
Tangan Wisnu menyeka peluh di dahi. Panas terik ini membuat tubuh Wisnu dibasahi keringat. Tapi lelaki itu tidak bisa memberontak karena dia masih berada di tahap hukuman.
"Kapan sih gue selesai njir!" Wisnu menaruh kasar sampah ke dalam kantong yang dia bawa ke mana-mana saat membersihkan lingkungan kampus.
"Tuan muda!" Wisnu kenal betul itu suara siapa. Gilang—si pengacau. Wisnu tidak menoleh sedikitpun pada Gilang walau Gilang sudah menepuk pundaknya.
"Lo okay?" tanya Gilang. "Sabar, dua hari lagi selesai, Tuan muda," lanjut Gilang.
"Lo tau di mana Arfin sialan itu?" Wisnu bertanya sembari memungut sampah plastik dan botol minuman kosong.
"Itu yang mau gue tanya, Wis. Gue juga nggak nemu Arfin," jawabnya.
"Kayaknya dia ngehindar dari kita." Baim datang menyela pembicaraan Wisnu dan Gilang. "Gue ngeliat dia keluar dari kelas, pas gue panggil dia lari. Kentara banget lagi ngehindar," jelas Baim menyesap rokoknya.
"Mungkin gara-gara kemarin. Yang di bar," kata Gilang melirik Wisnu.
Wisnu menghentikan aktivitasnya sejenak, menaruh tangannya di pinggang. "Gue nggak peduli dia mau ngehindar atau nggak. Yang gue tau, dia udah bukan temen gue," ucap Wisnu. "Dia udah keterlaluan sama gue, terlalu ikut campur. Dan gue nggak suka sama orang yang suka ikut campur apalagi waktu gue sama cewek rese itu." Setelah mengatakan itu, Wisnu kembali melanjutkan pekerjaannya tapi kali ini agak menjauh dari Gilang dan Baim.
Gilang dan Baim melihat Wisnu kesal. Memang selama ini lelaki itu sangat menyebalkan tapi tingkat menyebalkan Wisnu sudah tidak terhitung. Merencanakan hal gila pada Eleena dan memutus pertemanan dengan Arfin secara sepihak.
"Lo tau Arfin nggak salah." Baim membuang puntung rokok, beralih menatap Gilang yang masih menatap Wisnu menjalankan hukuman.
"Kita semua tau, tapi ya, kita nggak bisa apa-apa, Im. Hidup keluarga gue bergantung sama Wisnu."
Baim mengangguk menyetujui ucapan Gilang ini. Memang benar, hidup keluarga mereka berdua bergantung pada Wisnu. Ayah mereka berdua bekerja di perusahaan milik Rama—ayah Wisnu. Mereka sangat tahu bekerja di sana merupakan hal yang sangat sulit, tapi berkat Wisnu, dengan mudah ayah mereka bekerja di sana. Bahkan Wisnu juga sudah menjamin kalau setelah mereka lulus kuliah nanti, Baim dan Gilang akan langsung dipekerjakan sebagai karyawan tetap di perusahaan yang akan menjadi milik Wisnu suatu saat nanti. Kedua manusia tak berdaya ini tidak ada pilihan lain selain menuruti dan menjadi kacung Wisnu. Arfin setidaknya hidupnya terjamin karena terlahir menjadi anak orang kaya, berbeda dengan mereka. Terkadang, kita harus hidup sesuai dengan realita yang ditunjukkan oleh dunia. Jika tidak punya apa-apa menurutlah pada orang yang punya kuasa jika tidak ingin celaka.
Dan di sini, Arfin bersama Eleena sedang bercanda sambil menikmati ice cream di tangan. Mata Arfin sedari tadi hanya fokus menatap Eleena tetapi kini iris hitam Arfin bertemu dengan iris hazel Wisnu meskipun dari kejauhan. Segera dia membuang arah pandangnya ke tempat lain.
