
Defa masuk kelas seperti biasanya, tapi nampak sekali dirinya kurang bersemangat padahal Defa termasuk anak yang tak mudah untuk goyah, dia selalu bisa menunjukan pesonanya dengansantai atau acuh pada sekelilingnya, tapi kali ini dia seperti terlihat mencari seseorang, hanya saja tak terlalu terlihat oleh orang yang ta kmengenalinya, beda dengan Fira yang sudah mengenal Defa dia melihat Defa lebih pendiam dan banyak fikiran.
“Defa kenapa lo, papa lo sakit lagi ya?” Tanya Fira pada Defa yang hanya duduk sambil baca buku di meja, tapi
sepertinya dia tak fokus dengan buku itu, karena dari tadi tak dibuka-buka.
“engga ko, Alhamdulillah papa sehat” jawab Defa tanpa melihat Fira yang sedang memperhatikanya.
“tapi dari tadi lo kayak ngelamun terus” Tanya Fira lagi, karena memang jarang bagi Defa membuang-buang waktu
untuk hal-hal seperti itu.
“Ah masa?”
“hooh”jawab Fira dengan singkat mendengar itu Defa jadi malu sendiri, tapi gimana lagi udah kebiasaan bersama
Marsel, sekarang Marsel tak ada kabar apapun, padahal dulu dia baik-baik saja mau ada atau tidak adaknya orang yang bersamanya. Defa menghembuskan nafasnya berat.
Perlajaran pagi itu dimulai, Defa tak bisa konsentrasi penuh tapi dia berusaha terus dan berusaha berfikir positif.
Dikelas lain Marsel juga melakukan hal yang sama, dia uring-uringan tak jelas tapi kadang diam lagi, orang-orang yang sudah tau sifat Marsel tak mau banyak berkomentar, mereka memilih diam daripada membuat masalah dengannya.
Fino yang dari pagi bersamanya juga merasa heran, tapi dia membiarkanya dulu sampai nanti Marsel sendiri yang akan bertanya padanya.
“Defa lagi apa ya, dia gak kangen gue apa, kenap gak nanyian gue atau sekedar nelp atau chat gue, apa gue gak
berarti buat dia ya?” gerutu hari Marsel, dia ingn sekali Defa menghubunginya, dia ingin tau apakah Defa juga merasakan hal yang sama dengannya.
Marsel tak tan ingin bertemu Defa, saat pergantian pelajaran dia keluar kelas, dia ingin melihat Defa, karena tak tahan untuk melihatnya, terakhir kemarin pas istirahat sampai hari ini dia belum ketemu lagi dengannya.
Marsel melangkahkan kakinya ke belakang sekolah dan jalan memutar supaya tidak melewati kaca-kaca yang bisa
memperlihtkan sosok dia, karena kalau saja ada yang melihatnya, itu pasti akan membuatnya heboh, terutama siswi-siswi yang mengidolakan dia.
Marsel melihat sekeliling, dia harus memastikan keadaan aman untuknya, dia pun terus melajukan langkahnya, tak
lama kemudian sampailah dia dekat kelas Defa, sulit untuk melihat Defa dari luar, tapi dia berusaha untuk mencari celah supaya bisa melihat bagaimanapun caranya.
Defa di kelas juga merasa ada yang memperhatikannya, dia celingak- celinguk untuk memastikan tapi tak siapapun yang dia curigai, kemudian dia fokus lagi pada pelajaran yang sedang dia ikuti.
Jam istirahat masih satu pelajaran lagi, Defa ingin ketoilet sebentar dia pun ijin keluar sendirian, awalnya Fira ingin menemaninya, tapi dia tolak karena tak kan lama. Kebetulan sekali saat Marsel disana dia melihat Defa keluar kelas, dia penasaran ingin tau
"Defa mau kemana" Marsel pun memakai topi untuk melihat dia dari dekat, dia sangat ingin bertemu dengan Defa, kerinduanya tak terbendung lagi.
__ADS_1
Saat mengikuti Defa ternyata dia mau ke toilet, Marsel emlihat suasana disana sepi, dia pun menyelinap kesana dan menunggu Defa keluar. Lucu juga dalam hatinya sampe harus melakukan itu, padahal tinggal hubungi Defa lewat hape saja mudah baginya, tapi rasa penasaran ingin bertemu langsung membuatnya tak bisa memikirkan hal yang logis sekalipun.
