai privasi perempuan itu," suruh Rama.


"Baik Pak."


Wisnu mengintip anak buah Rama dari ekor matanya, berhasil.


"Makasih ya, kita berhasil bohongi anak buah bokap gue."


Ada perasaan sakit ketika Eleena mendengar kalimat itu. Dia lupa kalau mereka hanya pura-pura seharusnya dia tidak usah terlalu kebawa perasaan. Wisnu melakukan semua ini hanya untuk menyelamatkan dirinya dari perjodohan dan Eleena melakukan ini untuk memenuhi permintaan Arfin, jadi ya sudah jangan pernah libatkan perasaan.

__ADS_1


__ADS_2