Cinta Difia

Cinta Difia
Ayah Defa kecelakaan


__ADS_3

Akhir pekan adalah waktu yang sangat dinantikan oleh semua orang, terutama pekerja kantoran dan siswa-siswi yang ada diseluruh negeri. Seperti hari itu, Defa juga sudah ditunggu keluarganya untuk segera pulang ke rumah.


Defa dijempuk oelh supir papanya dari sekolah, Fira yang menemaninya jalan sampai heran karena Defa tiba-tiba dijemput keluarganya dari sekolah.


Marsel telat menjemput Defa dari kelas karena tadi dia ada les tambahan sebagai kewajiban siswa yang telah semester akhir, dia ingin menyusul Defa tapi tak sempat karena ternyata Defa telah pergi.


"Fira, tumben Defa dijemput, emang ada apa?" Marsel penasaran, karena tak biasanya Defa dijemput seperti itu, dia seperti terburu-buru dan menangis.


"gak taulah, bukanya lo ya yang selalu bareng Defa, dan lo rebut Defa dari gue" jawab fira sinis. Fira pun ngeloyor pergi dari hadapan Marsel, dia juga ingn segera pulang ke rumahnya.


Marsel sampai kefikira dengan Defa, selama mengenalnya Defa tak pernah menagis sedikitpun, walaupun banyak yang syirik padanya tapi Defa tak mudah down, beda sama yang dia lihat sekarang Defa nampak terpukul sekali.


"si kodok tau ga ya? gue mersti cai nih si kodok, kali aja dia tau kan dia juga suka deketin pacar gue" gumam Marel sambil lari mencari Jimin. Sayangnya Jimin hari waktu itu jug atelah pulang sehingga Marsel tak dapat menemuinya.


"wah si kodok Korean itu gak ada lagi" Marsel bertambah kesal, dia menendang apa saja yang ada dihadapanya. Marsel pun berjalan gontai, dia bingung harus ngapain. Saat seperti itu tiba-tiba Fino datang menghampirinya.


"kenapa lo, kuyu gitu? bukanya lo harus  secepatnya keperusahaan?" tanya fino, Marsel yang ditanya hanya diam saja sambil menendang apapun yang ada dihadapanya.


"gak baik penerus perusahaan kelihatan jelek di depan umum, yuk kita masuk mobil lo aja" ajak Fino, Marselpun menurut, dia mengikuti Fino masuk mobinya yang sudah terparkir di depan sekolah.


"lo kenapa, ribut sama Defa ya?" tanya Fino lagi, Marsel hanya menggelengkan kepalanya.


"perusahaan ada masalah?" Fino berusaha mencari akar masalah, dia ak mau sahabatnya ini terpuruk.


"keluarga lo nyuruh lo pulang?" Marsel masih menggelengkan kepalanya. "terus kenapa" Fino sampai gereget dibuatnya.


"Defa tadi pergi tanpa pamit ma gue, terus dia nangis" jawab Marsel,Fiino yang mendengarnya sampai tersenyum dia ingin tertawa tapi dia tahan, dia tak ingin menyinggung perasaaan Marsel.


"tumben lo lemot, kalo cuma gitu ya lo samperin ke rumahnyalah, mau gue anter" kata Fino terbahak, dia gak tahan dengan kebucinan Marsel yang seakan membuatnya jadi bodoh.

__ADS_1


Marsel langsung melajukan mobinya, tanpa menghiraukan Fino yang menertawakanya. Dia sudah tak sabar ingin mengetahui kabar Defa. Dengan kecepatan tinggi Marsel sampai kerumah Defa. Diapun turun dari mobil dan mengetuk ointu rumah Defa. Berkali-kali Marsel mengucapkan salam tapi tak ada sahutan dari dalam rumah, dia sampai galau dibuatnya.


"pacar kamu kemana? kalo ada apa-apa bilang"gumam Marsel. Marsel segera pergi dari sana, dia tak bisa juga meninggalkan perusahaan lama-lama, karena banyak pekerjaan yang menunggunya.


"lama diam di mobi Marsel mengecek hapenya, dia baru teringat saking paniknya dia sampai lupa untuk menelpon Defa, marsel berusaha menelpon Defa, tapi tak ada sahutan sampai beberapa kali dia hubungi pun.


Marsel penasaran, tapi apa mau dikata dia sudah ditunggu seperti biasanya oleh assistennya. "Dasar assisten kurang ajar, dia gak tau apa gue lagi malas kerja" gerutunya pada assistenya yang terus menelponnya.


Sementara ditempat lain Defa sedang bersedih, dia menangis terus melihat keadaan papanya, Difia juga sama tapi dia terlihat lebih tegar, Difia selalu memeluk Defa disisinya.


"papa pasti sehat sayang, kamu tenang aja, kita mesti berdo'a ya" hibur Difia.


"tapi ma kenapa papa bisa begini, tadi pagi kan papa gak kenapa-napa, malah kita bercanda ma?"


