
Defa dan Marsel masuk sekolah kembali, mereka aktifitas seperti biasanya, bedanya sekarang Marsel lebih bersemangat ke sekolah karena ada Defa yang selalu ingin temui.
Marsel bersiul saat jalan menuju kelas nya, memakai tas ransel, kacamata hitam dan topi, memang pesona Marsel sungguh luar biasa.
Banyak pasang mata yang melihatnya, mereka berbisik dan sangat memuja Marsel, sedangkan Marsel melirik ke tempat lain, dia berharap bisa melihat Defa di sana.
"woy..lo cari apa sih?" Fino datang sambil bertanya pada Marsel, karena melihat Marsel seperti mengharapkan seseorang, tapi tak jelas siapa orangnya.
"gue cari yayang gue lah" kata Marsel sambil tersenyum.
"what..lo udah punya yayang gitu?"
"ya punya lah?" kata Marsel dengan pede nya.
"selamat..selamat.." tks ya.
Marsel dan Fino bareng ke dalam kelas, mereka disapa oleh para siswi yg ngefans pada mereka.
"tuh fans lo, teriak-teriak" kata Tiang yang melihat mereka datang.
"buat lo ajalah" kata Marsel.
"ogah, berisik" jawab Tian.
"gimana perkembangan lo sama Defa?" Fino penasaran.
" lo cek aja sendiri" Marsel benar-benar membuat temanya penasaran.
Saat istirahat tiba Marsel menemui Defa, dia sudah tak sabar ingin bertemu dengannya, Defa menghindar kemanapun dia pasti menemukanya.
Defa sendiri mendengar bel berbunyi segera membawa bekalnya dan pergi mencari tempat yang bagus untuk dia menyendiri dan bisa membaca dengan tenang, setelah berjalan di sekitar taman diputuskan bahwa di bawah pohon adalah tempat ternyaman baginya.
Defa duduk sendiri di taman, dia membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan, beberapa saat dia mendapatkan kenyamanan versinya itu, tapi hal itu tak akan terjadi dalam waktu yang lama. Tiba- tiba matanya ada yang menutupi dengan tangan.
"siapa sih, ganggu aja orang lagi santai" kata Defa kesal
"tebak-tebak apaan, Marsel lu lepas gak?engap gue" kata Defa membuat Marsel plengas plengos.
"lo hebat bisa menebak gue siapa?" Marsel jadi penasaran
"kenapa?"
__ADS_1
"Lo hebat, gue makin sayang ma lo"
"au ah, hebat..hebat...gue bukan superman"
"hihi"
Rencana Defa membaca buku tak berjalan dengan mulus, Marsel selalu mengganggunya.
"ah mo ini ganggu terus, kapan gue beresnya baca buku ini"
"nanti aja sepulang sekolah"
"uuuh"
"Def nanti pulang sekolah kita kayaknya gak bisa bertemu, gue ada urusan sedikit di perusahaan"
"iya gak apa-apa" jawab Defa.
"lo mah senang ya gak ada gue di sisi lo".
"gak gitu, lo kerjakan dulu aja urusannya, baru setelah beres semuanya lo bisa ketemu sama gue."
"ya" jawab Defa mantap membuat Marsel kesal, tapi dia senang juga hubungannya perlahan mulai Deda terima..
Sesuai perkataanya, Marsel pulang sekolah langsung ke perusahaan, dia tak bisa menemui Defa karena di perusahaan terdapat masalah serius yang harus segera Marsel selesaikan, dia tak mau masalah itu berlarut-larut apalagi setelah perusahaan itu menjadi tanggung jawabnya, maka akan menjadi hal buruk kedepannya.
Defa menikmati kesendiriannya itu, dia membaca buku sepuasnya di perpus tanpa ada yang mengganggunya lagi. Defa merasa puas buku-buku yang selama ini belum sempat dia baca akhirnya bisa terselesaikan dengan baik.
Waktu istirahat telah selesai, Defa segera menuju kelas untuk melanjutkan aktifitas belajarnya kembali. Fira memperhatikan Defa secara teliti, dia merasa ada yang kurang pada diri Defa.
"Defa ko rasanya liat kamu ada yg kurang ya?" Fira langsung bertanya pada Defa, dia begitu penasaran dengannya.
