
"Baik bu" Difia pun segera menelpon suaminya.
"halo pa..." iya ma ada apa? udah ada kabar dari Defa?" Defano malah terlihat lebih khawatir.
"pa..anak kita kecelakaan" kata Difia sambil terisak.
"apa, dimana sekarang anak kita ma?" Defano kaget tapi dia bisa cepat menguasai keadaan.
" di rumah sakit terdekat pa, mama kirim alamatnya ke papa, mama juga mau kesana" Difia langsung memberikan alamat rumah sakit tempat Defa dirawat, dia juga segera bersiap menuju rumah sakit tersebut.
Defano yang berada dikantor pun segera ijin untuk melihat anaknya, semua staf turut prihatin pada Defano.
Defano langsung menuju lokasi, disana dia menunggu Difia datang.
Tak lama kemudian Difia pun menghampiri suaminya.
"pa anak kita pa hik..hik.." Difia menangis tersedu-sedu, dia menyandarkan kepalanya pada dada Defano. Defano memeluknya dan mengelus kepalanya.
"udah ah...sekarang kita cari kamar anak kita" ajak Defano pada Difia dengan bijak.
"Tapi pa..mama takut" Difia belum siap melihat anaknya kenapa-kenapa. Dia begitu khawatir karena Difia anak satu-satunya.
"kita hadapi apapun keadaanya, mam harus kuat, lagian belum ada info apapun kan?" kata Marsel menghibur.
"hik..hik..iya pa"
Defano dan Difia pun dengan berat hati melangkahkan hatinya. Dia ingin segera melihat Defa anak semata wayang mereka.
Tibalah Defano dan Difia di salah satu ruangan pasien, disana ada seseorang yang sedang menunggunya.
"orang tuanya pasien ya?" kata pemuda tersebut, sambil memberi salam pada keduanya.
"iya saya Defano papanya pasien dan ini mama nya" kata Defano memperkenalkan diri.
"saya Hendra pak" kata pemuda tersebut.
"coba ceritakan kronologis kecelakaan yang menimpa anak saya ini"
Berceritalah Hendra, tanpa menutupi dan mengurangi kejadian yang sebenarnya.
Hendra juga memberikan hp dan tas milik Defa yang tadi dia simpan. Defano pun menerimanya.
"Sekali lagi terimakasih, datanglah kerumah kami nanti"
"insya Allah pak, nanti saya sempatkan, saya mohon ijin dulu" Kata Hendra setelah itu dia melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari sana.
"tunggu nak" Defano menyusul Hendra, dia tak ingin di cap sebagai orang tak tau terimakasih.
"iya pak, kenapa?" Hendra menunggu Defano sampai padanya.
__ADS_1
"ini ada sedikit uang untuk nak Hendra" kata Defano sambil memberikan uang ke tangan Hendra.
"gak usah pak, saya niatnya ikhlas, lagian kan sekarang udah ada ibu dan bapak juga, saya cuma bantu nolonginnya sampai ini aja, bapak ambil aja lagi, bisa bapak kasih buat yang lebih membutuhkan"
Hendra menolak pemberian Defano, diapun pergi dari sana.
Setelah mengejar Hendra Defano pun kembali ke kamar Defa, disana Defa masih belum sadarkan diri. Tak ada luka serius di badannya, hanya lecet-lecet di tangan dan kaki, diperkirakan dokter Defa akan segera sadar.
Defano memeluk istrinya yang tak berhenti mengeluarkan air matanya.
"udah ah ntar cantiknya ilang lo" kata Defano menghibur Difia.
"papa mah orang lagi sedih juga malah becanda" jawab Difia sambil sesegukan.
"anak kita alhamdulillah gak kenapa-kenapa, bentar lagi juga sadar, jadi mama jangan kelihatan sedih dong" Defano menasihati Difia supaya segera menghentikan tangisannya.
"tapi kan sedih pa, Defa kan anak kita satu-satunya, gimana kalo kenapa-kenapa?" Difia malah tambah sesegukan.
"buktinya kan gak kenapa-kenapa mama sayang, udah ya ntar anak kita denger lo" Defano terus berusaha menghiburnya, dia tak kuasa melihat air mata istrinya yang terus mengalir deras.
Defano memeluk istrinya dengan sayang, Defa masih belum sadarkan diri.
Tok..tok..tok..terdengar suara sepatu masuk keruangan tersebut, terbukalah pintu, Defano dan Difia sudah menunggunya, dia adalah dokter yang menangani Defa.
Dokter memeriksa Defa, tangan, kaki, kepala denyut jantung semuaya diperiksa, Defano dan Difia menunggunya dengan sabar.
"dok bagaimana keadaan anak saya?" kata Difia, dengan tak sabar.
"tapi kenapa anak saya masih sadar dok dari tadi, kami takut dok" Difia terlihat belum tenang karena Defa masih belum bangun.
