Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Kegundahan Arfin


__ADS_3

Arfin memencet tombol di penanya berkali-kali sejak Dosen yang mengajari mereka keluar dari ruang kelas. Ketika para mahasiswa lain bersiap untuk pulang, Arfin masih duduk termenung di kursi yang sekarang ia duduki sejak pertama kali masuk ke kelas ini.


Arfin bahkan tak menjawab saat salah satu temannya memanggil nama dia berkali-kali. Pikiran Arfin masih terbang ke mana-mana. Perkataan Eleena masih menghantui Arfin sampai sekarang. Sejak dia berpisah dengan Eleena untuk masuk ke kelas masing-masing, Arfin tak bisa fokus. Bahkan fokus pada mata kuliah yang ia senangi saja tidak bisa.


Selain karena perkataan Eleena, Arfin juga memikirkan tentang rencana dan paksaan Wisnu padanya. Arfin tak bisa memikirkan yang lain selain kedua hal itu yang terus berputar di kepalanya.


Arfin yang masih terus diam dan tak ada sedikitpun niat untuk beranjak pergi dari ruang kelas, sekarang dia sendirian. Semua teman kelas Arfin sudah keluar dari tadi. Menyisakan Arfin dengan suara tombol pena yang dipencet berkali-kali dan detik jarum jam yang terus bergerak yang menandakan waktu terus berjalan.


Arfin terus tenggelam dalam lamunan yang ia buat sendiri, tak peduli ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu kelas yang sedang ia tempati berkali-kali.


Gilang dan Baim saling memandang satu sama lain. Isi pikiran mereka sama, lebih baik mereka berdua langsung menghampiri Arfin dan mengajaknya pergi dari sini, daripada terus mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban sama sekali.


"Bro!" Baim datang merangkul Arfin.


Gilang menarik kursi di sebelah untuk duduk lebih dekat dengan temannya. Arfin yang tersadar dari lamunannya menatap Baim dan Gilang linglung.


Lelaki yang saat ini memakai kemeja berwarna biru kotak-kotak bahkan tidak tahu kapan kedua manusia ini bisa berada di kelas yang ia tempati sejak tadi.


"Ka-kalian ngapain?" Arfin terbata-bata. Baim menepuk pundak Arfin. "Bro, you okay?"


Gilang mengambil pena yang dipegang Arfin kasar. "Lo kayak orang gila," hina Gilang.

__ADS_1


Baim tertawa kecil. Baim beralih duduk di meja sebelah. "Gue sama Gilang udah nelfonin lo dari lama, ternyata apa? Gagal Fin. Lo-nya kayak orang tersibuk sedunia."


Arfin menjambak beberapa helai rambut miliknya dengan pelan. Kepala Arfin sangat pusing, bahkan pandangan lelaki itu saja hampir buram. Arfin tidak tidur semalaman karena bertengkar dengan kedua kakaknya dan ayahnya. Tidak ada kata damai dalam hidup Arfin, yang ada hanya lelah.


"Sorry, gue lagi banyak pikiran aja," kata Arfin, mengambil pena yang ia punya dari tangan Gilang. Baim dan Gilang saling melempar pandang saat Arfin mulai memasukkan buku-buku yang semulanya berantakan ke dalam ransel.


Arfin berdiri, meletakkan ranselnya ke punggung sebelah kanan. "Gue pulang duluan ya." Arfin pergi dari kelas meninggalkan Baim dan Gilang dengan penuh tanda tanya.


Arfin diam sepanjang ia berjalan di koridor. Tidak ada sapaan, godaan pada gadis yang lewat di depannya. Arfin yang biasanya selalu tersenyum kemanapun ia berjalan apalagi jika lelaki itu bertemu dengan gadis cantik. Namun, kini Arfin bahkan tidak menampakkan satu garis dari bibirnya yang bisa membuat semua orang mengira kalau dia tersenyum.


