
Wisnu berdiri dari duduknya, melenggang pergi setelah menghabiskan makanannya. Tanpa berbicara atau meminta izin sang Putra Aksanta itu meninggalkan orang-orang yang sedang makan malam bersama di meja makan.
Tidak ada yang menegur atau memandangi Wisnu saat lelaki itu pergi begitu saja masuk ke kamarnya. Bagi mereka, hal seperti itu hal wajar. Bukan cuma Wisnu yang pernah melakukannya tapi mereka semua pernah melakukan hal seperti itu, langsung pergi dari meja makan setelah makanan mereka habis.
Namun untuk Meethila, wanita itu tidak pernah bertindak seperti itu. Meethila menunggu sampai semua orang selesai dengan makanan mereka masing-masing dan meninggalkan meja makan, baru wanita itu berdiri dari duduknya. Karena setelah makan malam, Meethila harus membersihkan meja makan yang berantakan dan itu sudah dilakukan Meethila selama 20 tahun.
Meethila adalah menantu satu-satunya keluarga Aksanta. Meski kerap diperlakukan tak sopan tapi Meethila tidak pernah mengeluh. Meski di mata Rama dia selalu salah, di mata ibu mertuanya dia masih kurang sempurna dan tidak pernah mendapat perhatian dari ayah mertuanya, Meethila tidak pernah marah.
Bahkan dari semua hal yang sudah ia rasakan, Meethila lebih memilih untuk melayani keluarga Aksanta entah sampai kapan, mungkin seumur hidupnya. Kadang kala Meethila berpikir apa alasan ibu Rama menikahkan dirinya dengan anaknya. Jika mereka menginginkan seorang keturunan dari Meethila sepertinya Meethila sudah lama dibuang karena keadaannya yang tak memungkinkan.
"Saya harap kamu tidak bertemu lagi dengan Sinta Dela Agustama, Alrama Aksanta," ujar pria tua itu di sela-sela Rama menghabiskan makan malamnya.
Rama mengangkat pandangannya, "Saya sudah muak kamu bertemu dengannya." Setelah mengatakan itu, ayah Rama pergi dari meja makan.
Sedangkan ibu Rama sibuk membersihkan mulutnya dengan tisu. Tapi wanita tua itu juga ingin mengatakan sesuatu.
"Dia Agustama Rama, ingat itu. Kamu Putra Aksanta." Sama seperti suaminya, wanita itu juga langsung pergi begitu saja setelah memberi Rama kata-kata menyakitkan dan sedikit tamparan bahwa memang, dia dan Sinta tidak akan pernah bisa bersama jika mereka memaksa takdir sekalipun.
Rama bangkit dari duduknya, pergi entah kemana meninggalkan makanannya yang belum habis. Pria itu sudah tidak nafsu makan setelah perkataan kedua orang tuanya dilontarkan padanya.
Melihat kejadian ini, Meethila bisa menyimpulkan satu hal. Jikalau menantu keluarga Aksanta adalah Sinta, mungkin makan malam mereka tidak akan sesunyi ini karena hari-hari mereka akan dipenuhi dengan tatapan sinis dan ejekan serta makian untuk Rama dan Sinta.
Sekarang Meethila tahu apa alasan spesifik keluarga Aksanta tak melepasnya dari menantu mereka. Mereka tidak ingin menyatukan Rama dan Sinta, oleh sebab itu mereka memasukan Meethila di antara keduanya. Mereka tidak peduli Rama akan mencintai Meethila atau tidak, tapi yang mereka ingin tahu, dengan adanya Meethila Rama dan Sinta tak akan pernah bersama.
...***...
"Ya udah sekarang lo istirahat, jangan banyak tingkah biar lo cepat sembuh," ucap Wisnu yang sedang menghubungi seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Iya."
"Pokoknya, kalau besok lo masih sakit, nggak boleh ngampus. Kalau gue lihat lo ngampus, gue antar pulang lo!" ancam Wisnu serius.
"Galak amat," jawab Arfin disertai kekehan kecil yang artinya lelaki itu tidak menganggap serius ancaman Wisnu.
"Jangan sakit, Fin."
Kalimat Wisnu itu menjadi akhir dari sambungan telepon mereka, karena dalam sekejap Arfin mematikan panggilannya secara sepihak.
Wisnu memandangi ponsel berlayar hitam yang tak lagi terhubung oleh Arfin di sana. Wisnu menghela napas, kondisi Arfin belakangan ini membuat Wisnu tak bisa mengendalikan isi hatinya. Rasanya, khawatir selalu datang dan enggan pergi.
