
Tidak ada yang baik-baik saja selama hampir dua minggu ini. Tidak ada yang bahagia selama hari-hari ini terlewati. Semua manusia sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada yang peduli pada urusan orang lain, apalagi kesedihan yang saat ini terjadi.
Wisnu merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar dan menghela napas berat. Suasana hidupnya kini jauh dari kata-kata baik saja. Dia lelah untuk alasan yang tidak jelas, letih untuk hal yang tidak dimengerti.
"Gue bingung banget sumpah," gumam Wisnu, menutup matanya.
Lelaki itu membiarkan, matanya yang menutup dihinggapi dengan rasa kantuk. Dia mempersilahkan dirinya untuk tidur. Tanpa tahu, apa yang akan terjadi esok.
...***...
Sinta masuk ke kamarnya langsung disambut tatapan oleh Arjuna. Pria itu tersenyum pada istrinya, meminta Sinta untuk duduk di sebelahnya. Kedua pasangan suami-istri yang sudah memakai piyama ini, bertukar cerita di malam hari.
Tidak banyak hal yang ingin Sinta ceritakan, tapi Arjuna memiliki banyak cerita setiap harinya. Mulai dari masalah kantor, hal-hal lucu dan tidak penting juga. Arjuna terlalu menjadikan Sinta sebagai tempat pulang dan juga tempat teraman untuk bercerita.
"Sin." Arjuna mengelus telapak tangan Sinta. "Do you love me now?"
Sinta menautkan alis, "Kenapa kamu nanya gitu?"
"Jawab aja."
"Ya pasti lah, Jun. Kita udah bareng berapa lama? Udah 20 tahun loh, dan kamu masih nanya aku cinta sama kamu atau nggak. Kenapa kamu selalu aneh," balas Sinta panjang lebar.
Arjuna tidak puas dengan jawaban ini. Dia tidak pernah bisa menerima jawaban Sinta yang seperti ini. Pria itu tidak mengharapkan jawaban ini, dia hanya butuh ungkapan perasaan Sinta saja, bukan penjelasan mengenai hubungan mereka.
Sinta bangkit dari kasurnya. Wanita itu menuju toilet dan Arjuna memandang sendu punggung Sinta yang kini sudah menghilang karena terhalang pintu toilet.
Arjuna menghela napas, rasanya semakin lama semakin berat saja. Arjuna keluar dari kamar, berjalan menuju taman. Di malam hari, taman rumah menjadi teman ternyaman Arjuna untuk menyalurkan kesedihan yang dia rasakan.
__ADS_1
Arjuna menatap foto Sinta yang ia jadikan sebagai lock screen di ponselnya. Wanita itu tersenyum, tapi tatapannya kosong pada Arjuna. Arjuna tidak pernah merasa bahwa tatapan yang diberikan Sinta padanya adalah tatapan penuh dengan cinta dan juga rasa kagum. Arjuna hanya bisa menemukan kekosongan di mata Sinta, kekosongan untuk dirinya.
Mereka menikah sudah lama, tapi mengapa rasanya hanya Arjuna yang berjuang untuk hubungan ini tetap berjalan.
Arjuna akui dia menikah dengan Sinta bukan karena dasar cinta, tapi bisnis keluarga. Tapi, Arjuna mencintai Sinta sejak dulu, sejak wanita itu memutuskan untuk mencintai Rama. Arjuna sudah mencintainya bahkan sampai saat ini, saat Sinta belum menampilkan sorot penuh cinta padanya, Arjuna masih mencintainya.
"Rama beruntung banget, dia bisa ngabisin cinta Sinta. Sampai-sampai aku nggak kedapatan jatah cinta dari dia," ucap Arjuna.
Tanpa Arjuna sadari, Eleena berdiri di belakangnya. Gadis itu mendengar jelas apa yang diucapkan olehnya. Eleena yang semulanya ingin mendekati Arjuna, kini gadis itu malah memilih untuk pergi. Dia masuk ke kamarnya dan menyenderkan tubuh di balik pintu.
