Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Kemarahan Arjuna


__ADS_3

"Emang harus banget gue pulang sama lo?" Suara Wisnu memenuhi seisi mobil yang baru saja melenggang keluar dari bar.


Begitu Eleena menunjukkan pesan Rama padanya, Wisnu menelepon ayahnya itu untuk memastikan apakah yang dilihatnya adalah sebuah kebenaran atau hanya kebohongan Eleena semata. Namun nyatanya itu benar, malah Wisnu mendapat makian karena menanyakan hal itu pada Rama. Sebuah kesalahan yang dia lakukan secara sadar.


"Mending lo pulang deh, daripada bokap lo marah," parau Arfin mencegah Wisnu untuk mengumpat pada Eleena karena sudah berani untuk memaksanya pergi dari tempat itu.


"Jangan ngelawan sama orang tua," sambung Arfin meletakkan tangannya di pundak Wisnu. Dengan keadaan setengah sadar Arfin memunculkan senyum pada Wisnu.


"Cewek lo udah jemput, jangan sia-siain dia. El udah luangin waktu buat jemput lo." Wisnu merasa ada perasaan bersalah yang teramat dalam ketika Arfin mengatakan hal itu.


Bisa dibilang, Wisnu ingin bersama dengan Eleena pergi dari bar itu karena Arfin bukan karena paksaan Rama atau karena gadis itu. datang menjemputnya. Wisnu tidak mengerti kenapa belakangan ini Arfin terlihat aneh. Wisnu seperti melihat orang baru bukannya Arfin temannya sejak dulu.


Wisnu sudah jarang melihat Arfin bersama para gadis lagi. Dan yang lebih aneh Arfin selalu meyakinkan Wisnu untuk melakukan apa yang diperintahkan Rama, berbuat baik pada Eleena padahal Wisnu tahu bahwa hal-hal itu menyakiti Arfin perlahan-lahan. Tapi Arfin tetap melakukan hal itu sampai-sampai Wisnu yang merasakan sakitnya.


"Kenapa? Lo nggak suka sama gue?" tanya Eleena menyolot.


"Iya," balas Wisnu ketus.


"Rese lo!" Eleena melipat kedua tangannya di dada, dia membuang arah pandangnya menatap jendela di sebelah pintu mobil tempat ia duduk.


"Gue suka ada di deket lo, tapi gue ngerasa bersalah sama Arfin," batin Wisnu melirik Eleena.


Wisnu tidak berbohong, dia merasa nyaman setiap kali berada di dekat gadis di sampingnya ini. Namun, mengingat bagaimana kebaikan Arfin padanya, membuat Wisnu berusaha untuk menutupi rasa nyaman yang ada. Gilang benar, Wisnu tidak boleh jatuh cinta pada gadis ini. Jika Wisnu menyukai Eleena, sama saja dia mengkhianati Arfin.


Arfin sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, karena Arfin memang yang paling muda di antara mereka berempat. Arfin juga anak bungsu di keluarganya maka tidak heran kadang lelaki itu bertingkah layaknya anak kecil jika sudah bersama Baim, Gilang dan Wisnu.


Mereka semua menyayangi Arfin, jadi tidak etis rasanya Wisnu mengkhianati kepercayaan adiknya itu.


"Sebenarnya gue males datang ke sana, tapi karena bokap lo nelepon gue dengan nada memohon jadinya gue ke sana." Eleena tiba-tiba bersuara memecah keheningan yang tercipta di antara mereka. Namun tetap saja dia belum memalingkan wajahnya ke Wisnu.


"Bokap gue mohon-mohon sama lo?" Tentu saja Wisnu tidak percaya, sejak kapan Rama bersikap seperti itu.


"Iya," balas Eleena. "Dia pengin lo terhindar dari hal-hal buruk, jadinya gue yang disuruh jemput lo."


"Emang lo hal baik sampai-sampai lo yang disuruh?" Wisnu keheranan dengan pola pikir Rama terhadap Eleena. Rama tidak lama mengenal Eleena, tapi Wisnu rasa pria itu sudah sangat mendewakan pacarnya itu. Terbukti dari Rama yang sering bertanya tentang Eleena, syukur saja Wisnu bisa menjawab walau mengarang sedikit. Tidak lucu kalau Rama tahu bagaimana hubungan awal antara dia dan Eleena.