Arfin akui memang dia menghindar dari Wisnu dan yang lainnya. Tapi ini bukan hanya karena kejadian di bar tadi malam, tapi ada hal lain. Arfin tahu betul Wisnu sedang marah besar padanya, apalagi setelah tahu apa keputusan yang sudah Arfin pikir matang-matang setelah dia menginjakkan kaki ke rumah. Arfin siap kehilangan pertemanan dengan Wisnu, tapi dia tidak bisa kehilangan teman seperti Baim dan Gilang. Kalau sekarang Arfin mengatakan hal itu pada Wisnu, sudah jelas hubungannya dengan Wisnu berakhir begitu juga dengan Gilang dan Baim. Kedua manusia itu sangat menghayati menjadi babu Wisnu, sudah jelas kalau Wisnu memutuskan hubungan dengan Arfin, Baim dan Gilang juga akan melakukan hal yang sama.
Arfin takut, dia gundah, tapi melihat senyuman Eleena, sedikit membuat Arfin merasa lega. Arfin tidak bisa melupakan bagaimana tangisan histeris Eleena tadi malam, Arfin bahkan belum menanyakan apakah gadis itu baik-baik saja saat di rumah atau tidak. Arfin tidak ingin membahas hal itu lagi di depan Eleena, Arfin paham betul kalau gadis itu masih memiliki trauma karena perbuatan kurang ajar dari Wisnu.
...****...
Mobil Wisnu tiba di pekarangan rumah kediaman keluarga Aksanta. Dengan gaya angkuhnya dia keluar dari mobil masuk ke dalam rumah dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana.
Semua pelayan di rumah memberi hormat pada Wisnu yang melangkah masuk ke dalam.
Langkah Wisnu terhenti kala iris matanya menangkap seorang pria paruh baya berdiri tak jauh darinya. Tatapan tajam dari pria itu dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana, sama seperti Wisnu. Memang, buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya.
"Baru pulang jam segini?" Rama menunjukkan jam tangan miliknya ke hadapan Wisnu. Pria yang masih menaruh tangan kanan di kantung celana mendekati lelaki bermata hazel yang masih diam tak sedikitpun bergerak dari tempat.
__ADS_1
"Gila? Atau udah mau gila?" Pertanyaan Rama menundukkan pandangan Wisnu. "Saya tidak suka jika saya berbicara dengan orang lain, lawan bicara saya menunduk." Wisnu spontan menaikkan pandangan.
"Kamu udah gila?" Wisnu menggeleng. "Pulang lama, baju berantakan, saya udah nanya sama Gilang, kalian hari ini tidak ada agenda ke bar. Jadi, seharusnya kamu bisa pulang sebelum jam makan malam."
"Pa—"
"Kamu tidak bisa mengambil alasan hukuman yang kamu jalani, itu murni kesalahan kamu sendiri." Rama memotong perkataan Wisnu.
"Perilakumu, penampilanmu, sama sekali tidak mencerminkan bahwa kamu adalah putra Aksanta. Mungkin orang awam akan mengira kamu gelandangan tampan yang gila." Bahkan Rama masih bisa memuji anaknya saat menyindir.
Rama berjalan memutari Wisnu yang kacau. Rambut berantakan, kemeja yang dikeluarkan, lengan baju yang digulung sebelah, benar-benar terlihat seperti gelandangan tampan.
"Saya pikir kamu sama sekali tidak memiliki pekerjaan. Namun mengapa kamu bisa pulang lebih lama daripada saya?"
Wisnu ingin menjawab tapi gelengan dari Meethila yang mengintip di balik dinding mengurungkan niat Wisnu.
"Kamu sudah bisu sekarang? Atau tuli? Atau keduanya?"
Wisnu masih bungkam. Rama menghela napas sejenak sebelum dia memberi bogeman di pipi kiri Wisnu.
"Saya sudah bilang, saya tidak suka diacuhkan oleh lawan bicara saya. Jika saya bertanya, dijawab. Jika saya berbicara jangan disela."
Rama memberi tepuk tangan pada jawaban Wisnu. Mengeluarkan tawa mengapresiasi perkataan anaknya. Rama menghentikan tawanya segera, menatap tajam Wisnu. Dia menepuk pundak Wisnu berkali-kali.
"Jawaban yang bagus. Saya suka," bisik Rama.
Meethila yang mengintip semua kejadian di sana, tidak mengerti apa maksud Rama. Pria yang berstatus sebagai suaminya bahkan tidak memberitahu apa yang akan dia lakukan pada putra mereka.
"Wisnu, saya pikir, saya sudah bosan melihat kamu sendiri."
"Maksud Papa?"
