Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Nomor Eleena


__ADS_3

Arfin tak bisa lagi menunggu lebih lama dia berlari mendekati Eleena dan Wisnu meninggalkan Gilang dan Baim begitu saja.


"El." Arfin sampai di sana dengan napas sedikit tersengal. Seperti biasa Eleena membalas sapaan Arfin dengan melambaikan tangan. "Lo, mau pulang?" tanya Arfin berbasa-basi menghentikan perkataan Wisnu dan Eleena yang tadi sedang berlangsung.


"Iya, gue pulang duluan ya," pamit Eleena. "El, mau pulang bareng gue?" tawar Arfin sebelum gadis itu beranjak pergi dari sana.


Eleena menggeleng pelan, "Sorry Fin, gue bawa mobil sendiri. Lagian gue mau ke kafe juga ketemu sama Bunda."


Arfin tidak menatap iris cokelat Eleena melainkan dia sibuk menatap buket bunga dari Wisnu untuk Eleena. Ada sedikit rasa yang tak bisa Arfin mengerti singgah di hatinya. Rasanya, seperti Arfin tidak menyukai buket bunga dari Wisnu itu berada di tangan Eleena. Seharusnya buket bunga itu tidak pernah ada.


"Oh, titip salam buat Bunda lo," ucap Arfin. Eleena mengangguk, gadis itu melambaikan tangan masuk ke dalam mobilnya yang tak jauh dari sana. Bahkan sebenarnya mobil Eleena tinggal beberapa langkah lagi saja tapi karena panggilan Wisnu tadi dia terpaksa menghentikan langkah.


Mobil Eleena pergi dari wilayah kampus menyisakan Wisnu dan Arfin yang saling diam.


"Lo udah deket banget ya sama Eleena, sampai-sampai titip salam sama Bundanya." Wisnu membuka pembicaraan menyairkan suasana.


"Lumayan." Arfin menjawab seperti itu saja dan segera pergi meninggalkan Wisnu. Dia langsung memasuki mobil tidak pamit pada teman-temannya sebelum pergi meninggalkan kampus.


Wisnu menatap heran sikap Arfin yang menurutnya lumayan aneh. Padahal selama beberapa hari ini hubungan dia dan Arfin sudah membaik tapi kenapa Wisnu merasa Arfin marah dengannya. Arfin tidak biasa menjawab ambigu seperti itu dan pergi tanpa pamit.


Wisnu mengedikkan bahu tak ingin ambil pusing soal hal ini. Dia juga berjalan mendekati mobil dan masuk ke dalamnya. Tanpa bicara dia menyuruh sopir untuk membawa mobil keluar dari pekarangan kampus.


Kejadian singkat ini menimbulkan banyak tanda tanya pada Gilang dan Baim, mereka melihat dengan diam mobil Arfin dan mobil Wisnu pergi dari pekarangan kampus. Begitupun Melinda, dia juga ikut menyaksikan kejadian antara mereka bertiga tadi. Tangan Melinda terkepal, dia sangat paham apa maksud dari sikap Arfin tadi. Arfin cemburu karena Eleena dan Wisnu sudah saling dekat. Dan Melinda tidak suka mengetahui fakta kalau Arfin cemburu pada Eleena, karena kalau begitu bisa dipastikan Arfin sudah menyukai Eleena. Itulah yang Melinda tidak suka, dia ingin Arfin menjadi miliknya seorang bukan milik siapapun termasuk Eleena juga. Mungkin mulai dari sekarang Melinda harus bersaing dengan Eleena untuk menarik perhatian Arfin.


...***...


Suasana malam ini sama seperti sebelumnya, dan Arfin juga selalu sama. Dia duduk di rooftop sambil memandangi langit malam tak lupa secangkir kopi dengan asap yang keluar ada di sebelahnya. Arfin meletakkan ponsel di sebelah kanan, dan kedua iris matanya tak bisa lepas dari langit malam hari ini.


Arfin tersenyum kala ia mengingat bagaimana waktunya bersama Eleena menikmati langit malam beberapa minggu lalu. Walaupun momen mereka tercipta karena Arfin menolong Eleena dari kegilaan Wisnu di bar.


Tangan Arfin bergerak mengambil ponselnya, dia beralih mencari kontak Eleena di handphonenya. Namun sebelum dia mengetikkan kata untuk Eleena pesan dari Wisnu sudah lebih dulu sampai di ponsel Arfin.


Arfin berdecak tapi tetap membuka dan membaca pesan dari Wisnu itu. Arfin mengerutkan keningnya tak percaya setelah tahu apa pesan yang dikirimkan Wisnu padanya. Beraninya dia mengirimi Arfin pesan seperti itu.


