
Setelah kejadian tadi saat istirahat, Marsel yang biasanya muncul waktu pulang sekolah, kali ini dia tak muncul Defa sempat menunggunya tapi Marsel sepertinya takkan datang, Defa juga sudah mencoba menghubunginya tapi tak diangkat oleh Marsel, Defa berusaha berfikiran positif bahwa Marsel mungkin sedang sibuk jadi tak bisa diganggu walau agak kefikiran juga karena tadi pergi tiba-tiba saat mereka sedang ngobrol berdua.
Defa pun segera memesan ojol dan segera pulang kerumah, sampai dirumah Defa biasa selalu mencari mamanya dulu di dapur, dia mencium tangan mamanya.
“Assalamualaikum ma”
“waalaikumsalam sayang, udah pulang ya?”
“udah ma, lagi masak ya?”
“iya nih, masak buat anak mama yang baru pulang sekolah, pasti lapar kan?”
“iya ma laper banget malah apalagi dengan harum masakan mama yang bikin perut Defa berisik”
“kamu itu bisa aja”
“tumben sendirian, mana Marsel?” mamanya malah bertanya tentang Marsel jadi mengingatkannya tentang momen tadi saat dia terakhir bertemu Marsel.
“kenapa nak, lagi marahan ya?” Tanya Difia pada anaknya yang terlihat diam itu.
“gak ko ma, kayaknya dia lagi sibuk aja, biarin aja nanti juga ketemu lagi” jawab Defa dengan enteng.
“yaudah klo gitu, marahan jangan lama-lama ya gak baik”
“ih mama orang kita gak kenapa-napa ko” jawab Defa dengan rona merah dipipinya. Melihat itu Difia jadi senyum- senyum menggoda Defa, Defa pun segera pamit untuk mengganti bajunya dan bersihin badan.
“yaudah gak papa ko biasa ya, jangan lama-lama di kamarnya ya, cepet makan biar anak mama ini sehat terus”
“iya ma” jawab Defa sambil berlalu meninggalkan Difia di dapurnya.
Defa segera mengganti bajunya dia memang tak suka memakai baju seragam lama-lama, menurutnya kurang nyaman dan gerah, dia juga selalu langsung mandi kalo pulang sekolah. Saat dia akan berganti pakaian Defa
teringat lagi dengan Marsel.
__ADS_1
“kenapa dia ya, apa gue salah ngomong, tapi bener kan kalo jodoh mmah gakkan kemana” gumamnya pada dirinya sendiri, dia segera menyelesaikan acara dikamar, diapun mengecek hape nya dan mencari-cari barangkali ada pesan dari Marsel untuknya tapi ternyata memang tak ada, diapun menaruh hapenya lagi, untuk sekarang dia tak mau ambil pusing dulu, diapun segera menuju ruang makan dan ternyata disana mama tercintanya sedang
menunggunya.
“tumben lama nak, emang gak lapar ya?” Tanya Difia yang terlihat memperhatikan Defa dengan seksama.
“gak ko ma, biasa aja”
“yakin?”
“yakin dong ma, emang kenapa gitu, orang Defa biasa aja”
“yaudah gak papa ko, makan yang banyak ya”
“iya mamaku yang cantik” mereka pun segera mengambil makanan yang terhidang di meja dan akan segera melahapnya, tapi tiba-tiba datanglah Defano.
“papa pulang..”kata Defano dengan senyum sumringah.
“papa ko gak bilang-bilang kalo mau pulang”
“ya maksudnya biar mama siapin juga buat papa makanannya”
“emang habis gitu?”
“ya gak habis kan belum makan juga”
“yaudah papa ikut makan kalo begitu” Defano langsung duduk di bersama mereka, Difia menyempatkan waktu untuk menyimpan tas yang dibawa Defano dulu, setelah itu dia bergabung lagi untuk makan bersama.
Mereka makan dengan hidmat, Defa memang sering pulang walau masih jam kerja, dia menyempatkan diri untuk selalu bersama keluarganya, dia ingin bisa mengganti waktu-waktu kemarin saat dia sakit, dia tak mau jauh lagi
dari keluarganya itu, dia juga terlihat lebih ramah pada semuanya, sakit mengajarkan dia untuk bisa bersikap lebih baik lagi.
