
Hari itu ada acara kejuaraan basket disekolah, tiap kelas mengirimkan wakilnya, semua kelas akan di pertandingkan selama seminggu dan nanti juaranya akan mewakili sekolah untuk bertanding di kejuaran antar sekolah.
Defa baru saja duduk di bangku, datanglah Fira menemaninya.
"Def lo mau nonton gak ntar?" Fira memandang Defa sembari menunggu jawaban.
"nonton apaan?" kata Defa
"ya ampun, jangan sampe lo gak tau ya kalo sekolah mengadakan pekan olahraga sekolah" Fira menggeleng-gelengkan kepalanya.
"owh itu tau gue, bukanya udah ada kan wakil kelas kita?"
"ada sih tapi pas-pasan banget gak ada cadangan"
"biarin ajalah" kata Defa sambil mengendikan bahunya.
"ya Allah Defa lo gak ada setia kawanya ya, ini demi kelas kita lo, setidaknya kita nonton atau nanti lo bisa bantu jadi cadangan" Fira membujuk Defa.
"males gue, enakan di perpus"
"plis Defa, ini demi kelas kita, kita nonton ya, ntar kalo udah beres acara, lo bisa nungguin tuh oerpus lagi" Fira menyatukan tanganya di depan dada sambil memohon-mohon pada Defa.
"lo apa-apaan sih, jijik gie liat lo kayak gitu" Defa gak suka dengan kelakuan Fira, tapi Fira terus berusaha membujuk Defa.
"ya...ya..ya..demi gue, demi teman-teman kita, mereka gak berani meminta pada lo, karena lo jarang berinteraksi sama mereka" Defa memutar bola matanya, ya..ntar gue ikut.
"beneran?"
"iya.."
"makasih ya Defa gue seneng banget" sebenarnya Defa jago basket tapi hanya untuk kesenanganya dirumah, dia tak mau terlalu bergaul kecuali baca buku di perpus.
Defa dan Fira menuju lapangan, disana sangat ramai dengan sorak sorai para penonton yang menyaksikan pertandingan.
"Defa sini yuk, kita duduk bareng anak-anak kelas kita" Defa hanya mengikut saja, dia tak terlalu peduli duduk dimanapun.
"Def lo udah siapin kan kaos olahraga nya?" fira memastikan
"udah, kenapa gak lo aja sih?" Defa malah bertanya balik.
"gue cuma bisa pegang bolanya doang he.." Fira cengar cengir sendiri.
__ADS_1
"huh dasar"Defa
" wah bagian kelas kita sekarang, melawan kelas sebelah" Fira semangat sekali
"wini lo gak usah takut, gue udah dapet pwmain cadangan buat kelas kita"
"yakin lo" Wini yang jadi pemain dari kelas penasaran
"hooh" jawab Fira
"siapa?"
"si cantik temen gue"
"Defa si kutu buku maksudnya" kata Wini.
"iya lo tenang aja" Fira sangat senang dan memberikan tos pada Wini.
Basketpun dimulai, mereka bersorak sorai apalagi saat masuk poin, semuanya berteriak dan membuat yel-yel untuk tim kelasnya. Permainan sangat alot karena ternyata mereka semua jago basket, teman-teman Fira mulai keteteran, akhirnya ditengah-tengah permainan Dita minta diganti karena sudah kecapean, Defa yang jadi cadangan pun segera berganti pakaian.
Rambut Defa yang biasa terurai dia ikat keatas, Defa pun turun kelapangan, mata laki-lDefa.semua terpana melihat Defa, kulit putih mulus bak porselen, leher jenjang, badan tinggi semampai seperti biola, suasana semakin riuh, suitan dan ungkapan cinta dari teriakan para laki-laki tertuju pada Defa.
Marsel dan teman-temanya yang sedang di ruang musik merasa terganggu dengan teriakan penonton.
"kesana yuk"
Marsel dan teman-temanya pun berangkat ke gedung olahraga sekolah mereka.
"wah rame banget, tuh cewek keren ya, liat tuh mana cantik, permainannya ok banget" Fino semangat melihat permainan basket yang sangat ramai oleh teriakan penonton.
