Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Bunga untuk dia


__ADS_3

Wajah ditekuk itu terlihat dari seorang lelaki memakai kemeja hitam yang duduk di kursi penumpang dari sebuah mobil yang membelah jalanan pagi ini. Karena Rama yang sangat amat tidak percaya pada Wisnu, Rama memerintahkan untuk sopir mengantar Wisnu ke kampus begitupun saat Wisnu pulang nanti. Untuk beberapa hari ke depan atau mungkin untuk waktu yang lama, Wisnu tidak diperbolehkan untuk menyetir sendiri. Dikhawatirkan lelaki itu akan kabur seperti waktu itu, dan membuat Rama sedikit kewalahan mengatasi anak berandalnya itu.


Di sepanjang perjalanan Wisnu tidak membuka bibir untuk memulai pembicaraan dengan sopir berseragam putih yang sedang mengendarai mobil. Keheningan tercipta di antara mereka berdua. Hanya suara musik dan kendaraan di jalanan yang menjadi pengiring perjalanan kali ini. Bahkan Wisnu membiarkan ponselnya tergeletak di sebelahnya, ia sudah tidak memiliki minat terhadap apapun sekarang termasuk memegang ponselnya.


Seperti biasa, mereka berhenti di lampu merah. Menunggu selama beberapa saat, dan sorot Wisnu yang semulanya lurus ke depan ia alihkan ke sisi kiri mobil untuk melihat jalanan dari sisi lain.


Iris mata Wisnu menangkap sebuah toko bunga. Tokoh bunga tak jauh di depan sana. Ada perasaan aneh ketika Wisnu melewati toko bunga itu, seperti ada sesuatu yang seharusnya ia lakukan saat ini.


"Pak berhenti." Sesuai perintah Wisnu, sopir itu menghentikan mobil di pinggir jalanan. "Saya mau beli bunga, tunggu di sini." Tanpa menunggu sopir itu bertanya Wisnu lebih dulu memberitahu alasannya menyuruh mobil yang tadi membelah jalanan itu berhenti.


Sopir yang duduk di kursi kemudi hanya mengangguk. Perkataan Wisnu sudah seakan perintah yang tak bisa diganggu gugat padahal seharusnya ia saja yang turun dan membeli bunga itu, tapi seperti dia takut pada Rama dia juga takut pada anaknya. Karir dan hidup pria itu tergantung dari Rama dan anaknya.


Wisnu berlari kecil mendekati toko bunga yang sudah terlewati lumayan jauh. Dengan napas sedikit tersengal Wisnu berdiri di depan toko bunga yang hanya berisi ia dan penjual. Mata Wisnu melihat satu demi satu bunga yang tersusun apik. Mulai dari mawar merah, mawar putih, bahkan mawar hitam. Ada juga melati, kamboja, matahari, tulip, seruni, baby breath, lavender, sampai bunga sepatu, berbagai bunga dijual di toko bunga ini.


Tangan Wisnu menyentuh satu persatu bunga di sana. Matanya di ajak berkeliling untuk melihat bunga yang sudah dihias sedemikian rupa di sekeliling toko. Selama ini dia selalu melewati toko bunga ini, tapi baru hari ini kaki Wisnu diajak melangkah untuk masuk dan mengitari tempat ini.


Iris Wisnu terkunci pada salah satu buket bunga yang berada di sudut toko. Bunga indah yang menarik sudut bibir Wisnu. Lelaki itu sudah memutuskan bunga itu akan dia beli. Dia memanggil penjual di toko, memberi beberapa lembar uang dan mengambil buket bunga yang sudah membuatnya jatuh hati.


...***...


Wisnu turun dari mobil, dia meninggalkan buket bunga yang sudah ia beli di dalam mobil. Sebelum itu Wisnu sudah meminta untuk sopir menunggu ia di kampus sampai ia pulang dan juga menjaga buket bunga yang sudah ia beli.


"Tuan Muda!" Wisnu berdecak, baru saja dia berjalan beberapa langkah menjauhi mobil suara Gilang sudah menggema di telinga.