Wisnu:


Fin, gue minta nomor Eleena dong


Arfin tidak langsung membalas pesan dari Wisnu itu. Dia bahkan sempat mematikan layar ponsel karena sudah tak enak hati membaca pesan dari Wisnu itu. Namun pesan berikutnya dari Wisnu membuat Arfin mau tak mau memberikan nomor Eleena pada Wisnu.


Wisnu:


Gue cuma mau ngucapin makasih aja sama Eleena, nggak lebih kok. Gue tau lo suka sama tu cewek, gue juga nggak mau temenan just say thank you aja, dia udah nolongin gue soalnya, trust me Fin. I'm not lie


Arfin percaya pada Wisnu, hubungan mereka terjalin bukan satu atau dua hari, tapi sudah berlangsung hampir 5 tahun lamanya. Arfin sudah mengenal Wisnu begitupun sebaliknya. Arfin akan selalu percaya dengan teman-temannya. Karena bagi Arfin teman adalah segalanya, Arfin rela kehilangan satu gadis demi teman-temannya daripada kehilangan teman demi satu gadis. Toh stok cewek Arfin banyak, dia bisa menghubungi gadisnya yang lain.


Arfin yang semulanya ingin menekan kontak Eleena seketika lupa karena dia sudah asik berbincang dengan salah satu gadis dari panggilan suara.


Arfin sibuk dengan gadisnya yang lain dan di sini Wisnu masih mengumpulkan keberanian untuk memulai perbincangan dengan Eleena melalui chat. Entah sudah berapa kali Wisnu menghapus pesan sebelum ia kirim ke gadis itu. Wisnu terlalu takut kalau pesannya kali ini bisa menyinggung Eleena apalagi pertanyaan-pertanyaan dari Eleena yang akan membuat Wisnu kebingungan menjawabnya.


Setelah hampir 5 menit berkutat dengan ponsel karena memikirkan kata-kata apa yang cocok, Wisnu akhirnya memberanikan diri untuk mengirim pesan itu pada Eleena. Kata-kata Singkat.


Anda:


Hai, gue Wisnu


Save nomor gue


^^^Eleena:^^^


^^^Oh oke^^^

__ADS_1


Mata Wisnu membelalak begitu Eleena membalas pesannya dengan sangat cepat. Pantas saja Arfin nyaman berlama-lama nge-chat Eleena ternyata orangnya sangat fast respon sekali.


^^^Eleena:^^^


^^^Dapat nomor gue dari mana?^^^


Pertanyaan yang dihindari Wisnu, kini dilayangkan oleh gadis ini. Wisnu memikirkan sejenak apa kata yang pantas untuk menjawabnya. Dia kembali menulis kata-kata panjang mulai dari dia meminta Arfin mengirim nomor Eleena sampai alasannya, tapi Wisnu menghapus pesan itu sebelum ia kirimkan pada Eleena. Lelaki itu pikir kata-kata itu terlalu panjang dan dia merasa bukan menjadi dirinya yang biasa. Dan seperti tadi, dia mengirim pesan singkat lagi.


Anda:


Dari Arfin


^^^Eleena:^^^


^^^Oh^^^


Kali ini mata Wisnu membulat, reaksi dari Eleena hanya 'Oh'? apa-apaan itu.


^^^Eleena:^^^


^^^Ada alasan apa nge chat gue? Mau temenan sama gue? Lo udah nggak sebel lagi sama gue?^^^


Eleena melayangkan banyak pertanyaan pada Wisnu dan kembali membuka lelaki itu dilanda kebingungan. Namun segera Wisnu menormalkan napas dan juga detak jantung yang berdetak tak karuan, dengan raut wajah berusaha biasa saja, Wisnu mulai mengetikkan sesuatu.


Anda:


Gue cuma mau ngucapin makasih lagi, gue belum bisa ngelupain pertolongan lo itu. Gue hutang budi sama lo, El, kalau lo nggak ada gue pasti udah mati di sana


^^^Eleena:^^^


^^^Udah, hal itu nggak usah dibahas terus. Gue nolongin lo karena sikap kemanusiaan aja^^^


^^^Gue juga mau ngucapin karena lo udah ngasih gue buket, gue suka, bunganya cantik-cantik, gue udah pajang di kamar gue^^^


Anda:


Gue kira lo nggak suka sama buketnya


^^^Eleena:^^^


^^^Nggak kok, malahan gue suka banget, Bunda juga suka beliau bilang buketnya bagus, pas gue bilang kalau itu dari lo Bunda nambah seneng^^^


Wisnu mulai tersenyum tanpa ia sadar kala ia sudah menemukan topik untuk berbicara dengan Eleena lebih lama.


