
Malam hari, tempat manusia baru saja pulang dari aktivitasnya seharian. Waktu di mana para manusia itu beristirahat, memulihkan energi untuk menerjang hari esok. Malam yang selalu gelap dan kini ditemani oleh bulan bersinar terang memberi cahaya indah untuk dipandang.
Dan seorang gadis dengan piyama berwarna merah muda berlengan pendek dan celana di atas lutut, duduk di atas bantalan bangku. Gadis dengan rambut digerai, dan di tangannya terdapat sebuah kertas berwarna lusuh. Gadis dengan senyuman yang terukir di wajah kala membaca isi dari surat yang ia pegang.
Sembari ditemani oleh langit malam, Eleena membaca kata demi kata, bait demi bait puisi yang tertulis indah di kertas ini. Puisi yang diberikan oleh Wisnu padanya. Setiap kata yang tertuang di kertas itu begitu indah, selalu menyihir Eleena. Namun untuk kali ini, puisi itu berhasil membuat Eleena terharu hingga nyaris menumpahkan air mata.
Eleena menurunkan kertas itu, menghela napas panjang. "Indah banget," gumamnya. Eleena terus menatap kertas berisi puisi itu. Setiap kata yang tertuang di sana begitu luar biasa bagi Eleena. Rasanya gadis itu benar-benar dibuat terbang oleh kata-kata itu. Wisnu begitu luar biasa merangkainya.
Eleena dalam lamunan akan setiap kata yang tertuang di kertas di sadarkan oleh ketukan pintu dan suara decit pintu itu kala terbuka. Eleena menoleh ke belakang, melihat siapa orang yang masuk ke kamarnya. Eleena tersenyum pasrah, seharusnya dia tidak usah bertanya siapa orang itu di dalam benaknya, karena tentu saja itu Sinta. Siapa lagi yang akan masuk kamar Eleena malam-malam selain wanita itu.
"Kenapa, Bun?" Eleena tidak berdiri dari duduknya, tapi dia menyuruh Sinta untuk duduk di sampingnya lewat bahasa isyarat dan juga pertanyaannya.
"Kamu ngapain?" tanya Sinta mulai terlihat jiwa keponya.
"Bunda kepo ih!" Eleena menyembunyikan kertas itu di belakang tubuhnya.
"El, Bunda mau lihat. Itu apa." Sinta berusaha mengambil kertas itu dari Eleena tapi Eleena segera memasukkan kertas itu ke kantung celananya.
"Privasi, Bun," ucap Eleena.
"Anak Bunda udah gede ternyata, udah pintar pakai privasi." Sinta mencubit pipi Eleena gemas, membuat sang empu meringis kesakitan.
"Sakit, Bunda." Eleena mengelus pipinya. Sinta tertawa sebagai jawaban. "El, kamu lucu banget, Sayang," tutur Sinta, mengelus surai rambut anaknya.
__ADS_1
"Bunda ngapain ke sini?" Eleena kembali pada topik pertama yang seharusnya sejak Sinta duduk di sini sudah mereka bicarakan.
"Ya, nggak papa. Emang nggak boleh ya kalau Bunda main sama anak sendiri?"
Eleena menggeleng, "Nggak gitu, Bun. Maksud El itu, apa ada yang mau Bunda omongin sama El."
"Emang harus ada yang mau diomongin dulu ya, baru bisa main sama anaknya?" Sinta terus membalas perkataan Eleena dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan menjebak.
"Ihhhh, Bunda nyebelin!" Eleena memanyunkan bibirnya, sebagai tanda bahwa dia kesal akan setiap jawaban yang dilontarkan Sinta padanya.
Sinta tertawa, "Bunda ke sini mau main-main sama kamu, nggak ada hal yang penting. Kamu tenang aja," ucap Sinta pada akhirnya, mampu mengembalikan atensi Eleena padanya.
"Bunda nggak lagi berantem sama Ayah, kan?" Eleena memberanikan diri bertanya pada Sinta. Apalagi hari ini Arjuna baru saja pulang ke rumah mereka tadi pagi. Eleena harap hubungan Sinta dan Arjuna membaik juga setelah mereka memberi jarak antara hubungan yang ada.
"Nggak kok Sayang, Bunda sama Ayah udah baikan." Sinta menjawabnya dengan penuh kelembutan dan keyakinan, menepis jauh-jauh pikiran Eleena tentang hubungan buruk yang masih terjadi antara Sinta dan Arjuna.
"Bunda, menurut Bunda cinta itu apa?"
"Kenapa tiba-tiba nanya itu? Kamu suka sama Wisnu?"
