
Mobil silver berlogo AK sampai di kediaman keluarga Alyas. Wisnu membuka pintu mobil, membantu Gilang dan Baim membawa Arfin masuk ke dalam rumahnya. Lelaki itu masih belum sadarkan diri, sepanjang perjalanan Wisnu hanya dikelilingi oleh rasa takut dan rasa panik.
Ini kejadian kedua kali, Wisnu tidak yakin kalau ini semua berarti tidak apa-apa.
"Tuan Alyas!" pekik Wisnu, begitu menginjakkan kaki ke rumah besar itu.
Semua penghuni di sana mendengar teriakan Wisnu, mereka keluar dari ruangan mereka masing-masing. Menghampiri si pemilik suara yang menggema di seluruh rumah.
"Ngapain—" Kakak kedua Arfin bahkan belum menyelesaikan kalimatnya tapi dia menemukan adiknya dalam kondisi kehilangan kesadaran dan berada dalam bopongan Wisnu serta Baim.
"Arfin!" Kakak kedua Arfin menghampirinya, "Adek gue kenapa?" tanyanya mengarah ke Wisnu.
"Kalau gue tau, gue nggak akan bawa dia ke sini!" Wisnu menjawab ketus.
Tidak perlu minta izin pada pemilik rumah untuk Wisnu membawa Arfin masuk ke kamarnya. Lelaki itu membaringkan tubuh Arfin di ranjang. Menempelkan punggung tangannya di dahi Arfin.
"Panas," ucap Wisnu pelan.
"Tuan, saya akan panggil dokter," tambah Wisnu, melihat bahwa seluruh anggota Alyas memasuki kamar Arfin.
__ADS_1
"Tidak usah, Wisnu. Kamu tidak usah repot-repot untuk menghubungi dokter. Mengantar anak ini sampai ke rumah saja, saya ucapkan terimakasih," ujar Tuan Alyas—ayah Arfin, sedikit tersenyum.
"Arfin sakit apa Tuan?" Gilang memberanikan diri untuk bertanya, meskipun karena dia mengeluarkan suaranya dia mendapat tatapan sinis dari ayah Arfin.
Tuan Alyas sama saja dengan Rama. Mereka mementingkan kasta di atas segalanya. Tuan Alyas begitu bahagia saat tahu Arfin bisa menjadi tempat dekat Putra Aksanta, tapi dia begitu membenci saat mengetahui bahwa Arfin juga berteman dengan manusia berkasta di bawah mereka.
Gilang berjalan mundur, berdiri di sebelah Baim yang berdiri di ambang pintu tak berani menapakkan kaki di lantai kamar Arfin. Gilang dan Baim saling melirik, dan perlahan menundukkan kepala. Orang rendah harus tahu tempatnya.
"Nyonya, punya kompres kan? Saya bisa minta kompresnya untuk Arfin?" tanya Wisnu sopan.
"Sebentar." Wanita berumur 50 tahunan itu keluar dari kamar, menuju ke suatu tempat.
Arfin saat tahun lalu dengan tahun ini. Ada yang aneh dari lelaki itu, apalagi semenjak tiga bulan belakangan. Wisnu sangat merasakan keanehannya tapi lelaki itu tidak tahu harus menebak apa.
Wisnu terus menggenggam tangan Arfin yang tak kunjung sadar sampai 15 menit.
Wisnu menatap Arfin penuh kekhawatiran, lelaki yang saat ini menutup mata dengan wajah yang perlahan memucat. Tapi, pandangan Wisnu menemukan ada lebam berwarna biru gelap terpampang di pergelangan tangan Arfin.
Wisnu menggeser tangan Arfin, melihat lebih jelas mengenai lebam itu. Ternyata tidak hanya satu, ada beberapa luka di pergelangan tangan Arfin.
__ADS_1
"Ini, Nak." Wanita yang merupakan ibu Arfin itu meletakkan baskom di atas nakas dengan handuk kecil di sebelahnya.
Wisnu tahu itu untuk kompres jika ada orang yang terkena demam, tapi yang Wisnu tidak mengerti kenapa ibu Arfin tidak mengompres anaknya padahal dia jelas-jelas tahu bahwa anaknya saat ini sedang tidak sadarkan diri karena panas di tubuhnya.
"Kamu bisa pulang Putra Aksanta. Mungkin ayahmu sudah menunggu di rumah. Ini juga sudah malam, untuk masalah Arfin bisa kami yang urus," ucap Tuan Alyas sedikit tegas.
"Tap—"
"Pulang!" tekan kakak pertama Arfin pada akhirnya.
"Kita bisa urus Arfin sendiri, kita yang lebih tau soal dia," sambungnya.
Wisnu yang biasanya melawan dan tidak tinggal diam saat ada yang memperlakukannya kasar, tapi untuk kali ini dia memilih untuk diam dan menurut.
Wisnu keluar dari kamar bersama Baim dan Gilang. Mereka pergi dari kediaman keluarga Alyas dalam keadaan Arfin masih belum membuka mata. Kekhawatiran masih bersarang di hati Wisnu sepenuhnya tapi Wisnu merasa tidak enak kalau dia berlama-lama di rumah itu.
Ayahnya Arfin itu salah satu teman dekat Rama. Jika Wisnu tidak menuruti ucapannya untuk pergi dari rumah itu, mungkin nanti pria itu akan menghubungi Rama dan mengatakan yang tidak-tidak.
Wisnu menghela napas, memijit pelipisnya. Gilang menatap Wisnu, lelaki di sebelahnya ini sedang sangat kalut dan Gilang tahu itu.
__ADS_1
"Sabar Tuan Muda. Pasti semuanya selesai pelan-pelan," ucap Gilang menenangkan Wisnu sejenak.