
"Pak turunin ih malu." Difia protes karena Defano memangkunya ke atas.
"iya maaf, saya seneng banget Difia kamu mau terima saya." Defano bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum, tak sia-sia rasanya dia menunggu Difia dan bersabar untuk memperjuangkanya, kini Difia sudah menerimanya.
Defano bahagia sekali
"Alhamdulillah..." defano berteriak..hingga yang lain sempat melirik mereka berdua, tapi Defano tak mengindahkan orang lain, dia hanya fokus dengan Difia.
Rasanya banyak bunga berterbangan disekitar mereka, pipi Difia panas, ada semburat kemerahan di pipinya. Defano menyukai hal itu, dia terus menatap mereka, ingin rasanya merengkuh Difia dalam pelukanya, tapi Defano menjaga diri supaya Difia tak takut dengan dirinya.
"pak..jangan menatap saya terus...saya malu."ujar Difia.
Muka Difia semakin memerah, dia tak kuasa menahan perasaanya, saat bertatapan mata dengan Defano, Difia langsung menunduk sambil tersenyum-senyum, tak lama kemudian mereka menegakan kepala mereka dan tertawa lagi.
Begitu bahagia hari itu, seandainya bisa berharap, Defano ingin menghentikan waktu supaya kebahagiaan mereka tak pernah selesai.
Lama mereka dalam keadaan itu, waktu seakan tak terasa hingga suara adzan terdengar di mesjid menyadarkan mereka.
"Astagfirullah pak..saya telat." Difia cepat-cepat ingin pergi, dia tak enak hati pada ibu warung yang sudah berbaik hati mengijinkanya untuk kerja agak telat, ini malah kebablasan, Difia takut ibu warung marah, atau dirinya dipecat, sedangkan mencari kerja itu tak mudah.
"Maaf ya pak saya tinggal duluan" Sambil segera berlari meninggalkan Defano, Defano bergerak cepat menyusul Difia, dia mengerti keadaan Difia.
"Difia tunggu, ayo mas antar"
"gak usah pak deket ko" Difia tak mengindahkan Defano.
"Difia mas bawa mobil, kita akan lebih cepat sampai." kata Defano sambil setengah berlari menyusul Difia, setelah bisa mensejajarkan diri Defano langsung menyambar tangan Difia, memegangnya dengan erat.
"tenanglah..ada mas disini." Defano berusaha menenangkan Difia"
Difia menarik nafas dalam-dalam, setelah itu lama-lama dia mulai ngeh dengan kata-kata Defano
"maksud bapak apa ya bilang mas-mas segala?"
Difia merasa jadi bodoh.
"jadi mulai sekarang, Difia panggil mas ya sama saya jangan bapak." kata Defano
"blush pipi Difia memerah, seakan waktu berhenti tiba-tiba" Difia sangat kaget dengan hal itu, sangat cepat dan begitu cepat.
"hem...pak apa gak apa-apa."kata Difia
"saya lebih senang dengan panggilan itu."
"I..iya pak" sahut Difia dengan canggung
__ADS_1
"hayo katanya takut telat" ajak Defano
"he .." Difia sangat senang hari itu.
Mereka berjalan beriringan ke parkiran dan segera menuju tempat kerja Difia.
"Assalamualaikum bu, maaf telat."
"Waalaikumsalam, iya gak apa-apa asal jangan keseringan aja, ibu keteter kalo sendirian.
"iya ibuuuuu yang baik hati dan cantik sekali..Difia gak akan telat lagi"jawab Difia sambil terus memamerkan deretan giginya yang berbaris rapih.
Senyum ceria tak lepas dari bibirnya, disampingnya Defano membantu Difia, tak ada rasa lelah yang iya rasakan, cintanya bersambut membuat dia lupa akan segalanya.
"Ya Allah roman-roman nya ada yang lagi bahagia nih" kata ibu kepada Difia.
"ih ibu, biasa aja ko." kata Difia malu-malu.
"wah dagangan ibu kayaknya bakal tambah laris. manis kalo Difia bahagia gitu."
"amiin."kata Difia.
