
Pernah dengar pepatah tentang cinta? Begini katanya, "Manusia tidak akan bisa memilih dia jatuh cinta pada siapa, dia juga tidak bisa memaksa untuk orang tersebut tidak menyakitinya."
Dan manusia juga tidak memiliki kendali akan setiap pertemuan maupun perpisahan. Semua yang terjadi di dunia sudah direncanakan, termasuk pertemuan antara orang yang dulunya punya kisah paling indah, dan menganggap bahwa kisah mereka akan berakhir bak negeri dongeng yang penuh dengan kebahagiaan meski harus melalui berbagai penolakan di awalnya.
Iris hazel milik seorang laki-laki tak bisa lepas dari iris kecokelatan milik wanita yang berdiri di tempatnya di seberang sana. Mereka berada di tempat yang sama meskipun harus terpisah karena di tengahnya adalah jalanan tempat orang berlalu-lalang.
Aspal itu layaknya penghalang bagi kedua insan yang saling tenggelam dalam tatapan. Namun, untuk kehidupan sesungguhnya, aspal dalam hubungan Rama dan Sinta berpengaruh besar untuk hidup keduanya. Aspal itu berupa hubungan buruk keluarga mereka, aspal itu berupa pertentangan ayah dan ibu mereka serta saudara Sinta.
Nyatanya, penghalang dalam hubungan kedua insan yang sempat menghabiskan bersama lebih dari itu. Sama seperti aspal yang dilalui oleh banyak orang untuk berlalu-lalang, aspal dalam hubungan mereka bahkan sampai menyakiti Rama dan Sinta luar dalam.
Aspal mereka begitu kuat sampai cinta besar mereka tidak bisa menghancurkannya barang sedikitpun. Aspal dalam hubungan mereka harus menyakiti dan memberi luka serta mengeluarkan darah untuk bisa menyatukan mereka. Namun sayangnya, mereka tertabrak mobil yang kuat sehingga kembali terpisah. Dan untuk kesempatan kali ini, mereka tidak berusaha untuk menyeberangi aspal lagi, melainkan membiarkan aspal itu tetap terbentang menjadi jarak untuk mereka.
"Aku merindukannya, apakah dia pernah merindukan ku juga?" tanya Rama dalam hatinya.
Mata Rama melirik lampu jalanan yang sudah berubah menjadi merah dan kendaraan di sana tidak bergerak karena mematuhi peraturan yang ada. Rama memberikan tas nya pada salah satu anak buah yang berada di belakang, lalu dengan cepat dia menyeberangi jalan untuk mencapai Sinta. Rama ingin menyeberangi aspal mereka lagi kali ini, walaupun aspal itu akan menyakiti lagi, setidaknya dia memiliki kesempatan untuk berada di dekat Sinta meskipun tidak lama.
"Apa kabar?" Itu pertanyaan yang dilontarkan Sinta begitu Rama sudah tiba di hadapannya. Perempuan itu tidak memikirkan pertanyaan lain selain kabar laki-laki itu. Menurut Sinta sejak pertemuan kesekian kali mereka karena ketidaksengajaan, Sinta tidak pernah menanyakan kabar laki-laki di hadapannya.
"Aku yakin kamu baik-baik aja. Aku cuma basa-basi." Sinta berbalik badan, dia berjalan ke arah halte tak jauh dari sana.
Sinta awalnya memang duduk di halte karena panas hari ini sedikit menyelekit padahal hari sebelumnya sering terjadi hujan. Namun karena iris cokelatnya menatap iris hazel yang dulu pernah ia jadikan sebagai tempat pulang, Sinta terpaksa berdiri demi memandangi dua iris itu sejenak.
"Kamu yakin aku baik-baik saja?" Rama ikut duduk di sebelah Sinta tapi sayangnya Sinta sedikit menjauhkan diri dari Rama ketika dia merasa kalau Rama duduk terlalu dekat dengannya.
Rama memandangi jarak beberapa senti yang dibuat Sinta barusan. Mau sebanyak apapun Rama memikirkan Sinta dalam hidupnya, kenyataan bahwa mereka adalah orang asing dan harus berjarak tidak akan pernah berubah.
"Kamu punya segalanya Rama. Istri, keluarga, anak, kekayaan dan kesenangan lainnya," ujar Sinta membalas perkataan Rama yang tadi sempat dilontarkan kepadanya.
Rama tersenyum sembari mendengus geli, "Ya, aku memang punya segalanya. Tapi aku tidak punya kebahagiaan. Apa kamu tahu apa alasannya?"
