Cinta Difia

Cinta Difia
MENGHIBUR HATI DEFA


__ADS_3

Marsel sangat kefikiraan dengan Defa, dia ingin Defa bisa bangkit dalam keterpurukan itu, Marsel mengerti memang tak kan mudah tapi dia akan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Defa bisa lebih bersemangat lagi.


“apa yang harus gue lakukan ya biar pacar gue ini semangat lagi, gue gak mau liat dia murung terus, Tuhan tolong bantu hambaMu yang tampan ini” Marsel bergumam dalam hatinya, sambil memikirkan ide yang terbaik, bukan untuk melupakan mama dan papanya tapi hanya sekedar supaya lebih menyemangati saja.


“nak kenapa kamu bengong aja, ayo habiskan makannya” Difia mengagetkan Marel yang memang sedang makan  bersama mereka, Marsel tergagap dibuatnya, dia agak malu tapi ya gimna lagi dia juga jadi terbawa suasana. Mereka segera menyelesaikan makan mereka, Defa dan mama pun kembali keruangan papa, mereka duduk mendekati Defano.


“pa.. maafa ya barusan kita tinggal sebentar, kita makan dulu, papa gimana sekarang keadanya, kapan kita bisa makan bareng lagi?”


“iya pak, kita bisa bikin makanan kesukaan kita lagi” Difia ikutan ngobrol dengan Defano yang sebenarnya tak bisa apa-apa itu, tapi mereka berusaha supaya Defano cepat sadar kembali. Marsel yang melihatnya tersentuh hatinya, dia ingin memberikan perawatan terbaik.


“Tan , Defa..saya keluar bentar ya” kata Marsel pada kedua ibu anak itu.


“emang mau kemana Sel, atau kalo lo bosana disini pulang aja” Defa menagaggap Marsel sudah


bosan disana.


“ah gak ko mau


keluar aja bentar, nanti juga balik lagi” jawab Marsel.


“yaudah silahkan aja” Defa pun mengijinkan Marsel untuk pergi dari sana, hanya tersisa Defa dan


Difia disana, menunggu sang papa yang terbaring lemah tak berdaya.


“mama kapan mau pulang, mama mau gantian gak sama Defa. Entar Defa disini sendiran gak papa, nanti mama sakit kalo mama disini terus” Defa kasihan pada mamanya yang memang sudah beberapa hari tak pulang itu, mama msih bertahan di rumah Sakit menunggu papanya.


“mama gak papa sayang, Defa bisa pulang kalo bosa disini juga”


 “gak ko ma, mama kan udah lama gak pulang, kalo mau kita bisa pulang bareng atau mama dianterin Marsel aja gimana?”


“hus kamu ini, mama gak mau ninggalin papa, gimana kalo papa bangun dia nyari mama, kasian kan?”


“yaudah kalo gitu, Defa juga mau ikut mama disini jagain papa”


“Defa disininya aja kalo gak seklah, bisa nemenin mama ya” Difia tau Defa sangat mengkhawatirkannya, tapi memang dia tau mau kalo Defano sendirian, dia ingin selalu bersama suaminya itu, entah mengapa dia bisa sekuat itu.


Marselpun segera menuju loket pembayaran dan admin, dia ingin melihat pembayaran nya. Diapun sampai tempatnya, Marsel langsung meminta papa Defano untuk dipindahkan ke perawatan VIP, dia ingin calon mertuanya itu mendapatkan perawtan terbak untuk papanya itu.


Para perawat pun segera melaksanakan perintah Marsel, karena perintah Marsel adalah perintah mutlak yang harus dituruti.


Setelah melakukan pembayaran ke kasir dan memindahkan Defano keruangan yang lebih khusus lagi. Defa sebenarnya sudah ingin menolaknya, tapi Marsel berusaha membujukya, dia bisa menggunakan wewenangnya untuk berobat di tempat itu.


Defano telah resmi mendpat ruangan baru, Defa merasa terharu begitupun mamanya, mereka berterimakasih pada Marsel karena sekarang papanya bisa mendapatkan perawatan yang terbaik.


Sorepun tiba, Marselpun  akhirnya harus kembali ke perusahaan, dia sudah ditelpon berkali-kali oleh assistennya, diapun kesal dan menonaktifan hapenya, supaya  tak ada yang mengganggunya lagi.


