
Difia merenungi perkataan Rini
"apa bener aku jatuh cinta ya? kako jatuh cinta gimana dong dengan cita-citaku, ah masa bodoh jalani sajalah." Difia bergumam sambil menghembuskan nafas, seolah ada beban berat dalam dirinya.
Pergantian jam pelajaran pun tiba, jam ke dua adalah jadwal pak Defano, tak ada keributan yang terjadi dalam pelajaran pak Defano.
Cewek-cewek sangat antusias karena ada kesempatan untuk pedekate pada dosen ganteng tersebut, yang cowok-cowok agak cemburu karena mereka jadi dilupakan. kecuali Difia, dia mengikuti perkuliahan dengan serius.
Defano selalu melirik ke Difia, sedangkan yang dilirik biasa saja, padahal kenyataanya Difia bahagiaaaa sekali, hanya dia berusaha menguasai dirinya, tak ingin memperlihatkan perasaanya pada orang lain.
Defano sedikit kecewa dalam hatinya karena Difia tidak seperti yang lain, kalo seperti yang lain yang cari-cari perhatian, Defano akan sangat senang sekali.
"Difia kayaknya pak Defano dari tadi melirik ke kamu deh." Kata Rini.
"ah masa sih, kayaknya biasa aja." Kata Difia seolah tak merasakan, padahal dalam hatinya Difia dagdigdug.
"beneran, ada yang kamu sembunyiin ya?"
"gak ko, biasa aja kayak dosen sama mahasiswanya."
"ah masa?" kata Rini sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"beneran ih, lagian tuh mata kenapa gitu, pengen kucongkel kalo kayak gitu teh."
"uuuhhh taaatuuut" kata Rini sambil ketawa-tawa.
"ih sebel" Difia melirikan matanya ke Rini.
"kenapa neng?sabar ya hihi.."Rini terus menggoda Difia.!
"bangku tengah kalo mau rapat pada pelajaran saya sebaiknya keluar." Defano menyindir Rini dan Difia.
"eh..eh gak ko pak, biasa lagi bahas pelajaran bapak ko he.."kata Rini sambil garuk-garuk pahanya.
"mampus lo, makanya belajar jangan kepo." Difia meledek Rini.
"he..iya...iya.."
Dini yang melihat seolah Defano memperhatikan Difia merasa cemburu, dia tak pernah sekalipun di sapa sama Defano, padahal sudah berusaha menarik perhatiannya, tapi saat Difia tidak melakukan apapun seolah Difia jadi sasaran Defano
"awas aja Difia." Katanya dalam hati.
"Pak..Difia memang biang rusuh pak" kata Dini berusaha mempropokasi.
__ADS_1
"eh enak aja kamu." Difia merasa tidak terima.
"benarkan pak, dari tadi dia ngobrol terus," Dini terus berusaha supaya Difia kelihatan jelek dimata Defano
"tanyakan saja sama yang lain." Kata Dini.
Seisi kelas seakan ramai oleh adu mulut mereka.
"yasudah diam.."kata Defano dengan tatapan horor nya, seolah akan menelan semua orang dihadapannya.
" Difia setelah pelajaran ini temui saya di kantor." dengan tegas Defano menyuruh Difia, padahal dalam hatinya berbunga-bunga karena bisa bertemu Difia.
🐻🐻🐻
Hari-hari pun berlalu, siang berganti malam dan malam pun kembali bertemu siang, Defano seolah tak mengenal lelah terus menempel pada Difia, pulang dari kampus, atau malam-malam setelah Difia selesai jualan, Defano selalu ada untuk Difia.
Difia akhirnya terbiasa dengan Defano, dengan kebaikannya, dan perhatianya, Defano mampu mengubah hari-harinya. Hingga suatu saat Defano diutus sebagai wakil kampus untuk membimbing mahasiswa dalam perlombaan.
"Difia, sepertinya kita tak akan ketemu beberapa hari ini, saya akan mewakili kampus ke luar kota."
Defano mulai membuka pembicaraan.
" iya gak apa-apa pak, smoga sukses ya." Kata Difia dengan lesu.
"kamu mau dibawakan oleh-oleh gak?"
"gak usah kangen ya."