"Ihhh, enggak Bunda. Selalu aja Wisnu, kayak El nggak punya teman lain aja," balas Eleena kesal.
"Terus kamu suka sama Arfin?" tanya Sinta lagi sekaligus menggoda anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Nggak harus suka dulu, kan baru bisa nanya soal cinta, Bun?" Eleena membetulkan posisi duduknya, menatap Sinta serius.
"Kamu kenapa tiba-tiba nanya, El?"
"Habis baca novel, Bun. Kalau menurut Bunda, cinta itu apa? Kan, Bunda udah berpengalaman," jawab Eleena.
Pandangan Sinta berubah sendu. Berpengalaman akan cinta katanya, padahal Sinta saja tidak tahu kapan dia beruntung akan hal yang namanya cinta. Mungkin untuk umur Sinta yang sudah memasuki tahap ini, orang-orang akan mencap dirinya sebagai ahli cinta, padahal sebenarnya perempuan itu adalah ahli dalam memiliki cinta yang tak pernah ada.
"Cinta. Setiap orang akan punya perspektif masing-masing soal cinta. Tapi kalau bagi, Bunda cinta itu...." Sinta mulai bercerita, membawa pikirannya terbang ke puluhan tahun lalu.
"Cinta itu ketika kamu bersama seseorang dan kamu nyaman bersamanya. Cinta itu ketika kamu merasa aman, ada didekat dia dan akan merasa hampa atau ada yang kurang jika dia tidak ada." Kalimat itu membawa Sinta mengingat bagaimana dulu dia dan Rama selalu menghabiskan waktu bersama walau harus sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan keluarga mereka.
"Nak, cinta itu kamu dapat bukan sendirian tapi berdua. Nggak ada namanya lebih baik dicintai atau mencintai, karena lebih enak itu saling mencintai. Saling menghargai dan saling memperjuangkan satu sama lain. Kalau kamu cinta sama orang, kamu harus bisa perjuangin dan pertahankan dia agar terus jadi milik kamu, meskipun satu dunia menentang. Namun dalam ranah usaha kamu mempertahankannya tidak menyakiti dia apalagi orang lain."
"Cinta itu kalau dijelaskan panjang, El. Tapi satu hal yang pasti, kamu belum dikatakan mencintai kalau kamu belum bisa mengikhlaskan. Cinta itu nama lainnya mengikhlaskan, Nak. Ikhlas hidup bersamanya apa adanya, ikhlas menghadapi seluruh tantangan yang akan datang ke depannya, serta ikhlas jika memang cinta yang kamu perjuangkan berakhir sia-sia."
Dada Sinta mulai terasa sesak. Kalimat yang baru dia lontarkan, membawa wanita itu mengingat bagaimana pertemuannya dengan Rama di halte beberapa minggu lalu. Bagaimana Rama menumpahkan air mata dan membuat Sinta pulang dengan berderai air mata. Bagian Rama menjelaskan bahwa dia pernah memperjuangkan wanita itu tapi ditolak mentah-mentah oleh keluarganya.
"Nama lain cinta itu mengikhlaskan. Kamu harus ikhlas, jika memang cinta yang kamu punya tidak berakhir bahagia. Kamu juga harus ikhlas jika kamu bukan bersama orang yang kamu cinta. Karena, selain menghabiskan waktu bersama, cinta juga berarti bahagia. Kamu dan dia harus bahagia walau tak terikat dalam hubungan yang spesial, seperti pernikahan."
Sinta menggigit bagian bawah bibirnya kuat. Berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Pernikahannya kandas dan berakhir menyedihkan. Itu semua karena permusuhan antara keluarga Aksanta dengan keluarga Agustama. Sinta bisa pastikan kalau kedua keluarga ini tidak bermusuhan, hubungan dia dan Rama tidak akan seperti ini sekarang.
"Cinta itu berarti aku sama kamu ya, Ram," batin Sinta, menatap bulan berbentuk bulat sempurna dengan cahaya terang yang terpancar.
__ADS_1
Rama menoleh ke belakang. Pria yang berada di sofa kamar miliknya, menoleh ke arah belakang sofa. Dia merasa seperti ada seseorang yang menyebut namanya tapi di kamar hanya dia seorang diri saja. Rama kembali menoleh ke depan dan iris hazelnya jatuh pada sebuah bingkai foto berisi wajah Sinta.
"Kamu yang manggil aku, Sin?" batin Rama, menatap dalam foto wanita yang dulu sempat menjadi wanitanya tapi kini menjadi wanita orang lain.