"Tanya sama bokap lo jangan sama gue!" ketus Eleena. Gadis itu membalikkan tubuhnya, beralih menatap Wisnu. Eleena menunjuk Wisnu dengan jari telunjuknya. "Dengan ya cowok gila, gue nggak mau bokap lo neror gue lagi dan nyuruh gue untuk terus bareng sama lo. Gue risih!" Eleena menekankan dua kata di kalimat terakhirnya.


"Iya, iya." Wisnu menjawab malas.

__ADS_1


"Turun," suruh Wisnu menghentikan mobilnya di depan kediaman keluarga Dirgantara.


Tangan Eleena bergerak untuk melepaskan sabuk pengaman tapi sayangnya benda itu sulit untuk dibuka. Eleena sudah mencoba berkali-kali tapi benda itu tidak mau terbuka juga. Padahal Eleena sudah sering menggunakan mobil bahkan tadi saja dia membawa mobilnya untuk menyusul Wisnu ke bar. Tapi kenapa sekarang benda yang sudah ia pakai sehari-hari sulit untuk diajak kerjasama.


Wisnu melirik Eleena yang kesusahan untuk membuka sabuk pengamannya. Wisnu diam memperhatikan sampai kapan gadis itu bisa berusaha tanpa meminta tolong padanya. Namun Wisnu salah besar kalau menunggu seorang Eleena Safira Dirgantara meminta tolong padanya.


"Gue bantu." Wisnu menghela napas. Lelaki itu mendekatkan tubuhnya ke Eleena, hingga gadis itu harus memundurkan tubuhnya ke punggung kursi agar tidak tersentuh oleh Wisnu.


Tangan Wisnu bergerak melepaskan benda yang mengukung Eleena sejak tadi. "Udah kan." Wisnu hendak berbalik badan, namun ketika iris hazelnya bertemu dengan iris cokelat Eleena dia menghentikan pergerakannya sejenak. Begitupun Eleena yang diam-diam terlena oleh iris yang kini hampir tidak memiliki jarak di antara keduanya.


"Lo cantik ya," ucap Wisnu pelan. Embusan napas Wisnu menembus kulit leher Eleena. Hawa hangat dari helaan napas lelaki itu seakan menggilakan Eleena.


Eleena menutup mata tak sanggup menatap iris hazel Wisnu lebih lama karena dia tahu jika dia menatap iris itu lebih lama mungkin akan terjadi hal yang tak diinginkan. Eleena seakan kehilangan akal kalau dia tenggelam dalam iris hazel Wisnu.


Wisnu berdehem menandakan bahwa dia sudah tidak berada di dekat Eleena. Eleena perlahan membuka matanya, dia menatap Wisnu dari ekor matanya. Rasa canggung kembali menyerang mereka. Wisnu sampai harus membawa matanya ke sembarang arah agar tidak menatap gadis itu.


"Turun," suruh Wisnu.


Eleena menurut, dia membuka pintu mobilnya pelan. Eleena perlahan keluar dari mobil milik Wisnu itu. Dia menutup pintunya, lalu mengucapkan terimakasih dari luar mobil. Entah Wisnu mendengarnya atau tidak, tapi yang pasti begitu Eleena turun Wisnu langsung melajukan mobil pergi dari tempat gadis itu.


Eleena mengeratkan pegangannya di tali tas miliknya. Rasa aneh ini bisa membunuh Eleena kapan saja. Eleena masuk ke dalam rumahnya. Dengan pikiran yang masih sepenuhnya berada di aktivitas mereka di mobil tadi, Eleena sampai tidak sadar bahwa ada Arjuna yang sedang berdiri memasukkan salah satu tangan di kantung menunggu kepulangan anak gadisnya itu.


"Sama Wisnu pulangnya?" Eleena dapat merasakan ada pancaran amarah di pertanyaan yang dilontarkan oleh Arjuna.


Eleena belum menjawab, dia sudah terlanjur takut untuk menjawab pertanyaan ayahnya itu.


"Ayah nggak tahu udah berapa kali Ayah bilang kalau Ayah nggak suka kamu sama dia," ujar Arjuna datar tapi menusuk Eleena yang berdiri lumayan jauh darinya.


