
"Cepet ah keburu sore" seolah ada kata yang tak enak dari Defa untuk Marsel, Jimin yang mendengarnya merasa tak enak hati, dia merasa Defa mulai cemburu pada Marsel.
"pacar kamu cemburu ya" Marsel memang bukan tipe orang berbasa-basi, dia akan langsung mengungkapkan apa yang dia rasa, menurutnya itu lebih baik tidak bertele-tele.
Defa diam saja, dia juga belum mengerti dengan perasaanya, karena untuk saat ini dia benar-benar tak ingin membahasnya.
Sementara hati kedua pemuda itu berkecamuk, tiba-tiba Defa berteriak "yee kita sampai juga disini" Defa merentangkan tanganya, dia teramat senang dengan pencapaianya itu.
Kedua pemuda yang mengikutinya saling berpandangan, mereka tak mengira dengan ekspresi Defa, karena sebelumnya Dafa kalem saja, sekarang dia terlihat bahagia.
"Pacar kamu bahagia disini ya?"
Marsel pun merasa ikut senang, kedua pemuda itu berusaha memberikan perhatianya pada Defa, walaupun Jimin sering dipelototin Marsel, tapi dia acuh saja, karena menurutnya Defa juga belum nikah jadi masih bisa mendekatinya, tapi bagi Marsel Defa adalah miliknya jadi dia akan segera memberi batasan pada Jimin, entah bagaimana caranya.
"kita duduk sebentar yuk, jam segini enak ya, gak terlalu panas, kayaknya kalo malam cantik banget disini"
"kamu mau pacar kalo kita kesini malam-malam?"
"mau sih tapi kayaknya gak baik juga, nantilah kalo sama suamiku aja, pasti gak akan ada yang marah"
"aku kan calon suamimu" Marsel langsung merasa diatas angin, dia merasa sudah jadi pilihan Defa,
"belum sah kali, masih banyak kemungkinan" Jimin menimpali.
"gakada kemungkinan apapun selain Defa itu calon istrinya Marsel"
"itu sih maunya lo, kan beda kalo maunya Tuhan"
"kalo gitu, gue akan minta sama Tuhan supaya Defa jadi jodoh gue"
Mereka terus berdebat, Defa yang disebelahnya merasa pusing dengan kelakuan kedua pemuda yang bersamanya itu,
"setop, bisa diam gak, anteng sebentar ya, kita nikmatin suasananya, jangan berebut terus, kita gak tau esok bagaimana, tapi kita nikmatin saja ok" Defa berusaha menengahi perdebatan yang ada.
Marsel dan Jimin pun diam, tapi Marsel berusaha memberikan kode dengan kepalan tangan pada Jimin, dia tak memberikan kesempatan sedikitpun pada Jimin untuk mendekati Defa.
Jimin yang melihatnya, hanya pura-pura gak tau, dia tak ingin berdebat lagi, mereka pun duduk diatas rumput dan melihat pemandangan di bawah yang sangat indah.
"pacar kamu udah berapa kali kesini?"
"emh baru dua kali tapi hanya sampai bawah aja, belum bisa sampai sini"
__ADS_1
"jadi ini pertama kali ya buatmu, buatku juga, waah kita jodoh mungkin ya" Marsel merasa puas dengan jawaban Defa"
"aku juga pertama kali kesini" Jimin ikut nimbrung, dia tak peduli dengan Marsel yang mempelototinya.
"gak ada yang ngundang lo ya"
"berarti kita berdtiga kuper dong ya he..."
Marsel dan Jimin saling menatap, mereka tak mengerti bahasa kuper maksud Defa.
"kuper apaan pacar?"
"kurang pergaulan he..."
"bisa jadi" kata mereka berdua, mereka pun tertawa bersama disana, Defa, Marsel dan Jimin pun diam dan menikmati suasana disana.
"Lain kali kita kesini lagi ya, tapi orang ini"
"boleh, nsnti kslo ada waktu luang lagi aja, sekalian kita bawa bekal aja, tadi kan gak perencanaan sama sekali"
"boleh juga idenya, gue juga mau" Jimin nimbrung lagi.
"gak bisa ya, ini acara kita berdua, lo acara kita berdua lo gak diajak" Marsel sewot dibuatnya.
"no..lo gak kan bisa bawa Defa, cari aja cewek lain" Marsel kesal dan menendang Jimin.
"aah kalian ini" Defa malah ikutan kesal dengan kelakuan kedua pemuda yang tak berhenti berdebat itu.