Marsel ingin mengajak Defa tapi dia ragu, tapi kalo disana terus Defa akan sedih terus, Marsel pun memutuskan mangajak Defa ke taman rumah sakit.


“Defa kita keluar yuk”


“kemana?”

__ADS_1


“ketaman dekat sini aja”


“mau ngapain?"


“main aja yuk”


“tapi mama gimana”


“kenapa nak?”tiba-tiba Difia datang menghampiri mereka.


“ini Tan mau ajak Defa keluar aja bentaran doang’


“yaudah gak papa, gak lama kan?”


“gak ko Tan, sebentar aja”


“silahkan, tapi jangan diapa-apain ya menantu”


“he..iya Tan tenang aja, Defa nanti  saya kembalikan


dengan selamat”


“ya silahkan”


“makasih ma”


Defa pun mengikuti kemana maunya  Marsel, dia mau tau yang akan dilakukan Marsel dengan mengajaknya ke taman. Marsel dan Defa berjalan berdampingan, mereka angat cocok dan dianggap pasangan yang serasi,


Merekapun tiba di sana, sore-sore tak terlalu banyak pasien disana ataupun pengunjung disana, kebanyakan mereka sudah masuk ruangan mereka masing-masing. Defa mencari tempat duduk yang kira-kira nyaman dipakai untuk mereka, setelah melihat-lihat ada bangku dekat dengan kolam dan taman bunga kecil berikut air mancur  ditengah-tengahnya, terbilang kecil tapi cukup nyaman untuk berdua saja dan itu Marsel juga suka, karena saat


ini yang dibutuhkan Defa adalah kenyamanan, Marsel berusaha untuk membuat Defa nyaman bersamanya.


Marsel mempersilahkan Defa duduk duluan, kemuadian diapun duduk disebelah Defa ambil


melihat kolam kecildi depanya.


“Pacar kamu yang sabar ya, aku akan bantu semampu aku untuk membiayai perawatan papamu”


“jangan..nanti merepotkan, dan aku tak mau punya utang padamu, mending semampuku aja, kami


masih ada tabungan ko”


“aku ikhlas ko, kamu jangan nolak, karena aku akan sangat marah kalo kamu tolak”


“yaudahlah makasih kalo ,maunya kamu kayak gitu”


“nah gitu dong,jangan ngelawan ya”


“emang siapa yang melawan”


“he…gak ko”

__ADS_1


Mereka terus ngobrol sampai hari mau gelap, Marsel senang bia berdua dengan Defa, dia ingin


terus berbagi denganya dan ingin selalu bisa membantunya, Defa juga lumayan hatinya bisa lebih tenang setelah  ngobrol dengan Marsel.


“kayaknya ini udah mau magrib, gak enak sama mama” Defa melihat jam tangan di pergelangan


tangannya yang melingkar indah warna hitam dengan aksen peramata di tengah-tengahnya, itu sangat cantik pemberian dari papanya.


“iya hayu, padahal aku masih nyaman disini lo he..” Marsel malah menggoda Defa, dia memang


merasakan hal yang tak biasa kao bersama Defa.


“gak baik berduaan terus apalagi ini udah mau gelap” Defa menjawab dengan jawaban jelas.


“tapi banyak ko teman-teman yang kayak gitu”


“biarin aja merekamah, asal bukan kita”


“iya deh he..siap bu”


“uh..siapa yang mau jadi ibumu”


“he…ibu untuk anak-anakku” Jawab Marsel, blush rona pipi Defa langsung merah, bibirnya


teangkat sedikit tapi hanya seulas, setelah itu Defa biasa lagi.


Defa dan Marsel segera kembali ke ruangan papanya, terlihat disana mamanya sedang menunggunya


dan akan melaksanakan solat di masjid, merekapun gentian untuk menjaga papa Defa.


“udah ngobrolnya”


“udah Tan, maksih ya”


“tante duluan ya ke masjid”


“iya ma, Defa disini dulu nungguin papa, nanti kita gantian aja”


“Marsel lo duluan aja sama mama” Defa memberikan ide pada marsel yang sedang diam dekat Defa.


“ah ntar ajalah sama kamu pacar, biar gak ada yang senyumin kamu”


“ah lo nih, biarin aja mereka senyum, kan bibir mereka ini”


“gak bisa kalo sama kamu, harus ijin dulu”


“ampun deh ribet”


“biarin”


Mereka pun menunggu mama Defa sambil sesekali mendekati papanya yang masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2