Cinta Difia

Cinta Difia
expart 1


__ADS_3

Defano dan Difia kembali ke kota setelah menikah, Ibu Difia tak mau ikut, beliau hanya akan sesekali ke kota untuk menjenguk Difia dan Defano.


Walaupun begitu, Difia selalu menelpon ibunya, hanya untuk menanyakan kabar atau becengkrama antara Ibu dan anak.


Awalnya Difia berniat ikut program kb, tapi Defano selalu merayunya untuk segera punya momongan, Defano selalu beralasan umurnya sudah cukup untuk punya anak, dan rumah sepi tanpa anak.


"yang...udah positif belum?" Kata Defano ke Difia di sela-sela santai mereka.


"gak tau." jawab Difia.


"udah periksa lagi belum?"


"belum"


"ih sayang, gemes ih"


"iya nanti diperiksa"


"sekarang aja ya"


"lagi mager"


"yaudah nanti, awas jangan sampe lupa"


"iya"


Walaupun Defano semakin sibuk, namun Defano selalu menyempatkan waktu untuk bersama dengan istrinya, dia tak mau melewatkan moment yang dia anggap sangat berharga itu.


"Yang aku kerja dulu sebentar ya, nanti kita ngobrol lagi"


"iya sayangku yang posesif"


"he. he.."


Begitulah keseharian mereka, selalu romantik dan bahagia, kesibukan masing-masing tindqk membuat mereka jauh, apalagi mereka masih pengantin baru.


Sore pun tiba, Defano segera bersiap-siap untuk mengecek keadaabmn istrinya.


"Yang hayu"


"iya"


Akhir-akhir ini Difia memang terkesan lebih malas melakukan kegiatanya, suka ngemil dan keliahatan elmas, Defano berharap itu salah satu ciri-ciri kehamilan, karena menurut apa yang dia baca, bahwa Ibu hamil hormonya selalu berubah-ubah, dan dia berharap itu terjadi pada Difia.


"Yang kita ke klinik terdekat aja ya, kamu keliahatanya lemes banget"


"iya ya kenapa akhir-akhir ini lemes banget, padahal makan udah banyak"


"itu kenapa atuh"


"kalo aku sakit gimana ya?" kata Difia.


"ya diobatilah, kamu tenang aja, mas akan selalu ada untukmu"


"uh so sweet"


"he.."


Defano selalu membuat Difia tersenyum, karena sikapnya yang selalu berusaha menyenangkan istrinya itu, Difia semakin menyayangi Defano.


Defano segera menuju klinik terdekat, tanganya sebelah kanan memegang setir mobil dan sebelah kiri tak pernah melepaskan tanganya dari Difia, entah itu memegang atau mengusap-usap rambut Difia. Defano sangat menyukai kegiatan itu.


"udah sampe yang" Defano mengingatkan Difia yang ketiduran di mobil, padahal jarak yang ditempuh gak terlalu jauh."

__ADS_1


"alhamdulillah" Difia mencoba membuka matanya.


"ngantuk banget sayang" kata Defano sambil mencium kening Difia dan membuka seat beltnya.


"iya, gampang banget tidur akhir-akhir ini" Difia mengeluh.


"gak apa-apa sayang, mungkin kamu lelah, yaudah hayu" Defano memapah Difia yang baru bangun dari tidur nya, dan merapihkan rambut Difia karena agak berantakan.


"makasih sayang, kamu baik banget" Difia merasa terharu dengan perlakuan Defano.


"iya sama-sama"


Merekapun segera berjalan menuju klinik, disana ada beberapa pasien yang menunggu giliran, tapi karena Defano sudah memesan terlebih dahulu, maka Defano bisa langsung masuk ke ruangan dokter tersebut.


"Assalamualaikum dok"


"Waalaikumsalam pak, ini istrinya ya? selamat atas pernikahanya ya pak"


"terimakasih dok"


"iya ini Istri saya, saya mau periksa Istri saya pak" kata Defano


" Silahkan berbaring Ibu Defano"


Difia pun mengikuti instruksi dokter, dokter segera memeriksa Difia, setelah memeriksa denyut jantung, dokter segera mengambil jel.


"boleh baju nya diangkat sebentar bu?"


Defano yang menjawab


"buat apa dok?"


"saya mau periksa perutnya"


melihat itu dokter segera mengoleskan jel dan menyimpan alat diatasnya, dokter menggeser-geser alat itu.


