Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Malam bersama Arfin


__ADS_3

Arfin meletakkan tangan kanannya di bahu Eleena, membawa gadis malang yang masih menangis keluar dari bar menyesakkan.


Arfin melepas jaket kulit berwarna abu-abu, menaruh jaket di kedua pundak Eleena, kembali membawa gadis itu menjauh dari sana.


Arfin membawa Eleena masuk ke mobil putih milik lelaki yang kini sedang menatap Eleena miris. Jempol Arfin bergerak mengusap air mata Eleena.


"You okay?" Tangisan Eleena kembali pecah. Suara tangis Eleena begitu kuat mengharuskan Arfin membawa gadis bersurai hitam legam masuk ke dalam pelukan yang diberikan Arfin secara suka rela.


Tangan Arfin bergerak naik-turun mengelus surai Eleena. Eleena tidak mengatakan apapun, dia hanya bisa mengutarakan bagaimana perasaannya saat ini dengan tangisan. Tangisan Eleena terdengar sangat menyedihkan di telinga Arfin.


"Sorry, El. Sorry banget gue telat," gumam Arfin. Arfin menghapus air mata yang turun membasahi pipi sembari terus meminta maaf pada gadis yang dipeluknya ini.


"El, lo nggak sendiri. Ada gue." Arfin terus mengelus surai Eleena tanpa henti sampai perlahan-lahan tangis Eleena mereda. Suara tangis yang semulanya terdengar sangat menyakitkan perlahan mulai surut.


Arfin perlahan mengendorkan pelukannya. "You okay, El? Ada yang sakit?"


Eleena tidak menjawab, walaupun sudah tidak histeris lagi tapi air mata Eleena belum berhenti membasahi pipi.


Arfin keluar dari mobil tanpa izin Eleena, bahkan sebelum gadis itu mencoba menghentikannya, Arfin sudah menghilang dari pandangan. Tangis Eleena kembali pecah, tapi kini tangisan ketakutan. Gadis itu menjatuhkan jaket Arfin dari pundaknya, menjambak beberapa surai rambut yang ia punya.


Eleena berteriak minta tolong karena ketakutan sudah begitu menguasai, bibir Eleena bergetar, bahkan tubuhnya juga bergetar ketakutan. Mata gadis ini sudah memerah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


Pintu mobil terbuka menampakkan Arfin yang menggenggam botol minum di tangan kiri. Arfin membawa Eleena yang histeris dan berteriak ketakutan kembali ke pelukannya. Mengelus surai gadis itu seperti tadi.


"Gue takut," lirih gadis itu semakin mengencangkan pelukan Arfin. "Kenapa, El?" Suara Arfin sangat pelan namun mampu memberi ketenangan.


"Lo ninggalin gue, gue sendiri di sini. Gue takut, gue takut dia—" Sebelum Eleena bisa menyelesaikan kalimatnya tangisan lebih dulu menguasai. Arfin bisa merasakan tubuh Eleena bergetar hebat. Lelaki yang kini memeluk Eleena sangat tidak tega melihat bagaimana kondisi gadis yang mungkin sudah masuk ke dalam hati laki-laki ini.


Arfin melepaskan pelukan pelan, mengusap air mata Eleena. "El, gue nggak akan ninggalin lo. Apapun keadaan lo, gue akan disamping lo, karena lo sendiri yang bilang kita itu teman. Dan teman nggak akan ninggalin satu sama lain."


Eleena tidak percaya kalau dihadapannya sekarang ada seorang laki-laki berhati emas. Laki-laki yang siap membela dan memukul temannya hanya untuk Eleena yang baru ia kenal beberapa minggu terakhir.


"Mau pergi dari sini?" Eleena tidak mengangguk dan tidak menggeleng, gadis itu hanya diam memasangkan jaket Arfin ke tubuh mungil yang masih bergetar karena ketakutan.


Walaupun tidak ada jawaban dari sang empu, Arfin melajukan mobil menjauhi tempat ini. Mobil Arfin membelah jalanan dengan iringan langit yang sudah berubah menjadi gelap.


"Airnya diminum, El." Eleena menurut, membuka tutup botol perlahan, menegukkan air ke tenggorokan.


Setelah itu tidak ada lagi yang membuka obrolan. Hanya suara mobil berlalu lalang dengan bunyi notifikasi ponsel Arfin. Arfin melirik sekilas pesan apa yang masuk untuknya, dan benar saja itu dari Wisnu. Arfin tidak menghiraukan pesan dari teman yang sudah sangat keterlaluan pada gadis disebelahnya ini.