Defa berdiri dia mulai jalan-jalan disekitar bukit yang dia pijak itu, Marsel dan Jimin pun mengikuti Defa, seperti bebek dan anaknya yang terus beriringan, banyak yang berbisik disekitar mereka, karena mereka seolah melihat putri dan pangeran sedang jalan-jalan, mereka mengagumi kecantikan dan ketampanan ketiga mahluk yang ada dihadapan mereka, yang satu kebule-bulean, yang satunya lagi mirip artis korea dan yang satunya cantik seperti boneka hidup.
"wah...dibawah ternyata ada danau juga ya, cantik banget...." Defa berteriak kegirangan, dia membuat ekspresi yang begitu imut membuat yang melihatnya terpesona baik laki-laki dan perempuan, melihat itu mereka semua langsung melihat apa yang Defa lihat, tapi tak lama mereka melihat Defa lagi. Marsel yang melihat Defa jadi perhatian merasa cemburu, dia langsung menutupi Defa dengan badanya.
"kita kesana yuk" ajak Defa pada Marsel dan JImin.
"yuk" kata semua yang ada disana.
"kalian gak diajak ya" kata Marsel pada orang-orang yang ikut menyahut Defa.
"huuuh...."mereka semua menyoraki Marsel, tapi Marsel tak mempedulikannya. Defa, Marsel dan Jimin pun turun dari bukit itu, Defa bahagia sekali, tapi beda dengan perasaan kedua pemuda itu yang begitu gendek pada semuanya.
Tanpa dikomando, setelah Defa agak jauh ternyata orang-orang tadi mengikuti mereka, dari belakang, Mereka semua sekan tak puas dengan pemandangan yang ada, karena keberadaan ketiga mahluk itu lebih dari yang mereka lihat disana.
__ADS_1
Defa melihat jam tangan cantik yang ada dipergelangan tanganya, ternyata waktunya sudah sore dan tempat itu juga akan segera tutup.
"wah gimana nih, waktunya gak lama, bentar lagi tempatnya bakalan tutup" Defa meraasa kecewa, Marsel yang melihatnya merasa tak kuasa, dia tak ingin Defa kecewa, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk kebahagiaan Defa.
"kita bisa ko kesana tapi gak lama ya, karena waktunya juga udah mau gelap, entar mama dan papa marah lo anak gadisnya gak pulang-pulang"
"emang bisa kita kesana?" Defa langsung sumringah.
"bisa" Marsel langsung menjawabnya, dia gemas dengan ekspresi Defa yang jarang dia perlihatkan itu.
"sebentar ya" Marsel menemui petugas disana, berbicara sebentar dan langsung menemui Defa.
"yuk kita kesana" mereka pun segera menuju danau yang tadi terlihat dari atas.
Tak berapa lama mereka sampai kesana, karena Marsel meminjam kendaraan operasional supaya cepat sampai, Jimin tak mau kalah dia juga menyusulnya, dia tak ingin ketinggalan dengan mereka berdua.
"beneran cantik ya tempatnya"
"kamu lebih cantik" gumam Marsel
Defa pun berkeliling danau itu, walaupun sebentar tapi dia meras puas dengan pemandangan disana.
"yuk ah gak enak juga lama-lama disini nanti petugasnya dimarahi lagi sama atasannya"
"ok" Marsel mengikuti semua keinginan Defa, dia ingin selalu membuat Defa bahagia.
Tak terasa waktu telah mulai gelap, mereka pun pulang dari sana, seperti saat tadi mereka berangkat, saat pulang juga mereka bersama kecuali dengan Jimin yang memakai mobil terpisah dengan Marsel dan Defa.
"lo jangan ngikutin kita lagi, pulang sana kembali kehabitat lo" Marsel berteriak pada Jimin.
"untuk kali ini boleh lah, tapi gak tau deh buat besok" jawab Jimin., Defa hanya diam saja tak mau mengomentari mereka berdua, dia sudah merasa lelah walaupun bahagia juga.
Defa dan Marselpun pergi dari sana, mereka diam tanpa ada obrolan, hanya terlihat Marsel yang melirik Defa, Defa sebenarnya tau, tapi dia acuh saja seperti semula.
Marsel melirik Defa kembali, dia ingin berbicara tapi agak takut juga Defa yang sadar dengan keadaan itu segera bertanya.
"ada apa?"
"em..mau turun dulu gak, kita makan biar nanti bisa langsung istirahat sampai rumah"
"boleh deh, sekalian kita sholat magrib disini"
__ADS_1
"ok" Marsel ber yes ria dalam hatinya, dia senang akhirya bisa berduaan dengan Defa tanpa ada gangguan.
Marsel mencari restoran yang cukup nyaman menurutnya, diapun segera masuk dan memarkirkan mobilnya disana. Defa dan Marselpun turun dan masuk kerestoran itu, mereka makan bersama disana dengan tenang.