
Fira dan Marsel yang sama-sama ingin bareng jalan sama Defa terus saling sindir hingga mereka berpisah di depan gerbang sekolah.
"besok jangan undang cowok rese ya" kata Fira sambil pergi meninggalkan Defa dan Marsel. Marsel yang dibilang rese tak menggubria kata-kata Fira, selama Defa santai diapun akan santai juga menyikapinya.
"kita pisah sekarang ya?"kata Marsel dengan sendu. Defa hanya mencibirnya. "Bukanya dulu juga biasa aja, kenap mellow gitu, biasa aja lah toh besok juga ketemu lagi.
"Pacar gak punya perasaan sedih apa gitu, kita tuh bakal pisah ketemunya besok, kan sedih" kata Marsel.
"ih cowok ko gitu, ngenges..jelek ih" Defa malah menggodanya.
"udah ah takut hujan nih, gue pulang duluan ya" Defa segera pergi dari sana.
"Pacar ih tunggu, gak mau tau gue yang anterin pulang" Marsel mengambil tangan Defa dan membawanya ke mobil, sebenarnya Marsel sudah ditunggu di perusahaan, tapj hatinya sungguh belum siap untuk berpisah dengan Defa.
Defa tak ingin banyak drama, dia menurut saja toh udah beberapa kali dia juga bareng sama Marsel.
Mereka segera pulang menuju rumah rumah Defa. Marsel tak bisa turun karena assistennya memperingatkanya untuk segera ke kantor. Mau tak mau Marsel ngebut kesana.
"kapan gue bisa hidup normal kayak orang lain ya?mau kenal sama cewek aja waktunya susah banget" gerutu Marsel.
Sampai sekarang Marsel dan Defa belum bisa dekat seperti harapan Marsel, Defa yang masih jaga jarak dan dirinya yang terbatas waktu menjadi salah satu penghalangnya.
Marsel pun sampai di perusahaan, dia langsung disuguhkan dengan berkas-berkas perusahaan yang akan menghabiskan waktunya kembali. "Kalo gini terus gue bisa tua di kantor" gumam Marsel dalam hatinya.
Defa sepulang diantar Marsel langkung bersih-bersih sebentar, hari itu jadwal dia jadi guru bantu lagi di tempat penampungan.
"Ma Defa pergi dulu ya" Defa ijin ke mamanya sambil salam dan mangambil cemilan di toples yang ada di meja. Dia duduk sebentar dan merebahkan kepalanya ke paha Difia. Entah kenapa hari itu dia terasa enggan kesana, tapi dia sudah berjanji pada anak-anak akan kesana hari itu.
"mau kemana lagi sayang" Kata Difia sambil mengelus rambut putri cantiknya itu.
"biasa ma mau ke penampungan, Defa kemarin belanja alat lukis buat anak-anak, biar mereka belajar melukis" terang Defa pada mamanya.
"alat lukisnya dimana, ko mama gak liat?" Difia mencoba melihat bawaan Defa yang hanya membawa tas gendong kecil, padahal kalo mau kesana dia selalu bawa tentengan di tangan, entah itu cemilan atau apapun, Defa sangat suka memberi pada mereka.
"tadi udah Defa pesan dan langsung kirim kesana, kan gampang ada ini" kata Defa sambil mengacungkan hp nya.
"baiknya anak mama, udah cantik, pintar, baik hati, apalagi ya emm....kapan ya ada cowok nya"
kata Difia menggoda Defa.
"ah mama..Defa masih ingin fokus sekolah" kata Defa, walaupun dalam hatinya Defa berharap Marsel benar-benar suka padanya, tapi dia juga tak ingin terburu-buru karena mereka berdua masih sekolah.
"tumben gak bawa cemilan sayang, itu mama bikin banyak lo" Difia mengalihkan pembicaraan, dia juga sebenarnya belum siap jika anaknya punya pasangan.
__ADS_1
"gak tau ma, bawa gak ya?" kata Defa seperti masih enggan.
"kenapa? tumben gak semangat, kalo masih malas gak usah kesana aja" kata Difia. Dia sebenarnya merasa tak enak hati tapi..dia berusaha berfikiran positif saja.
" gak ah Defa kesana aja" sambil bangun dari pangkuan mamanya.
"yakin mau maksain?" Difia bertanya lagi.
"yakin ma, Defa gak mau ah malas-malasan, masih muda ko sudah malas, ntar bisi jadi kebiasaan" jawab Defa.
"yaudah hati-hati ya, awas lo sekarang cuacanya gak tentu, bisa tiba-tiba hujan lebat" kata Difia menasihati anaknya.
