
Langkah kaki besar keluar dari sebuah mobil hitam di belakang, mendahului orang-orang yang berjalan di depan. Kaki berbalut Oxford Shoes warna hitam berjalan dengan terburu-buru. Laki-laki berbalut jas abu dan celana abu menempelkan ponsel ke telinga setelah menekan beberapa digit nomor tadi.
"Kamu tunggu di mobil, jangan keluar," kata Rama untuk orang di seberang sana.
"Iya Pa."
Rama mematikan teleponnya secara sepihak begitu jawaban Wisnu terdengar. Pria dengan rahang tegas, mata tajam membuat semua orang yang melihat Rama lewat di depan mereka harus menundukkan kepala untuk memberi hormat. Rama berjalan diikuti oleh beberapa orang bertubuh kekar berseragam hitam di belakangnya.
Pria yang tidak ada menampilkan senyum sejak keluar dari ruangan CEO tadi memberi hawa menakutkan bagi orang-orang sekitar. Rama tidak menyukai pertemuannya kali ini, karena pertemuannya ini mengharuskan ia datang ke perusahaan milik Arjuna berada.
Arjuna mengundang pria itu untuk datang ke perusahaan miliknya agar membicarakan masalah bisnis, tapi ranah pembicaraan Arjuna lama kelamaan malah mengarah pada kejadian dua minggu lalu saat ia tidak sengaja bertemu dengan Sinta kala hujan malam tiba.
"Saya kurang menyukai sikap Anda, Tuan Aksanta." Begitu kata Arjuna setelah beberapa menit di awal tadi dia buka dengan pertanyaan-pertanyaan ringan mengenai kesibukan Rama dan kabar dari pria di depannya.
Rama menaikkan sebelah alisnya kala dia mendengar ucapan Arjuna, seakan menyuruh Arjuna untuk melanjutkan kata-kata agar bisa menjawab rasa penasaran yang ada.
"Saya pikir Anda tidak punya hak untuk memberi istri saya pelukan," lanjut Arjuna.
Rama membuang arah pandang segera. Pria itu mendengus, arah pembicaraan Arjuna sudah berbeda dari yang dijanjikan. Rama pikir Arjuna sudah melupakan kejadian saat dia tak sengaja menghabiskan waktu bersama Sinta sebentar kala hujan malam melanda. Itu kejadian dua minggu yang lalu, dan Arjuna membahasnya sekarang. Kalau pria itu membahas permasalahan ini 2 atau 3 hari sejak kejadian itu terjadi, mungkin Rama masih bisa memaklumi. Suami mana yang tak cemburu melihat istrinya bersama mantan kekasihnya puluhan tahun lalu, walaupun mereka sekarang orang asing tapi kenyataan bahwa mereka pernah punya hubungan spesial di masa lalu tak akan bisa dirubah.
Namun, pola pikir Arjuna yang baru membahas masalah ini padanya saat kejadian itu sudah berlalu dua minggu yang lalu itulah yang membuat Rama heran.
"Apa ini permasalahan bisnis yang akan dibahas bersama saya?" tanya Rama.
"Saya ingin membahas masalah pribadi sebentar, Tuan Aksanta," balas Arjuna.
"Saya, tidak punya waktu untuk membahas masalah pribadi Tuan Dirgantara, pekerjaan saya banyak. Waktu saya akan terbuang, jadi saya permisi." Rama bangkit, berbalik badan dan hendak keluar dari ruangan milik Arjuna yang dia singgahi sebentar.
"Tapi saya tidak suka Anda bersikap seperti itu, Tuan Aksanta," ujar Arjuna mencegah Rama yang ingin membuka pintu ruangan itu.
"Ini bukan pertama kalinya Anda melakukan hal seperti itu pada istri saya." Rama berbalik badan. Bisa dia lihat Arjuna berdiri dari duduknya, pria itu berjalan mendekati arah Rama berdiri.
Ruangan ini hanya berisi mereka berdua dan cctv sebagai saksi. Biasanya di dalam ruangan CEO akan ada 2 orang satpam atau pengawal namun khusus kedatangan Rama kali ini, Arjuna menyuruh orang-orang yang tadinya ada di dalam ruangan untuk keluar. Ternyata tujuannya untuk membahas masalah pribadi bersama Rama, Arjuna cukup cerdik juga.
"Saya pikir, Anda harus menjaga jarak dengan istri saya, Tuan Aksanta," titah Arjuna.
