Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Kebingungan


__ADS_3

Wisnu berdiri di depan sebuah kelas dengan banyak mahasiswa memakai almamater merah berlalu lalang di sekitarnya. Laki-laki dengan satu tali ransel terpasang di bahu sebelah kiri, menyilangkan kedua tangan di dada sambil menggerak-gerakkan kaki kanannya.


Lelaki itu melirik jam tangannya, sudah sepuluh menit dia berdiri di sini, tapi perempuan yang ditunggunya tak kunjung keluar dari kelas dan menampakkan diri.


"Gue duluan ya." Suara perempuan incaran Wisnu terdengar jelas. Perempuan dengan rambut dikuncir kuda, beralmameter merah keluar dari kelas.


"Ikut gue." Tak membiarkan Eleena menyelesaikan kalimat untuk menyapanya, Wisnu langsung menarik tangan Eleena mengikuti dia pergi dari sana.


Wisnu tidak melihat apapun dan tidak peduli pada apapun selain Eleena, sampai dia tidak sadar bahwa Melinda Putri Agustama berdiri di sebelah Eleena. Gadis itu mengerutkan kening, melihat betapa beraninya Wisnu menarik Eleena seperti tali pergi dari fakultas mereka.


"Anak Aksanta emang nggak pernah sopan," cibir Melinda, memutar bola mata malas pergi dari kelasnya.


Namun, setelah beberapa langkah berjalan, Melinda berhenti. Pikirannya tiba-tiba memberitahu pemiliknya bahwa ada yang aneh.


"Wisnu Putra Aksanta, anggota Aksanta itu kayaknya makin dekat aja sama El. Mereka ada hubungan apa ya?" batin Melinda. Gadis itu menampilkan senyum licik, lalu kembali melanjutkan perjalanan.


Ia menemukan sebuah konspirasi baru di dalam otaknya. Melinda yakin, bahwa tebakannya selama ini benar. Ada sesuatu antara Putra Tunggal Aksanta dengan Eleena—sepupunya.


Melinda yang sibuk dengan segala teori di dalam otaknya dan di sini Wisnu masih menarik tangan Eleena kasar walau sedari tadi Eleena bertanya dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Wisnu yang menyakitinya.


"Wis, lo gila ya? Sakit!" Eleena berusaha lagi melepaskan cengkraman tangan itu, tapi tetap tak berhasil.


Wisnu tak ingin melepaskan dan tak ingin menjawab pertanyaan Eleena yang bertanya apa yang terjadi padanya dan apa yang hendak lelaki itu pada dirinya.


Wisnu menghempaskan tangan Eleena kasar, begitu mereka sampai di belakang kampus. Tempat sunyi yang jarang dilewati mahasiswa, bahkan tempat itu menjadi tempat pembuangan sampah di Universitas Binawa.


Eleena memegangi tangan kirinya yang sakit karena cengkraman Wisnu. Ada warna merah di lengan putih Eleena. Bisa terbayang betapa sakitnya cengkraman Wisnu itu.


"Lo tau apa soal hubungan bokap gue sama nyokap lo?" Wisnu menodong Eleena dengan pertanyaan, sebelum sempat memberi gadis itu kesempatan untuk bertanya 'Ada apa?'

__ADS_1


Eleena menautkan alisnya. "Maksud?"


"Jawab aja. Lo tau apa soal hubungan bokap gue sama nyokap lo!"


Setelah kejadian kemarin malam selepas makan malam mereka, Wisnu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana murkanya kakeknya pada Rama. Tanpa alasan yang jelas, kakek Wisnu memukuli Rama tanpa ampun.


Wisnu juga menjadi orang yang diam saja melihat semua kejadian itu, dia juga menjadi orang yang membantu Rama untuk masuk ke kamar setelah mendapat pukulan bertubi-tubi dari kakeknya.


Melihat betapa buruknya kondisi Rama kemarin malam, menciptakan sejuta pertanyaan di benak Wisnu. Bagaimana Rama dipukuli sampai memar ada di perutnya, dan dahi pria itu yang mengeluarkan darah.


Sepanjang Wisnu hidup, dia tidak pernah melihat kakeknya semurka itu, apalagi pada Rama. Namun kemarin malam, hanya karena ayahnya mengatakan bahwa dia senang bertemu dengan Sinta, dia mendapat pukulan keras dan menyakitkan dari kakek Wisnu.


Wisnu semalaman memikirkan apa yang sebenernya terjadi sampai-sampai drama seperti ini terjadi di rumahnya lagi. Wisnu kira dia menjadi satu-satunya orang yang selalu dipukuli di rumah itu, tapi melihat Rama kemarin malam, Wisnu bisa mengatakan bahwa apa yang diberikan Rama tidak setimpal pada apa yang diberikan kakeknya pada ayahnya.


"Gue yakin lo tau sesuatu. Pasti nyokap lo pernah cerita, dia punya hubungan apa sama bokap gue," ujar Wisnu.


Eleena menjadi satu-satunya opsi untuk Wisnu tanyai. Karena gadis itu tinggal serumah dengan Sinta, jadi Wisnu yakin gadis itu pasti mengetahui sesuatu soal kejadian kemarin malam yang terjadi di rumahnya.