"ih si bapak, tenang aja saya gakan kangen pak, kan banyak tuh yang nemenin saya tiap hari, kenapa harus kangen sama bapak." kata Difia dengan muka semerah tomat berusaha menyangkal perasaanya, padahal hatinya agak sedih dengan keberangkatan Defano.
Hari pun tiba, Defano berangkat keluar kota. Berat rasanya meninggalkan Difia, kebersamaanya tiap hari, menjadikan Defano seakan meninggalkan hatinya bersama Difia. Tapi dia harus profesional, dan banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan yang menjadikan dirinya sibuk, sehingga untuk sementara bisa melupakan Difia.
🐻🐻🐻
Ditempat lain Difia yang ditinggalkan Defano merasa kesepian, padahal kegiatannya tak kalah padat, yaitu kuliah dan kerja sampe malam tiba, tapi Difia merasa harinya begitu kosong, ke kampus tak semangat, kerja pun hanya diam saja. padahal baru satu hari Defano di luar kota.
"Difia kamu kenapa, murung terus dari kemarin?"
Difia diam saja sambil melamun, dirinya tak merespon Rini.
"Difia....kemarin-kemarin mukanya terang benderang seperti matahari pagi, sekarang mendung kayak mau hujan, kenapa sih, woy...Difia?" Rini kesel sendiri dibuatnya.
Difia menarik nafas dalam-dalam
__ADS_1
"gak tau nih, kayak gak semangat aja."
"ko bisa namanya Difia gak semangat, ayoo dong curhat."
"ih kepo banget." kata Difia
"biarin he..." jawab Rini
Saat diwarung pun Difia mencoba melupakan Defano, dia berusaha bersikap seperti biasanya, tapi ibu warung ternyata lebih sensitif, dia melihat perubahan pada Difia.
"Difia awas lo itu lelenya gosong."
"gak ko bu, tenang aja bu."
"jangan difikirin terus ntar juga pulang."
"ih siapa bu yang sedang mikirin, biasa-biasa aja."
"gak usah malu-malu, ibu ngerti ko, ibu juga pernah muda."
"ah ibu, gitu banget, ntar juga terbiasa bu."
"kalo boleh ibu cuma mau nasihatin, jujur aja pada hatimu, dan minta perlindungan sama Allah dengan semua keputusanmu ya."
"iya bu makasih nasihatnya, ntar Difia fikirin bu."
"harus dong, daripada kamu nyesel, kesempatan itu harus dimanfaatkan he.."
" ih ibu bisa aja he..."
"ibu gitu lo" kata ibu berusaha menghibur Difia.
🐻🐻🐻
Waktu tinggal beberapa hari lagi, Defano berusaha memfokuskan dirinya, tak ada waktu buat main-main, ingin segera pulang dan menemui Difia.
Tak sanggup rasanya berlama-lama disana, ada rasa ingin menelepon atau sekedar mengirim pesan, tapi Defano tak punya nomornya, dia juga ingin memberi kesempatan untuk Difia berfikir tentang dirinya, apakah Difia mengharapkannya atau tidak, walaupun sejujurnya Defano belum siap jika Difia benar-benar menolaknya.
"Difia kamu pasti sedang siap-siap pulang dari warung ya?" gumam Defano sambil membayangkan Difia. Defano baru aja selesai dengan semua aktifitasnya hari itu, dia selalu teringat dengan Difia, hanya saat sebelum tidurlah baru ada waktu untuknya membayangkan Difia, karena pekerjaanya sangat padat.
🐻🐻🐻
Orang yang dibayangkan Defano pun dalam keadaan sama-sama membayangkan hal yang sama.
__ADS_1
Difia berguling-guling karena teringat dengan Defano, menunggu kabar tapi dari mana, mau mencari nomor Defano, Difia juga terlalu malu mengakui kalo dirinya merindukan Defano, akhirnya hanya bisa guling kiri dan guling kanan untuk menghilangkan ingatannya dari Defano.
"huh...kenapa otaku isinya pak Defano semua, ibu maafkan anakmu, belum tercapai cita-cita malah jatuh cinta duluan." Ratapnya sebelum tidur, sambil membayangkan dirinya yang tidak bisa menepati janjinya pada diri sendiri.