Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
kebenaran Eleena


__ADS_3

Kaki berbalut sepatu pantofel hitam, keluar dari mobil mewah yang juga berwarna hitam. Pria dengan rambut rapi sampai menampakkan dahi, merapikan jas hitamnya.


Pria itu berjalan masuk ke dalam sebuah perusahaan. Diikuti oleh beberapa pria bertubuh kekar berseragam hitam di belakangnya. Pria berkemeja putih berbalut jas hitam dan celana hitam serta dasi hitam di tubuhnya. Jam tangan hitam ia betulkan, dan lelaki itu batuk singkat sebelum berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu berbalut kaca.


"Alrama Aksanta," ucap salah seorang berseragam hitam di belakangnya kepada orang yang berjaga di depan ruangan itu. "Tuan Rama ada agenda bertemu dengan Tuan Arjuna Dirgantara," lanjutnya.


Kedua pria yang berjaga itu memberi Rama anggukan kehormatan. Lalu memencet tombol agar pintu kaca itu terbuka dan mempersilahkan Rama masuk ke dalam dengan penuh penghormatan.


Rama masuk sendirian tidak ditemani oleh empat anak buahnya. Berkunjung ke perusahaan Arjuna untuk kedua kalinya. Yang lalu terpaksa, kali ini juga terpaksa. Jika Rama tidak mengingat bahwa dia sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan Arjuna, pria itu tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki ke tempat ini sekalipun.


Arjuna meminta Rama untuk datang ke perusahaannya, membahas proyek kerjasama mereka untuk beberapa bulan akan datang. Rama tidak akan pernah bosan mengatakan kalau Arjuna itu tidak sopan.


Dia meminta Rama datang ke perusahaannya lewat sebuah pesan. Tidak berkomunikasi secara langsung, dan tidak memakai bahasa sopan yang seharusnya pria itu gunakan sebagai rekan kerja Rama.


"Silahkan duduk, Tuan Alrama Aksanta," kata Arjuna, menyambut kedatangan Rama ke kantornya.


Rama duduk, tidak ada sorot ramah dari mata pria itu kepada Arjuna. Meskipun Arjuna memberikannya sebuah senyuman yang Rama tahu itu bukan senyuman tulus melainkan senyuman remeh.


Rama menampilkan wajah datar dengan tatapan tajam tak bisa lepas dari Arjuna. Rama mengepalkan tangan, saat Arjuna menghampirinya membawa beberapa berkas di tangan. Rama benci, Rama membenci semua hal tentang Arjuna.


Senyumannya, tatapannya, setiap kalimat yang keluar dari mulut pria itu, Rama membencinya. Rama tidak pernah membenci orang lain sampai sebegininya tapi ketika dia menemukan bahwa ada manusia seperti Arjuna, Rama memutuskan untuk membencinya tanpa ada niatan untuk memberi maaf pada pria itu jika suatu hari Arjuna datang padanya memohon ampunan.


"Bagaimana perjalanan Anda ke sini, Tuan? Apakah baik-baik saja?" tanya Arjuna, masih berusaha untuk sopan pada lawan bicaranya. Karena yang berada di depannya saat ini adalah seorang Alrama Aksanta—Pria yang dulunya menyandang gelar sebagai Putra Tunggal Aksanta, tapi sekarang dia berubah derajat menjadi Tuan Aksanta.


Lupakan hubungan puluhan tahun lalu antara dia dan Rama, hari ini adalah pertemuan antara dua pemilik perusahaan terkemuka di negeri ini.


Perusahaan milik keluarga Aksanta selalu menjadi yang pertama jika dihitung dari keuntungan dan keberhasilan perusahaan itu melahirkan proyek dan produk baru. Sedangkan yang berada di posisi kedua adalah perusahaan milik keluarga Agustama, dari urutan ini saja bisa disimpulkan betapa bersaingnya kedua keluarga ini.


"Perjalanan Anda menyenangkan Tuan Aksanta?" Arjuna mengulang pertanyaan yang sama, karena pertanyaan sebelumya tidak digubris oleh Rama.


"Nggak usah sok baik!"


Ups. Balasan dari Tuan Aksanta ini sedikit kasar untuk Arjuna yang bertanya baik-baik padanya.


"Mau formal atau informal?" tawar Arjuna.


"Mau nggak ketemu sama lo!" balas Rama menekankan kata 'nggak' dalam kalimatnya.


Arjuna terkekeh mendengar jawaban Rama yang sama tidak ada di opsi yang diberikan padanya.


"Rama, bersikaplah profesional," ucap Arjuna. "Jangan bertingkah layaknya kita adalah musuh," lanjutnya.


"Emang musuh!" Arjuna menghilangkan Senyumnya begitu Rama mengucapkan kalimat ini.


"Gue paling nggak suka ketemu sama lo, Jun. Dan lo dengan liciknya nyari alasan supaya kita ketemu," jelas Rama.


