
Wisnu meletakkan handuk putih di atas kasur setelah handuk itu ia gunakan untuk mengeringkan rambut. Laki-laki itu mengambil pakaian dari dalam koper. Wisnu tidak membawa apapun untuk tinggal di hotel, maka dari itu dia meminjam beberapa pakaian Gilang dan juga koper milik temannya itu setelah mendapatkan baru dia membeli pakaian lagi agar bisa digunakan lebih lama.
Ini sudah hari ke-6 sejak Wisnu membatalkan perjodohan dan kabur dari restoran sampai tidak pulang ke rumah sekarang.
Wisnu menatap dirinya di cermin, tubuh gagah, wajah putih, mata indah, bibir kemerahan dan rahang tegas, tidak heran kalau banyak gadis tergila-gila padanya dan ingin menjadi kekasih Wisnu, tapi setiap kali Wisnu melihat wajahnya di cermin pasti dia akan teringat pada Rama, wajahnya dan Rama sangat mirip, Wisnu itu bagaikan Rama versi muda.
Lelaki yang mengenakan kemeja coklat berlengan pendek dan celana jeans panjang kini menyisir rambutnya dan menata rambutnya agar menutupi dahi.
Wisnu memakai jam tangan di lengan kiri. Tangan Wisnu kembali bergerak merapikan pakaian dan barang-barangnya dari kamar hotel ini. Seperti yang Gilang katakan, Wisnu harus segera pindah. Wisnu tahu betul bagaimana papanya itu, jika dia sudah bertindak sudah dapat dipastikan dia akan menemukan Wisnu dalam waktu singkat.
Maka dari itu Wisnu di sini sekarang untuk melakukan check out dari hotel. Melakukan transaksi dan yang lain sebagainya. Setelah semua selesai, Wisnu mendorong koper berisi barang-barang dan pakaian keluar dari lobi hotel.
Koper itu ia masukkan ke bagasi mobil. Lelaki itu masuk mobil duduk di bangku kemudi. Iris Wisnu melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, masih banyak waktu sebelum kelasnya di mulai.
"Gue ke rumah Gilang aja kali ya, sekalian minta rekomendasi hotel." Wisnu menghidupkan mesin mobil dan pergi dari wilayah hotel.
Wisnu begitu fokus mengendarai mobil, sampai-sampai tidak sadar kalau ada mobil hitam yang mengikuti ia dari belakang sejak mobil Wisnu meninggalkan wilayah hotel.
"Gue nggak ngerti sama pemikiran Rama," ucap Wisnu bersamaan dengan berhentinya mobil karena lampu merah.
Seperti biasa dia menunggu sampai warna lampu itu berubah menjadi hijau. Namun atensi Wisnu teralihkan saat ia melihat mobil berwarna hitam berhenti tepat di belakang mobilnya. Dia memperhatikan mobil itu dengan seksama dari kaca spion yang berada di atas bangku kemudi.
Mata lelaki itu memicing saat ia melihat logo AK berada di bagian depan mobil. Itu sebuah sticker, sticker yang membuat Wisnu ketakutan. Mobil itu, itu mobil milik keluarga Aksanta, logo AK itu berarti Aksanta. Setiap kendaraan yang berhubungan dengan keluarga Aksanta terkhusus mobil akan memakai logo AK di bagian depannya. Sama seperti mobil Wisnu, dia juga memiliki sticker AK.
Kalau sticker AK berada di mobil hitam di belakangnya sudah dipastikan itu adalah mobil orang suruhan Rama. Sial. Dalam waktu sangat cepat mereka dapat menemukan Wisnu.
Kepanikan menyerang Wisnu sekarang, setelah lampu berubah hijau, Wisnu membawa mobilnya menuju ke arah kiri. Padahal arah ke Universitas Binawa dan rumah Gilang itu lurus tapi kalau Wisnu pergi ke sana sudah dipastikan mereka akan memukuli Wisnu di sana. Maka dari itu Wisnu membawa mobilnya pergi ke jalanan yang tidak ia kenali.
Wisnu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan dan berbelok ke sembarang arah. Dia tidak peduli dia berada di daerah mana yang terpenting dia bisa terlepas dari kejaran mobil hitam tersebut.
Mobil Wisnu tiba di sebuah jalan sepi, entah di mana tempat ini. Wisnu masih terus melajukan mobilnya, namun sayang seribu sayang mobil hitam itu berhasil menyalip mobil Wisnu dan berhenti tepat di depan mobil Wisnu.
__ADS_1
Wisnu mengerem mendadak, nyaris saja mobil Wisnu menabrak mobil hitam di depannya ini. Raut ketakutan terlihat jelas di wajah Wisnu. Apalagi saat beberapa pria bertubuh kekar memakai seragam berwarna hitam dan wajah datar nan menakutkan sudah keluar dari mobil hitam itu.
Wisnu yang panik membawa mobil itu mundur ingin pergi dari sana. Namun lemparan sebuah tongkat mengenai kaca kiri mobil Wisnu. Wisnu spontan menghentikan mobilnya, serpihan kaca itu nyaris saja terkena wajah Wisnu jika dia tidak menutupi wajahnya dengan ransel.
"Kalian mau ngapain?" Wisnu panik, namun dia tidak bisa apa-apa, salah satu pria bertubuh kekar itu memaksa Wisnu turun dan membuka pintu mobil.
Dia membuka paksa sabuk pengaman dan menarik Wisnu kasar untuk keluar dari mobil.
Lengan Wisnu dicengkeram erat oleh pria bertubuh kekar itu. Dan salah satu di antara mereka menelpon seseorang, yang sudah Wisnu tebak itu adalah Rama.
"Pak, Tuan Wisnu sudah ditemukan," lapornya pada orang yang sedang ia hubungi.
