Cinta Difia

Cinta Difia
Bermalam di rumah Defano


__ADS_3

Difia akhirnya bermalam di rumah Defano, dia tidur sangat nyenyak, sampai pagi-pagi pun bangunnya keduluan nenek, Difia memang tak pernah tidur senyaman itu dikosanya, karena hanya menggunakan kasur lipat tipis yang mampu dia beli.


"Difia...Difia..."


nenek membangunkan Difia


"iya.." Difia menjawab setengah sadar


"udah pagi nak."


" Iya nek."


Difia tidur lagi tapi tak lama kemudian dia nengerjap-ngerjapkan matanya.


"ah...aku lupa, inikan rumah pakk Defano, aku harus segera pulang tapi setelah membantu nenek Mirna dulu."


Difia langsung bangun dari tidurnya dan segera membersihkan diri, setelah itu membantu nenek Mirna, sambil bicara pelan-pelan pada nenek.


"nek...Difia sekarang harus pulang ya, karena mau ke kampus, mau belajar, nanti kita bisa ketemu lagi ko."


"Difia mau ke kampus, seperti Defano?"


Nenek seolah menyamakan Difia dengan Defano, tapi Difia mencoba mengerti akan hal itu.


"iya sama seperti pak Defano." Kata Difia


Nenek pun mengangguk.


"Nenek sudah makan?"


Nenek menggelengkan kepalanya.


"mau Difia bantu?"


Nenek pun mengangguk tanda setuju.


"ya sudah hayu, Difia bantu makan ya."


Difia pun mengajak nenek ke ruang makan, dengan telaten Difia menyiapkan makanan nenek, sambil menanyakan apa saja menu yang nenek mau, nenek menyebutkan dan menunjuk makananya, setelah itu nenek pun makan, nenek melihat Difia.


"Kenapa nek?"


Difia bertanya pada nenek, karena nenek sepertinya. ingin berbicara lagi.


"makan."


"Iya nenek ayo makan yang banyak"."


Nenek menggelengkan kepalanya lagi.


"Nenek mau dibantu disuapin?"


Nenek menggeleng lagi.


"yaudah nenek sekarang makan sampai habis ya."


sementara itu Defano melihat dari atas tangga yabg menuju ruang makan, dia diam dan melihat interaksi itu.


"Dia sangat lembut dan baik, dewasa sekali padahal usianya masih delapan belas tahun"dalam hati Defano memuji sambil memperhatikan Difia.


" dia juga kelihatan tulus pada nenek."Defano terus memuji dalam hatinya.

__ADS_1


Defano pun segera turun ke meja makan.


" Difia kamu gak makan?"


" gak ah pak makasih, nanti saja di kosan pak."


"sekarang aja bareng nenek."


"gak pak makasih." Difia menolak tawaran Defano, karena merasa tak enak hati.


"nek kayaknya Difia gak mau makan dengan kita."


Defano mulai menggunakan nenek sebagai umpan supaya Difia mau makan bareng."


Nenek terlihat sedih dan murung.


"Difia saya perintahkan kamu untuk makan, anggap ini sebagai permintaan maafmu karena telah membawa nenek."


"tapi pak itu bukan sepenuhnya salah saya."


"sudahlah cepat makan."


"akhirnya Difia segera menyelesaikan makanya."


Difia pun segera pamit karena harus ke kosan dulu, menyiapkan pelajaran hari ini.


"nek saya pulang dulu ya."


Difia pun berpamitan dengan nenek dan segera keluar dari rumah itu, karena memburu mata pelajaran pertama. Sesampainya di depan rumah ternyata sudah ada Defano di dalam mobilnya.


"kamu saya antar."


"hah...." Difia malah bengong


" iiya pak.."merekapun akhirnya pulang ke kosan Difia.


"Difia saya minta maaf untuk nenek.


" iya gak apa-apa ko pak, gak usah sungkan, saya juga sudah saya anggap seperti nenek saya sendiri."


setelah mengucapkan itu mereka terdiam beberapa saat, dag..dig..dug di hati mereka, bingung mau ngobrol apa, hati tak bisa ditutupi, menjadikan mereka canggung dan salah tingkah.


"kenapa susah sekali ngobrol sama kamu." gumam Defano dalam hati, akhirnya mobil sampai ke kosan Difia, Defano pun segera pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap ke kampus juga.


