Cinta Difia

Cinta Difia
Makan di restoran


__ADS_3

"Marsel mau kemana kita?" Kata Defa yang tangannya di tarik oleh Marsel, dia tak menyangka Marsel akan datang tiba-tiba.


Marsel diam saja, dia hanya memegang tangan Defa dengan erat.


Defa merasa tak enak hati diperlakukan seperti itu, dia menarik tangannya kembali, tapi Marsel tak ingin melepasnya.


"plis sebentar aja biarkan begini" kata Marsel memohon ke Defa.


"kenapa?" Defa penasaran dengan ucapan Marsel seperti itu.


"karena lo pacar gue dan hanya elo, jadi jangan pernah tinggalin gue" terang Marsel.


"hah..jadi beneran dia anggap gue pacar.." gumam Defa dalam hatinya.


Defa hanya mengikuti saja, dia ingin melihat sejauh mana Marsel akan membawanya.


Marsel membawa Defa naik mobil, mereka pun jalan bersama, Defa mengikuti keinginan Marsel, entah mengapa dia tak berontak sama sekali.


Marsel masih setia dengan diamnya, membuat Defa bertanya-tanya.


Mobil berhenti di suatu tempat, sebuah resto mewah, dengan suasanya yang nyaman.


Defa langsung merasa betah disana tidak banyak orang, apalagi Marsel hanya memesan ruang privat.


Marsel melihat Defa, dia hanya tak ingin melewatkan moment tersebut, banyak hal yang harus dia lewati apalagi posisi nya sekarang manjadi seseorang nomor satu di perusahaan milik keluarganya di Indonesia.


Akan sangat berkurang waktu untuk bertemu, apalagi Defa juga bukan tipe orang yang diam.


"kenapa?" Defa memulai pambicaraan. Dia melihat Marsel yang terlihat lelah, terus memandangnya seperti takut dia pergi.


"gak ko gak apa-apa" jawab Marsel, dia menarik nafas panjang.


"lo baik-baik aja kan?" Defa mengkhawatirkan keadaan Marsel.


"keliatanya?"kata Marsel sambil tersenyum.


"kayaknya lo perlu cepat makan deh, pesan makanan ya, jangan diam terus, biar sehat" Defa memanggil waiters dan mulai mencari menu yang menurutnya enak.


Marsel pun sama melihat deretan menu yang ada, tapi badanya terlalu lelah, hingga dia menyimpanya kembali.

__ADS_1


"kenapa di simpan, gak pesan aja apa-apa?" Defa melihat Marsel tak memilih menu apapun dari buku tersebut.


"lo yang pilihin ya, yang bisa untuk ngembaliin tenaga dan harus menu yang enak" jawab Marsel.


"ko gue, ntar gimana kalo gak cocok" Defa menolak keinginan Marsel.


"gue yakin lo pasti bisa milihin yang terbaik buat gue" jawab Marsel lagi.


Melihat Marsel seperti itu Defa pun memilihkan beberapa menu yang ada, dia juga melihat harga-harga yang tertera di menu tersebut, karena uang jajannya tak sebanyak siswa yang lain, jadi dia memutuskan menu yang menurutnya enak dan tak menguras dompetnya.


Orang tua nya tak mengajarkan Defa untuk hidup berlebihan, Defa juga tak terlalu suka jajan karena makanan dia sering bawa dari rumah, jadi saat-saat urgent dia masih bisa gunakan untuk yang lain.


Defa pun memilih olahan dari daging sapi, tak lupa nasi dia tambahkan, jus segar, dia juga memesan yogurt untuk Marsel.


Beberapa menu yang lain juga Defa pesan, dia berusaha menyeimbangkan kebutuhan gizi untuk badanya, untuk Marsel dia memilih yang dengan kalori yang lebih, supaya badanya tak lemas lagi menurutnya.


Makanan pun datang, Marsel menerima menu pilihan Defa, dia tersenyum, ternyata Defa sangat mengerti tentang makanan, bukan hanya enak tapi cukup membuatnya segar kembali.


Mereka pun makan tanpa bersuara, Defa dan Marsel makan dengan hidmat, tanpa bersuara.


Tak lama acara makan pun selesai, semua makanan habis mereka makan.


" gak ah udah kenyang" jawab Defa.


