
"maksud pak Defano apa?"
"diamlah Difia, sebentar saja."
"enak di bapak gak enak disaya dong, sana ah minggir." Padahal saat itu hati Difia tak karuan dengan perlakuan Defano, dia takut dengan hati dan perasaanya, takut jatuh cinta pada Defano.
Difia tak ingin jatuh cinta dulu, dia ingin meraih cita-cita dan membahagiakan ibunya , maka dari itu, Difia tak ingin berhubungan dengan mahluk yang namanya laki-laki sebelum semua cita-citanya tercapai.
Tak sedikit yang patah hati, tapi itu lebih baik bagi Difia, daripada dia harus repot dengan urusan hati, mending fokus dengan tujuannya.
"kamu bisa nurut gak sih?"
"bapak itu kenapa sih, udah ah saya mau pulang, malah duduk gak jelas gini."
Difia segera beranjak dari duduknya, hendak pergi dari tempat itu, tapi saat berdiri tanganya dipegang oleh Defano. Difia gak mau, dia gak mau terjebak dalam perasaan.
Defano berdiri dan memeluk Difia dari belakang dengan erat.
"Difia saya mohon."
"lepas pak, enak banget bapak pegang-pegang saya." Difia sedikit mengeraskan suaranya
Defano terdiam, menggelengkan kepalanya, seakan berusaha menyadarkan dirinya dari hal-hal yang tidak dibolehkan.
Difia memang beda, dia tak ingin disentuh oleh sembarang orang, benar-benar menjaga dirinya, kalo itu orang lain, dipeluk Defano mungkin kegirangan, tapi Difia malah terus berusaha menyadarkan dirinya dari pelukan Defano.
Defano menyerah, dia tak sanggup kalo Difia menjauh darinya, perasaan yang begitu berat dan sangat menginginkan Difia membuat Defano lemah.
Defano berlutut dihadapan Difia sambil memegang tangannya supaya Difia tidak menjauh.
"Difia maukah kamu jadi bagian hidupku, menemaniku, selalu ada untukku?"Defano memohon pada Difia.
Difia merasa tersanjung, tapi dia takut, dan sangat takut untuk sakit hati, belum siap dengan semuanya, apalagi fans Defano sangat banyak.
"Maaf pak, ini sepertinya terlalu terburu-buru, kita fikirkan dulu baik-baik semuanya."
Defano seakan tak bisa bernafas, dia sangat membutuhkan Difia, takan mampu menghadapi hari esok, apalagi Difia juga banyak yang suka.
" Difia saya ingin kita bersama, atau mungkin kita bisa menikah sekarang."
"haaaaaah..."
Difia menarik nafasnya berat
"pak sadar."
"saya sadar se sadar-sadar nya."
"tapi pak tak semudah itu pak kita jalani
__ADS_1
mohon pengertiannya pak, mari kita pulang."
"kamu jawab dulu?"
"untuk saat ini saya tidak memikirkan itu pak, kita pulang pak, sebentar lagi saya kerja."
"jadi kamu tidak menerima saya?"
"untuk saat ini kita jalanin seperti biasa pak."
"sampai kapan?"
"saya gak tau pak."
"saya harap kamu tak menerima siapapun selain saya."
"saya tidak tau pak untuk nanti."
"tapi kamu harus jadi milik saya."
"berdo'a saja kalo itu yang terbaik pasti Allah jodohkan"
"kamu harus janji."
"tak ada janji pak, kita pulang sekarang, atau saya tak ingin bertemu bapak lagi."Difia berusaha tegas, dia tak mau asal dalam memilih masa depan. Banyak yang menjadi pertimbangannya sebelum benar-benar bertemu jodohnya.
"akhirnya bisa pulang juga, tegang banget tadi." kata Difia dalam hatinya.
"tuhan apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkanya." bisik Defano dalam hatinya juga
Mereka terus berbicara dalam hati masing-masing, hingga tak terasa mobil sudah menuju kosan Difia.
"Alhamdulillah sampai juga." masih dalam hatinya
"cepet banget waktu." dalam hati Defano.
"makasih ya pak udah anterin saya pulang." kata Difia.
Defano hanya menganggukan kepalanya.
Difia pun turun dari mobil.
"maaf pak saya gak bisa ajak bapak mampir."
