Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Keisengan Wisnu


__ADS_3

Pagi ini mobil berwarna silver itu tiba di parkiran kampus Universitas Binawa. Berhentinya mobil silver itu bersebelahan dengan mobil merah milik seorang gadis. Wisnu menurunkan kaca mobilnya ingin melihat siapa pemilik dari mobil merah yang parkir di sebelah mobil silvernya.


Begitu kaca itu turun, iris hazel Wisnu bisa melihat gadis dengan kacamata dan rambut dikepang sedang memeriksa isi di dalam ransel hitam yang akan ia bawa masuk ke dalam kelas. Anak rambut gadis itu jatuh menutupi sebagian wajah cantik bak bidadari. Entah sudah berapa kali kejadian seperti ini terjadi, secara tidak sadar Wisnu terpesona oleh gadis yang sering dia sebut 'Cewe rese'.


Ingin rasanya Wisnu merapikan anak rambut Eleena, tapi dia bingung bagaimana caranya. Eleena keluar dari mobil, iris cokelat Eleena jatuh pada iris hazel Wisnu. Mata itu, mata tajam nan indah yang seakan menghipnotis Eleena. Mata Wisnu unik, mampu membuat orang lain terintimidasi dan jatuh hati. Eleena tidak menyukai lelaki ini, tapi dia menyukai mata hazel Wisnu.


"Nggak usah liatin gue!" ketus Eleena.


Begitu kaki Eleena melangkah menjauhi tempat mobilnya terparkir, Wisnu keluar dari mobilnya. Seakan terhipnotis, Wisnu mengikuti langkah gadis itu. Eleena tidak menyadari ada seseorang di belakang yang sedang mengikuti dan Wisnu juga tidak menyadari kalau sejak tadi matanya tak bisa berhenti untuk memandangi gadis ini.


Langkah Eleena berhenti, membuat Wisnu yang berada di belakang menabrak ransel hitam milik Eleena. Wisnu mengelus dahinya yang sakit dan Eleena memutar tubuh untuk melihat apa yang terjadi di belakang.


"Eh, lo kenapa?" tanya Eleena begitu dia melihat raut kesakitan Wisnu dan elusan di dahi.


"Lain kali jalan yang bener dong, lo sengaja banget ya buat gue jadi kayak gini," keluh Wisnu.


"Hah? Maksud lo apa? Kok tiba-tiba nyalahin gue?"


"Ya emang lo yang salah," balas Wisnu.


Eleena mendengus sebal, tidak bisa untuk tidak kesal jika bertemu dengan lelaki satu ini.


"Lo kenapa?" tanya lagi Eleena.


Wisnu terdiam sejenak, intonasi Eleena barusan menembus sampai ke jantung Wisnu. Penuh kelembutan dan terdapat sedikit kekhawatiran. Persis seperti Meethila saat bertanya apakah dirinya baik-baik saja atau tidak.


"Ransel lo, nabrak gue," jawab lelaki itu. Eleena spontan melepaskan ransel hitam dari pundak, dia lebih memilih untuk menenteng ransel itu.


"Sorry ya, I don't know about that." Tangan Eleena bergerak mengelus dahi Wisnu yang sebenarnya tidak merah apalagi mengeluarkan darah, tapi karena reaksi Wisnu yang berlebihan mau tak mau Eleena harus bertanggung jawab.


Di setiap elusan lembut tangan Eleena, dia meniup dahi Wisnu sesekali. Eleena yang semakin mendekat membuat Wisnu bisa mencium parfum milik Eleena. Wangi sporal dari bunga mawar merah, Wisnu mengingat aroma parfum ini. Karena dia selalu mencium aroma parfum ini saat mengintip kamar ayahnya.


"Udah nggak sakit, kan?" Wisnu sontak menggeleng pelan tanpa sadar.


Mata hazel Wisnu melihat bagaimana Eleena mulai melangkah menjauhi tempat ia berdiri. Wisnu tidak bisa berhenti memandangi gadis yang sedang membelakanginya dengan menenteng ransel hitam di tangan.


