Cinta Difia

Cinta Difia
Taman


__ADS_3

Defano sudah menyiapkan kopernya, hari ini adalah hari terakhirnya di kota S, oleh-oleh sudah disiapkan, tinggal menyelesaikan acara terakhir, setelah itu dia akan langsung kembali, tak akan jalan-jalan atau semacamnya, karena hatinya sudah tak karuan.


Dia teringat terus dengan Difia, beberpa hari tak bertemu, membuat hatinya menahan rindu, hari ini dirinya sudah tak kuat, rasanya kepalanya sakit ngin meledak saja rasanya bila tak segera melihat Difia.


Acara demi acara Defano lewati, akhirnya siang hari semua acara telah selesai, panitia menawarkan untuk sekedar jalan-jalan dulu kepada para peserta beserta pendampingnya, tapi Defano tak ingin mengambil paket jalan-jalan tersebut.


Untungnya para mahasiswa juga mengerti tentang kesibukan dosen pembimbing mereka, Defano memberikan kebebasan kepada mahasiswanya jika ada yang mengambil paket jalan-jalan tersebut.


Acara tersebut merupakan acara tambahan atau bonus dari pihak penyelenggara, jadi tak ada kewajiban untuk Defano mengikutinya.


Defano pun segera ke Bandara, dia tak sabar untuk segera terbang dan bertemu Difia.


🐻🐻🐻


Dikampus..


Difia sedang bersama Rini, mereka menunggu jam mata kuliah pertama


"Difia hari ini pak Defano masih belum masuk ya?" kata Rin


"gak tau, kenapa gitu?"


"kirain kamu tau?"


"ih kayaknya gak ada hubungannya deh, pak Defano sama aku, kamu ngadi-ngadi aja."


"yakin gada hubungannya?" kata Rini sambil menaik turunkan alisnya


"gak lah gak ada, emang aku pengasuhnya apa?"


"lebih dari pengasuh bisa kan."


"gak tuh,siapa bilang."


"ya aku yang bilang barusan hihi..." Rini berhasil menggoda Difia.


"ih kamu tuh, bt banget." sahut Difia.


"bt kenapa?" Rini menatap cengo.


"ya bt aja." kata Rini sambil manyun.


"keliatan banget."gumam Rini.


"keliatan apanya coba." Difia merasa sedikit takut sama feeling Rini.


"keliatan aja."

__ADS_1


"dasar."kata Difia sambil cemberut


Sebenarnya Difia sedang gak semangat, ditambah digodain terus sama Rini, hatinya tambah kesel. Difia sangat merindukan Defano, tapi Defano tak ada kabar sama sekali, Difia makin uring-uringan gak jelas kalo ada yang menyangkut pautkan dirinya dengan Defano.


Setelah perdebatanya dengan Rini, Difia makin tak fokus dengan pelajaranya, dia melamun saja, untung dosenya tak memberinya tugas, jadi Difia tak terlalu punya beban.


🐻🐻🐻


Jam pelajaran pun berakhir, Difia berjalan dengan lesu menuju gerbang kampus, hari jni dia ijin ke bu warung untuk datang telat, Difia mau sedikit menenangkan fikiranya.


Difia berjalan ke taman belakang kampus, dengan kolam buatan yang diisi dengan ikan mas besar-besar berwarna merah, ditenganhya dibuat air mancur melingkar yang ditengahnya diisi dengan lambang kampus, disisi kolam ada berbagai bunga warna-warni, sangat cantik sekali.


Difia duduk seorang diri dibawah pohon besar, sejuk dan menenangkan, disana terlihat bersih karena tempat para mahasiswa sekedar belajar, atau diakusi atau kegiatan lainya. Difia termenung memikirkan perasaanya.


"kenapa makin hari makin inget pak Defano? Ya Allah seandainya dia bukan jodoh hamba jauhkanlah, karena hamba tidak mau membuang waktu hamba untuk pacaran, kalo pun bukan, jauhkanlah supaya hamba bisa tenang." Gumam Difia dalam hatinya sambil menatap kosong kolam di depanya.


🐻🐻🐻


Defano yang sudah sampai di kota B segera menuju kosan Difia, dia yakin Difia jam segini sudah pulang dari kampus, tapi Kosan Difia terlihat sepi, dia sangat ingin bertemu, rasa rindu dihatinya tak bisa terbendung lagi, ingin segera melihat Difia sesegera mungkin.