"sepertinya pasien kecapean, setelah pingsan langsung tertidur, mungkin sebentar lagi juga bangun" jawab dokter sambil tersenyum.
"alhamdulillah..gitu ya dok, kami sempat berfikiran yang tidak-tidak soalnya" Kata Defa.
"ibu dan bapak tunggu saja" jawab Dokter lagi.
"saya mau periksa yang lain ya bu pak, kalo ada perlu bisa pencet tombol yang ada deket ranjang pasien" kata dokter tersebut sambil keluar ruangan.
Setelah dokter tersebut pergi, Difia mendekati anaknya, dia mengusap-usap tangan dan membelai kepala Defa penuh kasih sayang.
"dasar anak cantik, bikin mama senam jantung aja" kata Defa sambil mencuil hidung mancung anaknya.
"emm.." Defa mengerjapkan matanya, kemudian dia tidur lagi tapi tak lama matanya terbuka lebar, melirik kanan kiri, mengintai setiap sudut ruangan.
"ma kita kayak di rumah sakit ya?" kata Defa dengan polosnya.
Difia memeluk anaknya dan mencium muka, pipi, dan rambut.
"kita memang di rumah sakit sayang" kata Difia.
__ADS_1
"ngapain disinj?"
" kamu lupa ya sayang" Defa mencoba memancing ingatan anaknya. Defa hanya mengangguk , kemudian dia berusaha mengingat kejadian tadi siang.
"Defa lupa ma" kata Defa.
Deda masih memeluknya.
"Defa tadi kecelakaan" kata Difia.
Defa terdiam, dia berusaha mengingat kejadian yang tadi dialaminya.
"ma...supir ojol nya, kayaknya dia juga sakit, sekarang dimana" tuanya Defa pada Difia.
"mama kurang tau sayang, karena mama terlalu khawatir padamu, jadi tak bertanya yang lain" jawab Difia.
"gitu ya ma?" Defa tampak lesu mendengar pernyataan mama nya, dia.
"kenapa anak mama yang cantik ini, kayak sedih gitu, Defa bisa cepet pulang ko, karena alhamdulillah gak ada luka serius di tubuh peri cantik mama ini" Difia membujuk Defa, papa nya hanya menyaksikan interaksi istri dan anaknya yang sangat dicintainya itu.
"ma..." Defa terputus-putus berbicara.
"kenapa nak?" Difia menunggu kata-kata anaknya.
"sebenarnya kamarin salah Deda juga, Defa yang maksa pengen cepat sampai, ojolnya udah ngajak berteduh dulu ke Defa, tapi Defa fikir kemarin gak akan ada apa-apa, soalnya Defa pengen segera sampai ke anak-anak" Defa berusaha menjelaskan secara rinci kepada orang tuanya.
"ya sudah, papa akan cari dimana ojol itu, Defa puteri papa jangan banyak pikiran, nanti kalo udah ketemu kita akan menjenguknya sama-sama" kata Defano berusaha memberikan ketenangan pada anaknya
Defano akan segera mencari korban kecelakaan saat kecelakaan itu, karena bukan menurut informasi yang dia dapat Defa celaka bukan karena licin saja, tapi ada yang menabraknya.
"bener ya pa?"Defa tersenyum, dia langsung memeluk papa nya juga.
" Defa papa boleh tanya gak?" Defano berusaha mengorek informasi dulu dari anaknya sedikit-sedikit supaya Defa tak kepikiran lagi.
"apa pa?" jawab Defa.
"kemarin Defa jatuh karena licin atau ada sebab lain?" dengan hati-hati Defano bertanya, Defa berusaha mengingat kejadian.
"hem..kalo gak salah motor Defa ketabrak motor yang sedang poleng pak, gak tau juga nasib motor itu, Defa gak inget" jawab Defa.
"ya udah nanti papa cari tau saja" kata Defano sambil mengelus rambut putri satu-satunya itu.
Sementara di tempat lain Marsel merasakan tak tenang hatinya selama kerja, dia bolak balik membaca berkas tapi masih tetap tak bisa.
Marsel berinisiatif akan menelpon Defa, tapi nomornya tak ada, dia sempat galau, cuma bukan Marsel kalo harus galau lama-lama, dia menyuruh assistennya untuk mencarinya.
Marsel tak sabar untuk mendapat kabar dari Defa, hatinya benar-benar ingin bertemu, diapun turun dari perusahaan membawa mobil sendiri mencari Defa kerumahnya.
Saat sampai rumahnya terlihat sepi, mobil juga tak terparkir di halaman rumahnya. Marsel jadi makin kepikiran dengan Defa, tapi dia tak bisa lama keluar, karena ada jadwal lain yang sudah menunggunya.
__ADS_1
Marsel memutuskan pulang kembali dan besok akan menemuinya segera.