
Defa dan Marsel sampai di taman, mereka hanya diam tanpa kata, tak ada yang mau memulai pembicaraan.
Defa merasa jenuh dengan keadaan mereka, akhirnya memulai obrolan mereka.
"Marsel gimana kabar kamu, udah beres semua urusannya?" Marsel yang ditanya seperti itu hatinya mengembang sempurna, bahkan kalo terlihat hampir meledak sepertinya, dia merasa diperhatikan oleh Defa.
"untuk kabar alhamdulillah baik, sedangkan untuk urusan yang lain sadang diusahakan, do'akan saja semuanya kembali seperti biasanya" Marsel menjawab dengan sungguh-sungguh.
"amiin, semoga saja" Jawab Defa, adeum hati Marsel mendengar jawaban dari Defa tersebut, dirinya semakin bersemangat setelah bertemu dengan Defa, padahal hanya ngobrol hal yang sangat biasa.
Defa membuka bekalnya, di dalamnya ada beberapa shusi yang mamanya sudah siapkan dari pagi, Defa menyimpannya di depan mereka berdua dua, dia juga meletakan tempat minum yang ternyata satu set dengan tempat makan nya.
Marsel tak membawa apa-apa dia hanya kangen yang sangat pada Defa, tak terfikir kan untuk membawa apapun tadi saat menemui Defa.
"yuk makan aja, udah waktunya juga kan?" ajak Defa padi Marsel.
Marsel hanya diam, belum pernah sebelumnya dia makan bersama seorang wanita, dia gugup sekali saat itu, sedangkan Defa bersikap bisa saja.
Tanpa disangka Marsel ternyata mau makan bersamanya, awalnya Defa kaget karena dikira Marsel takan mau, tapi ternyata Marsel malah makan berdua bersamanya.
Marsel merasa bahagia bertubi-tubi, andai dia bisa menghentikan waktu makan saat itulah dia akan memintanya.
Makanan yang Defa bawa habis tak tersisa hanya dalam hitungan menit, Marsel sengaja makan lebih, dia berharap mendapat energi yang berlipat ganda untuk mang hadapi masalah di depannya.
Waktu masih tersisa, Defa langsung membaca buku di depan Marsel, karena tak ada pembicaraan lain lagi yang mereka bicarakan.
Mereka diam membisu, Marsel menemani Defa sampai bel tanda istirahat telah selesai.
Mereka kembali ke kelas masing-masing setelah sebelumnya Marsel mengantarkan Defa ke kelasnya.
__ADS_1
"Defa mungkin untuk beberapa saat gue bakalan kangen sama ko" kata Marsel seolah dia enggan untuk berpisah, tapi apalah daya mereka bukan siapa-siapa dan masih punya urusan masing-masing juga.
"gak apa-apa kita jalanin hidup kita aja, kita hadapin semuanya kita selesaikan dan kita pelajari apa yang belum kita tau" Defa berusaha bijak dalam menyikapi Marsel yang terlihat banyak sekali beban.
"Marsel hanya mengangguk tanda setuju, diapun pergi ke kelasnya lagi, meninggalkan Defa yang juga akan melanjutkan pelajarannya kembali.
" Defa lo darimana? dari tadi ko gak ketemu?" kata Fira saat Defa sampai di kelas.
"oh tadi gue habis dari taman, makan sekalian baca buku, nih lo barangkali mau baca juga" jawab Defa sambil menawarkan buku yang dia bawa dari tadi.
"ih mabok gue lihat buku, lo gak cape apa baca buku terus?" Kata Fira sambil menggendikan bahunya, dia malas sekali untuk membaca buku seperti Defa. Apalagi bukunya pelajaran, atau buku-buku yang menguras otaknya membuatnya negeri dan tak berminat sama sekali, kecuali buku-buku novel percintaan atau komik-komik sederhana yang dia mau baca.
"tadi lo kan nanya, kalo mau baca masih banyak lo di rumah gue, gratis kalo lo mau pinjam" kata Defa malah mempromosikan buku-buku yang dia miliki.
"uuuh ogah ah males" jawab Fira
Waktu pulang sekolah pun tiba, ternyata di depan kelas sudah ada Marsel menunggunya.
"he..hanya mau jalan bareng aja sampai depan" jawab Marsel.
