
Mari kita mulai sekarang. Ini hari keempat Wisnu mencari kandidat seorang pacar. Lelaki berkemeja merah lengan pendek itu menghela napasnya untuk kesekian kali. Wisnu Putra Aksanta dilanda kegugupan hari ini. Begitu iris hazel Wisnu menangkap sosok perempuan dengan pakaian kemeja juga Wisnu langsung berdiri. Lelaki itu berjabat tangan dengan gadis itu.
Wisnu menatap intens perempuan di depannya ini. Rambut di kuncir kuda, kemeja putih berlengan panjang, kaca mata di wajah, rok sepan hitam panjang. Dia terlihat lebih ingin melamar pekerjaan daripada berkencan dengan Wisnu.
"Menunya," kata pelayan begitu menghampiri meja mereka. Perempuan itu menolak ketika papan menu disodorkan padanya. "Maaf, saya lagi diet, saya nggak akan pesan apa-apa," ucapnya.
Wisnu menaikkan satu alisnya, lumayan menarik. Demi menghargai gadis di depannya ini, Wisnu juga ikut tidak memesan apapun. Obrolan mereka di mulai.
"Gue, Icha." Perempuan itu menyodorkan tangannya di depan Wisnu, Wisnu membalas jabatan tangan itu.
"Gue Wisnu. Ngomong-ngomong, penampilan lo hari ini terlalu formal, gue kira kita lagi kencan," ujar Wisnu disertai kekehan di akhirnya.
"Itu dia." Wisnu menatap serius gadis ini begitu dia mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas hitam. Gadis itu menyodorkan kertas itu pada Wisnu.
"Ini CV gue lo bisa periksa, gue mau ngelamar kerja." Mata Wisnu terbelalak, apa-apaan ini? Dia mau mencari pacar bukan karyawan.
"Tapi—"
"Gue sangat amat butuh pekerjaan. Setelah gue tau lo itu Putra Aksanta, gue langsung ngajuin diri sama Arfin buat bisa ketemu lo. Gue pikir, lo bisa masukin gue ke perusahaan Aksanta," jelas gadis itu. "Gue nggak butuh pacaran sama lo, tapi gue butuh kerjaan dari perusahaan keluarga lo."
Wisnu tidak bisa, ini sudah berbeda dari agenda awal. Wisnu berdiri dari duduknya, menggelengkan kepala pada gadis itu dan keluar dari sana. Bukan Wisnu tidak mau memberi gadis itu pekerjaan, tapi Wisnu tidak punya wewenang akan hal itu, bisa-bisa dia memulai perang lagi dengan Rama untuk yang kesekian.
Ketiga lelaki itu saling melempar pandang. Arfin menepuk jidatnya, gagal lagi. Kencan keempat bersama gadis berpakaian formal, gagal.
...***...
Kita cari peruntungan hari ini. Wisnu sudah berdoa sejak tadi, agar di hari kelima ini dia menemukan perempuan yang cocok dan juga baik-baik. Wisnu tidak ingin bertemu dengan perempuan banyak drama seperti pertemuannya yang lalu.
Gadis ber-dress merah maroon itu duduk di depan Wisnu. Namun, gadis itu tampaknya tidak sendiri, karena dia membawa kucing bercorak oranye di pangkuannya. Sepertinya, kencan kali ini melibatkan orang ketiga.
"Sorry ya, bawa hewan peliharaan. Aku nggak bisa ninggalin Milky di rumah sendirian." Kucing itu punya nama ternyata.
"Mereka mulai ngobrol seperti biasa, seperti hobi, kesukaan dan aktivitas sehari-hari dan pembicaraan mereka asik. Kucing oranye di pangkuan gadis itu juga tampak lucu, apalagi saat dia tertidur seperti sekarang ini.
"Oh ya, itu hewan peliharaan lo udah berapa lama bareng?" tanya Wisnu mulai tertarik pada hewan berkaki empat itu.
"Milky udah bareng sama aku sejak dia masih kecil. Ibunya Milky mati saat melahirkan Milky, jadi aku yang jagain Milky. Milky anak aku." Dia tampak sedikit sedih di awal, tapi perlahan intonasi suaranya mulai agak bersemangat.
"Lucu ya," ucap Wisnu.
"Makasih."
Makanan akhirnya datang. Mereka memakan makanan yang sudah di pesan. Wisnu menyantap makanannya sembari melirik gadis itu sesekali. Dia cantik, sopan, tidak genit, tidak terlalu tomboy dan juga lucu. Sepertinya Wisnu merasa sedikit nyaman dengan gadis satu ini.
"Kamu ganteng ya," puji gadis itu disela dia makan. Wisnu hanya mengangguk.
