
Difia hari ini janjian bersama Rini ke kampus, tadi Dini telah meneleponnya mau mampir dulu ke kosan Difia sebelum ke kampus. Difia pun menyetujui keinginan sahabatnya itu.
"Assalamualaikum Difia cantik" Rini membuka pintu kosan Difia.
"Waalaikumsalam juga Rini ganteng."
"ih masa cewek dibilang ganteng."
"hihi...habis kamu pagi-pagi udah so cute gitu, dapet arisan ya?" jawab Difia.
"iya arisan panci empat susun" sahut Rini mnyun
"hihi..hi.."
"Difia gimana kasus kamu, apa udah dapet solusinya?"
"gak tau juga, karena semuanya katanya Pak Defano yang mau ngurusnya."
"seriusan kamu?"
"heueh." sahut Difia sambil menganggukan kepalanya.
Rini memicingkan matanya ke Difia dan mendekatinya.
"roman-roman nya ada yang main rahasia-rahasiaan nih." kata Rini.
"hup..keceplosan." Kata Difia pelan.
"jelaskan" kata Rini sambil menatap tajam Difia.
"woy tatapannya woy jangan serem-serem atuh."
"habisnya kamu main rahasia segala."
"iya..iya..aku cerita" Setelah itu Difia menceritakan semuanya, Rini memelototkan matanya mendengar cerita Difia.
"woy.. jadi kamu dah jadian ma pak Defano?" ucap Rini sambil melotot.
"matamu itu kayak mau keluar aja Rin?"
"habis kamu gak cerita-cerita, gimana aku gak bingung coba dan kuaget, selama ini kan adeum ayeum aja, kirain kamu sama pak Defano hubungan biasa aja kayak yang lain."
"Difia...Difia....kalo ada kabar baik tuh cerita ke temen, kan aku ikut seneng juga eh..ngiri juga sih kamu bisa dapet dosen ganteng he..."
"huh dasar" Difia melemparkan bantal ke Rini
"ya iyalah gitu, Pak Defano kan dosen yang diidam-idamkan eehh malah kamu yang dapet."
"aku gak pernah ya mengidam-idamkan."
"tapi kan jadi idaman beneran." kata Rini.
" Dasar." kata Difia.
Mereka bercanda Ria sampe waktunya untuk masuk kelas. Difia dan Rini segera berangkat menuju kampus, karena beberapa menit lagi dosen pasti masuk.
Kemarin disepanjang perjalanan ke kampus berisik dengan orang yang ngomongin bahkan mencela Difia, tapi hari ini seperti tidak pernah terjadi apapun, Difia lega sekaligus heran, semuanya serba cepat.
Mereka pun sampai ke kelas, di dalam kelas orang-orang yang kemarin sibuk menggunjing dan mencemooh Difia, sekarang diam.
Difia dan Rini bersyukur semuanya telah selesai, tapi mereka tak sadar bahwa ada salah satu orang yang tidak hadir, yang selalu bikin ricuh dalam kelas kalo berkaitan dengan Defano, ya dialah Dini, hari ini Dini tak masuk, dia dibawa paksa oleh orang tuanya keluar negeri berkat ancaman Defano.
Orang tuanya memilih membawa Dini ke luar negeri dari pada harus dipenjara. Karena ancaman Defano benar-benar membuat mereka khawatir bahwa Dini bisa saja nekat melakukan aksi yang lain dan bisa membahayakan nyawanya juga.
__ADS_1
Perkuliahan hari ini sangat nyaman bagi Difia, karena tidak ada lagi yang mengganggunya, dia bersyukur saja masalah cepat selesai.
"Difia, sepertinya masalahmu udah beres ya."
"gak tau juga sih, tapi mudah-mudahan sih iya."
"Pak Defano hebat berarti."
"ih kamu muji-muji terus, ntar orangnya denger hidungnya terbang gera."
"hahaha..kamu ada-ada aja"
Difia segera menghubungi Defano
"📲Assalamualaikum sayang."
"📲Waalaikumsalam."
"📲makasih ya, kayaknya masalahnya udah beres."
"📲 sama-sama."
"📲Semoga tak ada lagi gangguan untuk kita."
"📲Amiiin."
Setelah itu mereka pun memutuskan telepon mereka.
"Cie yang udah sayang-sayangan." goda Rini.
"ih biasa aja." Sahut Difia sambil membuang mukanya ke samping.
"uh keliatan banget lo." goda Rini lagi
"ih berisik tau" Difia makin malu digoda Rini.
Karena jadwal perkuliahan sudah beres mereka pun pulang ke tempat masing-masing. Rini dan Difia berpisah, Rini memakai motornya menuju arah pulang sedangkan Difia cukup jalan kaki, karena kosanya cukup dekat.
Saat Difia sedang jalan kaki, dari arah belakang ada motor yang mengklaksonya, awalnya Difia tak sadar, tapi karena motor itu mengikutinya terus, Difia pun balik badan.