Difia dengan tergopoh-gopoh masuk kelas.


"kenapa telat?" Rini langsung datang menghampirinya.


" tadi mules jadi agak kesiangan." Difia membuat alasan.


"owh..yakin kamu mules."


"iya kenapa gitu?" Difia sudah takut aja bohongnya ketauan.


"takutnya kamu mules lagi, kan daripada masuk mending di kosan istirahat" Difia merasa lega setelah mendengar alasan Rini.


"gak ah..masa baru aja masuk kampus udah ijin aja, lagian sekarang udah baikan ko, kamu tenang aja, gak akan bau he....."


" iih jorok kamu bahas gituan.."


"ha...kan kamu duluan yang bahas, jadi ya terusin aja."

__ADS_1


"geuleuh ih."


"haha...hihi.." Difia tertawa terpingkal-pingkal liat Rini yang keliatan jijik dengan pembicaraan absurt mereka


"neng geulis, Aa deket neng ya?"


" ih..apaan sih, kalo mau duduk ya duduk aja, pake bilang segala." sahut Difia dengan judes.


"kamu ngegemesin banget sih." Arfan semakin tambah geregetan melihat Difia yang acuh dan judes bin jutek itu.


"ngegemesin pala lo?"


Arfan malah terus menatap Difia dari tempat duduknya.


"Rin...males ih" Difia mulai gak nyaman ditatap Arfan.


"liat tuh si Arfan" sambil melirikan matanya ke arfan.


"kamu hebat udah ada penggemar aja hihi."


"buat kamu aja sono."


"ogah" kata Rini


sementara Difia dan Arfan duduk berdekatan , diluar Defano tanpa sengaja lewat kelas Difia, dia dari tadi sungguh tak nyaman dengan hatinya, setelah beberapa kali interaksi dengan Difia, seolah hatinya tak pernah lepas, selalu ingat Difia.


Sekarang dia ingin memastikan keadaan Difia dan sengaja lewat di depan kelas Difia, tak disangka saat dia lewat, Defano membelalakkan matanya melihat Difia sedang duduk berdekatan dengan Arfan, menurut penglihatannya Arfan terlihat dekat dengan Difia, Difia seperti sedang merajuk pada Arfan.


Hati Defano terasa sakit, entah mengapa melihat itu hatinya tak suka, dia mengepalkan tanganya dengan keras hingga terlihat urat-urat tangannya.


Defano sesegera mungkin menghindar dari kelas itu, dia sudah tak mud lagi untuk mengajar, tapi karena sudah merupakan tugasnya jadi dia tetap masuk ke kelas yang lain untuk melanjutkan pelajaran.


Rini merasa melihat pak Defano sekilas diluar kelas sedang menatap mereka, tapi pas dilihat lagi sudah tidak ada.


"Difia tadi kayak ada pak Defano diluar kelas" kata Rini.


"ah gak mungkin, ngawur kamu" Difia seakan takut ketahuan oleh Defano, padahal mereka bukan siapa-siapa."


iya juga sih, kan gak ada kelas di kelas kita dan dikelas sebelah, jadi ngapain juga lewat sini.


"Rin..inikan tempat umum, ya mau pak Defano lewat ataupun tidak kan urusan dia kenapa kita kepo."


" hihi iya juga ya."


"uuuh dasar."


mereka ngobrol berbisik-bisik, sementara Arfan yang duduk disebelahnya dianggap tidak ada, mereka sibuk ngobrol berdua.


waktu istirahatpun tiba, mereka berbarengan keluar kelas, tiba-tiba Rini ijin ke toilet.


"Difia kamu duluan aja ya ke kantin, aku ke toilet bentar."


"mau ditemenin gak."


" gak usah, bentaran doang ko, ntar aku nyusul ke kantin ok."


" wokeh."


mereka pun berpisah, Difia jalan sendiri menuju kantin, pas turun tangga tanganya di cekal dan dibawa seseorang dengan cepat. Difia diajak ke taman belakang sekolah, disana sedang sepi.


Difia terengah-engah mengatur nafasnya karena seakan lari digusur, dia belum sempat melihat yang membawanya, saat sampe taman dia diam sebentar dan mulai melihat orang yang membawanya.

__ADS_1


"pak Defano?"


dukung terus ya...🙏


__ADS_2