
Marsel begitu sibuknya, pergi pagi pulang pun larut malam, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, apalagi gara-gara kecurangan yang terdapat dalam tubuh perusahaan sangat cesar membuat dia harus bekerja lebih keras lagi.
Orang tua sangat menekankan supaya Marsel segera menemukan orang yang telah membuat kerugian perusahaan hingga ribuan dollar tersebut.
Marsel mencoba dari setruktur paling bawah, dia tak ingin gegabah dengan menuduh seseorang, apalagi orang tersebut cukup berpengaruh di perusahaan, dia harus menemukan buktinya dari akar masalah paling bawah.
Marsel mencoba menelusuri sumber keuangan perusahaan tanpa diketahui oleh dewan direksi, mencari tim audit luar yang hebat dan tak pernah terkoneksi sebelumnya oleh perusahaan, tim audit itu tidak bisa terlihat oleh siapapun, Marsel membuat seolah-olah dirinya tak melakukan apa-apa, sehingga direksi hanya bisa memantau pekerjaannya dari luar saja.
Marsel begitu kecapean, dia cukup jenuh dengan rutinitasnya, sudah empat hati dia tak ke sekolah, rasan rindunya pada Defa sudah tak bisa dia tahan lagi.
Esok harinya Marsel berangkat sekolah, urusan perusahaan dia pantau dengan sistem yabg sangat rahasia, sehingga dia masih bisa melihat pergerakan perusahaan dari jam tangan yang dia punya.
Marsel menunggu di gerbang sekolah bersama Fino dan Tian, dia tak ingin menunggu lagi untuk bertemu dengan Defa. Kesalnya Defa dan acuhnya Defa padanya yang selalu membuat nya gemas dan ingin bertemu dengannya.
Banyak yang ikut-ikutan nongkrong di gerbang sekolah, mereka sengaja mencari perhatian Marsel, berdandan secantik mungkin, berlenggak lenggok bak model papan atas.
Marsel hanya sebal melihat mereka, hanya keinginan yang kuat bertemu Defa lah yang membuatnya bertahan.
Detik demi detik terasa begitu lama, orang yang ditunggu belum juga datang, Marsel ingin rasanya menyusul Defa ke rumahnya, ditambah makin banyak nya siswi yang ikut mejeng di sana, membuat Marsel tak tahan ingin pergi menuju bescamp nya saja.
Beberapa menit berlalu, ada mobil hitam berhenti di dekat gerbang sekolah, Marsel memperhatikan dengan seksama, mobil itu sepertinya menurunkan seseorang di sana, deg..deg. deg..hati Marsel tak karuan, dia berharap lebih.. Tak lama panumpang itu pun terlihat oleh Marsel, Marsel sangat bahagia, dia menunggu Defa memutar dulu melihat mobilnya pergi, Defa pun berbalik lagi dan langsung menuju gerbag untuk masuk ke sekolah.
Wajah cantik rupawan, dengan tatanan rambut masa kini, memakai baju sopan tidak ketat terkesan agak besar sedikit tapi tak membuat berkurang pesonanya sang Defa, wajah lurus dan acuh, hanya senyum sedikit pada satpam yang dia lewati, itu sudah membuat Marsel cemburu.
Para lelaki yang melihat selalu terkesima dibuatnya, kulitnya yang putih mulus karena perawatan, kakinya yang jenjang memakai tas ransel dan tentengan buku-buku perpus adalah ciri khas dari seorang Defa.
__ADS_1
Popularitas Defa yang kian meningkat membuatnya lebih diperhatikan oleh sekitar, hal itu sebenarnya membuatnya tak nyaman, tapi Defa berusaha bersikap biasa saja, dia tak mau terbawa keadaan.
Marsel langsung menyambutnya setelah Defa melewati gerbang, Fino dan Tian yang melihat mereka kepo segera menyuruh mereka menjauh.
Defa kaget begitu masuk tangannya ditarik dengan lembut, Defa melihat orang yang menarik nya dia itu adalah Marsel.
