
Defa bersama papanya langsunng pulang ke rumah tanpa kemana-mana dulu, dia langsung bersih-bersih dan akan tidur siang.
Marsel yang tak tenang karena tak. isa bertemu Defa, nekat datang ke rumah Defa sendiri, hatinya sudah tak tahan menahan keinginan hati bertemu dan seharian tidak ini dirinya belum membuat kesal Difia, dia sungguh kangen.
Sesampai di rumah Defa, ternyata sedang ada tamu , Marsel pun menguatkan tekadnya ingin masuk ke rumah, dia segera memarkirkan motornya dan masuk dengan salma ke rumah Defe.
"Assalamualaikum...." Marsel mengucap salam dari luar, dia pun menunggu dan tak berapa lama keluarlah Difia dari dalam rumah.
"Waalaikumsalam..." Difia menyambut kedatangan tamunya dari dalam rumah, dan dia cukup kaget saat melihat seseorang diluar pintu, Marsel sedang berdiri membawa sebuket bunga sambil tersenyum ke arah yang Difia.
"eeh nak Marsel..." Difia maenyambut Marsel dan mengajak nya masuk ke dalam rumah.
"iiya tan" Marsel kikuk dibuatnya, apalagi melihat seseorang yang cukup rupawan di rumah Difia. Dia merasa malu karena sudah lancang bertamu tapi hatinya tak kuat akan kerinduannya kepada Defa, Marsel menebak-nebak siapa orang di depanya.
Tak lama kemudian Difia datang menemui mereka di ruang tamu.
"nak Juan kata om langsung masuk aja ya" Difia pun mempersilahkan Juan menemui suaminya.
__ADS_1
"nak Marsel mau ketemu Defa ya, bentar ya biasanya tuh anak suka istirahat, apalagi kan baru pulang pertandingan, tadi gimana pertandinganya"
"seru tan, saya tasi belum sempat ngucapin selamat sama Defa" Marsel berusaha mencari alasan kedatanganya.
"yaudah tante coba bangunin ya, dimakan cemilannya" Marsel hanya mengangguk tapi hatinya bingung dibuatnya. Harus bagaimana supaya bisa melihat Defa.
Difia membangunkan Defa, tapi Defa sepertinya kelelahan, dia hanya menggeliat saja, tanpa bisa bangun.
Melihat anaknya begitu, Difia hanya menghirup nafas dalam-dalam, dia segera pergi lagi menemui Marsel.
"gitu ya tan, saya pulang aja, ni buat Defa, maaf tadi gak sempat ngasih" Marsel pun memberikan buket bunga itu ke Difia, Difia pun menerimanya.
Marsel ijin pulang, dia pun keluar dari rumah, melihat sekeliling dan mulai kefikiran ide nakalnya.
"gue gak bisa nih kalo gak ketemu, gimana ya?" Marsel pun melihat sekeliling ternyata tak ada siapa-siapa, Difia juga sudah masuk rumah. Entah dorongan darimana dia mengendap-endap mencari kamar Defa.
"gak apalah gue gak bisa ketemu yang baik-baik, tapi gue orangnya maksa". Marsel berjongkok, sambil melihat kanan kiri, dia mengecek satu persatu ruangan, melihat dari kaca luar ternyata bukan, kemudian melanjutkan lagi ke kaca berikutnya, ternyata malah terdengar suara laki-laki tadi, Marsel pun mengendap-endap lagi dia berusaha mencari kamarnya Defa.
__ADS_1
Rumah Difia yang luas lumayan menyulitkannya mencari kamar Defa, tapi saat Marsel mau keruangan satunya lagi, dia mulai mengintip dari kaca, ruangan nya harum tercium dari luar, Marsel pun nekat membuka jendela, yang terlihat terbuka sedikit, baru saja mau buka jendela, dia hampir kejeduk tuh jendela.
"nak makan dulu sayang" terdengar dari dalam Difia membangunkan Defa untuk makan. Marsel hampir ngumpat dan memarahi jendela.
"nak ko jendelanya gak ditutup, gak baik lo anak gadis gitu" Difia mendekati jendela dan malah menutupnya, Marsel yang ada disana buru-buru menjauhi Jendela.
"hampir aja, setidaknya udah tau mana ruanganya sekarang he.." Marsel tersenyum penuh kemenangan, walaupun sebenarnya gagal, tapi dia tetap optimis.
Marsel segera pulang dari rumah Defa, dia tak ingin ketahuan belum pulang oleh yang mpunya rumah, resikonya bjsa membuatnya tak akan bertemu Defa lagi.
Marsel pun sampai ke rumah, disana tak ada siapa-siapa keluarganya, hanya pembantunya saja yang selalu menyambutnya. Ingin dia marah dan kecewa, tapi itu sudah terjadi dari kecil, hanya sendirian dirumahnya.
Marsel membaringkan badannya di kasur, melihat hp nya ternyata banyak panggilan masuk, dari Fino, Tian dan teman-teman yang lain.
Defa yang barusan dibangunkan tidurnya, dia tak masih bertahan dengan tidurnya.
"ni anak kalo sudah tidur, lupa makan, lupa jendela" Difia sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya, dan keluar lagi melanjutkan aktifitasnya.
__ADS_1