Kata-kata Arjuna, dia harus menyimpannya. Eleena menghidupkan ponselnya, menulis apa yang dia dengar dari Arjuna ke dalam notes di ponsel.
Kini tebakan baru mulai bermunculan lagi. Foto usang, pertengkaran Rama dan Sinta di kampus, hingga ucapan Arjuna tanpa sadar. Eleena mengaitkan itu semua, dan gadis itu masih bingung dengan hasilnya. Sejauh ini, tebakan Eleena hanya satu, Rama dan Sinta bukan hanya kekasih di masa lalu, tapi mereka pernah menikah. Dan Eleena sangat yakin akan hal itu. Namun, yang menjadi pertanyaan saat ini, apa alasan bundanya dan Rama bisa berpisah. Perpisahan yang berakhir dengan kebencian yang mendalam. Itu yang harus Eleena cari tahu sekarang.
Eleena yang sibuk dengan segala teori dan konspirasi di kepalanya, berbanding terbalik dengan Melinda yang sibuk dengan ponsel menyala dan tersambung pada sebuah panggilan suara.
"Jadi ini gimana, Bu. Mau kapan kita lancarin aksinya? Udah lama banget nggak jadi-jadi terus," ucap seorang pria di seberang sana.
Melinda menyunggingkan bibirnya, tersenyum licik. Melinda tidak sabar untuk esok hari dan drama apa yang akan tersaji untuknya.
...***...
"Kita mau ke mana sih Mel?" tanya Eleena mulai agak panik. Lantaran, tujuan pulang ke rumah yang dituju oleh sepupunya sangat berbeda dengan yang biasa ia jalani, bahkan Eleena juga tidak yakin bahwa jalanan ini ada di dunia.
"Udah, lo tenang aja. Bentar lagi juga nyampe kok."
"Awas aja ya kalau gue nggak pulang!" peringat Eleena.
__ADS_1
"Aman."
Melinda menambahkan laju mobilnya, dia memberhentikan mobilnya di satu jalanan yang cukup sepi.
"Kenapa Mel?"
"Bentar ya, kayaknya ban gue kempes deh." Melinda turun dari mobil dan Eleena juga ikut turun bersamanya. Melinda semula memeriksa ban mobilnya, memastikan apakah ban itu baik-baik saja atau tidak.
Dan sepersekian detik berikutnya, Melinda lari dari sana.
"Mel!" jerit Eleena. "Melinda!"
Melinda semakin menambah laju larinya, meninggalkan Eleena sendiri di sana. Eleena tentu saja ketakutan, dia tidak tahu tempat ini dan sedang di mana ia saat ini.
"Mel, lo jahat banget." Eleena mencoba masuk ke dalam mobil Melinda, berharap bahwa kunci mobil itu masih ada di dalam.
Namun, belum sempat Eleena membuka pintu mobilnya, sebuah tangan besar dari belakang membekap mulutnya. Eleena berteriak, mencoba melepaskan tangan besar itu. Tapi sayangnya semua sia-sia, Eleena dimasukkan ke dalam sebuah mobil berwarna hitam.
"Lepas!" teriak Eleena.
Eleena mencoba untuk melarikan diri dan pria itu memukul bagian belakang kepala Eleena, membuat gadis itu pingsan. Dan dengan damai mereka membawa Eleena pergi dari sana.
Eleena malang yang tak sadarkan diri, Eleena yang tak tahu apa yang akan terjadi.
Mobil itu tiba di sebuah bangunan. Para pria berbaju hitam dengan wajah mereka yang ditutupi oleh masker. Mereka membopong Eleena yang tak sadarkan diri. Membawa gadis itu masuk ke dalam.
Mereka mendudukkan Eleena di sebuah kursi, mengikat tubuh gadis itu dikursi menggunakan banyak tali. Jadi, gadis itu tidak akan bisa kabur. Tak lupa juga, sebuah selotip hitam besar ditaruh di bibir Eleena agar gadis itu tidak mengeluarkan suara ketika sadar.
__ADS_1
"Mahal ini harganya," celetuk salah satu pria di sana.
"Anak Dirgantara gitu loh," imbuhnya.