Sinta menatap pria itu. "Tidak bahagia? Kenapa?" Alih-alih menjawab pertanyaan Rama, Sinta malah balik bertanya pada pria itu.
"Jika aku tahu apa alasan aku tidak bahagia, aku tidak akan menanyakan itu padamu," balas Rama.
"Ah iya juga." Sinta sedikit merasa malu, karena dia merasa daya tangkapnya jadi lebih lambat sekarang.
"Sin, kamu apa kabar?" Kini Rama yang berganti bertanya itu pada Sinta.
Sinta tidak langsung menjawab, dia diam sejenak kembali pada ingatan tentang masa lalu. Setiap dia dan Rama bertemu, lelaki itu selalu menanyakan kabarnya, baik dulu ataupun sekarang.
"Kamu nggak berubah ya," celetuk Sinta.
__ADS_1
Rama mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
Sinta menghela napas panjang, dia harus menormalkan rasa gelisah yang sedari tadi ia rasakan hanya karena iris hazel Rama. Perempuan itu, menatap Rama lagi tapi kali ini dia menatap iris hazel Rama lagi. Perempuan itu merindukan Iris hazel yang dulu pernah ia jadikan rumah.
"Waktu berubah, zaman berubah, penampilan juga berubah, manusia juga banyak yang berubah. Namun, kamu tahu Rama, di mataku kamu sama sekali belum berubah. Setiap kali aku bertemu denganmu, aku merasa aku bertemu dengan Rama puluhan tahun lalu. Kamu masih sama, tidak pernah berubah. Segalanya sama, penampilanmu, perkataanmu, perhatianmu, kemarahan dan keangkuhan kamu juga masih sama." Sinta terkekeh kecil setelah mengucapkan beberapa kalimat terakhirnya.
"Kamu juga," balas Rama cepat. "Tidak ada yang berubah darimu. Kamu masih Sinta, dan akan selamanya tetap menjadi Sinta."
Sinta mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Menatap iris hazel Rama ternyata membuat dada wanita itu sesak. Tenggelam dalam iris yang sama ternyata membuat mata Sinta memanas. Melihat warna hazel pada bola mata orang yang sama ternyata harus membuat Sinta mengepalkan tangan untuk menyalurkan rasa sakit di sana. Waktu sudah berubah, tapi rasa sakit dan perasaan yang dialami Sinta pada pria di sampingnya ini belum berubah.
Sinta, memiliki trauma pada Rama. Setiap kali mengingat laki-laki itu, Sinta pasti juga teringat akan bagaimana Rama meninggalkannya sendiri begitu saja. Rama yang tidak percaya padanya, Rama yang menuduhnya, semua hal itu masih menjadi luka bagi Sinta meskipun dia sudah mencoba untuk berdamai akan hal itu.
"Apa kamu merindukanku?" Akhirnya, setelah sekian lama pertanyaan ini terpendam di lubuk hati Rama pertanyaan itu bisa terlontarkan sekarang. Pertanyaan yang selalu ingin Rama tanyakan setiap kali dia bertemu dengan Sinta di tengah jalan meskipun karena ketidaksengajaan dan Rama yakin Sinta tidak tahu bahwa Rama mengetahui kehadirannya. Pertanyaan ini juga yang selalu terputar di kepala Rama setiap kali dia memandangi foto Sinta di kamar miliknya.
"Apa kamu juga merindukanku?" Sinta balas bertanya lagi. Rama tidak heran akan hal itu, Sinta memang selalu seperti ini, membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Bisa dibilang, Rama sangat mengerti Sinta. Laki-laki itu tahu, Sinta tidak akan mungkin menjawab pertanyaan orang lain lebih dulu sebelum mendengar jawaban atau pendapat dari orang yang bertanya padanya. Sinta itu unik, dan itu alasan Rama bisa jatuh padanya sampai... sekarang.
"Selalu. Kalau kamu bertanya kapan aku merindukanmu, jawabannya selalu Sinta. Aku bahkan sampai tidak bisa menghitung kapan aku tidak merindukanmu. Aku hidup, dengan rasa rindu padamu Sinta."
Sinta menatap lelaki itu dengan mata berkaca-kaca hebat, jika sekali saja dia berkedip maka seluruh air mata itu akan jatuh. Rasa sesak di dada ini rasanya membuat Sinta kehilangan napas tapi dia masih punya udara yang banyak untuk ia hirup karena Rama harus melanjutkan perkataannya.
Rama mendekatkan dirinya pada Sinta, dia memudarkan jarak di antara mereka. Bahkan dengan rasa beraninya, Rama memegang tangan Sinta untuk memberinya kekuatan agar bisa melanjutkan perkataannya.