"Bukan alasan Rama, aku memanggilmu ke sini untuk membahas bisnis kita. Jangan pernah lupakan kalau kita itu rekan bisnis sekarang," balas Arjuna.


"Berbisnis denganmu adalah kesialan untukku," ucap Rama pelan yang hanya mampu di dengar oleh Arjuna seorang.

__ADS_1


"Tapi berbisnis denganmu adalah keuntungan buatku." Arjuna membalas Rama dengan kembali memberikan tatapan remeh dan senyuman yang bisa merendahkan ego Rama.


Rama membuang arah pandangnya, melihat Arjuna itu hal paling memuakkan dalam hidup Rama. Namun saat mata Rama mengarah ke sebuah tumpukan berkas dan dokumen di atas meja Arjuna, Rama melihat sebuah bingkai foto kecil dengan foto Arjuna dan seorang perempuan di dalamnya.


Sinta, perempuan itu Sinta. Perempuan yang dulunya menjadi bagian dalam hidup Rama, perempuan yang dulunya menjadi alasan Rama untuk tetap bahagia dan tertawa, perempuan yang dulunya dijadikan Rama sebagai seorang ratu dalam hidupnya, walau hanya sementara.


"Istri saya cantik kan Tuan Aksanta?" Arjuna mengambil bingkai foto itu. Mengelus-elusnya, menunjukkan foto itu pada Rama.


"Istri saya itu wanita yang begitu baik, dia merawat saya dengan sepenuh hati. Istri saya itu wanita yang penuh cinta, dia mencintai semua orang termasuk saya—"


"Apa lo nggak bisa nutup mulut lo itu, Juna?" potong Rama tidak sanggup lebih panjang pujian Arjuna pada Sinta.


"Kenapa harus tutup mulut? Sakit ya?" Arjuna memberi kekehan kecil, kembali meletakkan bingkai foto itu kembali ke tempatnya.


"Alrama Aksanta, jika lo nggak mau ngerasain rasa sakit, seharusnya jangan buat kesalahan—"


"Lo nggak tau apa-apa," sela Rama.


"Gue tahu. Tahu semuanya!"


"Nggak Juna!" Intonasi Rama meninggi. "Apa yang terjadi di hari itu dan apa yang terjadi selanjutnya, lo nggak tau apa-apa. Lo cuma tau cerita dari keluarga Agustama bukan dari pihak gue. Dan nggak seharusnya lo ngekhianatin gue."


"Gue nggak ngekhianatin lo, cuma membenarkan kesalahan lo. Lo nyakitin Sinta," balas Arjuna.


Tangan Rama sudah terkepal kuat. Keinginan untuk memukul pria di depannya ini semakin melambung tinggi. Keangkuhan dan perilaku Arjuna yang merendahkan ego Rama, semakin menambah rasa muak Rama pada pria itu.


"Saya ke tempat ini nggak untuk membahas masa lalu, Juna," ucap Rama pada akhirnya.


Arjuna membuka satu persatu berkas dan dokumen yang tersedia. Kedua pria yang semulanya berdebat karena saling tidak menyukai presensi satu sama lain, kini mulai sedikit teralihkan karena fokus mereka pada apa yang memang seharusnya mereka lakukan sejak tadi.


Arjuna dan Rama berbincang tentang proyek mereka, mulai dari proses, investasi dan investor, produksi, promosi dan keuntungan serta kerugian bersama. Kedua pria itu kembali menjadi pemilik kedua perusahaan besar.


"Bagaimana Tuan Aksanta, apa Anda setuju?" Kalimat Arjuna menandakan bahwa mereka berubah menjadi rekan kerja profesional bukannya dua pria yang memiliki kaitan di masa lalu.


"Sepertinya ide ini bagus, saya sudah membaca semuanya tapi saya rasa, kemungkinan kerugian yang akan kita terima lumayan besar. Mungkin harus ada beberapa bagian yang kita perbaiki sehingga persentase kerugian juga mengecil," kata Rama.


Arjuna menyetujui usul itu, dia menyuruh asistennya untuk mencatat apa yang dikatakan Rama barusan. Asisten Arjuna sudah berada di samping pria itu bahkan sebelum Rama masuk ke dalam ruangan itu. Asisten Arjuna menjadi satu-satunya saksi perdebatan atasannya dengan pemilik perusahaan Aksanta ini.


"Baiklah saya rasa, sudah cukup pertemuan kita hari ini." Arjuna berdiri dari duduknya, berjabat tangan dengan Rama.


Pembicaraan mereka berlangsung selama dua jam lamanya, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membahas proyek bersama.


"Senang berbisnis dengan Anda Tuan Aksanta," ujar Arjuna.


Rama tidak membalas, karena sebenarnya berbisnis dengan Arjuna merupakan hal yang paling ia benci selain pria itu sendiri.