"Saya tidak perlu menjaga jarak, karena seperti yang Anda tahu, saya dan istri Anda sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Rama menjawab santai.
"Justru itu yang menjadi permasalahannya Tuan Aksanta. Saya mendiamkan hal ini cukup lama untuk menunggu Anda datang ke rumah saya dan meminta maaf atas perbuatan tidak sopan Anda pada istri saya."
"Tidak sopan? Bagian mana saya berlaku tidak sopan pada istri Anda?"
"Memeluknya itu sebuah ketidaksopanan!" Arjuna mulai meninggikan intonasinya. "Apa Anda pikir, hanya karena Sinta takut sama petir Anda bisa memeluknya kapan saja?" Arjuna menggeleng, "Tidak, Tuan Aksanta. Dia istri saya, yang seharusnya ia peluk ketika ada petir itu saya, bukan Anda."
__ADS_1
"Pada saat petir itu ada, Anda di mana? Hanya saya yang ada di sana, bukan Anda atau siapapun!"
Arjuna menghela napas, berusaha mengatur emosi agar tidak meluap karena ini masih di wilayah perusahaan. Tidak lucu kalau para karyawan mendengar atau melihat kedua CEO ini bertengkar hanya karena seorang wanita.
"Bersikaplah selayaknya Anda orang asing pada istri saya," ucap Arjuna pada akhirnya.
"Untuk apa saya bersikap seperti orang asing? Saya mengenal Anda, dan istri Anda, Tuan Dirgantara, saya tidak bisa pura-pura tidak mengenal orang yang saya kenal, seperti yang Anda lakukan pada saya," balas Rama.
"Rama!" bentak Arjuna. Pria itu tidak akan pernah bisa menahan amarah kalau harus berhubungan dengan pria satu ini. Sejak dulu, Rama selalu memancing amarah Arjuna.
"Aku bukan orang yang munafik, Juna. Aku juga bukan orang yang suka mengkhianati, aku bukan kayak kamu." Rama menepuk pundak Arjuna beberapa kali. "Seberapa besarpun usaha yang kamu lakukan untuk bersikap layaknya orang asing padaku, itu nggak akan merubah kenyataan kalau kita, pernah mengenal di masa lalu, Arjuna Dirgantara," lanjut Rama.
"Aku membencimu, dan akan selamanya membencimu, Alrama Aksanta." Arjuna menurunkan tangan Rama dari pundaknya. Pria itu kembali duduk di kursinya. Membuka laptop di atas meja yang terdapat dua buah cangkir kopi dan papan bertuliskan namanya.
"Anda bisa keluar dari ruangan saya." Rama membuka pintu ruangan itu kasar, lalu pergi dari ruangan Arjuna.
Rama tidak akan pernah lupa dengan kejadian antara dia dan Arjuna kali ini. Pertama kalinya setelah puluhan tahun lalu Rama dan Arjuna berbicara layaknya bukan sebagai pemilik dari sebuah perusahaan, melainkan sebagai kedua laki-laki seumuran yang mengalami konflik besar.
Rama masih berjalan untuk keluar dari perusahaan besar ini. Rasanya dia melakukan kesalahan besar berhubungan dengan Arjuna lagi. Awalnya Rama berpikir ini hanya untuk keuntungan dan kerjasama antar perusahaan tapi Rama lupa, mau seprofesional apapun seseorang pasti akan ada beberapa pembahasan pribadi yang terselip.
Rama diikuti oleh beberapa pengawalnya keluar dari perusahaan milik Arjuna. Mereka berjalan untuk menghampiri mobil hitam yang terparkir di depan sana. Dan di dalam mobil hitam itu ada Wisnu yang tengah memainkan ponsel.
Ponsel Rama ia genggam tanpa mengkhawatirkan bahwa benda berharga itu bisa saja hilang dengan mudah. Salah satunya, karena pencurian. Dan itu benar, ketika tinggal beberapa langkah lagi Rama menghampiri mobilnya untuk pergi dari tempat ini, seorang laki-laki berbaju hitam memakai masker menarik ponsel Rama dari genggaman saat dia tahu bahwa Rama sedang lengah.