Kedua manusia ini menikmati hidangan dengan khidmat, jarang membuka obrolan di tengah menyantap makanan. Sepertinya, gadis itu juga orang yang elegan, terlihat dari cara dia makan yang sangat rapi. Wisnu jadi penasaran apakah dia punya nama belakang atau tidak.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong nama lengkap lo—"
Belum siap Wisnu menyelesaikan kalimatnya, kucing oranye di pangkuan gadis itu terbangun. Awalnya kucing itu memanjakan diri dengan menikmati elusan dari pemiliknya. Sampai pada akhirnya mata kucing itu menemukan ada Wisnu di depan. Kucing itu naik ke meja dan mengeong di sana, seakan dia tidak suka kalau Wisnu ada di depan pemiliknya.
"Milky, turun kamu nggak sopan." Gadis itu mengambil kucing itu dari atas meja. Namun karena kucing merupakan hewan yang tak bisa diam, hewan itu berhasil lepas dari tangan gadis itu.
Kucing oranye milik gadis yang sekarang duduk di depan Wisnu itu sekarang berada di atas meja lagi. Dia mengeong kuat, bahkan sampai memijak spaghetti pesanan Wisnu. Wisnu sontak berdiri, makanannya sekarang, sudah di makan oleh kucing.
"Milky, kamu nggak boleh makan itu." Gadis itu kembali ingin mengambil hewan peliharaannya tapi kucing oranye itu terlalu keras kepala, dia malah lompat turun dari meja. Kucing berlari masuk ke sela-sela kolong bawah meja restoran.
"Milky!" Gadis itu berlari mengejar hewan peliharaannya, dibantu Wisnu juga. Mereka berdua mengepung kucing itu agar tidak berlari lagi. Kucing itu berhenti, Wisnu mendekat mencoba mengambilnya namun alih-alih mendapat sambutan hangat dari kucing itu Wisnu malah dicakar sebagai hadiah kencan bersama pemiliknya.
"Ahh!" jerit Wisnu begitu luka cakaran terpampang di lengannya.
Gadis kencan Wisnu yang kelima ini masih sibuk mengejar kucingnya. Kucing itu membuat keributan di restoran, sampai-sampai para pelayan harus turun tangan hanya untuk menangkap satu hewan. Belum lagi drama kucing itu mengambil ikan dari pelanggan yang sedang makan. Sungguh, ini sangat kacau.
Wisnu melihat sekitarnya, cakaran kucing itu sudah berada di banyak tempat, salah satunya di kain yang menjadi alas meja. Wisnu menghela napas panjang, ini sungguh di luar dugaan.
"Tuan Muda, you okay?" Gilang bersama Baim dan Arfin menghampiri Wisnu.
"Okay gimana, kacau ini!" sentak Wisnu.
Wisnu hanya bisa menatap miris kucing yang terus mengeong meskipun sudah berada di dekapan pemiliknya. Wisnu seketika membayangkan berapa bayaran untuk kerusakan di restoran akibat kesalahan kucing itu.
Kencan kelima, bersama gadis pemilik kucing oranye, gagal.
...***...
"Aman," balas Arfin. Keempat lelaki itu keluar, mereka berjalan menuju pusat perbelanjaan di kota.
Untuk kali ini, gadis yang akan bersama Wisnu dalam beberapa jam ke depan, mungkin, meminta Wisnu untuk menunggunya di mall. Gadis itu bilang, kalau di mall lebih enak untuk berbincang-bincang.
"Mana tu orang?" tanya Wisnu begitu duduk di bangku yang sudah disediakan di mall tersebut bersama ketiga temannya.
"Sabar," balas Arfin.
"Jangan-jangan dia." Tangan Baim menunjuk seseorang ber-dress hijau terang dengan rambut panjang terurai, hak tinggi hitam dan tas tenteng di tangannya.
Mata Wisnu bersama yang lainnya melebar, kala gadis itu semakin mendekat. Itu, bukan gadis. Melainkan seorang laki-laki yang berpenampilan sebagai perempuan. Dengan makeup tebal di wajah gagah laki-laki itu, dan cara jalannya yang melenggak-lenggok sesuai dengan cara jalan perempuan pada umumnya.
"Kagak mungkin ege." Gilang menepuk lengan Baim lagi kali ini. Dan seperti biasa, Baim akan mengelus tempat Gilang memukul dirinya.
"Kalau sempat dia, gue nyalahin lo, Fin," ucap Wisnu beralih menatap Arfin.
Arfin balas menatap Wisnu, lalu menggeleng. "Sumpah, gue kagak tau kalau dia cewok. Cewek dan cowok." Arfin mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
"Hai, ganteng." Wisnu menatap matanya saat itu juga. Saat suara laki-laki yang ditekan agar bisa selembut perempuan terdengar di telinganya.
__ADS_1
Begitupun Baim, Gilang dan Arfin yang langsung membuang arah pandangnya tak mampu menatap orang itu.
"Kamu Wisnu, kan?" Orang itu mengulurkan tangannya di depan Wisnu dan membuat Wisnu terpaksa membuka matanya.