"teman-teman lo ke mana? tumben sendiri?" ternyata Defa pada Marsel.
"sama mereka mah bebas setiap waktu, sama lo mah cuma waktu-waktu seperti ini kita ketemu" Marsel seolah tak terlalu memikirkan teman-teman nya, padahal memang itu keadaan yang sebenarnya, Fino dan Tian bisa bebas bertemu dengannya karena mereka memang bersahabat dari dulu.
"oh kirain" Defa malah menggoda Marsel.
"apaan? awas ya kalo kefikiran yang aneh-aneh" kata Marsel sambil tersenyum ke arah Defa.
"ih siapa yang aneh-aneh, fikiranya aja tuh" Defa malah menggoda Marsel lagi.
__ADS_1
Mereka berdua terus saling menggoda sepanjang perjalanan ke depan sekolah, seolah dunia hanya milik mereka yang lain mah ngontrak kayaknya.
Marsel dan Defa akhirnya sampai di depan sekolah, sedikit lagi menuju gerbang, terlihat wajah enggan mereka untuk berpisah tapi apa mau di kata waktu belum mau memberi mereka kesempatan, mereka pun berpisah, Defa naik ojol yang sudah dia pesan dan Marsel sudah ditunggu mobil menuju ke perusahaanya.
Marsel diam di mobil, dia hanya memperhatikan jalanan yang begitu ramai, banyak anak-anak yang baru pulang sekolah, pejalan kaki, pedagang asong dan pengemis yang diam di trotoar demi mengais rejeki.
"tuan muda silahkan anda pilih pakaian yang akan anda pakai saat ini" sang asisten membangunkan lamunannya, dia memang bertugas untuk menyiapkan segala keperluan Marsel.
Marsel pun melihatnya, dia hanya memandang pakaian yang dipilihkan untuknya di smartphone, karena pakaiannya nanti akan didatangkan langsung ke kantornya.
"gimana tuan muda, mau pilih yang mana?" sang asisten bertanya kembali padanya.
"pilihkan yang terbaik saja" jawab Marsel tanpa melihatnya.
Sang Asisten pun mengerti, dia tanpa bertanya lagi langsung memilihkan baju untuk sang tuan Muda, pewaris tahta dari perusahaan tempat dia bekerja.
Mobil yang Marsel tumpangi pun sampai di perusahaan, Marsel langsung disambut dan dibawa ke atas oleh sang asisten, di sana Marsel segera di dandani layaknya seorang pengusaha muda lainya.
Pakaian pilihan sang asisten adalah kemeja putih dengan tuxedo warna abu dipadukan dengan celana warna senada, disematkan sapu tangan merek ternama di dalam sakunya, sangat elegan dan berkelas, tidak lupa sepatu pantopel warna senada juga menambah aura kepemimpinannya keluar sempurna.
Acara dandan mendandani telah selesai, Marsel dipersilahkan untuk segera duduk di tempatnya, agak malas sebenarnya, Marsel mengikuti aturan perusahaan dengan pakaian dinas yang harus serba rapih, secara dia masih anak SMA, masih ingin bebas, tapi tak ada penawaran untuk nya, hanya mengikuti aturan perusahaan yang harus dia lakukan.
Di meja sudah menumpuk dokumen yang harus dikerjakan, semua pesanan yang dia pesan pun sudah ada di meja, laporan beberapa bulan lalu dan usaha-usaha kecil pendukung perusahaan yang belum dia ketahui juga sudah ada di dalam tumpukan berkas yang ada di depannya.
Marsel menghela nafas dalam-dalam, sungguh berat pekerjaan yang harus dia kerjakan hari itu, dia berharap semua masalah cepat teratasi, sehingga dia punya waktu lagi untuk main bersama teman-teman nya yang lain.
Merasakan manjadi siswa seperti yang lainya dan bertemu Defa adalah prioritas utama.
Diapun mulai bekerja, hingga larut malam pekerjaan itu belum berkurang juga, malah semakin menumpuk karena banyaknya laporan dari perusahaan-perusahaan kecil yang dia minta.
__ADS_1
Hingga pagi menjelang Marsel masih mengerjakan semuanya, karena terlalu lelah bekerja Marsel pun tertidur di mejanya.