
Bulan pun berganti, kandungan Difia memasuki usia tujuh bulan, tubuh fan perut Difia pum berubah total, badannya naik drastis, membuat Difia insecur.
"sayang badan aku gede banget" Difia mengeluh pada suaminya, mulutnya manyun, sambil diam di depan kaca. Difia meneliti bentuk tubuhnya, yang tak seperti dulu.
"gak apa-apa sayang, kamu makin cantik, berisi" Defano menghibur istrinya, karena menurutnya mau seperti apapun Difia, dia sangat menyayanginya, Defano tak memikirkan apapun.
"tapi aku jadi gak pede, baju-baju semuanya udah gak muat" Difia terus berkeluh kesah pada Defano, Defano yang ada di dekatnya pun langsung memeluk Difia, dia gak mau Difia banyak fikiran.
"udah ah, Difia istriku yang solehah, kamu tetep istriku paling cantik, nanti setelah dedenya keluar kita bisa perawatan lagi, nanti pasti tambah cantik, sekarang harus semangat karena sebentar lagi dede mau keluar, dede pasti gak mau liat mam cantiknya sedih,"
"Makasih ya mas" kata Difia sambil memeluk Defano, Defano mengusap rambut Difia dan mengecup kepalanya dengan sayang, Difia memejamkan matanya, dia sangat menikmati momen seperti itu.
"justru disini mas yang terimakasih, karena sayangnya mas mau hamil anak mas diusia masih muda, jarang lo yang mau, makasih udah ikhlas ya sayang" mereka pun saling memeluk satu sama lain ya, saling mengungkapkan rasa mereka masing-masing.
hari-haripun berlalu, mereka menanti si kecil dengan bahagia.
"mas kayaknya enak ya makan cimol yang pedas"
"boleh sayang, mau sekarang?"
"iya mas, mas mau beliin?"
"boleh, emang dimana?"
"itu mas tadi liat di tv"
Defano menggaruk-garuk kepalanya walaupun gak gatal.
"gimana mas?"
"sayangku yang solehah, terus mas belinya dimana?"
"tadi sih liputannya di garut, itu mas sama cipak koceak"
"apaan lagi itu sayang?"
"gak tau, coba mas cariin ya?"
"ya..mas coba cari ya"
"ya mas, makasih"
Defano pun mulai berfikir harus darimana mencari makanan itu, dia bingung dengan namanya juga, belum pernah melihat dan memakanya. Akhirnya dia searching, dan mencari di aplikasi.
"apa bener ini makanan, ko merah banget ya, semoga aja anaku baik-baik aja"
Defano pun segera memesannya, walaupun agak jauh tempatnya dia rela, yang penting Difia senang dan anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
Difia menunggu makanan yang dia inginkan dengan sabar.
"Nak..semoga papa beliin makanan yang kamu mau ya, lagian kamu aneh-aneh, mama juga agak serem liatnya, tapi ko mau gitu, smoga aja ada ya, seperti apapun itu hasilnya, kita harus hargain usaha papa ya nak" Difia terus mengajak ngobrol anaknya,juga menasehati anak yang belum keluar itu, dia tak ingin anaknya terlalu menginginkan sesuatu diluar batas dan selalu menghargai usaha papanya.
Tak lama kemudian Defano mengetuk pintu
"tok..tok..tok..sayang buka pintunya"
"iya sayang sabar ya, gimana dapat gak? Difia dengan tak sabar langsung bertanya pada suaminya tentang pesanannya.
" nih dapet, tapi seadanya gak apa-apa kan?" Defano memperlihatkan kantong kresek yang dibawanya.
"makasih sayang" Difia pun segera membawa pesanannya dengan senang, dia menyiapkan piring dan minuman.
Difia menyiapkanya diatas piring, Defano terus memperhatikan Difia, dia tak ingin Difia kenapa-napa. Difia pun mulai menyantapnya, satu suap mulai masuk ke mulutnya, tak terlihat pedas sama sekali, Difia terus melahapnya,Defano hanya menelan ludahnya, ngeri melihat makanan yang pedas dan merah itu.