Lama Defano menunggu, akhirnya Defano memutuskan ketempat kerja Difia ,setelah sampai sana Defano tak melihat Difia, Defano penasaran, dia sudah takut terjadi apa-apa dengan Difia.


Defano segera menuju ke warung.


"Bu apa kabar?"


"Iya bu saya baru datang banget, ko Difia gak ada bu, kemana?" Defano mulai khawatir.


"owh...tadi minta ijin ke ibu, katanya datang telat, mungkin ngerjain tugas atau apa ibu kurang tau." ibu menerangkan kepada Defano.


"tenang saja, Difia pasti kesini ko." kata ibu


"saya duluan aja ya bu"hati Defano tak karuan, Dia ingin segera bertemu Difia.


Defano menyusuri jalan, mencari ke kampus, hingga akhirnya berjalan mengelilingi kampus, Defano merasa yakin Difia ada disekitar kampus, karena Difia jarang main kemana-mana, hanya kampus, warung dan kosan yang Difia tau.


Difia masih termenung di bawah pohon, hatinya sedikit tenang, tak pernah dia kesini, selain karena kesibukanya, dia juga bukan tipe malas-malasan, hanya sekarang dirinya merasa perlu ketenangan.


Defano akhirnya melihat Difia dari kejauhan, deg..deg..deg.. hatinya begitu bahagia melihat Difia, Defano terus mempercepat jalanya menuju Difia, Difia tak menyadarinya.


" Difia..."seseorang dengan suara berat memanggilnya


"ah sampai segitunya aku ingat dengan dia" dalam hatinya Difia.


"Difia kamu sedang apa?"


"kayaknya beneran ini mah ada suara pak Defano, Difia celingak-celinguk, apa penunggu pohon ini..iih serem.." kata Difia sambil bergidik.

__ADS_1


hingga akhirnya Defano berdiri dihadapannya dan grep..Defano memeluk erat Difia, Difia diam mematung dipeluk Defano, ada perasaan yang sangat sulit diartikan dalam dirinya.


Difia merasakan sesak karena Defano memeluknya terlalu erat.


"Pak...Pak Defano..sesak pak."


Defano pun baru menyadarinya dan langsung melepaskan pelukanya.


"Maaf.." kata Defano.


"bapak baru pulang?" Difia mulai membuka pembicaraan


"iya."


"bapak kelihatan cape pak, mari duduk dulu." Difia mengajak duduk Defano.


"saya beli minum dulu ya pak, bapak kelihatanya cape banget."


"Iyalah cape, dari tadi nyari-nyari kamu, untung sayang." dalam hati Defano.


Difia segera meranjak dari duduknya, tapi tak sampai pergi, tangan Difia segera ditarik oleh Defano.


" gak usah, ini ada minum." Defano langsung meneguk air punya Difia."


"tapi pak itu punya sa..ya.." Difia kaget bukan main, Defano dan Dirinya satu tempat minum.


"pak...itu..itu.."


"iya ini saya minum Difia."


"itu berarti secara tak langsung diriku dan pak Defano udah ciuman secara tidak langsung."cicit Difia.


Muka Difia sudah memerah, gak nyangka kalo Defano bisa seberani itu, juga malu sekali karena Defano satu wadah minuman dengannya.


"Difia selama kita gak bertemu apa kamu ingat saya?"


" em..em.."Difia bingung harus berkata apa


"Difia kalo boleh jujur, saya bener-bener tak bisa melupakan kamu barang sedetik pun, saya gak bisa Difia, saya mohon berilah saya kesempatan untuk bersama kamu, saya gak sanggup jauh dari kamu Difia.


Mendengar penuturan Defano, Difia mulai bingung, apakah bisa fokus kalo dirinya menerima Defano. Tapi pak Defano sangat baik, sampai-sampai aku takut berpisah denganya. Difia tak ingin merasakan kehilangan lagi seperti kemarin waktu ditinggal pergi oleh Defano.


" hem..em..emmm..sebenarnya saya juga sama pak" kata Difia


"kalo gitu bisa kan kita bersama."


Difia mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


"yess" Defano tanpa sadar langsung mengangkat Difia


__ADS_2