"sel, kayaknya cewek itu gak asing ya" Tian menunjuk ke arah Defa. Marsel yang diajak bicara pun mengalihkan pandanganya, dia langsung mengenali Defa.
"dasar anak nakal, berani tebar pesona disini ya, awas nanti" Kata Marsel dalam hatinya, dia semakin tak suka melihat para lelaki yang terkagum-kagum dengan kecantikan dan kelihaian permainan Defa.
Defa terus mendribel bola kemudian mengecoh lawan dan memberikan bola ke temanya, tapi temannya mengembalikan lagi ke Defa saat Defa sudah hampir dekat keranjang dan blup bola masuk lagi, semua bersorak, Tian dan Fino pun heboh sendiri melihat, tapi beda dengan Marsel yang seakan kesal melihat banyak yang mulai suka pada Defa.
Pertandingan hari itupun selesai dan kelas Defa menjadi pemenangnya, maka kelas Defa akan berlanjut ke pertandingan selanjutnya. Fira berjingkrak kegirangan karena Defa ternyata hebat juga bermain basket, entah kejutan apalagi yang Defa simpan dan tidak dia ketahui.
Banyak handuk dan air minum yang disodorkan oleh para penonton laki-laki, tapi Defa sudah punya sendiri dia hanya acuh pada semua orang yang tampak mengaguminya.
"Defaaaa lo hebat banget sih, gue bangga banget jadi temen lo" Fira memeluk Defa yang penuh dengan keringat.
__ADS_1
"lebay lo, minggir ih gerah tau" Defa malah terlihat kesal dengan tingkah Fira.
"he..ya maaf, habis lo keren banget tadi"
"ya..ya..udah kan, sekarang gue mau pulang ok"
"yaa lo gak asik" Fira kecewa pada sikap Defa.
"gue gerah mau mandi" Defa memberi penjelasan.
"ok deh, besok kita bertanding melawan kelas 12 ok, semangat"
"ya" Defa dengan santainya segera keluar dari lapangan diikuti Fira, mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing.
Fira segera naik taksi menuju rumahnya, dia sedang ingin bersandar di kursi karena cape, tiba-tiba ada yang menyapanya.
"Lo seneng ya banyak yang suka sama lo?"
"apaan sih, kenapa lo ada di mobil gue?" Deda kesal baru aja mau melepas lelah, eeh ada yang ganggu.
"Lo akuin aja ya, lo senangkan banyak yang suka sama lo?" Marsel membentak Defa.
"sinting ni orang" Defa bergumam dalam hatinya.
"harusnya lo tadi gak ikut tanding, gak usah kecentilan" Marsel masih ngotot.
"hai...helloooo, lo siapa ya ngatur-ngatur gue, gue gak kenal lo, lo gak perlu ikut campur urusan gue, pak berhenti, sampe sini aja" Defa segera memberhentikan mobilnya, tapi tanganya segera dipegang Marsel.
"Lanjut aja pak" Marsel memerintah supir taksi.
"gila lo ya?" Defa semakin kesal dibuatnya, karena Marsel seenaknya mengatur dirinya.
"lo tuh maunya apa sih?" kata Defa dengan tatapan lurus kedepan.
"gue gak suka lo tebar pesona" kata Marsel.
"lo tenang aja, gue gakan nyaingin lo" jawab Defa
"Gue gak ngerasa disaingin, lo ga ada apa- apanya ma gue" Marsel berkilah.
"terus lo mau apa, pusing gue,udah cape ketemu lo, marah-marah gak jelas lagi, gak ngerti gue"
__ADS_1
Sesungguh nya Marsel pun tak mengerti perasaanya, dia hanya tak suka saja melihat banyak lelaki suka pada Defa, apalagi tadi ada yang terang-terangan mengajak Defa jadi pacarnya. Marsel pun hanya diam.
"pak kalo udah sampe bangunin ya" Defa membiarkan Marsel yang malah diam, diapun tertidur di kursi penumpang.