Rama memunculkan senyum dari sudut bibir, "Apakah kamu punya kekasih?" Wisnu menggeleng. "Kalau begitu, saya akan membuatmu punya seorang kekasih," lanjut Rama.
Wisnu terkejut dengan apa yang dikatakan Rama barusan, bahkan Meethila juga. Dia tidak menyangka Rama akan berbicara seperti ini, biasanya Rama paling anti membahas tentang pasangan Wisnu tapi kenapa sekarang pria itu mengatakan ingin memberi Wisnu kekasih.
"Wisnu, papa punya seorang teman yang lumayan dekat dengan papa. Dan papa berencana untuk menjodohkan kamu dengan anak perempuannya. Kalian seumuran," ujar Rama, kali ini tersenyum ikhlas.
"Dijodohin? Sama orang yang nggak aku kenal?"
"Kamu bisa bertemu dengannya, kapanpun kamu mau," jawab Rama.
__ADS_1
Pria yang memakai kaos berwarna putih menunggu jawaban selanjutnya dari Wisnu tentang rencananya ini.
"Nggak." Senyuman Rama luntur. "Aku nggak mau dijodohin, sampai kapanpun nggak akan pernah mau dijodohin!" Wisnu memberi jawaban dengan lantang.
"Papa nggak ada hak terhadap hidup aku. Aku yang berhak mutusin mau punya hubungan atau enggak!"
Plakk
Rama menampar Wisnu kuat. Membuat lelaki berkemeja biru dengan rambut acak-acakan tersungkur ke lantai. Rama berjongkok, menyamakan tingginya dengan Wisnu.
"Sangat tidak sopan untuk menjadi seorang anak." Wisnu menatap Rama tajam membalas tatapan tajam dari Rama.
"Saya tidak meminta persetujuan kamu, tapi saya meminta kamu untuk menerima hal ini." Rama berdiri, berjalan menjauhi Wisnu.
"Sama keluarga Dirgantara?" Langkah Rama terhenti. "Mereka yang satu-satunya punya anak perempuan!" Rama memutar tubuhnya, menatap Wisnu yang mencoba berdiri.
"Aku nggak akan pernah mau dijodohin sama keluarga Dirgantara!" lantang Wisnu.
Meethila menutup mulutnya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Wisnu selanjutnya.
"Ngapain kamu di sini?" Meethila menoleh ke suara yang berasal dari ibu mertua yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya. Mata ibu mertuanya mengarah ke perdebatan antara Rama dan Wisnu.
Ibu mertuanya beserta suaminya mendekati Rama dan Wisnu yang masih bertengkar mengenai perjodohan.
"Kamu tidak usah berdebat dengan saya!" Rama memotong perkataan Wisnu. "Terima saja perjodohan ini, dan selesaikan semuanya. Saya ingin kamu berubah, maka dari itu saya memberi kamu pasangan."
"Sama keluarga Agustama? Apa aku bakal dijodohin sama mereka?"
"Jaga ucapan kamu Wisnu Putra Aksanta!" bentak Rama. Tangan pria itu bergerak mencengkram kerah baju Wisnu, urat-urat leher Rama sangat bisa terlihat. Wajahnya yang memerah menjelaskan amarah dari pria berumur 50 tahun ke atas.
"Jaga ucapan kamu," ulang Rama sekali lagi. Dia mendorong Wisnu kasar, hampir membuat Wisnu terjatuh.
"Jangan pernah mengucapkan kata itu lagi, di rumah ini. Kamu anak keluarga Aksanta, jangan pernah berhubungan dengan anak keluarga Agustama," imbuh Ibu Rama.
"Mama, jangan sebut nama itu," sela Rama.
Rama mengacak rambutnya frustasi, menendang kaki sofa pergi dari sana meninggalkan Wisnu yang babak belur bersama dengan kedua orang tuanya.
Ibu Rama mendekati Wisnu, mengelus pundak cucu satu-satunya itu. "Sayang, jangan pernah sebut nama itu lagi di sini ya. Papa kamu agak sensitif," nasehat wanita tua itu.
Wisnu beralih menatap Meethila yang masih bersembunyi. Satu masalah saja belum selesai, tapi sudah ada masalah lain. Rama terlalu pemaksa dalam segala hal. Dan Wisnu benci jika harus dipaksa.
__ADS_1