Wisnu tidak berbalik ataupun menoleh pada Gilang, untuk sekedar melirik pun tidak. Dia membiarkan Gilang sendiri yang menghampiri dia dan berdiri di depannya. Di mana ada Gilang disitu juga ada Baim, kedua lelaki itu seperti tidak bisa terpisah.


"You okay?" Itu kalimat pertama dari Gilang begitu teman seusia Wisnu itu sudah berdiri di depannya. Wisnu sedikit mengerutkan kening, apakah Gilang bertanya seperti itu karena melihat perban di dahi, atau lebam di wajah, atau karena dia sudah pulang dan ditemukan oleh Rama.


"I'm sorry, I can't take care of you. Sorry, I'm so regret." Itu kalimat Gilang selanjutnya membuat kerutan dahi di Wisnu menghilang. Dia tahu sekarang apa maksud dari kata-kata Gilang ini, lelaki itu tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Dia juga tahu kalau Gilang lah yang memberitahu di mana keberadaan Wisnu maka dari itu Gilang berkata seperti ini.


"Kenapa?" Gilang sedikit tersentak dengan pertanyaan Wisnu kali ini. Lelaki yang merupakan teman Wisnu sejak mereka masih kecil tidak menyangka Wisnu mengetahui maksud dari perkataannya. Mungkin Rama yang memberitahu Wisnu, pikir Gilang.


"Gu-gue nggak bisa apa-apa, Wis. Bokap gue disuruh nyari lo, gimanapun kita harus nurut apa kata bokap lo, karena bokap lo yang megang perusahaan sepenuhnya, bukan lo. Gue lebih sayang sama keluarga gue, Wis." Gilang terbata-bata menjelaskan hal itu pada Wisnu. Ia begitu takut kalau Wisnu marah tapi Gilang akan menerima amarah Wisnu kali ini, karena dia tahu dia bersalah. Dia tidak bisa menjaga kepercayaan Wisnu padanya.

__ADS_1


"Gue kecewa sama lo," tekan Wisnu, membuang pandangannya dari Gilang. Gilang sedikit tertunduk, dia tahu dia salah.


"Wait, kenapa nih? Kok tiba-tiba begini?" Baim terlihat seperti orang asing yang tiba-tiba masuk ke sebuah pertemanan dan di antara mereka membahas masalah pribadi.


"Maksud dari omongan lo berdua, apa?" Wisnu beralih menatap Baim. Lelaki itu mendengus dia tidak menyangka Gilang benar-benar menepati janji untuk tidak memberitahu apa yang terjadi pada Wisnu kepada Baim dan Arfin.


"Wis, kenapa nih? Maksud Gilang apaan tadi?" Wisnu tidak menjawab malahan dia melenggang pergi dari tempat itu setelah menyenggol bahu Gilang kasar.


Gilang menyusul Wisnu pergi begitupun Baim mengikuti kedua temannya itu dengan penuh tanda tanya karena pertanyaannya tidak terjawab. "Lang, lo kenapa sih? Dan Wisnu kenapa juga?" Baim terus bertanya bahkan saat mereka sudah berjalan di lobi kampus.


"Nggak papa," balas Gilang. Baim tidak tinggal diam, dia berganti mendekati Wisnu yang sudah berada jauh di depannya.


Baim datang menepuk pundak Wisnu. "Lo kenapa, Wis? Maksud Gilang tadi apaan?" Gilang yang melihat Baim bertanya-tanya pada Wisnu menyusul mendekati Wisnu juga.


"Udahlah, Im. Ini bukan urusan lo," ketus Gilang begitu sudah berjalan di sebelah Baim.


"Lo kabur dari rumah, Wis? Kenapa?" Langkah Wisnu berhenti, dia menatap Baim sebentar tanpa ada niatan menjawab. Setelah itu dia kembali melangkahkan kaki sedikit lebih cepat untuk bisa menghindari kedua manusia itu.


"Lo nganggep gue apaan sih? Kok bisa gue nggak tau apa-apa soal Wisnu. Gue juga temennya loh," omel Baim begitu mereka memasuki kelas yang sudah lumayan ramai.