"Dia nggak baik, El," lanjut Arjuna.


"Tapi tadi El cuma jemput dia aja, El nggak ada apa-apa sama dia," balas Eleena.


"Dia ke mana?"


"Bar." Eleena menutup mulutnya segera begitu kata itu keluar dengan sangat lancar dari bibir mungilnya. Eleena selalu saja tidak bisa mengontrol mulutnya ini.


Arjuna mengepalkan tangannya. "Jangan deketin dia lagi, Ayah nggak suka," tekan Arjuna.


"Kenapa sih Jun? Wisnu kan anak baik-baik, bagus dong El temenan sama dia." Sinta datang dari ruangan lain menyambung pembicaraan Eleena dan Arjuna.

__ADS_1


"Aku aja suka sama dia, masa kamu nggak suka sama Wisnu?" Sinta mendekati Eleena, berdiri di sebelahnya anaknya seakan memberi Eleena ketenangan karena dia tahu tatapan tajam dari Arjuna menakuti anak semata wayangnya itu.


"Aku nggak suka sama dia, itu udah jelas!"


"Kenapa? Kenapa kamu nggak suka sama dia?" Sinta masih berusaha untuk mencari informasi tentang ketidaksukaan Arjuna pada Wisnu.


"Dia bukan anak baik-baik Sinta." Intonasi Arjuna sudah mulai meninggi tapi dia masih bisa mengontrol itu sehingga tidak terlihat seperti membentak Sinta.


"Kamu yakin banget dia bukan anak baik-baik?"


"Dia tadi ke bar!" lantang Arjuna.


"Itu hal wajar kan, dia udah bukan anak kecil lagi dan kalian laki-laki, bar itu udah jadi tempat nongkrong setia. Jadi masalahnya di mana, Wisnu itu normal seperti laki-laki pada umumnya," balas Sinta.


"Aku nggak suka anak itu ke bar."


"Kamu dulu juga pernah ke bar! Jadi masalahnya di mana?!" Sinta mulai tersulut emosi, karena Arjuna memaparkan hal yang sama sekali tidak berbobot dan sulit untuk diterima.


"Kamu nggak akan ngerti Sinta. Ini urusan aku sama El bukan sama kamu," tutur Arjuna seberusaha mungkin untuk tidak tersulut emosi meskipun intonasi Sinta sudah meninggi.


"Ya karena aku ini urusan kamu sama anak aku, aku berhak ikut campur!"


"Kamu nggak akan paham Sinta!" Arjuna mulai tersulut emosi.


"Ya makanya karena aku nggak paham ya dikasih tau dong. Aku cuma pengin tau apa alasan kamu nggak suka sama Wisnu? Setahuku dia anak baik-baik," ujar Sinta.


"Kamu nggak boleh tau Sinta," balas Arjuna.


"Nggak boleh tau? Kenapa aku nggak boleh tau, emang apa yang kamu sembunyiin dari aku? Kamu tau apa soal Wisnu yang aku nggak tau?!"


"Dia anak—" Arjuna menghentikan ucapannya segera. Pria itu tidak bisa membeberkan kebenaran yang dia tahu pada Sinta, karena itu akan menjadi malapetaka di rumah tangannya nanti.


"Anak siapa? Dia anak siapa?" Sinta masih berusaha untuk bertanya.


Arjuna menghela napas kasar, dia lebih memilih untuk berbalik badan dan berjalan pergi dari tempat itu daripada dia tidak bisa menahan emosinya dan memberitahu hal itu pada Sinta.


"Karena dia anak Rama!" Langkah Arjuna berhenti saat itu juga. Begitupun Eleena yang langsung menatap Sinta. Gadis itu merasa dia tidak pernah memberitahu tentang Wisnu lebih dalam kepala Sinta, tapi kenapa sekarang ibunya itu tahu.


"Wisnu Putra Aksanta, aku tahu soal dia. Jangan pernah berpikir aku nggak tahu apa-apa, Jun."

__ADS_1


Yang Arjuna tahu saat itu adalah, hal yang dia pertahankan selama 20 tahun akan berakhir sesegera mungkin. Semuanya hal yang dibangun olehnya akan selesai, termasuk Sinta.


__ADS_2