"pak buk bisa dilihat bulatan ini?" Dokter menunjukan satu gambar kecil di layar.


"itu apa dok?, saya gak kenapa-kenapa kan dok?" Difia merasa ketakutan.


"itu adalah calon pak Defano junior"


Defano awalnya diam, dia seperti kurang faham, tak menyangka.


"apa dok?"


"selamat ya pak, Ibu sekarang sedang mengandung, usianya baru 3 minggu"


tiba-tiba air matanya keluar, senyum di bibir Defano mulai merekah.


"Sayang, sebentar lagi kita jadi orang tua, selamat ya"


akhirnya tanpa berkata-kata Defano langsung memeluk erat Difia.


"Alhamdulillah.. akhirnya, makasih sayang"


"aku yang makasih, kamu bersedia mengandung anaku, walaupun kamu masih kuliah".


" iya sayang"


Defano dan Difia saling mengungkapkan sayang mereka, dokter yang melihat hanya tersenyum, karena sudah terbiasa melihat pasangan yang bahagia saat akan mendapatkan momongan.


"sekarang kamu harus hati-hati ya sayang, jangan kecapean, gak përlu ke kampus kalo perlu" Defano mulai posesif ke pada Difia.

__ADS_1


"sayang aku hamil Bujan sakit ok, jadi jangan terlalu lebay" Difia merasa keberatan dengan aturan baru suami


" gak sayang, aku cuma ingin kamu dan bayi kita gak kecapean" Defano pun berusaha merayu Difia.


"kamu gak usah takut, ini anaku juga kan, jadi aku pasti menjaganya sepenuh hati."


" tapi yang"


" udah tenang aja"


"janji ya hati-hati"


"iya"


"ehm..ehm.." dokter berusaha mengingatkan pasangan yang lagi kasmaran itu. Difia pun segera sadar dan agak malu dengan dokter tersebut.


"he .maaf dokter kami sangat bahagia sekali sampe lupa masih disini"


" saya turut bahagia, itu masih wajar ko bu"


"makasih pak"


Dokter pun mengangguk, setelah itu Defano segera membimbing istrinya untuk keluar dari ruangan tersebut, mereka akan segera pulang, sesuai keinginan Defano supaya Difia banyak istirahat.


Difia sebenarnya ingin jalan-jalan dulu, tapi Defano melarangnya. Alhasil Difia memanyunkan bibirnya.


"udah jangan cemberut" Defano segera menghibur


"gak ko" jawab Difia sambil cemberut


"udah ketauan kali" Defano menggoda Difia sambil tersenyum mesem.


"uh" Difia merasa gondok hatinya, tapi dia senang suaminya sangat perhatian denganya.


" gemes ih, sama bumil cantik ini" kata Defano sambil menoel pipinya Difia.


"tau ah" Difia langsung merona digoda oleh Defano.


mereka terus saling menggoda di perjalanan menuju rumah. Mereka sangat bahagia, terpancar kebahagiaan dari keduanya.


"sayang kita temui nenëk yuk" Defano mengajak Difia ke nek Mirna.


"iya sayang, kita harus memberikan kabar baik ini pada nenek, minta do'anya supaya semuanya lancar"


"amiin"


Mereka pun segera berjalan ke kamar nenek Mirna, tangan Defano tak pernah lepas dari Difia. Defano sangat menjaga Difia, membuat Difia merasa terlindungi dan bahagia.


"Assalamualaikum nek." Defano membuka kamar nenek Mirna. Terlihat nenek Mirna sedang istirahat di kamarnya. Nenek Mirna pun membuka matanya dan segera duduk di kasurnya. Dia tersenyum melihat Difia dan Defano ada di kamarnya.


Difia pun menghampiri nenek, menengok sebentar ne Defano, setelah melihat Defano mengangguk, Difia pun melanjutkan niatnya ke nenek. Difia mengambil tangan nenek dan mengusapkan pada perutnya yang masih rata.


"nek, disini nanti ada cicit nenek, bayi kecil yang lucu, nanti kita bisa maen denganya."


"bayi?" kata nenek Mirna.


"iya nek, selamat ya nek, nenek akan punya cicit, semoga nenek çepat sembuh, biar kita bisa maen dengan cicit nenek"


Difia berbicara lemah lembut sambil memeluk nenek, nenek pun mengangguk dan menitikan air matanya.


"Nenek bahagia kan?" Difia bertanya pada nenek.


"iya" kata nenek sambil tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2