"apa gitu? biasa aja ah" Defa mengelak, karena memang tak ada yang aneh menurutnya.
"yakin lo gak ngerasakan sesuatu?" Selidik Fira lagi, dengan tatapan yang sangat mengharapkan Defa untuk berbicara.
"ih udah ah, apaan coba, biasa aja sepertinya" Defa malas mengatakan apa-apa lagi.
"yakin lo gak ngerasa?" Fira kekeh pada pendiriannya.
"enggak Fira....." jawab Defa dengan muka agak kesal dengan temanya satu ini.
__ADS_1
" yabg kurang menurut gue itu ya karena gak ada Marsel disisi lo" kata Fira mantap.
"ih kirain apaan?" memang bener kan gak ada, biasanya Marsel kan sama lo terus, kenapa sekarang gak ada, coba ke mana?"
"ada urusan yang harus dia selesaikan, jadi dia gak bisa sekolah beberapa hari ini" terang Defa pada Fira.
"cie...cie...udah jadian ya, tau aja kalo Marsel gak sekolah.
" kamu tuh ya, di jawab salah, gak di jawab salah juga, hadeuh...fokus belajar aja ah..." Defa malas kalo sudah dijodoh-jodohkan, karena bukan hal menarik untuk dijadikan bahan candaan.
Sempat terlintas dalam hati Defa sama saat dirinya ditanyakan Marsel, dia juga merasa ada ruang kosong dalam dirinya yg kurang.
"dia lagi ngapain ya, gue ko jadi merasa kehilangan, duh biarin ajalah" Hatinya Defa ber gumam sendiri.
Sudah dua hari Defa tak bertemu dengan Marsel, hari ini dia ke kantin, ternyata di sana sudah ada Fino dan Tian, tapi tak ada Marsel di sana.
Fino dan Tian saling sikut-sikutan, karena mereka melihat Defa di sana.
"Fin itu Defa, tumben dia ke kantin biasanya kan dia ke perpus" kata Tian pada Fino.
"au ah gue mah malas komen, Marsel nya juga kan gak nanyain" jawab Fino.
"terus kita mau gimana?" Tian nanya lagi ke Fino seolah dia merasa bersalah pada Defa, pada hal Defa kesana tak berniat untuk menanyakan Marsel, dia hanya sadang merasa kosong aja, biasanya ada Marsel yang mengganggunya, tapi dia tak berniat mencari tau keadaan Marsel juga.
"Defa..lo gak mau nanyain apa ke teman-temannya Marsel ke mana?" kata Fira malah membuat Defa teringat dengan Marsel.
"ah lo ini dari tadi ngobrolin Marsel wae, males ah lagian biarin aja Marsel punya urusan mungkin.
"lo ini gimana sih" Fira kesal dengan Defa yang belum tak mau tau tentang Marsel, padahal dia berharap Marsel dan Defa bersama.
Ditempat lain Marsel sadang rapat, dia mendengarkan semua laporan dari tiap divisinya, ada beberapa kejanggalan yang dia lihat dan belum harus menemukan solusinya.
Tim pemasaran sedang dalam keadaan maju, tapi keuangan perusahaan malah turun, dalam laporan keuangan banyak kerugian yang menimpa, tapi dalam pantauannya proyek berjalan dengan semestinya. Marsel mulai pusing dibuatnya.
Sepertinya kita harus mulai meneliti lagi laporan keuangan dari tiap divisi, coba audit keuangan proyek kita dan pantau bagian pemasaran, kemana masuknya hasil dari penjualan produk kita selama ini, dari yang sayang liat ada perbedaan laporan keuangan bagian pemasaran, dan bagian keuangan perusahaan kita.
Marsel berusaha mencari dan menggali lagi semua kejanggalan yang ada.
" Segera temukan kecurangan dan keluarkan tikus-tikus itu" Marsel memberikan perintah pada asistennya.
Marsel sudah rindu dengan Defa, bahkan tak sempat menghubunginya, dia ingin segera bertemu dengan Defa, kebahagian yang selalu dia rindukan yaitu saat berada dekat Defa, maka dia akan berusaha menggapainya walaupun Defa belum bisa menyukainya. Marsel yakin suatu saat Defa akan menjadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1