Defa pun keluar, Marsel diam saja, saat Defa melewatinya, Marselpun langsung menyambar tangannya Defa, Defa
hampir menjerit tapi Marsel langsung mendekap mulutnya.
“pacar ini aku” sahut Marsel, Defa langsung menolehnya, dan benar saja itu Marsel,
“ngapain?” Tanya Defa heran, sampe Marsel tiba-tiba ada disana.
“pacar kamu kemana aja, gak hubungin aku gak nanya aku dan gak chat aku, kerjaanku gak ada yang beres terus
mikirin kamu”
“hem..kirain sengaja lagi sibuk”jawab Defa acuh.
“ya sibuk terus tapi kan kalo kamu yang ngechat pasti aku jawab
“terus?”
“ya,,,aku kangen sama kamu”
“kan nanti juga bisa ketemu seperti biasa”
“nanti aja pas istirahat”
“tapi kan gimana?”
“ya biasa aja”
“yaudah deh” Marsel cemberut tak mendapatkan jawabannya.
“balik lagi yak ke kelas, gak enak lama-lama” mau gak mau Marselpun mengijinkan Defa kembali, tapi dia
berjanji istirahat akan menemui Defa lagi, setidaknya hatinyaa sudah tenang bisa melihat Defa walaupun sebentar.
Marsel kembali ke kelas dengan wajah yang cerah , dia juga mengikuti pelajaran yang belum selesai.
Beberapa menit kemudian bel istirahatpun tiba, Defa segera menghambur keluar ketika dilihatnya Defan, dia
sudah berada di depan kelas , ternyata benar Marsel sudah menunggnya diluar kelas sambil tersenyum ke arah Defa.
“ke taman yuk?
__ADS_1
“boleh “
“hayu aja” jawab Defa sambil melangkahkan kakinya untuk keluar kelas dan beriringan dengan Marsel. Tak lama
merekapun sampai di atamantempat mereka selalu bertemu, dan anehnya taka da yang berani duduk disana, tiap kali Marsel kesana pasti kosong sehingga dengansantainya mereka langsung duduk disana.
“Defa”
“ya”
“gimana kabarnya”Marsel tampak kaku dibuatnya, entah mengapa dia merasa bingung dengan kata-katanya sediri.
“Alhamdulillah baik, kamu gimana?” Defa balik bertanya, Defa memang seperti itu kadang dia halus kadang dia santai kalo ngobrol dengan Marsel.
“Alhamdulillah juga” Marsel dan Defa tampak kaku seakan mereka tak bertemu lama, padahal baru kemarin mereka
tak bertemu dan saling sapa.
“maafin aku ya, agak lebay”
“gak apa-apa ko santai aja”
“aku udah fikirin baik-baik rencana kuliah nanti” deg hati Defa bimbang, ada hal yang tiba-tiba membuatnya
pedih saat mendengar kata kuliah dari Marsel.
“heum..mau kuliah dimana jadinya?
Jawab Defa dengan suara yang agak parau, dia tak kuat untuk mendengar keputusan Marsel, padahal kemarin dia so acuh pada obrolan Marsel, tapi sekarang seakan ada sesuatu yang hilang darinya. Baru kemarin tak bertemu Marsel aja dirinya sudah banyak fikiran dan kurang konsentrasi, sekarang Marsel malah membiacarakanya lagi.
“pacar mmungkin nanti kita bakal jarang bertemu, aku udah ambil keputusan, ini demi masa depan kita juga, aku
akan kuliah dia Ingggris” duar rasanya tiba-tiba hati Defa meledak mendengar keputusan Marsel tersebut, Defa sedikit termenung, dia tak pernah membayangkan akan sejauh itu.
“jangan khawatir kita pasti akan ketemu lagi, komunikasi juga kita harus lancar”
“lumayan jauh ya?”
“nanti kalo kamu udah lulus sekolah kamu juga bisa ikut ko” Marsel melihat sekilas kesedihan Defa, tapi itu
adalah yang terbaik menurutnya, mereka masih muda harus mencapai cita-cita yang tinggi mumpung masih banyak kesempatan.
“semoga kamu lacar disana” sahut Defa tanpa melihat kearah Marsel. Marsel melihatnya tanpa sepatah katapun, dia akan sangat merindukan Defa disana.
__ADS_1