Mobil Arfin berhenti di suatu tempat. Arfin keluar lebih dulu, berlari kecil ke bangku penumpang membuka pintu untuk Eleena. Eleena keluar perlahan setelah tatapan Arfin meyakinkan kalau dia akan baik-baik saja bersama laki-laki ini.


Arfin membawa Eleena duduk di rumput terbuka.

__ADS_1


"Bentar ya, gue balik lagi nanti." Setelah mendapat anggukan dari Eleena, Arfin pergi ke suatu tempat.


Eleena menggosokkan kedua tangan berusaha menimbulkan kehangatan kala dingin menusuk pori-pori kulit. Mata Eleena menatap bintang yang bertebaran, dan bulan yang tertutup oleh awan.


Lampu-lampu di jalanan menerangi tempat seadanya ini. Tidak terlalu ramai tapi cukup untuk memberi ketenangan pada gadis ini.


"Nih." Arfin datang menyodorkan dua gelas cokelat panas pada Eleena. Eleena mengambil salah satunya menghembus untuk menghilangkan sedikit panas. Bibir Eleena menyeruput cokelat panas itu perlahan, kehangatan langsung menyebar di tubuh mungil yang kedinginan.


"Enak?" Eleena mengangguk.


Arfin memunculkan senyum dari sudut bibir dan mengikuti Eleena menyeruput cokelat panas yang tadi ia pesan.


"Gue nggak tahu lo suka apa El, jadi gue pesan ini, nggak papa kan?"


Eleena menatap Arfin, "Nggak papa kok, makasih banget ya."


Mereka kembali diam selama beberapa saat, menikmati kehangatan dari cokelat panas dan kedinginan dari hawa malam.


"Langit malamnya indah ya." Arfin mulai membuka obrolan setelah mereka diam untuk kurun waktu 5 menit.


Eleena memandang langit malam. "Indah sih, banyak bintang tapi bulannya ketutup awan."


"Tetap cantik, kan?" Eleena menatap Arfin sejenak, gelengan terlihat dari gadis ini. "Langit malam akan cantik kalau ada bulan, Fin. Bulan itu simbol malam hari, kalaupun banyak bintang tapi kalau nggak ada bulan itu sama aja. Flat."


Arfin terkekeh kecil. "El, lo lucu banget." Arfin mengubah topik pembicaraan. Arfin mengeluarkan ponsel, memotret pemandangan langit malam dan Eleena tanpa izin dari sang empu. Eleena mengerutkan dahi penuh tanda tanya.


Arfin menghela napas sejenak, mengelus telapak tangan Eleena. "El, selain mandangin langit malam dari balkon rumah, gue juga sering ngeliatin langit malam di tempat ini. Indah, hanya ada gue tapi sekarang gue bareng sama lo."


Eleena masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Arfin. Arfin kembali menatap Eleena setelah memandangi langit malam tanpa bulan.


"El, gue dulu pernah bilang kalau gue mau bawa orang spesial ke tempat ini." Eleena semakin tidak mengerti. "Teman-teman gue bahkan nggak pernah gue ajak ke sini, tapi lo gue ajak El."


"Maksud?"


"Lo orang pertama yang gue ajak ke sini, itu artinya lo spesial, El." Tangan Arfin bergerak mengelus surai Eleena. "Lo berharga, El. Lo lebih istimewa dari yang pernah gue duga, lo perempuan yang pertama kali buat gue ngerasa nggak feeling lonely. Lo, berbeda Eleena Safira Dirgantara." Kata-kata tulus dari Arfin yang halus.


Eleena menunduk, dia kembali mengingat bagaimana perlakuan tidak sopan Wisnu padanya di bar. "Gue nggak berharga Fin. Kalau gue berharga nggak akan ada satupun cowok yang berani nyentuh gue, apalagi sampai nyium gue kayak gitu. Gue malu sama diri gue sendiri." Air mata Eleena kembali turun.


Arfin mencubit pelan dagu Eleena, mendongakkan wajah Eleena untuk menatap wajahnya. "El, lo berharga. Berlian akan tetap berharga, saking berharganya banyak penjahat yang mau ngambil berlian secara paksa pakai cara kasar. Namun, walaupun diincar banyak penjahat yang namanya berlian akan tetap jadi berlian, El."


Arfin kembali mengusap air mata Eleena. "Jangan sedih, jangan ingat kejadian itu lagi, lupain hal yang nyakitin lo, ingat hal yang ngebahagiain lo," ucap Arfin.