"pak..sebaiknya bapak makan dulu, ini saya siapin"
"Difia...bilang mas."
"heum." Defano segera makan makanan yang disediakan Difia yaitu pecel lele yang tiba-tiba jadi salah satu makanan kesukaannya.
"setelah ini mas segera pulang ya, istirahat, biar besok badanya segar lagi."
"makasih atas perhatianya sayang." Defano tak kuat untuk mengungkapkan rasa sayangnya ke Difia, degdegser....hati Difia dibuatnya.
"kamu juga baik-baik ya kerjanya, jangan keganjenan sama laki-laki"Defano mulai posesif, dia memang tidak suka Difia dekat dengan laki-laki lain.
"ih siapa yang keganjenan, orang kalo jualan dieum aja ntar pada takut atuh." Difia memberikan alasan sambil memutar bolanya malas." hadeuh kenapa jadi begini ya.
"gak ada alasan, pokonya gak boleh." Defano tak mau dibantah.
"iya..iya..cepet pulang gih." Difia mulai kesel
"ngusir ya?" Defano merasa tersinggung dengan ucapan Difia.
"em..em..bukan ngusir tapi mas kan belum istirahat, sebaiknya segera istirahat, kasian nenek juga."
"makasih ya." kata Defano.
__ADS_1
"atas?" Difia bingung
"sudah perhatian sama nenek." kata Defano
"yaudah mas pergi ya, ingat pesan mas." Defano mengulang kata-katanya.
"iya..iya.." kata Difia sambil sibuk melayani pembeli
"daah."
Difia tersenyum sambil melihat kepergian Defano.
"cie...cie..yang lagi jatuh cinta, berasa dunia milik berdua, yang lain mah ngontrak we..."
"siapa yang jatuh cinta, ibu mah ngarang." kata Difia, blush pipinya merah.
"itu pipinya merah." kata ibu
"iiih ibu...." kata Difia sambil manyun
🐻🐻🐻
Defano pulang dengan bahagia, hatinya berbunga-bunga, senyum terus sepanjang jalan, hingga pas bertemu scurity komplek pun dia mengangguk dan senyum, security-nya melongo dibuatnya.
"Do itukan pengisi rumah yang di tengah ya?" kata security yang namanya juned.
"ada apa ya tumben mau senyum ke kita." kata security namanya Dodo.
"rada serem ya, biasanya kan lurus-lurus aja ke kita, gak pernah nganggep kita ada, seumur-umur baru hari ini ya dia senyum, ada apa ya?"kata Juned
"kepo kamu"
"habisnya aneh, tiap dia joging pasti ketemu sama kita, tapi dia cuek-cuek aja, kalo ditanya cuma ngelirik aja, nah sekarang ih.."
"biarin aja mungkin dia mau tobat kali,udah ah ngomongin orang mulu"
iya-iya.
"Assalamualaikum nek." kata Defano dari luar, sambil mencari neneknya di dalam, ternyata neneknya di kamar sedang tidur. Defano langsung duduk dipinggir ranjang, tanganya memeluk tangan nenek dan mengusap-mengusapnya.
"Nek maaf ya Defano baru pulang, makasih atas do'anya, sekarang Defano bahagiaaaa sekali, akhirnya Difia mau menerima fano."
Defano melihat nenek yang tertidur nyenyak
"Besok kita ke Difia ya pagi-pagi, nenek pasti senang, yaudah met tidur nek." kata Defano
__ADS_1
Defano segera pergi ke kamarnya, dia bersih-bersih dan mengganti pakainya dengan pakaian santai dirumah, kaos dan celana 3/4 jadi andalannya, dia mengecek hp nya, ingin menghubungi Difia, tapi nomonrnya gak punya, dia mulai gelisah, mencoba membaringkan badanya, tapi ingatannya Difia terus, badanya gulang guling tapi matanya malah melek, tak bisa tidur.
"ah bodo amat, mau Difia marah atau nggak terserah, sekarang harus minta nomornya ke Difia." gumam Defano. Segera saja Defano mengambil jaket dan berangkat menemui Difia, walaupun terlihat sedikit bodoh Defano gak perduli yang ada di ingatannya hanya Difia.