Apa seperti ini yang Arfin rasakan? Rasa candu saat dekat bersama Eleena. Jantung Wisnu ternyata sudah berdetak lebih cepat dari biasanya tanpa Wisnu ketahui. Elusan dari Eleena tadi, berhasil menumbuhkan senyum kecil di wajah tampan Wisnu. Entah apa yang Wisnu rasakan sekarang, yang ia tahu, ia ingin berbicara dengan Eleena.


Wisnu menggelengkan kepala, tiba-tiba Eleena memenuhi pemikiran hanya karena elusan yang dia lakukan. Wisnu kembali dengan wajah datar, melangkah masuk ke dalam Universitas Binawa.


...***...


Wisnu berdiri di lobi kampus, memperhatikan satu persatu mahasiswa yang berlalu lalang. Mata hazel Wisnu mencari keberadaan orang yang menyita pikirannya sejak tadi. Seorang gadis dengan kepangan rambut dan kacamata. Gadis yang memberikan elusan di dahinya.


Wisnu tanpa sadar tersenyum, mengelus dahi yang sudah tak sakit lagi. Dia mengingat bagaimana Eleena mengelus pelan dahi Wisnu tanpa lelaki itu minta.


Iris Wisnu melihat seorang gadis berjalan bersama dengan dua orang gadis lainnya dari kejauhan. Dia keluar dari kelas sambil bersenda gurau bersama teman sekelas. Sama seperti tadi, anak rambut gadis itu jatuh.


"Indah," gumam Wisnu. Senyuman di wajah putih dan kecil Eleena. Tubuhnya yang mungil dan bagaimana cara dia berjalan, Wisnu, menyukainya.


Ransel hitam yang kini bertengger di kedua pundak, dan kacamata yang masih berada di wajah. Masih sama.


Jantung Wisnu berdetak lebih cepat dari biasanya saat Eleena berjalan melewatinya. Mata mereka sempat bertatapan sebentar, sebelum Eleena kembali pada temannya dan pergi melewati Wisnu begitu saja. Wangi bunga mawar masih tercium di hidung Wisnu. Lelaki itu mengikuti aroma parfum yang menghipnotisnya.


Lelaki itu berjalan di belakang Eleena, tanpa mengatakan apapun. Dia, tersihir oleh Eleena hari ini. Entah apa yang terjadi.


Kaki Wisnu bergerak mendorong kaki Eleena dari belakang, dan benar saja gadis itu terjatuh. Jatuh dalam tangkapan Wisnu. Iris hazel Wisnu kembali bertemu dengan iris cokelat Eleena. Wisnu memunculkan senyum kecil begitu dia menyelamatkan Eleena yang hendak terjatuh karena ulahnya sendiri.

__ADS_1


Tangan Eleena menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandang. Mata Eleena melihat jelas bagaimana Wisnu tersenyum. Senyuman indah yang belum pernah Eleena lihat sebelumnya.


"Bisa senyum juga ternyata," batin Eleena.


Eleena menutup mata sejenak dia kembali berdiri dengan kaki sendiri. Kedua insan ini kini merasa canggung.


"Ma-makasih," ucap Eleena. Wisnu mengangguk pelan. Padahal dia yang membuat Eleena terjatuh, tapi tak apa dia mendapat ucapan terimakasih dari Eleena.


"Gue duluan," pamit Eleena, kembali berjalan bersama kedua temannya.


Wisnu agak kebingungan begitu Eleena sudah berjalan 3 langkah di depannya. Dia tidak bisa mengakhiri percakapan dengan Eleena begitu saja. Harus lebih panjang percakapan mereka.


Wisnu sedikit berlari mengejar Eleena. Di tengah keramaian dia menjambak kepangan Eleena, sampai kepala gadis itu terangkat ke atas. Wisnu tersenyum, namun begitu Eleena berbalik badan senyuman itu ia hilangkan.


Eleena memegangi kepangannya, "Lo yang jambak gue?"


Wisnu mengangguk. "Of course."


"You're crazy boy? Maksud lo apaan?" Oke, mulai tampak kekesalan di wajah Eleena, ini kesempatan Wisnu untuk memancing perdebatan.


"Kenapa gue lakuin itu? Gue mau ngasih lo pelajaran," balas Wisnu santai.


"What? Emang apa yang gue lakuin?"


Wisnu menyunggingkan bibir. "Banyak hal yang udah lo lakuin, salah satunya buat gue dihukum jadi tukang sampah selama satu minggu." Wisnu mulai mendekat, tatapan remeh ditujukan pada Eleena.