Mata Gilang terkunci pada Wisnu yang sudah duduk lebih dulu dibanding mereka. Biasanya dia menunggu Gilang duduk baru dia ikut duduk. Tapi kini, laki-laki yang duduk di dekat jendela seakan sudah berubah. Gilang menghela napas berat, kesalahannya kali ini memang sudah besar. Apalagi dia tahu apa akibat dari perbuatannya ini. Wisnu dipukuli oleh orang suruhan Rama sampai dia harus mengalami luka di dahi dan di lengan. Abi Gilang sudah memberitahu Gilang tadi malam tentang keadaan Wisnu, membuat rasa bersalah Gilang semakin besar.


Gilang duduk di sebelah Wisnu kali ini, disusul Baim duduk disebelah Gilang dan dengan santainya Baim melambaikan tangannya pada Wisnu sebagai tanda sapaan walaupun dia tahu tidak akan direspon oleh sang empu, tapi tidak ada salahnya mencoba ramah.


Gilang menatap Wisnu dengan tatapan penuh penyesalan pada laki-laki yang kini sedang memandangi pemandangan kampus dari jendela. Gilang juga manusia, dia sadar diri akan kondisi ekonomi keluarganya. Wisnu memang sudah banyak membantunya bahkan untuk pekerjaan yang sampai saat ini masih membuat keluarga Gilang tidak mati kelaparan. Gilang tahu dia salah, tapi Gilang tidak berdaya.


Gilang dan Wisnu tidak ada memulai obrolan setelah kejadian di parkiran kampus tadi. Hanya Baim yang berisik dan berusaha mencairkan suasana. Gilang dan Wisnu tenggelam dalam pikiran masing-masing, bahkan sampai mereka bertiga keluar dari kelas saat mata kuliah terakhir sudah selesai Wisnu masih belum mau memulai obrolan pada Gilang. Padahal Gilang sudah mengirimi Wisnu banyak pesan untuk meminta maaf tapi sama sekali tidak direspon. Membujuk Wisnu yang marah memang tidak mudah, maka dari itu Gilang harus bekerja ekstra apalagi ini karena salah dia sendiri.


"Hai, Bro!" sapa Arfin ikut bergabung bersama ketiga temannya itu. Sama seperti Baim tadi, Arfin juga merasakan ada keanehan di sini. Hawanya seperti berbeda dari biasanya, ada ketegangan dan kecanggungan di antara mereka berempat.


Arfin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kenapa nih? Canggung amat," tanya Arfin disertai kekehan agar mencairkan suasana yang tadi seperti berada di kutub Utara.


"Jangan gitu, nanti lo di semprot lagi," peringat Baim memukul lengan Arfin. Arfin cengengesan, dia mengangguk saja. Kalau dipikir-pikir perkataan Baim tidak salah, dia baru saja bisa berdamai dengan Wisnu tiga hari lalu, jadi tidak lucu kalau dia membuat keributan lagi.

__ADS_1


Mereka berempat benar-benar terlihat seperti orang asing yang berjalan bersama sampai di lahan parkir Universitas Binawa. Wisnu mendahului Arfin dan yang lainnya untuk mendekati mobil. Mobil berisi sopir dan juga buket bunga di kursi penumpang. Wisnu membuka pintu mobilnya, namun ketika sorot matanya menemukan ada Eleena tak jauh dari sana, Wisnu mengurungkan niat untuk duduk. Tangannya bergerak untuk mengambil buket bunga yang tergeletak di kursi penumpang.


Dengan senyuman yang dia perlihatkan di wajahnya, Wisnu sedikit berlari untuk menghampiri Eleena. Dan hal itulah yang menghentikan langkah ketiga teman Wisnu, mereka melihat Wisnu dengan senyuman berlari mendekati Eleena. Sungguh pemandangan baru yang tak terduga.


"El," panggil Wisnu. Eleena menoleh, dia membalas senyuman Wisnu terlebih dahulu. Ah, sial, hanya sebuah senyuman yang memperlihatkan gigi Eleena saja sudah membuat Wisnu seakan meleleh. Gadis itu melepas earphone yang ia pakai dan dia letakkan di dalam Tote bag yang ia taruh di pundak sebelah kiri.


"Kenapa?" tanya Eleena. "Lo okay? Ini masih sakit?" Eleena menyentuh perban di dahi Wisnu dan menghasilkan ringisan pelan dari lelaki itu. "Sorry, " ucap Eleena.