"iya gak apa-apa." Jawab Defano.
setelah itu merekapun berpisah, Defano segera menjalankan mobilnya, Difia pun merebahkan dirinya di kasur tipis paforit nya itu (he..karena hanya itu yang dia punya)
"huh...pak Defano keterlaluan banget tadi, bikin jantungan aja, apa kata ibu di kampung kalo baru aja sampe di kota malah bawa kabar mau nikah, iih kasian pasti ibu diobrolin tetangga, tapi pak Defano emang ganteng sih, mana mungkin hati nyai gak deg-deg ser..udah ah biarin aja, sejauh mana dia berusaha, kalo jodoh gak kemana.
__ADS_1
" Difia perang hatinya, antara suka dan takut jadi satu.
"udah ah biarin aja, dikirain aku bakal luluh digituin, tapi luluh juga sih kalo terus-terusan he..." dalam hatinya Difia.
Difia senyum-senyum sendiri tapi lama-lama kesel juga.
"aaaaah kesel ah, mending mandi ajalah, trus kerja, gak bener kalo terus gini mah."
Difia pun berangkat kerja, datang ke tempat biasa langsung mempersiapkan semuanya bersama ibu warung. Sore pun tiba, Difia semakin sibuk, karena pada jam-jam ini banyak muda mudi yang nongkrong sekalian makan di tempatnya.
Karena Difia ramah dan cantik, kebanyakan pelangganya adalah cowok-cowok kampus yang sengaja tebar pesona, tapi tidak bagi Difia, mau digoda seperti apapun dia cuek saja.
Defano sedang ada di rumah, dia sedang mengerjakan berkas dan memeriksa tugas dari mahasiswanya.
Karena mengajar tidak hanya di satu kampus, Defano lumayan kewalahan saat menghadapi banyaknya pekerjaan, kadang lupa makan, sedangkan nenek biasanya hanya menonton tv kesukaanya, kadang Defano menemaninya sambil membawa pekerjaan ke ruang tv menemani nenek Mirna seperti saat ini.
Saat sedang anteng dengan kegiatan masing-masing alarm berbunyi dengan keras, Defano segera melihat hp nya, ternyata waktu sudah sore waktunya makan untuknya dan nenek.
" nek makan dulu yu?" Defano akhirnya membiarkan pekerjaanya dulu, dia harus memprioritaskan neneknya, karena nenek tak akan minta makan, harus selalu diingatkan.
"nek kita pesan aja ya dari luar makannya, nenek mau yang mana?" Defano memperlihatkan pilihan makanan yang mau dibeli ke nenek, nenek pun menunjuknya, Defano pun segera membelinya.
Tak lama makanan yang ditunggu pun datang, Defano menyiapkan makanannya dan nenek di meja.
saat makan bersama tiba-tiba nek Mirna mengeluarkan air matanya, awalnya Defano tak ngeh, tapi saat Defano mau minum dia melihat nenek.
"nenek kenapa? maafin Defano kalo salah, Defano sedang sibuk banget nek, nenek kesepian ya?"
"iya."
"nenek mau jalan-jalan?"tawar Defano
"iya." kata nenek sambil menganggukan kepalanya
"Emang nenek mau kemana, ini kan udah sore, pasti macet dan Defano tak bisa menemani nenek lama kalo jalan-jalan."
nenek diam dan menunduk, Defano gak tega melihat nenek seperti itu, akhirnya mengalah.
"yaudah hayu Defano temani, mau kemana?"
"Difia."kata nenek.
"heeeh ...yasudah kita kesana, nenek senang?"
nenek pun tersenyum dan keliatan rona bahagia di wajahnya.
"sekalian nenek kangen aku juga he..., smoga Difia gak keberatan didatanginya dan nenek" bisik Defano dalam hatinya. Mereka ber dua pun berangkat ke tempat Difia, Defano segera memarkirkan mobilnya, parkiran mobil agak jauh dari tempat pecel lele, karena tempat itu dikhususkan untuk pkl dan tempat nongkrong muda mudi.
Dari kejauhan Defano melihat suasana di warung pecel lele cukup ramai, Banyak yang keluar masuk untuk makan, atau membungkus pesanannya saja. Difia kelihatan tersenyum ramah pada pembeli, banyak pemuda yang menggodanya, Defano berdecak dalam hatinya, dongkol rasanya melihat Difia banyak yang suka.
__ADS_1