Arfin sedang kalut untuk yang kesekian kali. Kalau Arfin boleh jujur, ia ingin mencari ketenangan. Ketenangan selain meminum alkohol, tapi nyatanya tidak ada yang bisa membuat Arfin tenang selain alkohol. Alkohol yang menghilangkan kesadaran Arfin dalam sesaat itu juga menghilangkan masalah yang ada di kepala Arfin walau hanya sebentar.


Arfin sudah memutuskan untuk pergi ke bar malam ini.


Ada rasa kasihan yang terbesit dalam benak Arfin, tapi rasa itu seketika hilang saat iris matanya melihat Eleena yang datang mendekati Wisnu.


"Enak?" Eleena melipat kedua tangannya di dada. Wisnu menatap tajam gadis itu sejenak, lalu kembali ke aktivitas yang masih belum selesai ia lakukan.


"Duh, seorang Wisnu Putra Aksanta sekarang gantiin posisi tukang bersih-bersih di sekolah," sindir Melinda yang berdiri di sebelah Eleena.


"Yang bersih ya, Babu." Wisnu memberi tatapan tajam yang bisa menakuti siapa saja, tapi Eleena tidak takut. Dia juga membalas memberi tatapan yang tak kalah tajam dari Wisnu.

__ADS_1


"Mata lo," ucap Eleena. Wisnu membuang arah pandangnya. Rasa muak kembali memenuhi hati Wisnu.


"Gue tau lo capek, tapi ini konsekuensi yang harus lo terima karena udah berani main-main sama Eleena Safira Dirgantara." Eleena mendekati Wisnu, tangan gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam Tote bag.


Botol minuman kosong itu Eleena goyangkan di depan Wisnu. Gadis itu memunculkan senyum dari sudut bibir, menjatuhkan botol minum di bawah kaki Wisnu dengan sangat sengaja.


"Ups, Sorry. Sengaja." Tangan kanan Wisnu sudah terkepal sejak tadi. Rasa ingin memukul gadis di depannya ini sudah sangat menggebu-gebu.


Namun, Wisnu juga tidak boleh gegabah. Lelaki itu masih ingat jelas bagaimana Meethila menangis sepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah. Berapa banyak kata kecewa yang keluar dari mulut Meethila karena masalahnya dengan Eleena. Dan Wisnu tidak akan pernah lupa, pukulan yang diberikan Rama berkali-kali padanya.


Pukulan yang masih bisa terlihat karena memar yang ada di dahi Wisnu yang saat ini ditutupi dengan poni. Wisnu juga masih ingat jelas, bagaimana ejekan dari kakek dan neneknya karena dia berani bermain-main dengan putri tunggal keluarga Dirgantara ini.


Wisnu benci kalau harus mengingat kejadian di hari itu. Tapi setiap kali melihat Eleena meremehkannya, Wisnu teringat bagaimana Meethila yang duduk bersimpuh di hadapan Eleena agar hukuman untuknya bisa lebih ringan.


"Bersihin yang bagus, Brengsek." Eleena menepuk pipi Wisnu dua kali sebelum kakinya melenggang pergi menjauhi Wisnu.


Wisnu menendang botol minuman kosong yang dijatuhkan Eleena. Lelaki itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Harga diri Wisnu hancur dibuat gadis yang tak seberapa dibandingkan dia.


Arfin memberanikan diri mendekati Wisnu. Langkah kaki Arfin yang semakin dekat terdengar oleh Wisnu. Mata tajam lelaki itu menghentikan langkah Arfin.


Wisnu dengan segala kemarahannya, mencengkram kerah milik Arfin. "Gue, nggak mau tau! Pokoknya, lo bikin dia hancur sekarang. Gue mau sekarang, sekarang juga!" Wisnu mendorong tubuh Arfin kasar.

__ADS_1


"Lo renggut keperawanannya sekarang Fin. Gue udah muak lihat cewek itu di kampus ini."


Arfin tidak menjawab apapun, lelaki itu kini kembali terserah dengan segala kegundahan yang muncul di hatinya. Antara teman atau Eleena, Arfin harus memilih yang mana.


__ADS_2