Wisnu tidak mempermasalahkan hal itu, malahan pipi Wisnu terlihat memerah. Iris Eleena melirik ke bawah dan dia menemukan ada buket bunga dengan banyak bunga di dalamnya. Di antaranya ada, mawar merah, tulip, bunga matahari, lavender dan dua buah mawar putih menambah kecantikan di buket bunga yang sedang dipegang Wisnu.


"Buket buat siapa tuh?" Wisnu mulai mengalihkan atensi pada buket bunga di genggaman. "Buat cewek lo ya," goda Eleena terkekeh kecil.


"Bukan, ini buat lo." Wisnu menyodorkan buket itu ke Eleena dan menghentikan tawa Eleena dalam sekejap. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk dan Wisnu mengangguk.


"O-oke, thanks." Eleena mengambil buket bunga itu ragu. Sangat aneh sekali Wisnu memberi buket bunga pada Eleena mengingat hubungan mereka yang tidak baik juga.


"Anggap aja itu ucapan terimakasih dari gue karena lo udah bantuin gue kemarin," ujar Wisnu. Eleena menghilangkan jauh-jauh keraguan dan pikiran buruk tentang laki-laki di hadapannya ini begitu kata-kata tulus dari Wisnu terucap. Baru kali Eleena merasakan ketulusan di perkataan Wisnu.


"Sumpah El, lo keren banget. Gimana cara lo nyerang orang-orang itu, ngasih mereka tatapan tajam dan mukuli mereka pakai alat seadanya padahal lo perempuan. Lo itu keren banget, bahkan gue nggak nyangka lo bisa bawa mobil secepat itu, gue aja nggak pernah bisa secepat itu walaupun gue sering bawa mobil ugal-ugalan."


"Aaaa, makasih." Eleena tanpa sadar ia mencubit pipi Wisnu.


"Sakit woi!" pekik Wisnu memegangi pipinya yang baru saja dicubit oleh Eleena apalagi di sana ada lebam bekas kejadian kemarin.


"Eh, sorry nggak sengaja." Eleena meniup pipi Wisnu bekas ia cubit tadi. Perlakuan Eleena ini kembali melelehkan hati Wisnu. Gadis di depannya ini terlihat sangat istimewa bahkan saat dia meniup pipi Wisnu. Lelaki itu tenggelam dalam pesona Eleena apalagi ketika anak rambut gadis itu jatuh menghalangi sebagian wajah cantiknya. Rambut Eleena yang dikuncir kuda dan ada jepitan berwarna hitam dihiasi oleh manik-manik putih di sekitarnya semakin membuat Wisnu tenggelam akan pesona gadis ini.


"Sejak kapan mereka sedekat itu?" gumam Arfin. Baim yang mendengar gumaman Arfin melirik lelaki yang sedang menatap momen Wisnu dan Eleena fokus.


Baim sedikit mendengus geli, dia pikir akan ada kisah cinta segitiga setelah ini. Selain Arfin, Gilang, dan Baim yang melihat momen antara Wisnu dan Eleena ada juga Melinda yang berdiri jauh di belakang Eleena.


"Bisa-bisanya dia berani dekat sama Putra Aksanta." Melinda mengerutkan keningnya menggelengkan kepala. Dari sekian banyak drama pertengkaran antara Wisnu dan Eleena mereka memiliki momen romantis.


Melinda tidak peduli Eleena dekat dengan siapa saja, yang diherankan oleh Melinda adalah Eleena yang masih berani untuk mendekati Putra Aksanta bahkan saat dia sudah mendengar pertengkaran antara Arjuna dan keluarganya Sinta tentang keluarga Aksanta. Eleena memang nekat, dia suka terhadap hal yang sering dilarang. Termasuk berteman dengan Putra Aksanta. Kalau keluarga mereka tahu Eleena lumayan dekat dengan Wisnu, walaupun dekatnya baru kali ini waktu yang lalu mereka sibuk bertengkar tapi tetap saja itu sebuah kesalahan dan akan menimbulkan kemurkaan di keluarga besar.

__ADS_1


__ADS_2