"Woi!" teriak Rama begitu laki-laki itu berlari setelah mengambil ponsel dari tangannya. Wisnu yang mendengar teriakan Rama menengok ke arah luar. Pria berbaju hitam dengan masker di wajahnya berlari melewati mobil yang sedang Wisnu naiki. Namun Wisnu tidak tahu bahwa pria itu adalah orang yang telah mencuri ponsel ayahnya.
"Pa, kenapa?" tanya Wisnu begitu berada di depan Rama.
"Handphone Papa dicuri," jawab Rama. Wisnu membulatkan matanya sempurna. "Sama?" tanya Wisnu lagi.
"Tuh." Rama menunjuk pria berbaju hitam yang tadi melewati mobil Wisnu. "Papa mau ngejar, kamu di sini aja," kata Rama.
Rama ikut berlari untuk mengejar pencuri itu. Sambil berteriak untuk menyuruh pencuri itu berhenti berlari dan mengembalikan ponselnya.
"Kembalikan handphone saya!" teriak Rama masih terus berlari mengejar pencuri itu. Wisnu tidak bisa tinggal diam, dia juga ikut berlari untuk membantu Rama dan para pengawalnya. Sepertinya pencuri itu masih muda, maka dari itu dia berlari bisa sangat kencang.
"Berhenti, balikin hp bokap gue!" teriak Wisnu.
Eleena memberhentikan mobilnya, kala dia melihat ada adegan kejar-kejaran di depannya. Perempuan itu turun dari mobil santai, dan sama seperti Wisnu tadi, pencuri itu berlari melewati Eleena. Perempuan itu sama sekali tidak menaruh curiga, sampai akhirnya kata-kata itu terdengar, "Kembalikan ponsel saya dasar pencuri gila!"
Detik itu juga Eleena menyadari ini bukan permainan kejar-kejaran yang dulu ia lakukan bersama Melinda saat masih kecil. Ini adegan kejar-kejaran karena terjadi pencurian. Tanpa berpikir panjang, gadis itu berlari mengejar pencuri yang sudah jauh di depannya. Para pengawal itu masih berusaha untuk mengejar, tapi usia mereka yang terbilang tidak muda lagi membuat energi mereka untuk berlari jauh sedikit menurun. Dan Eleena lah yang mengejar pencuri itu.
Para pengawal Rama masih terus berlari walau lari mereka sudah melambat, sedangkan Rama dan Wisnu berhenti untuk mengatur napas yang tersengal karena berlari sejauh ini.
__ADS_1
"Papa udah bilang di sana aja," ucap Rama, berusaha mengatur napas. Wisnu tidak menjawab perkataan Rama karena lelaki itu sama lelahnya dengan Rama.
"Berhenti!" teriak Eleena. Eleena melirik Totebag yang ada di bahu sebelah kiri. Gadis itu melempar Totebag miliknya ke arah pencuri dan berdoa agar Totebag itu bisa mengenai pencuri itu agar pencuri itu bisa berhenti sebentar.
Sesuai perhitungan, Totebag Eleena tepat mengenai punggung dari pencuri. Pencuri itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh dan itu dimanfaatkan Eleena untuk menambah laju lari dan menggapai pencuri itu. Saat pencuri itu berusaha untuk lari lagi, Eleena segera memijak kakinya dengan highells yang ia pakai.
"Jangan nyuri, dosa tau." Eleena merebut ponsel Rama dari tangan pencuri itu kasar. Saat tangan pencuri itu berusaha mengambil ponsel Rama yang sudah berada di tangan Eleena, gadis itu memukulnya. Dan beralih memijak kaki sebelah kiri dari pencuri itu.
"Ini punya orang, kamu nggak boleh mencuri hak orang lain," ucap Eleena.
Para pengawal itu akhirnya tiba setelah mereka berusaha untuk berlari sejak tadi. Mereka langsung menyerbu si pencuri dengan memberi pukulan demi pukulan pada pencuri itu.
"Jangan, jangan dipukuli. Kasian." Eleena mencoba menghentikan pengawal Rama yang memukuli pencuri itu. "Jangan dipukuli kayak gitu, laporin aja sama pihak yang berwajib, jangan main hakim sendiri." Eleena membantu pencuri itu berdiri setelah memberi ponsel Rama pada salah satu pengawalnya.
Bertepatan dengan itu, Rama dan Wisnu sampai di sana. "Kalau nggak dikasih pelajaran dia nggak jera nanti," lantang salah satu pengawal Rama.