"Sinta, aku selama ini tidak hidup. Aku selama ini mati, aku kehilangan diriku sendiri. Aku tidak bisa mengenali diriku setiap kali aku bercermin. Aku kehilangan segalanya Sinta, setelah aku kehilangan kamu, aku kehilangan segalanya. Termasuk bahagia dan alasan untuk hidup. Setiap hari rasanya seperti aku berada di padang tandus tanpa air sedikitpun. Aku sesak, setiap kali aku mengingatmu aku sesak, Sinta. Beritahu aku cara untuk bernapas lagi Sinta."
"Kenapa kamu masih merindukanku?" Sinta masih menyempatkan diri untuk bertanya walaupun air mata sudah membasahi pipinya.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya aku tidak merindukanmu, Sinta. Beritahu aku caranya bagaimana aku tidak merindukanmu lagi," jawab Rama mulai melirih dan itu seakan menyayat hati Sinta.
"Rama, jangan begini. Kita orang asing sekarang." Suara Sinta bergetar mengucapkannya.
"Tapi kamu alasan aku hidup, Sinta," balas Rama.
"Apa aku di hidupmu?" Sinta menyeka air matanya, menghirup napas dalam-dalam mengisi kekosongan udara di dadanya agar dia bisa lebih siap mendengar apa jawaban dari Rama.
"Duniaku. Hidupku, semestaku, alasanku untuk hidup." Mata Rama mulai berkaca-kaca, dia semakin erat menggenggam tangan Sinta, seakan meminta tangan itu untuk memberinya kekuatan. "Meninggalkanmu hari itu, adalah kematian untukku Sinta. Aku tidak tahu apa arti hidup lagi, aku tidak tahu apa alasan aku harus dilahirkan di dunia. Meninggalkanmu hari itu, sama dengan membuat neraka untukku sendiri, Sinta—"
Sinta menghentikan perkataan Rama dengan menempelkan tangannya di bibir Rama. Dia tidak kuat mendengar kelanjutan dan kejujuran dari laki-laki itu lagi. Sinta tidak sekuat itu mendengar Rama sehancur itu.
"Kalau aku duniamu kenapa kamu meninggalkanku? Kenapa kamu menikah dengan perempuan lain? Kenapa rasa percayamu sangat sedikit untukku Rama? Kenapa?!" Intonasi Sinta meninggi. "Kalau aku sangat penting di hidupmu, kenapa kamu tidak mempertahankanku? Kenapa? Kenapa Rama? Kenapa kamu diam aja?!" Sinta memukul dada Rama menggunakan tangan yang tadi ia manfaatkan untuk menghentikan ucapan Rama yang akan keluar dari bibirnya.
"Aku ingin mengambilmu lagi Sinta, tapi aku tidak berdaya. Aku datang ke rumah kamu hari itu tapi aku diusir. Aku udah bersimpuh di bawah kaki ayahmu, aku juga mengatakan kalau aku ingin kembali padamu, aku sadar aku tak bisa tanpamu tapi dia menolak kehadiranku. Aku ingin percaya lagi padamu Sinta, aku ingin memperbaiki semuanya. Tapi aku gagal. Nggak hanya penolakan dari keluargamu aja, tapi keluargaku juga. Mama sampai ngancem mau bunuh diri kalau aku nggak nikah sama Meethila. Aku tercekik Sin," jelas Rama lirih.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sama hancurnya kayak aku," lanjutnya.
Air mata Sinta sudah tak ia bendung. Pipinya sudah basah penuh dengan air mata. Satu fakta kalau Rama pernah memperjuangkannya membuat Sinta ingin merutuki diri sendiri. Fakta bahwa hidup Rama jauh lebih menyedihkan darinya membuat Sinta tidak tahu bagaimana caranya untuk bernapas dengan normal. Sinta hanya kehilangan rumah tapi Rama kehilangan dunianya.
"Aku nggak akan bohong lagi, Sin. Aku masih mencintaimu sama seperti dulu," ucap Rama seperti berbisik.
"Rama, aku juga merindukanmu. Aku rindu segala hal tentangmu. Aku selalu sesak setiap kali mengingat kita pernah sebahagia itu sebelum kita sehancur ini sekarang. Aku sesak setiap kali mengingat bagaimana kamu meninggalkanku sendiri di sana. Aku sesak setiap kali aku mengingat kamu mengundangku untuk datang ke pesta pernikahanmu, aku sesak Rama—"
"Aku nggak bahagia Sinta. Aku nggak pernah bahagia sama pernikahan aku, pernikahan ini demi Mama. Aku nggak mungkin sanggup ngeliat Mama nyakitin diri sendiri karena aku nggak nikah sama Meethila." Rama mengelap air matanya yang jatuh.