Eleena sontak mendorong Wisnu. "Heh, seharusnya lo bersyukur—"


"Buat apa gue bersyukur sama hal itu?" potong Wisnu.


"Masih mending lo jadi tukang sampah daripada lo di DO!" bentak Eleena. Mereka bertengkar di lobi kampus, bentakan Eleena ini memancing para mahasiswa untuk berhenti dan melihat perdebatan mereka untuk kesekian kali.


"Oh iya?" Eleena terkekeh kecil disertai dengan gelengan kepala. Gadis itu tidak mengerti kenapa Wisnu bisa semenyebalkan ini.


Tangan Wisnu bergerak, mengambil botol minum dari tangan Eleena. Dia sengaja menjatuhkan botol minum itu di depan pemiliknya langsung.


"Gila lo!" Eleena memukul lengan Wisnu kuat. Dia menunduk untuk mengambil botol minuman yang tidak lagi berisi.


Bantingan dari Wisnu yang cukup kuat mengakibatkan botol minum itu pecah di bagian bawah. Ini botol minum milik Sinta, kalau wanita itu tahu botol minumnya pecah, apa yang akan terjadi di rumah.


"Barang murahan tuh, sampai harus pecah gitu," sindir Wisnu.


"Jaga omongan lo!" sentak Eleena. Dia memandangi miris botol minum yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Memang sih, itu barang murah karena Sinta membelinya di pasar. Tapi, tetap saja ini punya orang.


"Tanggung jawab nggak lo?" Wisnu menggeleng santai. "Lo udah mecahin botol minum gue, dan lo nggak minta maaf? Benar-benar kelewat gila."


"Bukan gue yang gila, lo yang gila. Dasar cewek rese!"


Kedua manusia itu kembali saling berdebat. Meributkan siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab.


"Benar-benar nggak tau diri! Kalau gitu, gue DO aja sekalian!" sela Eleena.


Wisnu terdiam sejenak, dia mendekat. "Kenapa nggak di DO aja?"


Eleena mendengus sebal. "Gue bisa aja DO lo Wisnu, tapi nyokapnya lo bersimpuh di depan gue, gue nggak tega!" Intonasi Eleena cukup keras. Dan itu lebih banyak menyita perhatian dari para mahasiswa.


Wisnu terdiam, dia melupakan kejadian hari itu. Bagaimana Meethila memohon pada Eleena agar ia tidak di keluarkan dari kampus. Bagaimana Meethila memarahi dan memaksa Wisnu untuk minta maaf.

__ADS_1


"Lo, Wisnu Putra Aksanta, manusia yang paling buruk." Wisnu mengepalkan tangan mendengar kalimat itu.


"Lo nggak ada bedanya sama bokap lo. Dari dulu keluarga Aksanta memang selalu menyusahkan. Keluarga Aksanta kasar, kan? Pantas lo kasar. Keluarga lo emang nggak tahu sopan santun, makanya lo jadi rendahan kayak gini!"


"JAGA UCAPAN LO ELEENA!" Wajah Wisnu memerah, urat-urat nya terlihat di leher dan tangan yang terkepal.


"Yang lo omongin itu keluarga gue, dan informasi lo itu salah besar. Keluarga gue menjunjung tinggi sopan santun." Kali ini Wisnu tidak berbohong, keluarga Aksanta memang menjunjung tinggi sopan santun, apalagi pada orang baru dan para tamu.


"Kalau mereka menjunjung tinggi sopan santun, lo nggak akan kayak gini!"


Wisnu masih diam. "Gue denger cerita dari nenek gue, katanya keluarga Aksanta itu penipu. Keluarga lo pernah mempermalukan bunda gue, dan satu lagi, ayah lo itu licik!"


"ELEENA SAFIRA DIRGANTARA!" Tangan Wisnu terangkat, jarak antara tangan dan pipi Eleena hanya beberapa senti saja. Gadis di depannya ini sudah keterlaluan, Wisnu tidak akan bisa mendengar keluarganya di hina seperti ini.


"Mau nampar gue? Tampar aja?" Eleena dengan sangat berani menunjuk pipinya dan menantang Wisnu.


