
Acara pertandingan antar sekolah pun diadakan, Defa manjadi salah seorang yang ditunggu-tunggu, kabar dirinya seorang yang hebat dalam dunia oer poli an cepat menyebar, Defa segera menuju lokasi timnya berkumpul, dua pun sudah memakai seragamnya.
"hai Defa, lo jangan sampe ngecewain kita ya" kata teman satu timnya.
"heum" Defa tak mau menanggapinya.
Permainan pun dimulai, Defa seperti biasa menjadi pemain cadangan yang dinantikan kehadirnya.
Pergantian pemain pun dilakukan, sorak sorai penonton terus bergema, teman-teman dari satu sekolah pun banyak yang datang, mereka semua mensuport Defa untuk tampil.
Pertandingan semakin seru, Defa sudah memasukan beberapa bola, tapi hasilnya masih gak terlalu jauh, Defa seakan ingin segera mengakhiri pertandinganya, dia berusaha sebisa mungkin untuk melampaui poin lawan, tapi karena semua jago, permainan pun tambah alot, keringat Defa sudah keluar dimna-mana, bajunya basah.
Permainan di istirahatkan sebentar, Defa pun istirahat dan minum, dia hanya memperhatikan instruksi dari pelatih dan semangat dari guru olahraga yang ikut mensudukung tim sekolah.
Marsel tanpa di duga datang ke tempat Defa istirahat bersama yang lain. Dia membawakan minuman dan handuk untuk Defa. Teman-teman satu tim pun bisik-bisik, Marsel dan Defa tidak peduli.
"cape ya" Marsel ingin sekali mendekat dan melap keringat yang membasahi jidat Defa.
"gak ko" Defa tak terlalu menggubris perhatian Marsel.
__ADS_1
"sini gue lapin" Marsel menggoda Defa
" gue bisa sendiri"
" ni minumnya"
"udah kenyang" Defa tak mau memberi harapan palsu, dia sebisa mungkin menolak siapapun yang mau mendekatinya.
Marsel merasa gondok hatinya, dia gemas sekali tapi sayang Defa harus main lagi, jadinya dia tahan sampai waktunya nanti.
Permainan pun selesai Defa bersyukur timnya menang, guru-guru yang ikut pun turut bahagia dengan kemenangan sekolah mereka.
Defa pum segera keluar dari lapangan bersama papanya, ternyata Defano gak sendiri, diluar Difia juga sedang menunggu sambil membawa buket bunga untuk Difia.
"Selamat ya sayang, anak mama hebat ya" Difia segera menyambut Defa dan memeluk juga menciumnya, Marsel dari kejauhan hanya bisa melihatnya saja, dia ingin sekali bergabung, tapi itu hanya akan membuat citranya jelek dimana papa Defa.
"Defa..Defa..kapan kita ketemu lagi" Defano galau sendiri, dia harus segera merencanakan cara untuk mendekati Defa.
"Marsel..lo kemana aja, gue cari-cari lo gak ada?ternyata disini ya, kenapa gak ajak-ajak kita" Fino mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"gue curiga lo lagi incer si Defa ya"
"tapi emang Defa cantik, gue juga mau kalo dia mau" kata Fino sambil mebayangkan Defa dalam fikiranya.
"gue duluan ya" Marsel ijin pergi dari sana. Dia ingin segera melihat Defa lagi walaupun dari kejauhan.
"ih lo makin gak jelas lo, gimana ini Tian" Fino merasa penasaran dengan sikap Marsel.
"ah lo tenang aja kali, ntar juga balik lagi, dia kan emang suka begitu. Tian berusaha menenangkan Fino, dia memang seorang yang pintar mengatur emosi dan tak mudah diprovokasi.
" terus kita mau ngapain disini, yuk ah cepet, ngapain disini gak jelas banget. Fino langsung mengajak Tian keluar dari tribun penonton
" kita kemana dulu?" Tian diam sebentar menunggu keputusan Fino
"ke bascame aja yu" Fino melangkahkan kakinya menuju ke tempat mereka berkumpul.
"Marsel sekarang kemana lagi dia, akhir-akhir ini dia jarang ke bascamp, kayaknya dia sibuk banget ya, tingkahnya bikin kita penasaran aja." Tian mulai memikirkan Marsel lagi.
"smoga saja dia tak melakukan yang aneh-aneh, ntar kita lagi yang dipanggil orang tuanya" Fino membayangkan kenangan masa lalu mereka.
__ADS_1
Sementara Marsel berusaha mencari Defa, tapi karena jalanan padat, diapun kehilangan jejak Defa dari sana.