Cinta Difia

Cinta Difia
Pacaran beneran


__ADS_3

Marsel tak sabar menunggu hari esok, tidurnyapun tak lelap, dia ingin segera bertemu Defa, tidur bangun lagi, tidur lagi dan bangun lagi seperti itulah keadaan Marsel saat itu.


Pagi pun tiba, Marsel yang tak nyenyak tidur semalam justru malah ketiduran pas subuh tiba, dia terlelap, cahaya matahari masuk ke sela-sela kaca kamar, dia merasa silau.


"ini jam berapa ya?" Marsel mencari hpnya, dilihatnya waktu sudah menunjukan jam 9 pagi.


"wah gawat, gue kesiangan nih" Marsel cepat-cepat mandi dan mamakai pakainya, setelah itu dia mencari mobil nya dan langsung mencari Defa ke rumahnya.


Defa telah pulang dari lari pagi nya, dia segera bersih-bersih. Dia berpakaian seperti orang mau naik gunung, mamakai ransel dan syal sebagai pelengkapnya.


Defa seperti enggan untuk berangkat, dia jadi kefikiran Marsel yang katanya akna datang tapi jam begitu masih belum ada juga.


"kenapa jadi mikirin dia sih, biarin adalah udah gede juga" Defa berbicara dalam hatinya.


Setelah dirasa cukup Defa segera malangkahkan kakinya keluar rumah, dia ingin menikmati waktu weekend itu di gunung dekat villa nya, walaupun tak terlalu tinggi, tapi pemandangan cukup indah, dia membawa serta tenda, buku, cemilan dan lainya.


" Bi..Defa berangkat ya keburu panas" Defa pamitan pada Bi Isah.


"iya neng, gak nunggu si ganteng dulu gitu?" Bi Isah malah mengingatkan Defa.


" gak ah bi, berangkat dulu ya" Defa segera keluar rumah, dia tak ingin membuang waktu begitu saja hanya karena seseorang yang belum ada di hatinya.


Defa berangkat naik motor, karena lokasinya memang tak harus berjalan kaki, walaupun diatas gunung tapi kendaraan sampai kesana.


Marsel melihat Defa di jalan, dia tak mau katinggalan lagi, segera menyusul Defa, kelakson di bunyikan, Defa yang berada di depun berhenti di bahu jalan.


Marsel keluar mobil, dia menemui Defa yang turun dari motor.


"kenapa ninggalin?" Marsel kecewa pada Defa yang tak menunggu nya.

__ADS_1


"jam berapa ini?" Defa malah acuh saja.


"he .he. iya..iya. maaf, tadi ketiduran"


"gue berangkat ya" Defa langsung naik motor lagi, Marsel mengejarnya, memegang tangan Defa.


"tunggu"


"mau ngapain?"


"ikut"


"ya ikut mah ikut aja,kenapa berhentiin motor?" Defa sewot Marsel tiba-tiba nyuruh berhenti.


"biar bareng he.." kata Marsel cengengesan. Dia berharap bisa bareng dengan Defa


"gampang" Marsel tak terlalu mempedulikan Mobil nya, karena menurutnya bisa jalan ber sama Defa adalah salah satu hal terbaik untuk nya saat ini. Sedangkan Defa terbiasa sendiri, dia tak mau ribet berboncengan, toh mobil juga bisa sampai ke tempat yang dituju.


"pake mobil aja gih, gue buru2" kata Defa sambil badanya siap-siap berangkat lagi, Defa tak mau lama-lama di jalan, banyak nego seperti jual beli saja menurutnya.


"mau nya barengan" Marsel memegang tangan Defa, dia memperlihatkan wajah memelasnya, sebenarnya dia juga tak terlalu berharap tapi dia mencoba saja mamakai trik itu.


"sana ah" Defa sepertinya tak mau ambil pusing, karena Marsel juga tadi sendiri menemui nya, hal aneh tiba-tiba mau pergi barengan. Beda dengan sikap Marsel yang melihat gelagat tak suka dari Defa, dia tak mau lama-lama juga ngerayu, akhirnya dengan nekat Marsel membawa Defa turun, dia menjadi driver di depan, dan memaksa Defa duduk dibelakangnya. Sungguh romantis menurutnya.


Defa manyun di belakang motor, dia kesal kalo bertemu Marsel, ada aja tingkah nya, selalu memaksakan kehendak sendiri.


Motor pun jalan, Marsel tersenyum-senyum sedangkan Defa diam saja, dia tak mau komentar apa-apa.


"kenapa diam? menikmati banget ya jalan aman gue, senengkan?"

__ADS_1


"idih kepedean, udah ah jalan aja, males gue" Defa sudah agak malas melanjutkan perjalanan, tapi tanggung juga untuk pulang.


"ok, ntar bilang aja kalo udah sampe?" Marsel melajukan motornya , dia ingin menikmati kebersmaanya bersama Defa saat ini.


"berhenti" saat Marsel masih fokus ke jalan, tiba-tiba Defa menyuruh nya berhenti, Marsel melihat sekeliling, ternyata dia berada di tempat yang daftar dekat perkebunan, di sebelah jalan dia melihat jurang yang dalam, tapi pemandangan di depannmya sungguh manakjubkan.


Marsel dan Defa pun segera turun dari motor, Defa menyiapkan tenda untuknya, menggelar tikar, mengeluarkan buku, makanan dna minuman, sungguh lengkap apa yang dia bawa ketempat itu.


Marsel hanya melihat keindahan di depan nya, tanpa menghiraukan Defa, dia memang tak terbiasa dengan acara seperti itu, semuanya biasanya dilayani oleh kepercayaan keluarganya. Marsel melihat lembah ke bawah, ternyata ada sawah penduduk yang terbentang luas, dipinggirnya terlihat afa sungai mengalir jernih, di depanya tinggi menjulang gunung yang sangat indah.


Defa hanya diam melihat Marsel yang asik dengan pemandangan, dia langsung duduk menghadap pemandangan juga, sambil membaca buku dan makan cemilan yang dia bawa.


Marsel berbalik badan, dia melihat posisi Defa yang sangat nyaman dilihatnya.


"ih pacar, kamu nyaman banget kayaknya?" Marsel membuka suaranya, dia pun melihat semua barang yang dibawa Defa. Defa diam saja, dia fokus baca buku.


"ih pacar udah dong baca bukunya" Marsel kesal juga Defa diam terus.


"mau apa sih, kalo mau makan ya silahkan, itu kan banyak tuh" Defa jadi terusik dari kesukaanya.


"jangan baca buku terus dong" Marsel berusaha mengganggu Defa lagi.


"pacaran beneran yuk?" Marsel iseng menggoda Defa, dia ingin sekali ngobrol berdua dengan serius tentang hubungannya.


"di otakmu itu pacaran mulu ya, udah nikmatin apa yang ada" Defa tak habis fikir dengan Marsel yang beberapa kali meminta dia jadi pacar nya.


"Marsel denger ya, saat ini kita nikmatin aja, jangan banyak fikiran, bisa kan?"


"bisa kata Marsel dengan cepat" Dia bahagia Defa menerimanya walaupun masih terlihat Defa kurang menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2