"anda siapa, dari tadi ngikutin saya terus?" kata Difia jutek.
Tak lama kemudian helem orang itu dibuka dan terpangpanglah seseorang yang baru saja teleponan dengannya, sekarang udah ada dihadapannya, sedang tersenyum melihat Difia.
"Maaas...kirain siapa, udah deg-degan tau." sahut Difia manja
"Maunya siapa hayoo." goda Defano
"Habisnya baru liat mas pake motor."kata Difia.
"Sengaja, kan mau ajak kencan calon makmum he."
"Ih ko jadi lebay gitu." Difia mencebik.
"lebay nya kan hanya ke kamu sayang."
"Udah yu dah laper."
"Kemana?"
"ya kalo lapar ya makan sayaaang."
Defano langsung membawa tangan Difia dan menyuruhnya naik ke atas motor. Mereka pun makan siang bersama di tempat paforit mereka.
__ADS_1
"Mas makasih ya."
"Atas?" Defano mengerutkan keningnya
"Semuanya yang telah mas lakukan."
"Itu udah jadi tanggung jawab mas sayang, udah jangan makasih terus."
"Iya mas."
Hubungan mereka pun harmonis, tak ada lagi gangguan dari luar, Defano berusaha melindungi Difia dari gangguan fans-fans nya, Difia juga berusaha kuat dengan hubungannya, karena sejatinya tak ada hubungan yang mulus, kecuali bila kedua pihak saling mendukung dan menyayangi dengan tulus.
Hubungan itu terus berlanjut, hingga Difia memutuskan untuk memilih Defano sebagai imamnya.
Walaupun belum lulus kuliah, tapi Defano sangat mengharapkan Difia untuk jadi pendampingnya, melihat ketulusan Defano akhirnya Difia luluh, Difia mau memperkenalkan Defano ke ibunya, mereka berangkat ke kampung Difia bersama-sama.
Diperjalanan mereka saling bercanda, sesekali Difia menguap dan akhirnya ketiduran, Defano memindahkan helaian rambut yang menghalangi muka Difia dengan sebelah tanganya, Difia tak terusik sedikitpun, dia sangat lelap.
"Semoga kita cepat bersatu." kata Defano dalam hati.
Waktu berlalu, jam demi jam mereka lewati, akhirnya Difia terbangun, mereka sebentar lagi sampai, Difia terus mengawal Defano sampai akhirnya mereka sampai rumah.
Ibu yang sudah diberi kabar oleh Difia segera keluar rumah mendengar ada suara mobil di halaman rumahnya.
"Alhamdulillah nak kamu udah sampai, gimana keadaanya?"
"Alhamdulillah sehat bu, ibu juga sehatkan?"
"Alhamdulillah ibu juga sehat."
"Bu perkenalkan ini Pak Defano yang pernah aku ceritakan sebelumnya. "Difia memperkenalkan Defano
"Saya ibunya Difia." kata ibu Difia sambil menjabat tangan Defano, Defano pun mencium tangan ibu seperti yang Difia lakukan.
"Hayu masuk, gak baik diluar terus" kata ibu sambil mempersilahkan mereka masuk ke rumah.
Merekapun masuk bersama-sama. Ibu menghidangkan beberapa cemilan ala kadarnya untuk Defano dan Difia segera menuju kamarnya.
"Difia ajak dulu makan tamunya."
"iya bu."
Beberapa saat kemudian Defano, Ibu dan Difia berkumpul bersama, Defano merasakan berat ingin mengungkapkan sesuatu, dagdigdug hatinya gak karuan, Defano melihat Difia, Difia mengangguk, kemudian Defano berusaha menguatkan dirinya.
"bu"
"iya"
Defano panas dingin, dia menarik nafas dalam-dalam.
"Sebenarnya saya kesini dengan tujuan baik bu, saya ingin melamar putri ibu untuk menjadi bagian hidup saya" kata Defano sambil dagdigdug hatinya gak karuan. Ibu meneteskan air matanya.
"Yakin kamu nak akan sayang sama anak ibu, Difia adalah anak ibu satu-satunya."
"Saya yakin bu." kata Defano bergetar menjawab pertanyaan ibu.
"Yasudah kalo begitu ibu ijinkan kamu menikahi anak ibu, jangan pernah kasar padanya, ingatkan kalo dia salah, nasihatilah, sayangilah dan didiklah dia dengan baik, jika suatu saat kamu sudah tak sanggup, kembalikan dia pada ibu.
" Difia menangis mendengar kata-kata ibu, seolah dia akan berpisah dengan ibunya itu."
"saya berjanji bu, saya akan menyayanginya dan selalu ingat pesan ibu."
Akhirnya Difia dan Defano pun menikah, dan hidup bahagia.
__ADS_1
...... Tamat......