"Paksa dia pulang, kalau dia menolak lakukan kekerasan, kalau dia masih menolak lakukan ancaman."
Begitu kata-kata Rama terucap jelas, telepon itu terputus. Pria berseragam hitam itu memasukkan kembali ponselnya ke saku. Dia menatap satu persatu orang di sana, seakan mengisyaratkan untuk melakukan sesuatu pada Wisnu.
Orang suruhan Rama ada 4 orang dan Wisnu sendirian, sangat mustahil untuk bisa mengalahkan keempat orang ini, apalagi tubuh mereka yang berotot dan kekar.
"Tuan, ayo pulang ke rumah." Mereka melakukan opsi pertama seperti yang Rama katakan.
"Ayo pulang Tuan, Pak Rama meminta kami untuk membawa Tuan pulang ke rumah," ajak mereka lagi.
"Saya nggak mau!" lantang Wisnu.
Pria bertubuh kekar yang mencengkram lengan Wisnu menarik Wisnu kasar membawa lelaki itu untuk masuk ke dalam mobil hitam mereka.
"Lepasin gue. Gue nggak mau pulang!" Wisnu terus memberontak sampai-sampai satu pria lagi memegangi lengannya.
Wisnu sudah semakin dekat dengan mobil hitam itu, mereka berdua terlalu kuat untuk Wisnu lawan. Namun Wisnu tetap menahan diri untuk tidak masuk ke mobil hitam itu. Malahan dia menendang bagian bawah salah satu pria berseragam hitam agar yang lainnya lengah. Dan kesempatan ini Wisnu manfaatkan untuk kabur dari mereka.
Wisnu lari sekuat yang ia bisa untuk jauh dari pria-pria ini. Namun dua motor yang tiba-tiba berada di depannya menghentikan larinya.
__ADS_1
Dua pria yang berseragam hitam sama seperti pria yang ada di belakangnya, turun dari motor. Mereka berjalan membuat Wisnu memundurkan langkah.
Tubuh Wisnu menabrak dada besar salah satu pria suruhan Rama. Sial. Wisnu sudah terkepung sekarang, Wisnu nyaris tidak menemukan cara melarikan diri lagi.
"Tuan, kami tidak sebodoh yang Anda kira, sebelum Anda melarikan diri kamu terlebih dahulu tiba di sini," ucap pria yang tadi mengendarai motor.
"Saya tidak akan pulang ke rumah. Pergi dari sini sekarang." Raut wajah Wisnu terlihat santai namun nada bicaranya tegas dan jangan lupakan detakan jantung Wisnu yang begitu kuat.
Para pria itu saling menatap satu sama lain. Mereka sedang merencanakan hal yang gila, dan itu pasti atas suruhan dari Rama.
"Tuan, saya ajak sekali lagi, ayo kembali ke rumah. Tuan Rama sudah marah besar," tutur salah satu dari mereka dengan nada penuh kesopanan.
"Saya bilang saya nggak akan pulang!" tegas Wisnu sekali lagi.
"Kalau Tuan tidak menurut, kami terpaksa melakukan kekerasan pada Anda," sambung pria lain.
"Terserah, saya nggak peduli. Saya nggak akan pulang, saya nggak mau ketemu Rama lagi!" Ketakutan Wisnu kini sudah menghilang, yang ada sekarang tatapan tajam dan emosi Wisnu yang sudah terlihat. Persetan Rama akan lebih marah atau tidak, Wisnu tidak akan pulang ke rumah mereka.
Bugh
Satu bogeman itu dilayangkan tepat di pipi kanan Wisnu. Wisnu mulai berjalan mundur dan para pria itu semakin melangkah maju mendekati Wisnu.
Salah satu dari mereka menarik kemeja Wisnu, memberikan Wisnu pukulan di area perut. Wisnu sempat meringis kesakitan sebelum akhirnya dia membalas pukulan yang mereka berikan pada Wisnu.
Wisnu bukan lelaki lemah yang rela dirinya dipukuli apalagi oleh orang yang jelas-jelas di bawah dirinya. Wisnu melawan mereka semua walaupun itu sama saja membuat dirinya semakin terluka. Setiap pukulan Wisnu selalu meleset dan berakhir mereka yang memukulinya. Kalaupun pukulan Wisnu tepat sasaran mereka akan membalas lebih dari pukulannya.
Keadaan Wisnu sudah kacau, lebam di bagian wajah, nyeri di perut dan luka-luka di bawah bibir dan di pipi kanan. Wisnu sudah lemas, tapi dia tidak bisa menyerah, dia kembali menyerang mereka. Tapi hasilnya sama seperti yang tadi, dia tetap kalah. Lelaki malang ini dipukuli oleh orang suruhan ayahnya sendiri hanya karena dia memberontak.
Salah satu dari pria itu mendorong tubuh Wisnu kuat. Lelaki itu jatuh tersungkur di jalanan yang sama sekali tidak ada dilewati oleh manusia. Dahi Wisnu terkena ujung aspal dan menciptakan luka yang akhirnya mengeluarkan cairan merah kental.
Salah satu pria itu menarik Wisnu kasar agar lelaki yang sudah lemah ini berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
"Ayo Tuan kita pulang." Meskipun Wisnu sudah menggeleng tapi mereka tetap membawa lelaki itu mendekati mobil dengan paksa.
Wisnu rasanya sudah tidak memiliki tenaga, hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasibnya sekarang. Dia sudah babak belur di tangan orang suruhan Rama, ketika dia sampai di rumah nanti mungkin Rama akan melakukan hal yang lebih parah daripada ini. Wisnu pasrah sekarang, mungkin dia akan tamat. Kisahnya, mimpinya dan hidup Wisnu akan selesai dan itu di tangan ayahnya sendiri.