Wisnu selalu merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arfin semenjak kejadian lelaki itu pingsan saat mereka berkunjung di rumah Baim beberapa hari lalu.
"Gimana?" Suara itu mengejutkan Wisnu. Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka dan menampilkan pria bertubuh tinggi menjulang ke atas sehingga Wisnu harus mendongak untuk melihatnya karena posisi lelaki itu duduk di atas kasur sembari menyenderkan punggung ke headbord.
"Hubungan kamu sama Eleena?" tanya Rama.
Wisnu mengangguk kaku, "Baik kok."
"Ada rencana apa?"
"Rencana apanya?" Wisnu balik bertanya dan itu mendapat decakan dari Rama. "Maksud Papa itu, rencana kamu nge-date sama Eleena kayak gimana?"
"Kalau untuk date, kayaknya nggak deh. Tapi, aku ada niatan buat bikin gelang couple bareng sama El. Lucu gitu," jawabnya.
Rama manggut-manggut mendengarnya, dia menepuk pundak Wisnu dan itu membuat Wisnu tegang. "Kamu udah ketemu sama perempuan baik-baik. Jadi, kamu harus berubah untuk menjadi laki-laki baik-baik juga. Jangan malas-malasan, perusahaan bakal di tangan kamu."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Rama langsung keluar dari kamar Wisnu. Wisnu memandangi pintu kamarnya yang sudah tertutup. Belakangan ini, Rama sering sekali membicarakan soal perusahaan padanya. Memang sih, perusahaan itu akan berada di tangan Wisnu nantinya, tapi Wisnu masih belum siap untuk meng-handle perusahaan, pengalaman lelaki itu belum banyak. Dia takut mengecewakan Rama lagi, apalagi kalau pria itu tahu bagaimana hubungan dia dan Eleena yang sebenarnya. Mungkin Rama akan kecewa karena Wisnu membohonginya.
Suara ketukan pintu terdengar. "Masuk!" suruh Wisnu.
Pintu terbuka, Meethila masuk ke dalamnya dengan senyum di wajah.
"Mama." Meethila duduk di sebelah Wisnu. Hal pertama yang dia lakukan adalah, mengelus surai rambut Wisnu. Wisnu selalu nyaman akan hal itu, jadi tak salah kalau Wisnu selalu menyenderkan kepala di pundak Meethila. Karena bagi Wisnu, pundak dan pelukan Meethila adalah tempat pulang yang sebenarnya.
"Kamu okay, kan?" tanya Meethila.
"Okay lah," balas Wisnu cepat. Meethila tersenyum, dia menggenggam tangan Wisnu. "Wis, kamu itu harus rajin-rajin belajarnya ya, harus serius kuliah kamu udah semester lima, ingat itu," ujar Meethila.
"Iya, Mama."
"Kalau bisa, Nak, kamu sering-sering datang ke perusahaan. Kamu harus kenal sama perusahaan yang bakal kamu handle nanti. Mama mau, kamu jadi pemimpin yang baik," lanjut Meethila.
"Iya, Mama."
"Iya iya terus, paham nggak?" kesal Meethila dan mendapat kekehan dari Wisnu.
"Kamu harus jadi yang terbaik Sayang," tutur wanita itu.
"Kenapa sih Mama sayang banget sama aku? Papa aja nggak sesayang itu sama aku?" tanya Wisnu, menampilkan wajah polosnya di depan Meethila.
"Kamu anak Mama." Meethila hanya menjawab seperti itu, padahal dia tahu Wisnu bertanya bukan untuk mendapat jawaban yang seperti itu.
Meethila hanya takut, wanita itu belum siap untuk menceritakan apa asal usul Wisnu sebenarnya. Kenyataan bahwa dirinya tidak bisa memiliki seorang anak membuat Meethila sangat menyayangi Wisnu. Karena dengan merawat Wisnu, sifat keibuannya bisa tersalurkan. Awalnya, Meethila berpikir dia menyayangi Wisnu hanya ingin menyalurkan sifat keibuannya saja, tapi lambat laun rasa cinta dan kasih Meethila terhadap anak ini semakin besar.
__ADS_1
Meethila bisa lantang mengatakan pada dunia bahwa, dia menyayangi Wisnu lebih apapun meskipun lelaki itu bukanlah anak kandungnya.