"iya ma, Defa akan ingat terus pesan mama" Kata Defa sambil berangkat keluar rumah, dia sudah ditunggu ojol di depan rumah.
Difia melihat anaknya keluar, Defa yang melihat mama nya pengantar sampai ke pintu pun menengok mamanya kembali
"dah ma, bentar ko" kata Defa sambil melambaikan tangan ke mamanya. Difia membalas lambaian tangan anaknya dan masuk ke rumah.
"Ya Allah jagalah anak hamba" do'a Difia dalam hatinya.
Defa sedang anteng di motor, tiba-tiba cuaca dalam cuaca yang agak teduh itu hujan turun walau masih agak kecil.
"neng mau berhenti dulu gak?" kata bang ojolnya.
"lanjut aja, bentar lagi sampai ko" kata Defa.
Defa pun menerimanya, dia memakai jas itu dan segera naik motor.
"yakin neng gak nunggu dulu, takutnya hujannya makin besar" bang ojol mengingatkan Defa lagi.
"gak ah pak, nanti juga hujan ginimah suka kecil lagi, lagian bentar lagi sampai ko, saya udah ditunggu soalnya" jawab Defa dengan yakin, walau sebenarnya dia dalam hatinya agak ragu, tapi dia sudah berjanji juga ke sana.
Defa selalu berusaha menepati janjinya pada siapapun termasuk anak-anak didiknya.
Bang ojolpun melanjutkan perjalanan sesuai keinginan Defa, dia melewati hujan yang memang tak terlalu besar itu.
Diperjalanan yang tinggal beberapa menit lagi itu tiba-tiba ada kemacetan, motor berusaha melewatinya.
"ada apa bang, tumben macet" Difia bertanya pada bang ojol.
"gak tau neng" jawab nya. Defa masih melanjutkan perjalanan, dia mulai melewati jalan yang licin karena hujan, tanpa di duga tiba-tiba brukkk ada motor yang yang tergelincir dan dengan keras mengenai motor yang Defa tumpangi.
Defa terjatuh dengan keras ke jalan, motor pun oleng dan menabrak trotoar.
__ADS_1
Kemacetan terjadi, Defa sudah tak sadarkan diri.
Difia di rumah tiba-tiba hatinya tak tenang, dia mondar-mandir ke luar dan kedalam rumah.
"kenapa nak, minum dulu ya biar tenang" kata Ibunya Difia.
"gak tau bu, ko inget sama Defa terus ya?"
"ye telpon atuh" kata ibu.
"eh iya ya, lupa he.." Difia pun berusaha menelpon Defa tapi belum ada jawaban.
Saat Difia sedang menelpon Defa, Defano menelpon dan terdengar sibuk di hape Difia. Defano merasa tak tenang, dia berusaha lagi menlpon Difia.
"hallo ma, hape kamu sibuk terus" kata Defano agak cemburu.
"mama lagi nelpon Defa, tapi gak diangkat-angkat" kata Difia dengan cemas.
"memang tadi berangkat kemana?" Defano malah terbawa susana.
"tadi katanya mau ke penampungan lagi" jawab Difia.
"padahal hari ini hujan ma, jalanan licin" kata Defano.
"tadi juga tuh anak udah dikasih tau, tapi maksa karena tadi belum hujan pa"
"yaudah kalo ada apa-apa telpon papa cepat ya" perintah Defano.
"iya pa" telpon pun terputus, Difia mencoba menelpon lagi Defa, beberapa kali tak diangkat, Difia tak tenang dan menunggunya, dia berfikir berusaha berfikir positif.
Beberapa menitpun berlalu, hape Difia berdering, Difia melihat ternyata Defa menelponya, Difia merasa senang dan segera menjawab telponya.
"selamat sore bu" kata orang di seberang sana.
"iya, kenapa hape anak saya ada di anda?" jawab Difia.
"saya mau memberitahukan, bahwa yang punya hape ini kecelakaan dan sekarang sedang dibawa ke rumah sakit terdekat.
" apa???Difia langsung lemas dibuatnya, dia sangat syok padahal tadi masih ada dipangkuannya.
"iya bu, ibu bisa cepat kesini, alamatnya saya kirim ya" setelah itu telpon pun terputus, Difia pun cemas dan malah duduk di kursi.
"ada apa nak, ko teriak-teriak?" kata ibu Difia
__ADS_1
"Defa kecelakaan bu" kata Difia
"ya Allah cucuku, cepat telpon suamimu" perintah ibu.