"Aku cantika, gadis cantik manjalita." Orang itu mengibas-ngibaskan rambut panjangnya. Wisnu tidak langsung membalas uluran tangan itu. Melihat tangan berurat itu, dan orang yang sangat menyerupai perempuan padahal dia laki-laki. Apalagi alisnya, terlalu tebal, bibirnya terlalu merah, dan bedaknya yang terlalu tebal sampai-sampai antara wajah dan leher menjadi belang.
"Wi-Wisnu." Putra Aksanta itu membalas uluran tangan dari orang itu ragu-ragu. Wisnu bisa merasakan tangan kasar penuh urat yang terlihat ketika berjabat tangan dengannya. Sangat laki-laki sekali dia, tapi sayangnya tidak menerima takdir.
"Kamu ganteng, Ayang." Orang itu ingin mendekati Wisnu, namun Wisnu spontan menjauhi dia. "Kenapa kamu ngehindar dari aku, Ayang." Orang itu masih berusaha untuk mendekati Wisnu, bahkan dia memaksa Wisnu untuk duduk di kursi berdua bersamanya.
"Aku sayang sama kamu." Sumpah, Wisnu rasanya ingin muntah mendengarnya. Baru kali ini Wisnu merasa jijik bertemu dengan seorang laki-laki.
"Kamu, sayang aku nggak?"
Wisnu menggeleng kuat, "Nggak."
"Kenapa?" Orang itu mulai bertingkah layaknya perempuan, yang manja dan merajuk pada pacarnya.
Wisnu semakin iri dibuatnya. Namun, ketiga temannya itu malah berusaha untuk menahan tawa melihat Wisnu yang malang bersama seorang laki-laki bencong.
"Wisnu." Orang itu hendak, menyenderkan pundaknya di bahu Wisnu, dan seperti tadi, Wisnu langsung menghindar dengan berdiri dari duduknya, hingga kepala orang itu nyaris saja jatuh.
"Wisnu!" Orang itu ikut berdiri. Tuhan, Wisnu sudah tidak tahan, Wisnu lari sekarang.
"Wisnu!" teriak orang itu berusaha mengejar Wisnu menggunakan hak tingginya.
Ketiga teman Wisnu ikut berlari menyusul Wisnu juga. Mereka harus mengambangkan Wisnu dari kejaran orang tidak waras ini. Karena hak tinggi membuatnya kepayahan mengejar Wisnu yang berlari kencang, orang itu membuka haknya dan menambah laju larinya.
"Tuan Muda, lari!" jerit Gilang. Wisnu menengok ke belakang dan benar saja orang tidak waras ini sudah berada di dekatnya.
Wisnu menambah laju larinya lagi, seketika dia lupa kalau dia bisa terjatuh di tempat ini. Wisnu keluar dari mall dan masih berlari sampai dia menuju tempat Arfin memarkirkan mobilnya. Bahkan saat Wisnu sudah masuk mobil Arfin pun, orang tidak waras itu masih mengejarnya. Syukur saja, ketiga temannya itu sigap mengalihkan perhatian orang itu, mereka bilang kalau Wisnu berlari ke ujung sana, kalau tidak akan terjadi hal mengerikan dalam hidup Wisnu nantinya.
Wisnu bisa menghela napas lega, saat ketiga temannya sudah masuk ke dalam mobil. Dengan cepat tangan Wisnu beralih menjitak kepala Arfin.
"Gila lo," umpat Wisnu.
"Gue nggak tau, sorry," balas Arfin mengelus kepalanya.
"Bisa-bisanya lo nggak tau kalau dia bencong Arfin?!" bentak Gilang.
"Gue nggak tau beneran, foto profilnya cakep banget, jadi gue kira dia cewek." Arfin mencoba membela diri saat semua tatapan tajam mengarah padanya.
Wisnu menyenderkan punggungnya ke kursi, saat mobil Arfin mulai berjalan.
"Waktu enam hari gue kebuang sia-sia," gumam Wisnu di dalam mobil dan didengar oleh seluruh penghuninya.
"Udah rela pulang ngampus ketemu cewek biar ada pacar, malah sial terus-terusan gue." Wisnu benar, sudah seminggu belakangan ini, dia tidak langsung pulang ke rumah saat aktivitas di kampus sudah selesai. Itu semua demi Wisnu segera mendapat pacar agar tidak dijodohkan oleh Rama, namun bukannya ketemu pacar, Wisnu malah bertemu dengan manusia yang berbagai macam.
__ADS_1
Perjalanan kencan Putra Aksanta ini, tidak sebaik yang dikira. Wisnu menyerah. Untuk hari ini, kencan keenam bersama seorang laki-laki yang menyerupai perempuan jelas, GAGAL.
"Gue kagak mau lagi kencan," ucap Wisnu. Sepertinya seminggu belakangan ini, Wisnu dimabuk oleh banyak banyaknya tingkah para perempuan aneh di seluruh dunia.