"Mungkin Anda bisa menghabiskan kopi yang sudah disediakan lebih dulu," pinta Arjuna menunjukkan gelas berwarna putih yang berisi setengah dari kopi hitam.


Rama duduk di sofa ruangan itu, meminum kopi yang sekarang sudah dingin karena menganggur selama hampir satu jam.

__ADS_1


Rama menyeruput kopinya, tapi suara tombol ditekan dan pintu kaca yang terbuka mengalihkan atensi pria itu sejenak.


"Ayah!" Rama mengarahkan pandangannya pada seorang gadis berambut kepang memakai dress coklat masuk ke ruangan itu dan langsung memeluk Arjuna.


Rama tahu kalau itu anaknya Arjuna. Arjuna hanya memiliki satu anak perempuan dan Rama tidak tahu siapa namanya.


"El, kangen sama Ayah. Makanya El ke sini," ucap Eleena melepaskan pelukannya dari Arjuna.


"Imut banget anak Ayah." Arjuna mencubit pelan pipi Eleena, memberi kecupan hangat di dahi putrinya itu.


"Ayah rapat ya? El ganggu berarti?" tanya Eleena melihat ada banyak tumpukan berkas dan dokumen di meja kantor Arjuna serta dia melihat ada tas milik seseorang di kursi depan meja Arjuna.


"Iya. Sama teman bisnis Ayah, orangnya masih di sini. Itu dia." Arjuna menunjuk Rama yang berdiri dari tempatnya menatap ke arah Eleena penuh dengan keterkejutan.


Eleena menengok ke arah telunjuk Arjuna, dan alangkah terkejutnya gadis itu saat matanya menemukan bahwa rekan bisnis ayahnya yang saat ini datang ke kantor ayahnya adalah Rama—ayah dari kekasihnya.


"Kamu, anaknya Arjuna?" tanya Rama.


"Iya Tuan Aksanta. Dia putri kesayangan saya, Eleena Safira Dirgantara," balas Arjuna.


Dirgantara. Eleena menyandang nama Dirgantara di belakang namanya. Selama ini Rama tidak tahu apa-apa soal gadis itu selain kebaikannya. Tapi ternyata, selama ini dia menyukai gadis dari keturunan Dirgantara. Anak dari laki-laki yang sangat dibencinya.


***


"Lo kenapa nggak mutusin Eleena?" Suara Gilang terdengar dari ponsel yang menyala dan menempel di telinga Wisnu.


"El nya nggak ada," balas Wisnu santai.


"Mau sampai kapan lo nunda buat putus sama dia?" tanya Gilang.


"Sampai, kapan-kapan." Sebenarnya Wisnu tidak berniat untuk mengakhiri hubungannya dengan Eleena, maka dari itu saat dia tidak menemukan kehadiran Eleena di kampus, dia begitu senang karena tidak harus mengakhiri hubungannya.


Seharusnya, hubungan dia dan Eleena sudah berakhir dua hari lalu. Tapi Wisnu dan Eleena seakan sengaja mengulur waktu.


"Arfin masih sakit, Wis. Lo jangan buat dia nambah sakit dengan terus mempertahankan hubungan lo sama Eleena."


Gilang mengakhiri percakapan mereka sepihak. Meninggalkan Wisnu dengan rasa bersalah bersemayam di dada. Gilang menyeret Arfin lagi. Padahal baru saja Wisnu bahagia karena dia tidak jadi putus dengan Eleena, tapi ucapan Gilang menghancurkan semua kebahagiaan Wisnu.


Wisnu menghela napas. Ingin rasanya dia membentak Gilang dan berteriak pada lelaki itu karena terus menerus mencampuri hubungannya dengan Eleena. Tapi Gilang tidak salah, dia mengingatkan Wisnu bahwa masih ada Arfin yang saat ini butuh Eleena.


Arfin yang saat ini tidak tahu bagaimana kabarnya karena sudah lima hari tidak datang ke kampus. Jangankan melihat kehadiran Arfin di kampus, Wisnu bahkan tidak bisa menghubungi Arfin akhir-akhir ini. Arfin kembali menghilang dari mereka, membuat Wisnu kembali tidak tenang.


"Wisnu Putra Aksanta!"


Teriakan Rama menggema di seluruh ruangan rumah. Bahkan kamar Wisnu dengan pintu tertutup pun bisa mendengar jelas teriakan Rama.


Wisnu buru-buru keluar dari kamar, menghampiri Rama. Ada yang tidak beres, Wisnu yakin.


Wisnu menghampiri ayahnya, dan sepersekian detik berikutnya dia mendapatkan tamparan begitu keras hingga jatuh tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Berani-beraninya kamu memiliki hubungan dengan anak Dirgantara."


Mata Wisnu melebar, tamat sudah. Satu persatu masalah mulai semakin bermunculan, satu demi satu kebohongannya mulai terungkap. Hidup Wisnu kini tamat, dia selesai.


__ADS_2