Hati Defa begitu bahagia, setelah beberapa hari tak bertemu dan mengganggunya dia merasakan ada yang kurang pada dirinya.
Defa tersenyum sekilas, dia tak mau terbuai perasaan, sedangkan beda dengan Marsel dia terlihat begitu bahagia, wajah nya berbinar, mulutnya tak berhenti untuk tersenyum, orang yang dia rindukan selama beberapa hari ini ada dalam genggamannya.
Marsel terus memegang tangan Defa, mulutnya tak kuasa untuk berkata, hanya senyuman yang mampu dia perlihatkan.
"Marsel gimana kabarnya?" Defa memulai pembicaraan
"alhamdulillah...terlihat baik kan?" kata Marsel sambil menatap Defa.
"Mau sampai kapan lo pegang tangan gue, kita harus segera masuk kelas" Defa mengingatkan Marsel bahwa mereka masih sekolah, harus belajar untuk mencapai tujuan. Marsel pun tersadar, dia tak ingin berpisah lagi, tapi keadaan belum berpihak pada mereka.
Marsel mengantarkan Defa ke kelas, dengan bangganya dia membawa buku-buku yang Defa tenteng tadi.
Sampailah di depan kelas Defa, Marsel terasa tak kuasa untuk berpisah, dia diam dulu sebentar untuk merelakan Defa masuk.
" nanti istirahat tunggu ya" Marsel seolah mengisyaratkan bahwa dia tak mau lepas dari Defa, Defa hanya mengangguk saja dan langsung masuk kelas.
Marsel pergi dengan berat hati dari kelas Defa, ingin rasanya dia ikut masuk ke kelas Defa, tapi dia juga harus belajar, dengan berkat hati diapun menuju kelas nya.
__ADS_1
Kita yang melihat Deda diantar Marsel membuat dia turut bahagia.
"cie...cie..yang ketemu pacar, bahagia banget kayaknya" Fira menggoda Defa, Defa berusaha menahan dirinya untuk bersikap biasa saja, tak mau dia memperlihatkan bahwa dirinya memang bahagia.
"biasa aja" jawab Defa.
Pelajaran pun dimulai, Defa berusaha menyimak pelajaran dengan baik, walau hati kecilnya ingin segera waktu istirahat tiba, tapi dia mencoba realistis supaya bisa fokus dengan yang ada di depannya.
Marsel sampai dikelasnya, dia tak banyak bicara, hanya senyum nya dan wajah yang begitu terlihat bercahaya sudah menjadi jawabannya.
Fino dan Tian hanya geleng-geleng kepala, setelah itu mereka saling melirik dan mengendikan bahu mereka. Fino dan Tian tal mau mengganggunya orang yang sedang kasmaran, bisa-bisa mereka hanya jadi laler yang tak dianggap, mereka berdua membiarkan Marsel dalam dunia hayalnnya.
Guru pun masuk kelas dan pelajaran pun dimulai, untungnya saat itu tak ada ulangan, sehingga walaupun Marsel tidak bisa konsentrasi dengan pelajarannya dia tak mendapat teguran daei guru.
Waktu istirahat pun tiba, Marsel begitu bersemangat menuju kelas Defa, saat yang lain belum keluar kelas, Marsel sudah lebih dulu keluar, dia ingin segera menemui Defa.
Marsel menunggu Defa diluar, karena guru yabg mengajar belum keluar juga.Marsel menggerutu karena Defa masih belum keluar.
" tuh guru gue pecat kalo masih belum keluar juga" kata nya bergumam" Dia begitu tak sabar ingin bertemu Defa kembali,.
Pintu kelas terbuka, satu persatu siswa keluar, guru pun ikut keluar kelas bersama siswa.
Marsel menyambut Defa saat Defa keluar kelas, lengkap dengan buku dan bekalnya. Marsel membantu membawakan buku yang Defa bawa.
"kita mau kemana?" Defa bertanya pada Marsel yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"ke taman aja yuk, disana lebih adeum, lagian mau baca juga kan?" kata Marsel bijak.
Defa hanya mengangguk tanda setuju pada Marsel, merekapun bersama menuju ke taman sekolah.