Tangan Wisnu turun, jika saja dia tidak mengingat pesan Meethila agar tidak melukai gadis lagi, sudah pasti Eleena akan dia tampar di depan banyak orang.


"Keluarga lo—"


"Emang lo pikir keluarga lo sebaik itu?" potong Wisnu. "Emang lo pikir, keluarga lo suci?" Wisnu menggeleng.


"Semua orang tau, keluarga gue itu keluarga baik-baik Putra Aksanta. Dirgantara family's, kita pecinta kedamaian."


"Gue bukan bahas itu." Wisnu menjeda.


"Gue bahas, soal Agustama. Lo dari tadi bilang kalau keluarga Aksanta itu buruk, kasar, tapi Agustama? Mereka gimana? Mereka jauh lebih buruk dari keluarga gue, Eleena."


Eleena mengerutkan kening tak percaya dengan perkataan Wisnu barusan.


"Lo tau, kalau keluarga gue benci banget sama keluarga Agustama. Keluarga gue bukan tipikal yang bisa ngebenci orang sembarangan. Kalau keluarga gue udah benci sama satu orang, berarti mereka udah keterlaluan. Lo pikir, apa dosa keluarga Agustama, sampai-sampai keluarga gue benci banget sama mereka."


Eleena bungkam. Ucapan Wisnu menghabiskan kata-kata Eleena. Dia tidak tahu, kalau kebencian keluarga Aksanta dan Agustama timbal balik. Eleena pikir hanya sepihak yang membenci, ternyata tidak.


Melinda yang berada di tempat itu, sudah mengepalkan tangan sejak Wisnu mulai membahas tentang keluarganya. Dia putri bungsu keluarga Agustama. Tentu saja dia tidak terima nama keluarganya diberi cap buruk oleh Wisnu.


Melinda hendak maju ke depan menghampiri Wisnu, namun dia dihentikan oleh Arfin yang berdiri di sebelah gadis itu. Melinda bisa melihat gelengan dari kepala Arfin.


"Nggak usah ikut campur. Urusannya bakal makin panjang," bisik Arfin.


"Tapi dia—"


"Gue nggak tau soal keluarga lo, tapi gue tau soal keluarga Aksanta. Mending lo diem aja," potong Arfin mengecilkan intonasi suara. Dia menyuruh Melinda kembali ketempat dan menjadi penonton saja.


"Eleena, lain kali pikiran lo di pakai, jangan menghina sembarangan. Apalagi yang berhubungan sama keluarga Aksanta," peringat Wisnu, pergi dari sana.


"Gue yakin keluarga Aksanta memang buruk!" pekik Eleena, menghentikan langkah Wisnu.


Lelaki itu berbalik badan. "Gue tetap sama pendirian gue, gue nggak suka sama keluarga lo, Wisnu Putra Aksanta," lantang Eleena.


"Gue juga." Wisnu mendekat. "Gue juga bakal tetep sama pendirian gue, gue benci sama semua hal yang berhubungan dengan Agustama, dan keluarga Dirgantara. Gue benci mereka berdua, Eleena Safira Dirgantara." Wisnu mengatakan hal itu dengan lantang dan intonasi pelan di kalimat terakhirnya.


Semua mahasiswa di sana melihat satu sama lain, mereka menjadi ngeri untuk pertengkaran Eleena dan Wisnu kali ini. Mereka berdua sudah menggunakan nama keluarga, kalau begitu pertengkaran berikutnya sudah pasti lebih kacau daripada ini.


Wisnu menjambak kembali kepangan Eleena dan gadis itu membalas menginjak kaki Wisnu menggunakan flatshoes-nya. Kedua manusia ini sama-sama merasakan sakit, tapi tak ada yang menunjukkan. Yang ada hanya tatapan tajam yang terlihat.


Wisnu dan Eleena pergi dari tempat itu bersama-sama namun dari arah yang berbeda. Mereka menerobos kerumunan yang menghalangi jalan.

__ADS_1


Hanya karena hal kecil saja bisa sepanjang ini pertengkaran mereka. Padahal niat Wisnu hanya ingin bercanda, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Rasa kagum Wisnu pada Eleena langsung menghilang. Gadis itu berani menyeret nama keluarganya, kalau begitu hidupnya akan berakhir, segera.


__ADS_2