
Pintu bercat cokelat terbuka, menampilkan sosok laki-laki berkaos putih dengan celana pendek hitam keluar dari dalam. Lelaki itu dengan santai berjalan melewati Rama yang tengah membaca buku di ruang keluarga rumah Aksanta.
Atensi Rama teralihkan melihat Wisnu dengan santainya berjalan di depannya dengan perhatian penuh pada ponselnya dan tak sekalipun melirik Rama seakan-akan pria itu tidak ada di sana.
"Mau ke mana?" Rama angkat suara, menghentikan langkah Wisnu.
Wisnu berbalik badan melihat ke arah Rama. "Mau main sama Arfin," jawab lelaki itu.
"Main terus nggak pernah belajar. Kayak nggak pernah ada tugas kuliah aja," sindir Rama, menghentikan Wisnu yang tadinya ingin langsung pergi.
"Contoh Arfin, dia anak organisasi, pintar lagi. Terkadang saya heran kenapa kamu yang buruk ini bisa dapat teman seperti Arfin dan punya pacar sebaik dan selembut Eleena." Rama berdiri, menghampiri Wisnu.
"Kamu harus berubah Wisnu. Cepat atau lambat, perusahaan bakal kamu yang pegang dan saya nggak mau perusahaan saya dipimpin sama orang nggak bertanggungjawab dan hobi bermain-main seperti kamu," lanjut Rama.
"Jangan selalu mengandalkan joki tugas saat mengerjakan tugas kampus. Jangan mentang-mentang kamu Putra Aksanta kamu bertingkah semena-mena. Saya sudah muak dengan tingkah kamu, jika saja kamu bukan Putra Aksanta saya sudah pastikan kamu sudah tidak ada di sini."
Rama mengambil bukunya, berbalik badan menjauh dari Wisnu. "Satu lagi. Saya nggak mau ke bar!" Rama mengucapkan itu lantang tanpa berbalik badan, membiarkan kalimatnya bergema di seluruh ruangan.
Wisnu mengepalkan tangan. Bukan saja Rama yang muak padanya, dia juga muak dengan Rama.
...***...
Malam hari di suatu tempat ramai. Diisi oleh berbagai jenis manusia. Kalau orang-orang bilang, tempat ini adalah tempat anak-anak nakal bermain dan bertukar kabar. Kalau kata orang tempat ini jauh dari kata kebaikan dan kata orang tempat ini adalah tempat menghilangkan kebaikan dalam diri.
Namun itu kata orang, bukan kata pikiran Wisnu dan kawan-kawan. Meskipun sudah dapat peringatan keras dari Rama, Wisnu tidak memperdulikan hal tersebut. Lelaki itu masih datang ke bar bersama ketiga temannya yang sudah datang lebih dulu ke tempat ini. Wisnu tidak takut pada ancaman Rama apalagi larangannya. Mungkin itu yang membuat Rama merasa kewalahan menghadapi anak berandal ini.
"Spil udah berapa lama kita kagak ke bar?" Suara Baim terdengar sedikit lantang mengatakan kalimat itu. Gelas berisi minuman yang terpegang di tangan dan sesekali lelaki itu meneguk gelas itu.
"Semenjak ni orang sama tu cewek, kita udah jarang main," imbuh Gilang yang sudah setengah sadar. Kalimatnya itu tertuju pada Wisnu sebagai sebuah sindiran karena memang semenjak Wisnu bersama Eleena mereka sudah sangat jarang datang ke bar, Wisnu lebih sibuk menghabiskan waktu bersama pacarnya.
"Gue ngerasa jadi anak nakal lagi." Arfin ikut mengeluarkan suara. Lelaki itu belum menghabiskan gelas yang dia pegang. Padahal yang lainnya sudah menambah minuman tapi minuman di gelas Arfin bahkan belum mencapai setengah berkurangnya.
"Jangan banyak minum, Wis. Entar ribet kalau lo terlalu mabuk pulang ke rumah." Arfin mencegah Wisnu yang hendak menuangkan minuman ke gelas kosongnya. Wisnu sudah sangat hampir kehilangan kesadaran.
Di antara mereka semua, Wisnu yang paling memiliki toleransi tertinggi pada alkohol. Lelaki itu bisa dikatakan mabuk seutuhnya jika dia sudah meminum lima gelas.
"Lo perhatian banget sama gue." Wisnu membalasnya dengan kekehan. "Lo cosplay jadi El?"
Arfin menggeleng, "Nggak gitu. Gue males ditanya-tanya sama bokap lo nanti," jawab Arfin.
Setiap agenda mereka pergi ke bar, Arfin adalah orang yang akan mengantar Wisnu pulang ke rumah. Kalau Wisnu masih sadar, dia yang akan menyetir tapi tetap membawa Arfin di mobilnya. Sedangkan kalau Arfin yang masih sadar, dia yang menyetir. Namun kalau mereka berdua tidak sadar, Arfin akan menelepon sopir rumahnya untuk mengantar mereka pulang. Lagipun Arfin selalu menelepon sopirnya setiap kali dia ke bar, karena setelah mengantar Wisnu, dia pulang bersama sang sopir yang sudah membawa mobilnya terlebih dahulu dan membututi mereka dari belakang.