"gimana sayang, enak?" kata Defano sambil memperhatikan Difia, takutnya mules atau apa setelah makan makanan yang pedas itu.
"gak mas, enak malah kalo deket pengen beli lagi, tapi untuk sekarang mah cukup segitu juga" kata Difia tanpa memperlihatkan rasa pedas sama sekali
"yakin sayang?"
"iya mas"
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, Difia begitu sibuk dengan perutnya yang mulas.
"sabar ya"
Difia terus berjalan-jalan sesuai instruksi dokter, sambil sesekali istirahat.
"maaaaas udah gak kuat"
"dokter" Defano reflek berteriak, padahal tombol dekat ranjang tinggal pencet. Mau gak mau di ruangan itu begitu gaduh, Defano yang baru pertama kali melihat yang lahiran merasa gugup dan takut.
"tahan ibu ya,nanti kalo ada ajakan mengejan, ibu ikutin ya" Difia mengikuti instruksi dokter dan keluarlah bayi itu dengan selamat.
Defano terkesima, dia senang sekali, akhirnya keluarga mereka lengkaplah. Mereka semua pun bahagia.
Difia tersenyum bahagia, melihat anak mereka lahir dengan selamat.
"sayang selamat ya" kata Defano sambil memeluk dan mengecup kening Difia, dia terus melakukanya, seolah tak ingin melepaskan Difia sedikitpun.
"iya sayang, boleh gak liat dede nya" sahut Difia dalam pelukan Defano, Difia ingin sekali segera memeluk bayi mereka.
"boleh sayang, anak kita cantik seperti kamu lo" kata Defano sambil segera menyerahkan bayi nya ke gendongan Difia, Defano menoel-noel pipi bayi mereka, saking gemesnya.
"uh gemes" Defano terus memandangnya.
__ADS_1
"semoga jadi anak yang solehah ya mas"
"amiin."
Mereka terus memandang bayi mereka, rona bahagia terpancar darinya.
"mas udah dikasih nama belum?"
"udah mas siapin sayang" ternyata Defano diam-diam telah menyiapkan nama untuk anak mereka tersebut.
"namanya adalah Defania Rizqia"
"cantik mas namanya" Difia menyambut gembira nama anak mereka.
"ya sayang semoga dia tumbuh seperti namanya."
"amiin."
"Mas kapan pulang?" Difia tampaknya sudah tak betah di Rumah sakit, dia sudah ingin pulang ke rumah.
"Nanti mas tanyain ya" Defano mengerti keadaan Difia, rumah sakit memang bukan tempat yang nyaman untuk istirahat berlama-lama.
"iya mas,cepet tanyain gih, gak enak disini lama-lama" Difia antusias dengan perkataan Defano.
"ya sudah bentar ya"
" iya mas"
Defano pun memencet tombol yang menghubungkannya ke dokter, setelah beberapa menit, datanglah dokter keruangan Difia.
Dokter langsung memeriksa Difia.
"pak gimana keadaan istri saya, apakah bisa secepatnya pulang dari sini?" Defano langsung bertanya kepada dokter
"untuk saat ini alhamdulilah pasien sudah sangat setabil, jadi bisa pulang secepatnya, silahkan anda bisa langsung menemui ke bagian administrasi dan bisa segera pulang ke rumah"
"baik dokter trimakasih" Defano pun segera mengurus kepulangan Difia dari rumah sakit beserta anak mereka, Difia termat senang, ibu dan nenek juga bahagia, mereka pun segera bersiap untuk pulang, semua baju dan keperluan yang lain mereka bereskan, sambil menunggu Defano.
Tak lama kemudian Defano pu n datang, mereka segera pulang ke rumah.
Saat sampe rumah, ibu dan nenek sudah berada di depan menyambut kedatangan baby D, riasan warna warni khas bayi begitu meriah terpampang di bagian depan rumah
" hai sayang, selamat datang di rumah, masya Allah cantik banget cucu nenek"
" makasih nenek, kita pulang" Difia menirukan suara anak kecil, mereka tertawa bahagia.
udah beres ya season yang ini, besok lanjut season berikutnya
__ADS_1