"kita kan gak tau apa yang akan terjadi, jadi untuk sekarang Defa sabar ya" Def seseguksn menahan suara tangisanya, sulit baginya menerima kenyataan, bahwa papanya kecelakaan dan dalam keadaan keritis.


"mama tadi papa kecelakaanya gimana?"


"hik..hik.. Defa menangis lagi, dia sangat terpukul, Difia juga terus mengalir air matanya, dia teringat tadi pagi suaminya pamitan untuk kerja seperti biasanya, tapi ada firasat aneh, Defano tiba-tiba mengatakan "jangan rindukan aku ya" sambil bercanda padanya.


Difia hanya ikut tertawa digoda suaminya tanpa curiga sedikitpun, kalo tau akhirnya akan seperti ini dia akan menahan suaminya untuk pergi hari itu.


Difia terus berlinangkan air mata, dia berusaha menguatkan Defa anak semata wayangnya disaat bersamaan dia juga butuh dukungan, suami tercintanya sedang tak baik-baik saja. Difia dan Defa terus saling berpelukan,


Ibu yang melihat mereka juga begitu terpukul karena Defano dimatanya adalah sosok menantu yang baik dan sayang pada keluarganya, dia juga menganggap ibu mertuanya seperti ibunya sendiri.


Difia berusaha menguatkan diri, dia diingatkan oleh ibunya untuk sabar dan masih ada Defa yang harus dia perhatikan.


"nak kamu istirahat dulu ya, kan cape baru pulang dari sekolah"

__ADS_1


" gak ma, Defa mau sama papa"


"sayang biarkan papa juga istirahat ya, nanti kalo ada apa-apa mama kasih tau deh"


"tapi ma?" Defa memelas ingin menemani papa nya tapi Difia sadar bahwa mereka harus menerima itu,dengan sabar, mereka juga harus menjalani hari seperti biasanya, Defa juga harus sehat dan harus tetap sekolah, jadi Difia memutuskan biarlah dirinya saja yang menemani Defano di rumah sakit.


"Defa sama nenek aja ya dirumah, besok klao mau sekolah Defa bisa kesini lagi, pulang sekolah juga bisa ya" rayu Difia.


Sebenarnya Defa ingin sekali menemani mamanya, tapi mamanya juga benar bahwa dia juga tak bisa berlama-lama sedih, dia masih harus sekolah, Defa pun menurut dia pulang ke rumahnya bersama nenek.


"besok bawain baju mama ya kesini" Defa hanya mengangguk sambil menitikan aair matanya, sebelum dia pulang Defa menemui papanya yang terbaring di ranjang rumah sakit.


"pa..Defa pulang dulu ya, ada mama disini, besok pagi Defa temui papa lagi, papa cepat sembuh ya" kata Defa sambil terus menitikan air matanya.


informasi kecelakaan Defano langsung menyebar, para dosen dan mahasiswa banyak yang berdatangan untuk menjenguknya, mereka juga mendo'akan dan memberi semangat pada Difia, Difia hanyayan bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata, hanya  air mata yang menjadi jawaban pada semua orang yang datang, tangan yang ditelungkupkan di depan dada sebagai tanda maaf dan terimaksih pada semua yang telah menjenguk suaminya.


Besoknya, Defa datang kesekolah saat bel masuk hampir berbunyi, dia juga tak segar seperti biasanya, Marsel belum bisa menemuinya, karena kesibukan diperusahaan yang mau aniversary. Defa tak terlalu menghiraukan itu, tapi Marsel yang uringan-uringan dibuatnya karena masih belum ada kabar dari Defa dan dia juga tak bisa masuk sekolah, Marsel hanya menerima info dari Fino yang  tetap membuatnya penasaran.


Dikelas Defa tak bisa konsentrasi, dai terus mengingat papanya dan mamanya yang pasti sedang kecapean menunggunya. dia ingin segera pulang dan menemui mamanya di rumah sakit.


Marsel berencana ingin menemui Defa disela kesibukanya, dia menyempatkan diri untuk menunggu di depan sekolah, sayangnya keberuntungan  tak berpihak padanya, tiba-tiba dia terkena macet diperjalanan dan saat dia sampai ke sekolah Defa telah pergi dari sana.


Marsel kesal, dia mencoba menelpon Defa, sampai beberapa kali, saat dia hampir kehabisan kesabaran Defa mengangkatnya.


"Assalamualaikum pacar, kenapa tak ada kabar" Defa hanya diam diseberang telepon, tapi terdengar


suara isakannya.


"telpon tak lama dimatikan, Marsel penasaran, dia semakin tak karuan. Marsel mencoba untuk mengecek keberadaan Defa lewat hapenya, tak lama muncul pemberitahuan bahwa Defa di rumah sakit.

__ADS_1


Marsel segera bersiap meluncur ketempat Defa, tapi assitenya menelpon dan menyuruhnya untuk segera datang ke perusahaan, karena ternyata keluarganya dari luar negeri juga datang semua.


Marsel kesal dan membanting hapenya, "ahhhhh" tak ada pilihan untuk Marsel, dia harus segera pergi ke perusahaan.


__ADS_2