Defano memperhatikan istri dan anaknya, dia sedih jika teringat kemarin saat dia sakit, istri dan anaknya pasti sangat kesusahan dengan biaya dan keadaan yang menimpanya, walaupun mereka tidak miskin juga, tapi biaya rumah sakit yang mahal dan lamanya waktu dia sakit pasti membuat anak istrinya kewalahan.
__ADS_1
“papa bangga banget ma kalian, papa juga sayang banget ma kalian, kalian adalah harta berharga papa, jangan pernah tinggalkan papa ya” kata Defano saat dia duduk sebentar bersama anak istrinya.
“papa ini ngomong apa sih ko gitu” jawab Difia pada Defano yang sedang memeluknya erat seolah enggan untuk melepaskan lagi.
“kalian pasti kemarin melewati masa-masa terberatkan saat papa sakit, makasih ya udah terus bertahan” Jawab Defano sambil menerawang jauh kemasa-masa dia sakit kemarin
“udah jangan bahas itu lagi kalo membuat papa sedih, Alhamdulillah aja sekarang kita udah bahagia lagi, papa juga jaga kesehatanya biar gak sakit lagi”
“pasti dong, papa juga tak ingin jauh dari kalian, dan akan selalu berusaha dekat dengan para bidadari papa” jawab Defano sambil terus memeluk Difia. Defa yang melihatnya jadi merasa tak enak sendiri ada diantara
orang tuanya.
“ih papa dan mama pelukan terus, gak malu apa sama Defa”
“he…kamu juga bentar lagi merasakan hal yang sama sayang, tapi gak sekarang ya, nanti kalo sudah cukup umur”
“iya papa tenang aja” jawab Defa sambil pergi meninggalkan kedua orang tuanya, dia masuk kamarnya untuk istirahat. Kebiasaan yang dilakukan Defa jika memang taka da kegiatan lain diluar sekolah.
Dikamarnya Defa kembali teringat dengan Marsel, kemudian dia mengecek hapenya barangkali Marsel menghubunginya, tapi ternyata dia malah kecewa karena tak ada satupun notif dari Marsel untuknya.
Defa mengalihkan kegalauan hatinya dengan membaca buku, walaupun masih ingat tapi setidaknya agak teralihkan, dia membca buka sampai matanya tak kuasa menahan kantuk dan tidurlah Defa dengan buku di tangannya.
Ditempat lain Marsel masih merasa kesal dengan Defa, dia kecewa dengan jawaban Defa yang seolah-olah tak peduli padanya, padahal dia sudah sangat mencintai Defa, dia sudah susah-susah memikirkan Defa tapi Defa
seakan biasa saja dan tak terlalu terbebani dengan perginya dia keluar negeri.
Mersel terdiam, kemudian dia mulai mencari kampus yang sesuai dengan minatnya, dia harus membuktikan pada Defa bahwa dia serius dengan perkataanya.
Lama berkutat dengan pilihannya dia kembali teringat dengan Defa, tadi dia meninggalkanya sendiri dan belum menghubunginya lagi, apakah Defa merindukanya, Marsel pun mengecek hapenya ternyata tak ada satupun pesan
dari Defa, yang membuat Marsel semakin kecewa dibuatnya.
Sore hari Defa baru bangun dari tidurnya, matahari sudah tenggelam dan kamarnya sudah mulai gelap, Defa pun menyalakan lampunya supaya kamarnya kembali terang. Dia mengecek hape lagi, tapi masih kosong tak ada
__ADS_1
apapun, begitulah yang dilakukan Marsel dan Defa saling menunggu dan saling kecewa.
Pagi hari Defa berangkat sendiri, tidak biasanya Marsel tak datang kerumahnya, tapi Defa tak mau terlalu berfikiran jelek, dia langsung naik ojol langganannya. Defa pun sampai tapi dia tak bertemu Marsel di depan sekolah, biasanya Marsel kalo tak sempat menjemput suka menunggunya di depan gerbang sekolah, Defa agak kecewa tapi mau gimana lagi dia tak tau harus melakukan apa, hanya berharap tanpa melakukan apapun, dia langsung menuju kelasnya untuk belajar.