Anda:


Berarti lo suka sama semua bunganya?


^^^Eleena:^^^


^^^Nggak juga, gue nggak suka sama mawar putihnya jadi gue buang tadi. Nggak papa, kan?^^^


Anda:


Nggak papa kok, gue juga belinya ngasal karena gue nggak tau lo sukanya yang kayak mana


^^^Eleena:^^^


^^^Lo effort juga ya beliin gue buket, hehe^^^


Wisnu:

__ADS_1


Gue kayaknya harus belajar banyak dari Arfin deh soal kesukaan lo


^^^Eleena:^^^


^^^Kenapa gitu?^^^


Anda:


Kan lo sama Arfin deket banget


Apa jangan-jangan lo ada hubungan ya sama Arfin?


^^^Eleena:^^^


^^^Gue sama Arfin emang deket kali, tapi bukan berarti gua ada hubungan sama dia, were just friend^^^


Wisnu:


Gue kira lo ada hubungan spesial sama Arfin


^^^Eleena:^^^


^^^Arfin emang spesial, dia orangnya baik banget sama gue, makanya dia temen terbaik gue sekarang, gue juga nyaman sama dia^^^


Sepertinya Wisnu salah mencari topik, sekarang mereka malah membahas tentang hubungan Eleena dan Arfin. Secara tak langsung itu membuat Wisnu sedikit panas walaupun kamarnya sudah sangat dingin karena pendingin ruangan yang tak pernah berhenti.


Anda:


El, lo baik, mau jadi temen gue?


Pesan dari Wisnu kali ini tanpa sadar menerbitkan senyum Eleena. Eleena tidak menyangka ada sisi Wisnu yang seperti ini. Gadis itu pikir Wisnu akan selamanya jadi orang yang arogan tapi sepertinya kali ini Wisnu sudah berubah dan itu karena pertolongan darinya. Memang benar ya kalau kebaikan kecil dari manusia bisa merubah manusia yang lainnya.


^^^Eleena:^^^


^^^Boleh, gue mau temenan sama lo^^^


Anda:


Sampai ketemu di kampus El 💋


Baru saja Eleena ingin menekan tanda simpan pada nomor Wisnu karena dia sudah lumayan nyaman pada sikap Wisnu kali ini. Namun ketika pesan Wisnu yang baru saja ia baca membuat Eleena melempar ponselnya kasar.


Gadis itu bahkan berteriak begitu dia melihat ada emoticon seperti itu yang dikirim oleh Wisnu. Eleena mulai kembali panik, ingatan tentang kejadian di bar itu kembali terputar di kepalanya. Bagaimana perlakuan kasar Wisnu, pemaksaan dari lelaki itu, Eleena mengingat semuanya. Ketakutan Eleena kembali timbul, rasa benci pada Wisnu kembali muncul. Wisnu sudah menciptakan ketakutan pada Eleena, dan sampai kapanpun gadis itu tidak bisa melupakan perlakuan Wisnu ini.


Hanya karena sikap Wisnu yang tiba-tiba baik, Eleena melupakan dengan mudah apa saja perilaku kasar dan buruk Wisnu padanya. Namun sekarang tidak, Eleena kembali mengingat semuanya, ia memutuskan untuk memblokir nomor Wisnu saja, gadis itu tidak ingin berhubungan dengan lelaki kurang ajar seperti Wisnu.


Anda:


El, sorry gue salah emoticon


Maksudnya tadi ini 😁, tapi tadi salah pencet


El? Lo marah sama gue?


El, kok tiba-tiba nggak aktif?


El


El


Wisnu menatap penuh tanda tanya pada pesannya kali ini yang jangankan terbaca terkirim pada Eleena saja tidak. Wisnu yakin jaringan internetnya lancar tapi kenapa Eleena tiba-tiba tidak aktif? Apa Wisnu melakukan kesalahan ya.

__ADS_1


Wisnu menghela napas, kali ini ia terlihat gelisah. Berkali-kali dia mengecek apakah Eleena sudah membaca pesannya tapi nyatanya sama saja Eleena tidak membaca pesan darinya. Baru kali ini Wisnu merasa gelisah hanya karena pesannya tidak dibalas oleh seorang gadis. Wisnu Putra Aksanta gelisah karena seorang gadis suatu kemajuan dalam hidup.


__ADS_2