"Kamu tahu Sin, selama puluhan tahun aku berusaha mengganti duniaku darimu menjadi Meethila, tapi nyatanya aku malah semakin menyakiti diri sendiri. Aku seakan bunuh diri karena menikah dengan Meethila, Sinta. Aku ingin lepas dari ini semua. Tolong...."
Air mata Sinta semakin deras berjatuhan. Tubuh wanita itu bergetar hebat, begitupun tangan Rama yang sedang menggenggam tangannya.
"Mas Rama." Rama menaikkan pandangannya, diikuti Sinta yang berbalik badan untuk melihat darimana suara itu berasal.
"Meethi?"
Orang yang disebut namanya, hanya menatap datar, tapi jauh di dalam hatinya ada yang hancur tak berbentuk lagi.
"Kamu disuruh masuk mobil sama Mama. Mama nggak suka kamu sama dia." Meethila menatap Sinta dengan tatapan dingin. Wanita yang menjadi alasan utama dia tidak pernah mendapatkan cinta Rama. Wanita yang membuat Meethila merasa kalah di permainan takdir ini.
"Mama di sini?" tanya Rama. Meethila mengangguk datar. "Pulang Mas, Mama nggak suka kamu sama dia," lanjut Meethila.
Rama berdiri, dia menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Sinta. Berat rasanya untuk melepaskan genggaman itu. Seakan mengerti kegundahan Rama, Sinta dengan mandiri melepas genggaman tangan Rama dari tangannya. Wanita ikut berdiri.
"Pulang, Mama kamu udah nyuruh," suruh Sinta.
"Kalau aku pulang, aku kehilangan kamu lagi kan, Sin?"
"Kita udah kehilangan satu sama lain sejak lama Rama, udah nggak bisa disatukan juga," balas Sinta lirih.
"Rama, makasih ya udah jadiin aku dunia kamu, makasih juga kamu udah mau jadi rumah buat aku. Tapi aku sadar, mau sekeras apapun kita berusaha kita emang nggak bisa bersama. Semesta udah ngasih kita begitu banyak tanda, tapi kita masih nekat untuk bersama jadi sekarang kita sama-sama sakit jadinya. Ram, aku nggak sekuat itu untuk nerima semua hinaan keluarga kamu, aku juga nggak sekuat itu untuk ngeliat kamu direndahkan sama keluargaku sendiri Rama." Sinta memberi jeda, menghirup napas dalam-dalam.
"Ram, kamu harus hidup, harus bahagia. Buang segala hal tentang aku di dalam hidup kamu. Rama, kamu boleh cinta sama aku, tapi kamu juga harus nerima kenyataan hubungan kita udah berbeda. Lagipun, nggak selamanya kita harus memiliki orang yang kita cintai."
Sinta memberi laki-laki itu senyuman. "Terimakasih ya, udah mau perjuangin aku berkali-kali dulu."
Setelah mengatakan itu, Sinta pergi dari halte. Dia menumpahkan air matanya lagi, tangan wanita itu menghentikan sebuah taksi yang lewat di daerah itu. Sinta masuk ke dalamnya, menyuruh sopir taksi membawanya jauh dari sana. Sinta menangis hebat di dalam taksi meskipun tanpa suara.
Sedangkan Rama, pria itu menatap lirih taksi yang berisi Sinta di dalamnya perlahan menghilang dari pandangan. Meethila mendekati Rama, wanita itu menggenggam tangan suaminya. Dan seperti yang dia duga, tangan Rama bergetar kuat.
__ADS_1
Sekarang Meethila sadar, bahwa hubungan Rama dan Sinta lebih dari sekedar cinta pertama. Kisah mereka lebih dari yang pernah Meethila bayangkan sebelumnya. Hubungan antara Rama dan Sinta adalah hubungan indah yang harus terpaksa berakhir karena permusuhan keluarga.
Cinta memang indah. Cinta memang dibutuhkan setiap manusia. Namun, ada saat kalanya cinta membawa bahagia atau membawa malapetaka. Setiap manusia memiliki hak untuk mencintai dan dicintai, tapi manusia tidak memiliki hak untuk memaksa agar cinta itu bisa dimiliki. Kisah cinta yang berakhir bahagia adalah sebuah anugerah tapi kisah yang berakhir jauh dari kata kebahagiaan akan memberi banyak pelajaran bagi kehidupan setiap insan.