"Gue masih takut, Fin," cicit Eleena.

__ADS_1


"Takut wajar. Tapi lo nggak boleh terjebak dalam ketakutan seumur hidup. Gue bakal bantu lo keluar dari ketakutan ini," balas Arfin.


"Dengan cara?"


"Gue buat lo ketawa." Arfin secara langsung membuat ekspresi konyol di wajah tampan idaman banyak orang. Dan benar saja itu memunculkan tawa Eleena setelah sedari tadi air mata terus menguasai wajah gadis itu.


Arfin lalu menceritakan kejadian lucu atau hal-hal lucu yang dia temukan di media sosial, semua hal dia keluarkan untuk membuat Eleena bahagia dan tertawa lepas. Bahkan mereka membuat tebak-tebakan.


"Bahasa Belanda-nya pintar?" tanya Arfin.


Eleena berpikir sejenak. "Gue nggak tahu, gue kagak belajar bahasa Belanda—"


"Vandai." Omongan Eleena terpotong dan sepersekian detik tawa menggelegar keluar dari gadis yang memegang gelas cokelat panas di tangan.


"Itu nggak masuk akal, tapi ada benernya juga," kekeh Eleena.


Arfin ikut tertawa bersama Eleena. Mereka menghabiskan cokelat panas dengan obrolan dan pengalaman seru yang pernah mereka lalui. Walau hanya sejenak setidaknya Arfin bisa membuat Eleena melupakan masalah yang tadi sempat menimpanya.


"Pulang yuk," ajak Eleena setelah tegukan terakhir ia habiskan. Mereka berdua pergi dari tempat itu, menuju mobil Arfin.


Mobil Arfin kembali membelah jalanan malam. Tapi kali ini tidak dengan kesunyian melainkan ada alunan melodi indah dari lagu yang terputar. Menemani perjalanan kedua sejoli yang fokus menatap jalanan di depan.


Mobil Arfin berhenti di depan rumah Eleena. Arfin turun lebih dulu dan seperti tadi membukakan pintu Eleena. Eleena tersenyum untuk kesekian kali karena kebaikan Arfin malam ini.


"Thanks a lot, Fin." Arfin tersenyum. Eleena melangkah mendekati pagar rumahnya.


"El," panggil Arfin. Eleena menoleh ke arah lelaki yang kini berdiri agak jauh darinya.


"Jangan sedih lagi ya, inget ada gue di sini. Tuan puteri kayak lo nggak pantas netesin air mata, lo nggak pernah sendirian El. Setidaknya ada gue, gue yang selalu ada di samping lo mulai saat ini." Arfin melangkah maju, mengeluarkan tangkai bunga yang tadi ia petik sebelum mereka berangkat pulang. Arfin menaruh tangkai bunga itu di telapak tangan Eleena.


"El, banyak yang sayang sama lo. Termasuk gue juga."


Perkataan lembut dan penuh ketulusan Arfin memanaskan kedua bola mata Eleena.


Ting


Eleena memeriksa ponselnya kala suara notifikasi terdengar. Padahal sudah banyak notifikasi yang masuk tapi Eleena enggan membuka benda pipih itu, tapi notifikasi kali ini menarik perhatian.


Eleena menatap Arfin penuh tanda tanya. Arfin mengirimkan foto dirinya dan langit malam yang tadi ia potret. "Jangan lupa dilukis langit malamnya. Gue tunggu."


Arfin melambaikan tangan, berjalan mundur mendekati mobil. Arfin menurunkan kaca mobil saat dia sudah duduk dengan aman di kendaraan beroda empat yang akan dia kemudikan.


"Istirahat El, jangan sakit, nanti gue sedih." Arfin memberi kedipan nakal pada Eleena. Gadis yang diberi hal itu oleh Arfin biasanya akan salah tingkah atau terbawa perasaan, tapi Eleena tidak, malahan dia merasa geli.

__ADS_1


Mobil Arfin pergi dari pekarangan rumah Eleena. Eleena masih terus melambaikan tangan pada mobil yang kini sudah menghilang dari pandangan mata.


Kejadian ini disaksikan oleh Sinta. Wanita yang sedari tadi cemas menunggu kepulangan putrinya, malah melihat hal yang mengingatkannya kembali ke masa muda. Sinta tidak salah saat dia bilang kalau Arfin laki-laki yang baik. Bukan hanya teman tapi pasangan yang sempurna untuk anak semata wayangnya.


__ADS_2