"Saya tahu, tapi main hakim sendiri juga nggak baik. Kita nggak ada yang tau alasan kenapa dia mau mencuri, saya bukan membenarkan perbuatan dia yang mencuri, saya tau itu salah dan saya menyalahkan perbuatannya. Tapi yang namanya manusia punya alasan untuk melakukan apapun itu termasuk kejahatan. Sekarang ponselnya juga udah aman, kita nggak usah main hakim sendiri. Kalian semua harus ingat, kalau dia anak dari seseorang, saudara dari seseorang, harapan dari seseorang, kalau sempat dia terluka karena perbuatan kalian, kasian dengan orang yang sudah menunggunya di rumah. Jadi, laporkan saja dengan pihak yang berwajib, kalian tau sendiri kan, kalau kalian melaporkan kejahatan pada pihak yang berwajib, mereka akan adil. Jadi kita nggak usah main hakim sendiri."
Mereka semua terdiam mendengar penjelasan panjang dari Eleena, termasuk Rama yang tanpa sadar sudah menyimpan rasa kagum pada gadis yang sudah membantunya.
Salah satu pengawal Rama menoleh ke arahnya. "Laporkan pada pihak yang berwajib, turuti apa kata gadis ini," ucap Rama. Mereka semua menurut, pengawal Rama membawa pencuri itu menjauh dari Rama serta Wisnu dan Eleena.
"Ini, Tuan." Rama mengambil ponselnya dari tangan pengawal. Pria itu mendekati Eleena. "Kamu hebat," puji Rama, saat Eleena mengambil dan membereskan isi dari Totebag yang dia gunakan untuk melemahkan si pencuri.
Eleena menoleh pada Rama. "Saya tidak menyangka, kamu seorang perempuan tapi bisa sehebat ini. Kamu berani, dan kata-kata kamu tadi, saya menyukainya," sambung Rama.
"Terimakasih, Pak. Saya melakukan itu untuk kemanusiaan," jawab Eleena malu-malu. Sepertinya gadis itu tidak menyadari keberadaan Wisnu yang berada di belakang Rama.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Rama.
"Eleena, Pak," jawab Eleena sopan. Eleena bukan tipikal orang yang suka memberitahu nama belakangnya pada orang lain. Apalagi jika orang itu tidak bertanya nama lengkapnya, Eleena tidak akan memberitahunya. Menurut Eleena mempunyai nama belakang bukan sebuah hal yang harus dipamerkan dan bukan kewajiban setiap orang tahu nama belakang Eleena.
"Nama yang cantik, seperti orangnya," puji Rama lagi. Eleena menunduk malu untuk pujian Rama kali ini. "Ternyata, di zaman sekarang ini masih banyak ya perempuan baik seperti kamu," ucap Rama.
Eleena mengangkat pandangannya, menatap Rama. "Banyak kok perempuan baik di luar sana, Pak. Hanya saja Bapak belum mengetahui keberadaan mereka. Sejatinya semua perempuan itu baik kok, Pak, hanya saja cara perempuan menunjukkan kebaikannya yang berbeda-beda."
Rama manggut-manggut, gadis di depannya ini sudah menarik perhatian Rama.
"Bapak nggak papa, kan?" tanya Eleena. Rama mengangguk, "Saya tidak papa, kamu juga baik-baik saja, kan?" Eleena mengangguk sebagai jawaban.
"Saya permisi ya, Pak. Saya mau pergi, lain kali hati-hati ya, Pak. Diperhatikan lagi barang-barangnya," peringat Eleena.
"Baik, terimakasih sekali lagi, Eleena." Eleena tersenyum hangat, dia berjalan melewati Rama dan Wisnu membalikkan tubuhnya yang tepat di belakang Rama agar Eleena tidak melihat dirinya saat berjalan nanti. Wisnu tidak ingin perempuan itu mengetahui kalau pria di depan ini adalah ayahnya.
__ADS_1
Wisnu mengenal napas lega saat Eleena sudah jauh darinya. "Wis." Wisnu terkejut menoleh pada Rama. "Dia gadis yang baik ya." Rama masih belum berhenti memuji Eleena. "Papa mau kamu punya pasangan seperti dia, perempuan seperti dia yang Papa maksud bisa meluruskan kamu yang bajingan jadi laki-laki baik-baik."
Wisnu tidak menjawab, malahan dia memandangi mobil merah terang Eleena melaju membelah jalanan dan meninggalkan mereka di sini.