"yakiiin, gak apa-apa ko kalo mau pesan" goda Marsel, pada Defa.


"udah kenyang Marsel" gemas Defa.


"gimana kemarin urusanya lancar?" Defa balik nanya.


"alhamdulillah beres semuanya, tinggal bersihin anak-anak tikusnya" jawab Marsel, maksud Marsel adalah orang-orang yang telah berkerja sama dengan Mr. Diego dalam mengambil uang perusahaan.


"syukurlah" jawab Defa, walaupun dia tak tau urusanya apa, tapi Defa yakin itu hal yang besar.


"makasih ya lo udah mau makan sama gue, lo pasti masih ada kegiatan lain kan pulang sekolah"


"udah santai aja, ortu gue orang nya pengertian ko" jawab Defa,


"baik banget berarti ortu lo ya?" Marsel penasaran.

__ADS_1


"yaiyalah setiap ortu ka punya cara berbeda dalam menyayangi anaknya, mungkin agak beda tapi intinya sama-sama aja, mereka manyayangi kita menurut versi mereka" jawab Defa.


Marsel tertegun mendengar jawaban Defa, dia jadi teringat dengan ibunya yang mengajaknya tinggal di sana, tapi dengan tegas dia menolak.


"kenapa diam?" Defa heran melihat Marsel malah tak bicara apa-apa lagi.


"gak apa-apa, santai aja" jawab Marsel.


" Fa boleh minta satu permintaan gak sama lo" Marsel mulai menatap Defa dengan tatapn serius.


"apa?" jawab Defa sambil menunduk, dia malu kalo dilihatin seperti itu oleh lawan jenis..


"mungkin kita bakal jarang ketemu tapi gue akan memastikan kita pasti bisa ketemu walaupun tak sesering seperti yang lain, jadi tetep sama gue ya, jangan tinggalin gue"


Defa diam saja tak komentar apapun, dia tak bisa menjamin itu karena dia juga belum tau kedepanya, tapi dia akan berusaha menjaga kepercayaan orang yang menyayangi nya.


"Defa plis, gue mohon ya?" kata Marsel.


"kita jalanin aja hidup kita, jangan terlalu banyak beban, selama lo percaya sama gue, gue akan berusaha menjadi orang baik ko, sekarang yang harus kita lakukan adalah menjalani tugas kita sebagai seorang siswa, seorang anak dan seorang warga negara"


Jawab Defa panjang lébar, dia tak bisa menjanjikan apapun, banyak hal yang akan dilalui dan itu pasti berpengaruh pada hidup kita, manusia hanyalah perencanaan, tuhan yang akan pembimbing kita.


"mendengar itu hati Marsel merasa takut, tapi dia tau Defa dididik dengan baik oleh orang tuanya, dia yakin Defa tidak akan melakukan hal-hal yang menyakiti orang tuanya.


" ada hal lain yang mau dibicarakan gak?" Defa menyadarkan Marsel, karena mereka tak bisa terlalu lama berdua juga disana.


" gak ada, cuma tadi gue pengen ketemu lo aja, jadi pas turun dari pesawat gue langsung kesini, gue langsung ketemu elo"


"pantesan kayak cape banget" kata Defa.


"tapi masih tetap ganteng kan?" goda Marsel pada Defa, pipi Defa pun muncul semburat merah, dia malu juga kalo digodain terus-terusan oleh Marsel.


"udah ah, kasian orang rumah nungguin, gue pulang duluan aja" kata Defa, dia teringat mamanya yang selalu khawatir kalo dirinya pulang telat, karena dia anak satu-satunya.


"ya ya..gak kerasa kalo berdua sama lo, waktu serasa cepat banget, gue kayak gak mau pulang aja, tapi mau gimana lagi, belum waktunya kita barengan" gumam Marsel dengan wajah menerawang kosong.


"yuk..kita pulang" ajak Defa yang diangguki Marsel, mereka pun segera membayar makanan mereka, walau sempat berdebat soal pembayaran makanan, tapi Marsel keukeuh ingin membayar semua pesanan nya, Defa menurut saja, gak akan selesai kalo berdebat dengan Marsel, hanya buang-buang waktu menurutnya.


Mereka pun keluar dari resto, Marsel mengantarkan Defa ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2