"Kalau Rama nggak usah dipikirin. Buang-buang waktu mikirin dia," balas Wisnu, melepaskan tangan Arfin yang menutupi gelasnya.
__ADS_1
Wisnu menyingkirkan gelasnya. Lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke belakang bangku panjang yang memuat mereka berempat untuk duduk di sana. Setidaknya Wisnu menuruti Arfin untuk tidak menambah dosis alkohol di dalam dirinya.
"Cantik banget ege!" seru Baim memberi kedipan pada seorang gadis seksi yang lewat di depan mereka.
"Siapa namanya?" Arfin bangkit, dia tidak bisa menahan diri jika bertemu dengan gadis cantik. Lelaki itu segera menghampiri gadis seksi berpakaian merah ketat itu. Duduk di sebelah gadis itu, berbincang sebentar sambil meneguk minuman mereka.
"Gue kira setelah dia naksir sama El, Arfin bakal berubah. Nyatanya masih sama aja, playboy," ujar Gilang geleng-geleng kepala melihat Arfin yang merangkul gadis seksi itu.
"Justru gue senang dia gitu. Itu artinya Arfin masih sama. Nggak ada yang berubah," sambung Wisnu, menatap Arfin.
"Do you like me?" Gadis berpakaian merah ketat itu bertanya pada Arfin. Bahkan gadis itu menarik kerah Arfin sehingga lelaki itu lebih dekat padanya.
"I like you, Girl. But I have someone better to me," balas Arfin.
"What her name?" tanya gadis itu lagi.
"Spesial name. Just only me know, not you." Arfin menurunkan tangan gadis itu dari pipinya. Arfin melambaikan tangan pada gadis itu dan kembali lagi pada teman-temannya.
"Cepat, tumben," kata Baim begitu melihat Arfin duduk kembali bersama mereka.
"Dia nggak asik. Terlalu goda gue," jawab Arfin, meneguk tetesan terakhir dari minumannya.
"Dia yang nggak asik, atau lo yang udah berubah?" tanya Gilang.
"Baru tau lo," tutur Baim. Arfin tertawa.
"Fin, lo ada waktu nggak?" Wisnu tiba-tiba bertanya, membetulkan posisinya dan mengalihkan seluruh atensinya pada Arfin.
"Time? Always."
"Help me," pinta Wisnu. "Apaan?"
"Buatin gue gelang dong. Dua gelang, yang couple terus lo kasih puisi kayak biasa. Tema puisinya cinta," jelas Wisnu.
Arfin mengerutkan keningnya, tidak langsung mengiyakan. Dia ingin Wisnu memberitahunya lebih lanjut mengenai permintaannya itu.
"For my mom," ucap Wisnu pada akhirnya.
"Oke."
Arfin langsung menyetujui. Membantu Wisnu memang sudah kewajibannya kan, apalagi kalau temannya itu sedang berusaha berbuat baik dengan memberi hadiah pada ibunya.
"Gue rasa Wisnu bohong," batin Gilang menatap lelaki di sebelahnya penuh dengan kecurigaan.
__ADS_1
...***...
Tangan putih gadis itu mengambil sebuah buku dari atas meja. Kaki putih mulus miliknya melangkah menuju balkon yang ada di kamar. Membuka pintu balkon itu membiarkan angin malam singgah di kulitnya.
Tangan gadis itu bergerak membuka buku dengan sampul pelangi dan banyak sticker bunga di sekelilingnya. Dengan pena yang sudah terpegang di tangan, dia mulai menorehkan tinta di kertas itu.
Alasan untuk suka sama Wisnu:
- Dia suka kucing
- Baik sama Bunda
- Setia kawan
- Tau bunga kesukaanku
- Tau alergi aku
- Ngasih aku gelang mutiara
- Bilang aku cantik terus foto aku
- Buatin aku puisi
- Lucu
- Misterius
- Iris hazelnya cantik
- Traktir aku bakso di pinggir jalan
- Nyaman ada di pundaknya
- Tatapannya buat nyaman
- Senyumnya buat aku terhipnotis
- Dia nolongin aku waktu aku mau jatuh
- Baik ternyata
Eleena tersenyum. Ternyata sudah banyak tinta itu berada di kertas yang menuliskan alasan Eleena harus menyukai Wisnu. Gadis itu pikir kertas itu tidak akan pernah terisi, tapi sekarang sudah sebanyak ini.
__ADS_1
"Do I like him?" tanya Eleena pada dirinya sendiri menatap gelang mutiara yang diberikan pada Wisnu beberapa minggu lalu bertepatan pada hari Valentine—hari di mana mereka pergi berkencan walau tak disengaja.