"El. Gue lagi serius, kasih tau gue apa yang lo tahu soal masa lalu Bunda lo," balas Wisnu.


Eleena berdecak, "Buat apa gue ngulik masa lalu bunda, itu nggak sopan. Gue nggak tahu apa-apa soal bunda, selain gimana ceritanya bunda bisa nikah sama ayah."


Wisnu memijit pelipisnya, berusaha meredam rasa sakit kepala yang menyerang karena terlalu banyak memikirkan alasan kejadian kemarin malam.


"Wis, lo kenapa sih? Aneh banget. Datang-datang langsung narik gue, mana sakit lagi, sekarang nanya-nanya nggak jelas," omel Eleena.


"Bokap gue dipukul."


"Hah?"

__ADS_1


Wisnu mengangkat pandangannya, menatap Eleena. "Gue nggak tau kenapa, tapi yang pasti setelah kita makan malam, bokap gue dipukuli sama Kakek gue sendiri. Di depan mata gue lagi, gila nggak tuh."


"Kok bisa?"


"Nggak tahu, El. Kalau gue tau alasannya, gue nggak akan sepusing ini sekarang," jawab Wisnu, menghela napas berat.


"Kalau bokap lo dipukuli sama kakek lo, apa hubungannya sama bunda gue?" Eleena bertanya lagi, untuk mengetahui lebih lanjut maksud dari semua yang Wisnu tanyakan padanya.


"Karena, saat kakek gue mukul bokap gue, dia nyebut nama nyokap lo. Sinta Dela Agustama," ucap Wisnu.


Eleena dibuat bingung dengan jawaban Wisnu. Bagaimana bisa keluarga Aksanta memasukkan nama Sinta menjadi bahan pertengkaran mereka. Yang lebih mengherankan mereka masih menyebut Sinta dengan menyertakan Agustama di belakang nama wanita itu. Padahal jelas-jelas sekarang Sinta sudah menjadi Nyonya Dirgantara meskipun dulunya wanita itu merupakan anggota Agustama.


"Gue yakin, ada sesuatu El. Nggak mungkin bunda lo disebut sama kakek gue pas dia lagi berantem sama papa cuma karena papa ketemu sama nyokap lo di tengah jalan. Gue yakin ada hal di masa lalu yang berkaitan sama alasan keributan di rumah gue."


Eleena terdiam. Keributan di rumah Wisnu, mengingatkan Eleena pada keributan yang pernah terjadi di rumahnya saat Arjuna mengundang keluarga Sinta untuk makan malam merayakan dia yang sudah menjalin kerjasama dengan Rama. Dan bagaimana berita itu menimbulkan keributan besar di rumah mereka.


"Wis, lo tau kan kalau keluarga lo sama keluarga Agustama itu musuhan. Jadi wajar aja, kakek lo nyebut nama bunda gue setelah bokap lo ketemu sama Bunda." Eleena masih berusaha berpikir positif bahwa alasan pertengkaran ayah Wisnu dan kakeknya bukan karena ada hal di masa lalu, tapi karena murni dua keluarga itu saling membenci sampai ke tulang-tulangnya.


"El, gue tau dan nggak akan pernah lupa kalau keluarga gue sama Agustama musuhan. Tapi, selama gue hidup di rumah itu, nggak ada satupun orang yang nyebut nama Agustama tapi kemarin malam, mereka dengan jelas nyebut nama anggota Agustama, yaitu bunda lo."


"Tapi bukan berarti bunda gue jadi penyebabnya!"


"Gue nggak bilang kalau nyokap lo penyebab mereka berantem, tapi gue tanya ada hubungan apa bokap gue sama nyokap lo!" balas Wisnu.


"El, listen to me. Gue yakin, bokap gue berantem sama kakek gue bukan hanya karena mereka benci sama anggota Agustama. Tapi ada hal lain yang lebih dari itu, karena bokap gue bilang dia nggak nyesel ketemu sama Tante Sinta," lanjut Wisnu, semakin menimbulkan tanda tanya di kepala Eleena.


"El, gue mohon sama lo. Lo dekat sama nyokap lo, tanya sama dia, ada hubungan apa dia sama bokap gue. Walaupun gue nggak suka sama bokap gue, tapi gue tetap nggak tega ngeliat papa dipukuli sampa segitunya cuma karena ketemu sama nyokap lo."


Wisnu menghela napas, "El, ini bukan pertama kali bokap gue ketemu sama nyokap lo. Gue pernah nggak sengaja lihat bokap gue ketemu sama nyokap lo di mall beberapa bulan lalu. Tapi nggak ada keributan besar, tapi sekarang malah ada hal yang menyakitkan."

__ADS_1


Wisnu mengakhiri pembicaraan mereka dengan kalimat panjang. Lelaki itu melenggang pergi meninggalkan Eleena sendirian dengan semua tanda tanya dan kebingungan yang bersarang di kepalanya.


"Apa alasan Tuan Rama bertengkar itu ada hubungannya sama Ayah yang nggak ngasih izin ke gue buat bicarakan soal Aksanta di rumah," batin Eleena.


__ADS_2